Share

MIDNIGHT TRANSFER
MIDNIGHT TRANSFER
Author: Azkaihza

02:13

Author: Azkaihza
last update publish date: 2026-05-15 15:26:39

CHAPTER 1

02:13

Jam di pojok kanan layar laptop menunjukkan 02:13 pagi ketika notifikasi itu muncul.

1 USDT RECEIVED

Aku mengangkat sebelah alis.

Satu dolar.

Jumlah yang terlalu kecil untuk dianggap penting, tapi terlalu aneh untuk dikirim pada jam seperti ini.

Di dunia tempatku hidup, orang tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Terutama transaksi.

Aku bersandar di kursi apartemen sambil memutar pelan gelas kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Di luar jendela, Jakarta masih hidup dalam warna-warna neon dan suara hujan tipis yang membasahi kaca gedung.

Kota ini aneh.

Siang hari semua orang pura-pura normal.

Malam hari, semua rahasia mulai bekerja.

Aku hampir menutup wallet dashboard itu sebelum mataku menangkap sebuah memo kecil di bawah detail transaksi.

Kalimat pendek.

Tidak lebih dari satu baris.

Namun cukup untuk membuat jemariku berhenti bergerak.

“Kalau suatu hari aku hilang, cari aku di Tokyo.”

Aku diam.

Ruangan apartemen mendadak terasa lebih sunyi daripada biasanya.

AC tua di sudut ruangan berdengung pelan. Lampu meja memantulkan warna kekuningan ke layar laptop. Di ashtray, dua batang rokok habis terbakar sendiri.

Tapi pikiranku tertahan di satu kalimat itu.

Tokyo.

Aku membaca ulang memo tersebut.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu tertawa kecil sambil menggeleng.

“Siapa sih yang ngirim beginian jam dua pagi…”

Namun anehnya aku belum menutup transaksi itu.

Instingku mengatakan ada sesuatu yang salah.

Aku membuka detail wallet pengirim.

Address baru.

Tidak ada riwayat berarti.

Tidak ada pola transaksi besar.

Tidak ada hubungan dengan jaringan OTC yang kukenal.

Bersih.

Terlalu bersih.

Dan dalam dunia transaksi digital, sesuatu yang terlalu bersih biasanya justru paling kotor.

Aku mengetik cepat di keyboard, membuka beberapa tools tracking dan explorer yang biasa kupakai untuk membaca pola perpindahan aset.

Tetap nihil.

Wallet itu seperti muncul dari kehampaan hanya untuk mengirim satu dolar kepadaku.

Satu dolar dan satu pesan aneh.

Aku menyandarkan kepala sambil menatap langit-langit apartemen.

Sudah hampir lima tahun aku hidup di dunia ini.

Dunia private deal. Broker transaksi. Middleman internasional. Orang-orang yang menyembunyikan wajah mereka di balik angka dan password.

Aku sudah bertemu banyak manusia aneh.

Scammer. Investor gila. Orang kaya yang paranoid. Sampai pria-pria elite yang membeli identitas baru hanya untuk menghilang dari negara asal mereka.

Tapi malam ini terasa berbeda.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

aku merasa sedang diawasi.

Notifikasi Telegram masuk tepat ketika rokok ketigaku menyala.

Aku melirik layar ponsel.

Nomor anonim.

Tidak ada foto profil.

Tidak ada bio.

Tidak ada username.

Hanya satu simbol kecil:

“ . ”

Aku terkekeh pelan.

“Dramatis juga…”

Pesan masuk.

Unknown:

Jangan balas pesan ini kalau kamu ingin hidupmu tetap tenang.

Aku tersenyum tipis.

Sudah lama tidak ada yang mencoba mengancamku dengan cara menarik.

Jariku mulai mengetik.

Aku:

Terlambat. Aku penasaran sekarang.

Typing…

Berhenti.

Typing lagi…

Lalu sebuah foto masuk.

Aku otomatis memperbesar gambar itu.

Seorang wanita duduk sendiri di dekat jendela hotel.

Lampu kota malam memantul di kaca belakangnya. Wajahnya setengah tertutup bayangan, tapi cukup jelas untuk membuatku terdiam beberapa detik.

Cantik.

Bukan cantik yang ramai dan mudah ditebak.

Bukan tipe perempuan sosialita yang sibuk mencari validasi.

Dia terlihat seperti seseorang yang tahu dirinya menarik… dan tidak peduli tentang itu.

Rambut hitam panjang jatuh rapi melewati bahu. Bibirnya memegang gelas wine merah. Tatapan matanya dingin namun lelah.

Tatapan orang yang terlalu sering kecewa.

Aku memperbesar detail foto.

Di pantulan kaca belakang terlihat tulisan samar:

TOKYO.

Dadaku terasa aneh.

Entah kenapa.

Lalu pesan berikutnya masuk.

Unknown:

Sekarang kamu sudah terlibat.

Aku menghembuskan asap rokok perlahan.

Aku:

Siapa kamu?

Typing…

Cukup lama.

Lalu balasan muncul.

Unknown:

Seseorang yang tidak punya banyak waktu.

Aku memiringkan kepala.

Aku:

Dan kenapa aku?

Tidak ada jawaban.

Sebagai gantinya, panggilan suara masuk tiba-tiba.

Nomor anonim.

Aku menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.

Hening.

Tidak ada suara.

Hanya napas pelan di seberang sana.

Lalu akhirnya suara wanita itu terdengar.

Lembut.

Tenang.

Namun ada kelelahan yang sulit dijelaskan.

“Kamu masih sering insomnia?”

Aku membeku.

Mataku langsung menyipit.

“Kita kenal?”

Tidak ada jawaban langsung.

Hanya suara hujan di seberang telepon.

Dan entah kenapa… suara bandara.

Pengumuman samar.

Langkah kaki manusia.

Lalu wanita itu bicara lagi.

“Aku harap kamu belum berubah terlalu banyak, Azkaihza.”

Jantungku berhenti sepersekian detik.

Sudah lama tidak ada orang yang memanggil nama lengkapku seperti itu.

Orang-orang biasa memanggilku Azka.

Hanya sedikit yang tahu nama lengkapku.

Dan lebih sedikit lagi yang tahu jam-jam di mana aku biasanya terjaga.

Aku duduk tegak.

“Siapa sebenarnya kamu?”

Wanita itu tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Lebih seperti seseorang yang lelah dengan hidupnya sendiri.

“Kalau aku jawab sekarang… kamu mungkin akan menutup telepon.”

“Coba saja.”

Hening beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan:

“Namaku Elena.”

Elena.

Nama itu terdengar asing.

Namun anehnya dadaku terasa seperti pernah mengenalnya.

Aku tidak suka perasaan itu.

Karena biasanya insting seperti ini selalu berakhir buruk.

Di tempat lain.

Tokyo.

Hujan turun lebih deras di balik kaca hotel lantai tiga puluh tujuh.

Elena Huang berdiri sendirian memandangi kota yang dipenuhi cahaya.

Gaun hitamnya jatuh sempurna mengikuti tubuh rampingnya. Di meja belakang, laptop terbuka memperlihatkan deretan data transaksi dan beberapa passport dari negara berbeda.

Tangannya sedikit gemetar ketika memegang ponsel.

Di layar masih terlihat panggilan terakhir:

AZKAIHZA — 12 minutes

Ia menutup mata perlahan.

Seolah menyesali sesuatu.

Pintu suite tiba-tiba terbuka.

Seorang pria masuk dengan langkah tenang dan jas abu gelap yang terlalu rapi untuk jam tiga pagi.

Vincent Laurent.

Tatapan pria itu langsung jatuh pada Elena.

“Kamu menghubunginya lagi.”

Bukan pertanyaan.

Elena tidak menjawab.

Vincent berjalan mendekat sambil menuang wine merah ke gelas kristal.

“Aku pikir kita sudah sepakat untuk tidak melibatkan dia.”

Elena menatap lampu kota Tokyo.

“Dia memang sudah terlibat sejak awal.”

Vincent tersenyum tipis.

Senyum pria yang terlalu tenang untuk dipercaya.

“Dan itu alasan kenapa banyak orang akan mati nanti.”

Elena menggenggam ponselnya lebih erat.

Tatapannya perlahan berubah kosong.

Seolah ia tahu sesuatu yang bahkan lebih mengerikan daripada ancaman Vincent.

Kembali ke Jakarta.

Aku masih menatap layar chat anonim itu.

Panggilan tadi sudah berakhir tiga menit lalu.

Namun pikiranku belum kembali normal.

Ada sesuatu dalam suara Elena yang menggangguku.

Bukan karena dia terdengar takut.

Justru karena dia terdengar seperti seseorang yang sudah terbiasa hidup dalam ketakutan.

Aku membuka profil anonim itu lagi.

Tetap kosong.

Lalu sebuah pesan baru muncul.

Elena:

Jangan percaya siapa pun setelah malam ini.

Belum sempat aku membalas, chat itu langsung hilang.

Deleted account.

Aku terdiam.

Lalu layar laptopku berkedip.

Satu notifikasi baru muncul dari wallet explorer.

Transfer sebelumnya baru saja dipindahkan lagi.

Jumlahnya berubah.

Bukan lagi satu dolar.

Melainkan:

7,000,000 USDT

Mataku langsung membesar.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup di dunia transaksi gelap…

aku merasa benar-benar takut.

Karena aku sadar satu hal.

Wanita bernama Elena Huang baru saja menyeretku ke sesuatu yang jauh lebih besar daripada uang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 10 CINTA HADIR DI di TENGAH KEKACAUAN

    Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

    Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

    TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

    Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

    Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

    Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status