Home / Male Adult / MIDNIGHT TRANSFER / CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

Share

CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

Author: Azkaihza
last update publish date: 2026-05-15 18:27:02

Tulisan itu masih menyala di layar laptop.

AZKAIHZA

STATUS: PROCESSING ERASURE.

Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.

Bukan takut.

Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.

Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…

aku melihat kepanikan nyata di matanya.

“No…”

Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.

Namun layar justru berubah merah.

ACCESS DENIED.

ACCESS DENIED.

Suara napas Elena mulai tidak stabil.

Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.

Aku berdiri perlahan di belakangnya.

“Apa arti ‘erasure’?”

Elena diam.

Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.

Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.

“Elena.”

Tatapannya perlahan naik.

Mata indah itu terlihat lelah.

Takut.

Dan dipenuhi rasa bersalah.

“…Mereka akan menghapus hidupmu.”

Hening.

Suara AC hotel terdengar samar di tengah ruangan.

Aku tetap menatapnya tanpa bergerak.

“Jelaskan.”

Elena memejamkan mata beberapa detik sebelum akhirnya bicara.

“EDEN punya akses ke banyak sistem.”

“Data keuangan.”

“Imigrasi.”

“Identitas digital.”

“CCTV.”

“Bahkan beberapa jaringan pemerintahan.”

Dadaku mulai terasa berat.

Elena melanjutkan pelan.

“Kalau seseorang masuk daftar erasure…”

Napasnya tertahan sebentar.

“…mereka perlahan dibuat seperti nggak pernah ada.”

Aku tertawa kecil.

Refleks.

Karena semuanya terdengar terlalu gila.

“Kedengarannya kayak film konspirasi murahan.”

Elena tidak tertawa.

Dan itu cukup membuatku sadar bahwa semua ini nyata.

“Rekeningmu akan diblokir.”

“Passport-mu invalid.”

“Data perjalanan hilang.”

“Relasi bisnis diputus.”

Tatapannya menatapku lurus sekarang.

“Dan perlahan… semua orang mulai percaya kalau kamu nggak pernah benar-benar penting.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Aku bersandar pelan sambil mengusap wajah.

Sial.

Sekarang aku mulai mengerti kenapa Elena hidup seperti buronan.

Karena EDEN bukan sekadar organisasi.

Mereka adalah sistem bayangan.

Dan sistem seperti itu jauh lebih berbahaya daripada mafia biasa.

Elena duduk perlahan di tepi tempat tidur sambil memegangi kepalanya.

Rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Namun aku masih bisa melihat jelas rasa bersalah di sana.

“Aku harusnya nggak membawa kamu ke semua ini.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu berjalan mendekat.

“Hei.”

Elena mengangkat wajah perlahan.

Aku duduk di depannya sambil menyentuh dagunya pelan.

“Lihat aku.”

Tatapannya bertemu denganku.

Rapuh.

Dan untuk pertama kalinya…

aku sadar perempuan ini mungkin sudah terlalu lama menyalahkan dirinya sendiri atas semua hal buruk di hidupnya.

Aku tersenyum tipis.

“Kamu tahu hal paling lucu dari hidup?”

Elena mengernyit kecil.

“Apa?”

“Kadang manusia baru merasa hidup justru ketika semuanya mulai berantakan.”

Ia tertawa kecil meskipun matanya masih terlihat lelah.

“Itu motivasi paling absurd yang pernah aku dengar.”

Aku ikut tersenyum.

“Tapi kamu ketawa.”

Elena menunduk sambil menggeleng kecil.

Dan beberapa detik kemudian…

ia perlahan menyandarkan kepalanya ke dadaku.

Natural.

Hangat.

Seolah tubuhnya sendiri mulai hafal tempat pulang.

Aku mengusap perlahan rambutnya sambil memandangi hujan kecil di balik jendela hotel.

Singapura masih terjaga di luar sana.

Namun di kamar kecil ini…

waktu terasa melambat.

“Azka…”

“Hm?”

“Kalau semuanya selesai nanti…”

Ia berhenti sebentar.

“…apa kamu bakal nyesel pernah ketemu aku?”

Pertanyaan itu terdengar kecil.

Namun aku tahu pertanyaan seperti itu hanya keluar dari orang yang terlalu sering ditinggalkan.

Aku mengangkat wajahnya perlahan.

“Dengar.”

Tatapan kami bertemu.

Dekat.

Tenang.

“Hidup orang dewasa itu nggak selalu soal menghindari luka.”

Aku tersenyum kecil.

“Kadang kita cuma memilih siapa yang layak bikin kita terluka.”

Mata Elena langsung melemah.

Dan kali ini…

dia menciumku lebih dulu.

Pelan.

Namun penuh rasa yang selama ini ia tahan.

Ciuman itu tidak lagi terasa canggung seperti malam pertama.

Kini ada sesuatu yang jauh lebih dalam di antara kami.

Rasa saling memiliki yang perlahan tumbuh diam-diam.

Tangannya melingkar di leherku sementara tubuhnya bergerak mendekat tanpa ragu.

Aku bisa merasakan napasnya mulai bergetar ketika jemariku menyentuh pinggangnya perlahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…

Elena terlihat benar-benar membiarkan dirinya merasa bahagia.

Malam kembali berubah hangat.

Namun kali ini lebih intim.

Lebih tenang.

Tidak dipenuhi ketakutan.

Tidak ada suara ancaman.

Tidak ada Vincent.

Hanya dua orang dewasa yang sedang mencoba melupakan dunia beberapa jam saja.

Elena beberapa kali tertawa kecil di sela ciuman ketika aku menggoda caranya menyembunyikan banyak identitas.

“Jadi sebenarnya nama asli kamu siapa?”

Ia menggigit bibir sambil tersenyum kecil.

“Rahasia.”

“Minimal kasih clue.”

“Nggak.”

“Aku tidur sama perempuan misterius berarti?”

Elena tertawa pelan sambil memukul bahuku kecil.

“Kamu terlalu banyak ngomong.”

“Aku gugup.”

“Kamu?”

Ia menaikkan alis.

“Broker internasional yang mukanya kayak mafia bisa gugup?”

Aku terkekeh kecil.

“Semua laki-laki tetap bodoh kalau dekat perempuan yang dia suka.”

Elena langsung diam beberapa detik.

Lalu wajahnya perlahan memerah tipis.

Dan sial…

reaksi kecil itu terasa jauh lebih mematikan daripada semua gaun mahal yang pernah kulihat ia pakai.

Malam bergerak semakin larut sementara kami tenggelam dalam kehangatan satu sama lain.

Sentuhan demi sentuhan terasa lebih personal sekarang.

Lebih emosional.

Karena intimacy di antara dua orang dewasa bukan cuma soal tubuh.

Namun tentang keberanian memperlihatkan sisi paling rapuh dari diri sendiri.

Dan itu yang sedang terjadi di antara kami.

Aku melihat luka-luka tersembunyi Elena.

Dan Elena mulai melihat kesepianku.

Sekitar pukul empat pagi, Elena tertidur di pelukanku dengan napas pelan.

Wajahnya terlihat damai.

Mungkin pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Aku memperhatikannya sambil tersenyum kecil.

Lalu tanpa sadar berpikir:

kalau dunia tidak gila… mungkin aku benar-benar bisa jatuh cinta padanya.

Pikiran bodoh.

Namun terlalu jujur untuk dipungkiri.

Aku hendak bangun mengambil air minum ketika tiba-tiba Elena berbicara lirih dalam tidurnya.

“…don’t leave me.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Kalimat itu keluar begitu pelan.

Namun terdengar seperti ketakutan yang sudah lama terkubur.

Aku kembali berbaring lalu menarik tubuhnya lebih dekat.

“Aku di sini.”

Mungkin dia tidak mendengar.

Namun beberapa detik kemudian, tubuh Elena perlahan rileks di pelukanku.

Dan saat itulah aku sadar sesuatu yang paling berbahaya dari semua ini.

Bukan EDEN.

Bukan Vincent.

Bukan ancaman penghapusan identitas.

Namun fakta bahwa aku mulai merasa rumah… hanya ketika bersama Elena.

Dan bagi orang seperti kami…

rumah adalah kelemahan terbesar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 10 CINTA HADIR DI di TENGAH KEKACAUAN

    Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

    Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

    TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

    Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

    Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

    Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status