Home / Male Adult / MIDNIGHT TRANSFER / CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

Share

CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

Author: Azkaihza
last update publish date: 2026-05-15 18:15:48

TV hotel masih menyala.

Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.

“Selamat pagi, Elena…”

Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.

Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.

Vincent mengangkat gelas wine perlahan.

“…aku harap malam kalian menyenangkan.”

Klik.

Layar mendadak mati sendiri.

Hening.

Sunyi yang terasa berat.

Aku menoleh ke arah Elena.

Wajahnya pucat.

Bukan karena malu.

Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.

Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:

Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.

Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.

“Psikopat.”

Elena tertawa kecil.

Namun tawanya terdengar lelah.

“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”

Aku menoleh.

“Dia mantan kekasihmu?”

Elena langsung menatapku datar.

“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”

“Ya siapa tahu kalian dulu couple toxic pecinta wine mahal.”

Untuk pertama kalinya pagi itu Elena benar-benar tertawa.

Pendek.

Namun tulus.

Dan sialnya… aku menyukai bagaimana wajahnya berubah saat tertawa.

Lebih hidup.

Lebih hangat.

Lebih manusia.

Namun senyum itu perlahan memudar ketika Elena duduk di sisi tempat tidur sambil menatap kosong ke arah jendela.

Hujan Singapura sudah berhenti.

Namun langit masih mendung.

Sama seperti matanya.

“Aku pernah kerja buat EDEN.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa dingin.

Aku perlahan duduk di depannya.

Diam.

Memberinya ruang untuk bicara.

Karena aku tahu ada sesuatu yang selama ini ia tahan sendirian.

Elena memainkan ujung cangkir kopinya pelan sebelum melanjutkan.

“Awalnya aku pikir EDEN cuma organisasi finansial elite.”

“Crypto?”

Ia mengangguk kecil.

“OTC. Black transfer. Identity routing. Pencucian identitas digital.”

Aku mengernyit.

“Pencucian identitas?”

Tatapan Elena perlahan terangkat ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya…

aku melihat rasa bersalah besar di sana.

“EDEN nggak cuma bantu orang kaya nyembunyiin uang.”

Hening beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan:

“Mereka membantu manusia menghilang.”

Dadaku terasa berat.

Elena melanjutkan dengan suara yang semakin pelan.

“Politisi. Pebisnis. Hacker. Mafia. Semua orang yang mau menghapus masa lalu mereka.”

“Dan Vincent?”

Elena tersenyum kecil.

Namun senyumnya terasa pahit.

“Vincent bukan bagian dari EDEN.”

“Lalu?”

“Dia salah satu orang yang ikut menciptakannya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku bersandar perlahan sambil memijat pelipis.

Sial.

Semakin dalam aku masuk… semakin besar kekacauan yang kutemukan.

Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang jauh lebih menggangguku sekarang.

Elena.

Cara dia bicara.

Cara matanya terlihat kosong ketika menyebut EDEN.

Perempuan ini membawa luka yang jauh lebih besar daripada yang ia tunjukkan.

Aku berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.

Dekat.

Sangat dekat.

“Kenapa kamu keluar?”

Elena terdiam cukup lama.

Lalu menjawab pelan:

“Karena aku mulai sadar…”

Ia tersenyum kecil.

Sedih.

“…nggak semua orang pantas diberi kesempatan buat menghilang.”

Aku memperhatikannya beberapa detik.

Dan tiba-tiba aku sadar sesuatu.

Perempuan ini bukan jahat.

Dia hanya terlalu lama hidup di dunia yang salah.

Aku mengusap perlahan punggung tangannya.

“Manusia kadang salah jalan.”

Elena menatapku.

“Kamu lagi mencoba menenangkan aku?”

“Enggak.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku cuma lagi ngingetin kalau orang rusak juga masih bisa pulang.”

Tatapannya langsung melemah.

Dan untuk pertama kalinya…

Elena memelukku lebih dulu.

Pelukan itu tidak penuh gairah.

Tidak liar.

Justru terlalu pelan.

Terlalu tulus.

Seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat aman setelah terlalu lama lari.

Aku memeluknya balik tanpa bicara.

Karena kadang orang dewasa tidak butuh solusi.

Mereka cuma capek menanggung semuanya sendirian.

Siang berubah sore…

Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai…

kami memilih berhenti berpikir beberapa jam.

Aku dan Elena berjalan keluar hotel menggunakan pakaian santai dan topi sederhana untuk menghindari kamera publik.

Aneh rasanya.

Dua buronan psikologis berjalan seperti pasangan biasa di tengah Singapura.

Kami makan di kedai kecil dekat sungai.

Elena bahkan tertawa saat melihatku gagal menggunakan sumpit dengan benar.

“Broker internasional tapi makan aja nyerah.”

“Aku biasanya transaksi jutaan dollar, bukan duel sama mie.”

Elena tertawa lagi.

Dan aku mulai sadar sesuatu yang berbahaya.

Aku ketagihan melihatnya bahagia.

Itu masalah besar.

Karena dunia seperti kami tidak pernah membiarkan kebahagiaan bertahan lama.

Malamnya kami kembali ke hotel berbeda…

Lebih kecil. Lebih tersembunyi.

Dan kali ini tidak ada pembicaraan soal EDEN.

Tidak ada Vincent.

Tidak ada ancaman.

Hanya aku dan Elena.

Kami duduk di lantai dekat jendela sambil minum wine murah dari minimarket.

Sangat jauh dari kehidupan elite yang selama ini mengelilingi kami.

Namun justru itu terasa nyata.

Hangat.

Dan sederhana.

Elena menyenderkan kepala ke bahuku.

“Aku lupa kapan terakhir kali aku ketawa sebelum ketemu kamu.”

Aku menoleh sambil tersenyum kecil.

“Aku juga lupa kapan terakhir kali ada perempuan yang bikin hidupku lebih berantakan.”

Ia memukul lenganku pelan sambil tertawa.

Dan malam perlahan berubah semakin intim.

Tidak terburu-buru.

Tidak liar.

Lebih dalam.

Kami saling mencium pelan di bawah cahaya lampu kota yang masuk dari jendela hotel.

Tangan Elena menggenggam leherku perlahan sementara napasnya mulai tidak stabil di sela ciuman.

Dan kali ini tidak ada rasa takut di matanya.

Hanya rasa ingin tinggal lebih lama di momen ini.

Seolah kami sama-sama sadar…

dunia di luar sana mungkin akan menghancurkan semuanya besok pagi.

Namun malam ini masih milik kami.

Aku mencium dahinya perlahan saat Elena tertawa kecil karena rambutku berantakan.

“Kamu tahu nggak?” bisiknya.

“Hm?”

“Kamu nyebelin.”

Aku terkekeh kecil.

“Tapi kamu tetap nyium aku.”

Elena menggeleng sambil tersenyum.

Dan beberapa saat kemudian…

kami kembali tenggelam dalam kehangatan satu sama lain.

Tubuh kami saling mencari dengan pelan namun penuh rasa lapar yang sudah lama dipendam.

Bukan hanya tentang gairah.

Namun tentang dua manusia dewasa yang akhirnya merasa dilihat apa adanya.

Tanpa topeng.

Tanpa status.

Tanpa permainan.

Dan mungkin itu bentuk intimacy paling berbahaya di dunia ini.

Karena ketika seseorang mulai melihat luka terdalam kita…

perpisahan akan terasa jauh lebih menyakitkan.

Pukul 02:13 dini hari.

Aku terbangun lebih dulu.

Elena masih tertidur di dadaku dengan napas pelan dan wajah damai yang jarang sekali kulihat.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Karena laptop kecil di meja tiba-tiba menyala sendiri.

Automatic boot.

Layar hitam.

Lalu muncul satu simbol putih.

EDEN.

Jantungku langsung menegang.

Dan beberapa detik kemudian…

muncul satu file video otomatis.

PLAYING…

Wajah Vincent muncul di layar.

Namun kali ini senyumnya hilang.

Tatapannya dingin.

Serius.

“Kalau kamu sedang menonton ini, Elena…”

Hening sesaat.

“…berarti kamu benar-benar jatuh cinta padanya.”

Aku langsung menatap layar tajam.

Vincent melanjutkan:

“Dan itu kesalahan terbesarmu.”

Di belakangnya terlihat ruangan server besar penuh monitor dan data digital.

Lalu layar berubah memperlihatkan daftar nama manusia dari berbagai negara.

Sebagian bertuliskan:

STATUS: ERASED

Dadaku terasa dingin.

Vincent kembali muncul.

“EDEN dibangun untuk memberi manusia kesempatan kedua.”

“Tapi manusia selalu rakus.”

Tatapannya perlahan berubah gelap.

“Dan orang yang mencoba menghancurkan EDEN…”

Lalu ia tersenyum kecil.

“…akan dihapus bersama masa lalunya.”

Klik.

Video berhenti.

Ruangan hotel mendadak terasa sangat sunyi.

Dan tepat saat itu…

Elena perlahan terbangun di sampingku.

Ia melihat layar laptop.

Lalu wajahnya langsung berubah pucat.

Karena di bawah video tadi…

muncul satu data baru.

IDENTITY MATCH FOUND:

AZKAIHZA

STATUS: PROCESSING ERASURE.**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 10 CINTA HADIR DI di TENGAH KEKACAUAN

    Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

    Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

    TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

    Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

    Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

    Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status