Share

190.

Author: Freyaa
last update publish date: 2026-10-13 00:30:00

Tiba-tiba, raut wajah Nyonya tua berkerut menahan rasa tidak nyaman, dan bulir keringat dingin langsung mengucur di pelipisnya.

"Mama... ada apa?" tanya Ethan cemas seraya menyerahkan mangkuk sup kembali ke tangan Sarah.

"Perut Mama mendadak mulas... Ah, sepertinya sudah keluar... Uhm, maaf ya!" bisik Nyonya tua pelan dengan wajah penuh penyesalan. Suara kentut yang cukup keras terdengar, posisi duduknya di kursi roda pun menjadi gelisah.

Sepertinya buang air besarnya juga turut keluar seiring
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    191. Melepaskan Cinta dengan Cinta

    Sudah tiga hari Nyonya tua Shigeki tinggal di rumah. Sarah dan Ethan bergantian merawatnya dengan sangat telaten. Kehadiran Tachi dengan celotehan, cerita, dan tawa berderainya pun selalu berhasil membuat Nyonya tua tertawa terbahak sehingga raut wajah tuanya berbinar cerah penuh kegembiraan. Sarah memutar pelan handle pintu geser kamar Nyonya tua, membawa nampan berisi minuman hangat. Ia meletakkannya di atas meja kecil, lalu duduk di samping ibu mertuanya itu yang sudah tubuhnya sudah wangi dan bersih, di lap menggunakan air hangat oleg Ethan Sarah memijat lembut jemari Mama mertuanya yang langsung tersenyum penuh arti memandangnya, "Ada apa? Apakah Shi-shi tidak berperilaku baik padamu?" Nyonya tua seakan sudah paham gelagat Sarah yang memijatnya, biasanya dahulu itu adalah kode kecil jika wanita itu ingin mengadu pada sang mertua. Sarah tersenyum sangat lembut, "Tidak, Ma. Dia selalu baik padaku. Tapi... ada Eiji datang berkunjung. Mama mau menemuinya?" Eiji adalah keponakan

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    190.

    Tiba-tiba, raut wajah Nyonya tua berkerut menahan rasa tidak nyaman, dan bulir keringat dingin langsung mengucur di pelipisnya."Mama... ada apa?" tanya Ethan cemas seraya menyerahkan mangkuk sup kembali ke tangan Sarah."Perut Mama mendadak mulas... Ah, sepertinya sudah keluar... Uhm, maaf ya!" bisik Nyonya tua pelan dengan wajah penuh penyesalan. Suara kentut yang cukup keras terdengar, posisi duduknya di kursi roda pun menjadi gelisah.Sepertinya buang air besarnya juga turut keluar seiring dengan bunyi kentut yang besar juga panjang. Tanpa sedikit pun menutup hidungnya atau menunjukkan raut enggan, Ethan tersenyum sangat lembut, "Keluarkan saja, Ma. Nanti aku yang bersihkan," tuturnya tenang.Sarah menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berjuang mati-matian menahan tangis melihat Ethan setengah berdiri di lantai, menempelkan pipinya ke pelipis Nyonya tua, sementara tangannya mengusap punggung wanita itu dengan penuh kehangatan."Ada aku di sini, Mama jangan kuatir. Keluarkan saja se

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    189.

    Perjalanan menuju panti jompo tempat Nyonya tua Shigeki dirawat di kawasan Meguro, menembus jalanan Tokyo yang tertata rapi, memakan waktu sekitar tiga puluh menit, dari kediaman pribadi di Minato. Panti jompo tempat ibu kandung almarhum Shigeki tinggal ini bukanlah institusi biasa, melainkan kompleks kediaman lansia privat bernuansa resor modern. Dikelilingi taman Jepang yang teduh, dan tempat tersebut memiliki fasilitas medis lengkap, ruang rekreasi VIP, hingga perawat pribadi yang siaga dua puluh empat jam.Sarah memang tidak main-main dalam memuliakan mertuanya.Seluruh perawatan mewah itu dibiayai tanpa henti dari alokasi dividen perusahaan milik almarhum Shigeki atas amanah Sarah. Selain membiayai panti jompo, membiayai operasional dan gaji para pelayan di kediaman Minato, melunasi seluruh tagihan perkuliahan, serta memberikan uang saku ekstra bagi Paulina, Sarah juga rutin mengalokasikan dividen perusahaan untuk keluarga besar Shigeki lainnya dan menjadi donatur tetap di beber

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    188.

    Pagi hari di Minato diselimuti sejuknya udara musim dingin yang bersih. Sinar matahari pagi menerobos celah-celah jendela kayu, menghangatkan kamar utama usai malam yang begitu membara bagi Ethan dan Sarah."Selamat pagi, My Love..." bisik Ethan begitu membuka mata, melihat Sarah yang sudah terbangun lebih dulu, sedang memandangi bias cahaya pagi yang menerobos masuk dari celah jendela dengan posisi menyamping. Sebelah tangan Ethan merengkuh tubuh polos Sarah agar makin bersandar rapat di depan dadanya, "Ada apa? Kau memikirkan sesuatu?" tanya Ethan lembut, sementara sebelah tangannya yang lain meluncur menjalar meraba permukaan perut mulus Sarah.Jemari Sarah membelai lembut tangan Ethan yang menempel di perutnya, "Kemarin sewaktu pertama kali kita bercinta, tepat setelah aku bersih dari datang bulan. Uhm... tiga hari ke depan adalah masa suburku..." bisik Sarah seraya berbalik menghadap Ethan, menatap dalam ke dalam netra biru gelap suaminya."Kalau begitu, Mister Slamet akan rajin

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    187.

    Sarah berjongkok di depan makam Shigeki Tashiro yang terawat sangat rapi dengan rumput hijau tumbuh halus."Assalamu'alaika, Shi-shi. Apa kabarmu dan putri kita di sana?" ucap Sarah sangat lirih seraya membasuh batu nisan Shigeki Tashiro yang bahkan tidak terdapat setitik debu pun."Maaf... aku mengkhianatimu, Shi-shi. Aku... aku menikah lagi," tambah Sarah sembari meraih jemari Ethan yang berdiri membisu di sebelahnya, menatap khidmat makam pria yang pernah begitu dicintai oleh Sarah."Namanya Ethan. Ethan Volkov. Dia sepupuku dari keluarga Mama kandungku. Oh ya, apakah kau sudah bertemu Mama dan Papaku di sana, Shi-shi? Jangan lupa ajak Isabella, putri kita, untuk bermain bersama Nenek dan Kakeknya, ya?""Aku mencintaimu, Shi-shi, sama seperti dulu. Dan cinta ini akan selalu tersimpan rapat dalam hatiku... meski kini aku juga mencintai Ethan Volkov.""Maafkan aku, Shi-shi..." lirih Sarah tak lagi sanggup menahan isak tangisnya dan air mata pun meluncur deras membanjiri pipinya.Etha

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    186. Welcome Paulina, Jepang!

    Setelah menempuh perjalanan panjang semalaman dari Moskow menggunakan penerbangan komersial kelas first class, Ethan dan Sarah akhirnya mendarat mulus di Bandara Haneda, Tokyo, saat matahari musim dingin baru saja membumbung di langit pagi. Aroma dingin yang menusuk khas akhir tahun di Jepang langsung menyambut begitu Ethan membimbing Sarah melangkah keluar dari area kedatangan. Sebuah mobil eksklusif sudah menunggu di pelataran. Di samping kendaraan tersebut, seorang gadis muda berbusana kerja rapi yang dibalut mantel musim dingin langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan Sarah dan Ethan. "Selamat datang di Jepang, Sarah Nee-chan," sapa gadis itu seraya mengulurkan tangan pada Sarah terlebih dahulu, sebelum kemudian memberi penghormatan sopan kepada Ethan. "Apa kabar, Paulina?" balas Sarah ramah, memandang gadis yang kini tampak jauh lebih dewasa dibanding terakhir kali mereka bertatap muka. "Sangat baik, Nee-chan. Obaachan sudah sering menanyakan Nee-chan dan beliau sep

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    2.

    Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    1.

    "Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    7.

    Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    6.

    Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status