LOGINTiba-tiba, raut wajah Nyonya tua berkerut menahan rasa tidak nyaman, dan bulir keringat dingin langsung mengucur di pelipisnya."Mama... ada apa?" tanya Ethan cemas seraya menyerahkan mangkuk sup kembali ke tangan Sarah."Perut Mama mendadak mulas... Ah, sepertinya sudah keluar... Uhm, maaf ya!" bisik Nyonya tua pelan dengan wajah penuh penyesalan. Suara kentut yang cukup keras terdengar, posisi duduknya di kursi roda pun menjadi gelisah.Sepertinya buang air besarnya juga turut keluar seiring dengan bunyi kentut yang besar juga panjang. Tanpa sedikit pun menutup hidungnya atau menunjukkan raut enggan, Ethan tersenyum sangat lembut, "Keluarkan saja, Ma. Nanti aku yang bersihkan," tuturnya tenang.Sarah menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berjuang mati-matian menahan tangis melihat Ethan setengah berdiri di lantai, menempelkan pipinya ke pelipis Nyonya tua, sementara tangannya mengusap punggung wanita itu dengan penuh kehangatan."Ada aku di sini, Mama jangan kuatir. Keluarkan saja se
Perjalanan menuju panti jompo tempat Nyonya tua Shigeki dirawat di kawasan Meguro, menembus jalanan Tokyo yang tertata rapi, memakan waktu sekitar tiga puluh menit, dari kediaman pribadi di Minato. Panti jompo tempat ibu kandung almarhum Shigeki tinggal ini bukanlah institusi biasa, melainkan kompleks kediaman lansia privat bernuansa resor modern. Dikelilingi taman Jepang yang teduh, dan tempat tersebut memiliki fasilitas medis lengkap, ruang rekreasi VIP, hingga perawat pribadi yang siaga dua puluh empat jam.Sarah memang tidak main-main dalam memuliakan mertuanya.Seluruh perawatan mewah itu dibiayai tanpa henti dari alokasi dividen perusahaan milik almarhum Shigeki atas amanah Sarah. Selain membiayai panti jompo, membiayai operasional dan gaji para pelayan di kediaman Minato, melunasi seluruh tagihan perkuliahan, serta memberikan uang saku ekstra bagi Paulina, Sarah juga rutin mengalokasikan dividen perusahaan untuk keluarga besar Shigeki lainnya dan menjadi donatur tetap di beber
Pagi hari di Minato diselimuti sejuknya udara musim dingin yang bersih. Sinar matahari pagi menerobos celah-celah jendela kayu, menghangatkan kamar utama usai malam yang begitu membara bagi Ethan dan Sarah."Selamat pagi, My Love..." bisik Ethan begitu membuka mata, melihat Sarah yang sudah terbangun lebih dulu, sedang memandangi bias cahaya pagi yang menerobos masuk dari celah jendela dengan posisi menyamping. Sebelah tangan Ethan merengkuh tubuh polos Sarah agar makin bersandar rapat di depan dadanya, "Ada apa? Kau memikirkan sesuatu?" tanya Ethan lembut, sementara sebelah tangannya yang lain meluncur menjalar meraba permukaan perut mulus Sarah.Jemari Sarah membelai lembut tangan Ethan yang menempel di perutnya, "Kemarin sewaktu pertama kali kita bercinta, tepat setelah aku bersih dari datang bulan. Uhm... tiga hari ke depan adalah masa suburku..." bisik Sarah seraya berbalik menghadap Ethan, menatap dalam ke dalam netra biru gelap suaminya."Kalau begitu, Mister Slamet akan rajin
Sarah berjongkok di depan makam Shigeki Tashiro yang terawat sangat rapi dengan rumput hijau tumbuh halus."Assalamu'alaika, Shi-shi. Apa kabarmu dan putri kita di sana?" ucap Sarah sangat lirih seraya membasuh batu nisan Shigeki Tashiro yang bahkan tidak terdapat setitik debu pun."Maaf... aku mengkhianatimu, Shi-shi. Aku... aku menikah lagi," tambah Sarah sembari meraih jemari Ethan yang berdiri membisu di sebelahnya, menatap khidmat makam pria yang pernah begitu dicintai oleh Sarah."Namanya Ethan. Ethan Volkov. Dia sepupuku dari keluarga Mama kandungku. Oh ya, apakah kau sudah bertemu Mama dan Papaku di sana, Shi-shi? Jangan lupa ajak Isabella, putri kita, untuk bermain bersama Nenek dan Kakeknya, ya?""Aku mencintaimu, Shi-shi, sama seperti dulu. Dan cinta ini akan selalu tersimpan rapat dalam hatiku... meski kini aku juga mencintai Ethan Volkov.""Maafkan aku, Shi-shi..." lirih Sarah tak lagi sanggup menahan isak tangisnya dan air mata pun meluncur deras membanjiri pipinya.Etha
Setelah menempuh perjalanan panjang semalaman dari Moskow menggunakan penerbangan komersial kelas first class, Ethan dan Sarah akhirnya mendarat mulus di Bandara Haneda, Tokyo, saat matahari musim dingin baru saja membumbung di langit pagi. Aroma dingin yang menusuk khas akhir tahun di Jepang langsung menyambut begitu Ethan membimbing Sarah melangkah keluar dari area kedatangan. Sebuah mobil eksklusif sudah menunggu di pelataran. Di samping kendaraan tersebut, seorang gadis muda berbusana kerja rapi yang dibalut mantel musim dingin langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan Sarah dan Ethan. "Selamat datang di Jepang, Sarah Nee-chan," sapa gadis itu seraya mengulurkan tangan pada Sarah terlebih dahulu, sebelum kemudian memberi penghormatan sopan kepada Ethan. "Apa kabar, Paulina?" balas Sarah ramah, memandang gadis yang kini tampak jauh lebih dewasa dibanding terakhir kali mereka bertatap muka. "Sangat baik, Nee-chan. Obaachan sudah sering menanyakan Nee-chan dan beliau sep
Tak lama kemudian, pintu lounge bergeser terbuka. Udara dingin seakan ikut menyelinap masuk seiring kehadiran Ethan. Pria itu melangkah masuk dengan setelan jas formal yang coat-nya sedikit terbuka. Aura dominan dan ketegasannya masih menguar pekat, menandakan urusan "bersih-bersih" di kantor pusat telah tuntas sepenuhnya.Di belakang Ethan, Madam Maria melangkah tenang didampingi Disava, sementara Brian dan Sergei mengekor rapat dengan ekspresi kelegaan yang nyata di wajah mereka.Sarah langsung bangkit berdiri, melangkah cepat ke arah Madam Maria dan segera memeluk neneknya itu erat-erat. Ini adalah pelukan paling erat, paling tulus, dan paling penuh kasih yang pernah Sarah berikan untuk Madam Maria."Maafkan Grandma, Sayang..." bisik Madam Maria dengan isak tangis tertahan."Maafkan Sarah juga yang sempat berburuk sangka... berpikir Grandma tidak menyukai Papa dan berniat membunuhnya agar Mama kembali ke keluarga Volkov," cicit Sarah pelan, ikut berurai air mata."Itu tidak benar,
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln







