LOGINTerima kasih banyak buat semuanya yang mengirimkan hadiah, buat teman-teman yang lanjut baca sampai bab ini, buat yang senyum-senyum membaca kisah Ethan dan Sarah ini. Love you all!
Tanpa menunda sedetik pun, Disava meraih ponselnya dan langsung menghubungi Madam Maria, yang mengangkat panggilan itu tepat di deringan kedua. Tak lama kemudian, Madam Maria melangkah anggun menghampiri tempat Disava berdiri. Para tamu perlahan menoleh, sengaja membentuk lingkaran longgar di sekeliling mereka hingga membuat Ksenia tidak memiliki celah sedikit pun untuk kabur atau melarikan diri. "Ksenia? Kenapa kau mengenakan pakaian pelayan?" seru Madam Maria terkejut, matanya terbelalak menatap Ksenia yang kini mengangkat wajah dengan berurai air mata. "G-Grandma..." cicit Ksenia terbata. "Sepertinya seragam itu memang sangat cocok untukmu, Ksenia! Di mana Ibumu? Apakah dia juga menjadi pelayan di sini?" cecar Madam Maria, memotong dan mematikan segala niat Ksenia untuk mengadu. Tepat di saat bersamaan, kepala pelayan utama berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Madam Maria sambil menyeret lengan Viktoria yang tampak kusut dan ketakutan. "Kami mohon maaf, Madam. Kami terpak
Acara pesta masih berlangsung meriah meskipun Ethan telah membawa Sarah naik ke kamar bulan madu mereka.Musik orkestra berubah menjadi lebih energik. Brian menghampiri Disava yang baru saja selesai menikmati makanan penutupnya."Kau butuh hiburan untuk melepas penat dari urusan keuangan Volkov Holdings?" tanya Brian ramah sambil mengulurkan tangan, berniat mengajak gadis itu berdansa."Sorry, Bro, dia kekasihku," sahut Dewa yang mendadak menepuk pelan pundak Brian dari belakang dengan tawa kecil.Disava mengulum senyumnya memandang Dewa, lalu menaikkan sebelah alisnya ke arah Brian yang langsung tercengang dengan mulut melongo selama beberapa detik."K-kekasih? Kapan kalian saling berkenalan? Bukankah baru bertemu malam ini? B-bagaimana bisa kalian sudah berpacaran secepat itu?" cetus Brian terbata-bata, masih tak percaya melihat Dewa, kini sudah merangkul pundak Disava yang sama sekali tidak ditolak oleh sang gadis."Kalau sudah cocok, kenapa harus ditunda? Kami memang baru bertemu
Setelah tarian poco-poco berakhir meriah, di mana para tamu undangan elit di pesta bangsawan itu tampak seperti melakukan senam malam bersama-sama, suasana kembali mencair dengan tawa dan obrolan hangat.Beberapa pasangan muda masih terlihat berdansa mengikuti alunan musik orkestra, yang lain menikmati hidangan, minum serta memanfaatkan bertemu serta berkenalan dengan tamu lainnya juga ada yang berbincang dengan Mister Konstantin yang akan selalu membawa Tachi bersamanya untuk diperkenalkan. "Indonesia benar-benar negeri yang indah. Tariannya pun tak kalah menarik dan kompak dari tarian tradisional di Eropa," puji seorang bangsawan asal London sambil mengelap keringat di wajahnya dengan sehelai saputangan sutra para orang di sebelahnya yang mengangguk setuju seraya terseyum puas. Di sisi lain, Ethan menggandeng Sarah untuk berkeliling dan memperkenalkan sang istri kepada beberapa tamu penting yang belum sempat menyapa."Halo, terima kasih banyak sudah hadir," sapa Sarah ramah, mengul
Setelah dansa pembuka dari Sarah dan Ethan yang sangat manis, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ikut jatuh cinta oleh energi pasangan pengantin itu.Kini, musik telah berganti, dan para tamu mulai ikut berdansa dengan pasangan masing-masing. Sarah berdansa dengan Mister Konstantin, sementara Ethan berdansa bersama Madam Maria.Tachi tidak mau ketinggalan. Anak lelaki itu menarik pergelangan tangan Catherine, "Maket, ajarin Tachi dansa juga."Dokter Ali tergelak renyah melihat keponakannya yang memang sangat akrab dan manja kepada Catherine, "Papali juga mau ikut berdansa dengan Tachi dan Maket, boleh?"Tachi mengangguk dan tertawa lebar tanpa suara, lalu mengalungkan lengan gempalnya dengan manja pada leher Dokter Ali yang langsung mengangkat dan menggendongnya.Di sisi lain lantai aula, Dewa duduk santai menikmati orang-orang berdansa di depannya. Tiba-tiba seorang gadis bergaun elegan mengulurkan tangan ke hadapan Dewa, "Mau berpasangan denganku?" tanyanya dalam bahasa Inggris
Para tamu membaur, saling mengobrol, dan bersulang minuman sambil menikmati hidangan mewah yang terus disajikan oleh para pelayan tanpa henti setiap kali piring saji mulai menipis, juga berkeliling membawa baki minuman untuk 300 undangan yang semuanya hadir bersama pasangan masing-masing.Catherine dan Dokter Ali sudah berada di dalam ruangan, bergabung bersama Dewa dan Brian di meja bundar berlapis taplak sutra."Lady Catherine, silakan nikmati hidangannya dulu. Saya mau menemui Mister Konstantin," tutur Brian setelah meminta pelayan menghidangkan makanan untuk Catherine, Dokter Ali, serta Dewa.Brian memang sengaja mencari alasan untuk 'menyingkir' sejenak guna menata hatinya yang perih melihat Dokter Ali begitu posesif merangkul pinggang Catheri
"Kau tak mengenalku?" dengkus Viktoria sambil terus melangkah maju, yang langsung dihadang oleh Dewa dengan merentangkan kedua tangan lebar-lebar."Ya, saya tidak mengenal Anda berdua. Karena itu, mohon perlihatkan undangan!" ucap Dewa tak gentar menghadapi sikap arogan Viktoria dan Ksenia."Aku adalah Viktoria, ibunya Ethan Volkov..."Belum sempat Viktoria merampungkan kalimatnya, Brian yang sudah memanggil beberapa pengawal segera menahan wanita itu dan Ksenia.Ksenia langsung menjerit jijik begitu salah satu pengawal menyentuh pundaknya."Jangan sentuh aku! Aku saudarinya Ethan Volkov!" seru Ksenia sambil berdecih mual, menatap tajam penuh keangkuhan kepada para pengawal yang mengepung ia dan ibunya.Dewa sedikit mengernyit ragu, menoleh pada Brian yang melangkah ke sampingnya, lalu menatap Viktoria dan Ksenia dengan pandangan datar tanpa emosi."Anda memang ibunya Bos Ethan, tetapi ibu tiri yang paling tak ingin dilihat oleh seluruh keluarga besar Volkov di pesta ini. Silakan pergi
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri







