LOGINSudah hampir setengah jam Rena menunggu Alex yang tak kunjung datang. Saat ponselnya berdering dengan cepat ia mengangkatnya. Di seberang sana terdengar Alex mengatakan kalau pria itu tidak jadi datang. "Oh," ucap Rena sedikit kecewa."Aku barusan jatuh di kamar mandi,” ucap Alex memberitahu."Hah, kok bisa?" Rena kaget mendengarnya. "Ya bisalah," sahut Alex sedikit sewot."Ih, kok marah?""Aku ini lagi nahan sakit. Kamu bukannya langsung ke sini tapi malah nanya-nanya," ucap Alex kesal. Rena tertawa kemudian mengatakan akan segera ke sana."Tunggu, Adi udah jalan jemput kamu.""Kok dijemput? Saya bisa jalan sendiri, Pak."“Gak usah protes,” sahut Alex.Rena kemudian menemui Tisa di kamar dan pamit pergi ke rumah Alex, begitu Adi telah sampai di depan rumahnya.***"Makasih ya, Mas Adi," ucap Rena saat ia telah sampai di rumah Alex.Rena kemudian mengetuk pintu yang tak lama dibukakan oleh Bi Siti."Masuk, Mbak." Bi Siti
Tak mengira Nico benar-benar akan datang ke rumah, Rena dibuat kaget karena Nico telah nongkrong di depan rumahnya sejak jam delapan pagi. Saking nyenyaknya tidur kakak beradik itu baru terbangun bangun pukul setengah sembilan."Kak." Tisa datang ke kamar Rena sambil mengucek-ngucek matanya."Hmm." Rena menyibak selimut dengan malas. "Kayaknya ada orang di luar rumah," kata Tisa ikut merebahkan diri di samping Rena."Siapa? Bukain aja sana.""Kakak aja. Tisa masih ngantuk," sahut Tisa malah masuk ke dalam selimut.Mengalah pada Tisa, Rena keluar dari kamar lalu berjalan menuju ke depan."Hah, Nico!" serunya kaget saat mengintip dari balik gorden dan melihat Nico tampak duduk santai di kursi teras. Pelan-pelan Rena kembali lagi ke kamar."Tis, di depan ada Nico. Kamu bilang Kakak gak ada ya. Bilang aja lembur di kantor," ucap Rena menggoyang-goyangkan badan adiknya"Telat. Tisa baru aja di chat sama Kak Nico dan bilang Kakak ada di rumah." Dengan
Sejak pagi Tisa sudah meninggalkan rumah untuk pergi ke kampus, agar skripsi lekas selesai. Sementara Rena masih bermalas-malasan di kamar memikirkan menu sarapan paginya apa. TingTingTingNada pesan masuk berkali-kali di ponsel yang baru saja ia nyalakan."Masih pagi lo ini,” ucap Rena membaca pesan yang Alex kirimkan. Tak berselang lama terdengar suara ketukan dari pintu depan. Makin lama suara ketukan itu makin intens dan bertambah nyaring. Mengambil langkah seribu, gadis itu menuju pintu depan. Salah ia tak mengintip dulu dari balik jendela tapi malah langsung membuka pintu rumah. Di depannya Alex dibuat bengong sesaat melihat penampilan Rena pagi itu. "Kamu tidur kaya gini?" Alex memperhatikan Rena dari atas kepala hingga ujung kaki. Gadis itu mengenakan kaos oblong longgar celana diatas lutut serta kaos kaki. Kaos oblong tipis yang digunakannya pagi ini sedikit menerawang hingga Alex bisa melihat bayangan bagian tubuh Rena di balik ba
"Saya ikut masuk juga kan?" tanya Alex dengan senyum mengambang di bibirnya saat tiba di depan rumah Rena."Masuk aja, Pak."Berjalan beriringan dengan Rena, Alex menyapa mereka semua yang sedang berkumpul di ruang tamu."Mama jadi ikut sama Tante Bunga ke Bandung?" tanya Rena."Gapapa kan, Sayang? Supaya Tante Bunga ada teman di rumah. Sepupu kamu harus sudah balik ke kampus lagi," ucap Om Arsyad meminta izin."Gapapa, Om, " sahut Rena."Tapi aku gak bisa ikut," rengek Tisa dengan wajah sedih."Nanti kalau sudah selesai konsul bilang aja sama, Om. Biar kamu di jemput sama supir," ucap Om Arsyad tak ingin Tisa sedih.Mengingat waktu yang semakin sore, mereka lantas pamit dan pergi."Hati-hati di jalan ya, Om." Mereka melambaikan tangan.Tisa masuk ke dalam rumah dengan ekspresi wajah yang masih merengut."Mau ikut ke Bandung, suntuk banget ngerjain skripsi. Kenapa juga harus konsul minggu ini,” cerutu Tisa menjatuhkan diri di sofa. "G
Mengusut kejadian tempo lalu yang terjadi di proyek pembangunan apartemen, orang suruhan Pak Jon menemukan hal ganjil. Tanpa ada yang tahu, orang suruhan Pak Jon telah merekam pembicaraan Pak Rudi dengan Desita. "Astaga, kenapa Desita bisa seperti itu? Padahal meski apartemen ini belum selesai, ia sudah mendapatkan pembagian keuntungan," ucap Pak Jon tak habis pikir dengan tindakan Desita yang di luar dugaan."Setelah tahu fakta ini, saya lalu mencari tahu keadaan perusahaan milik Desita dan keluarganya, Pak.""Lalu hasilnya, apa?" Pak Jon penasaran. Setaunya perusahaan milik keluarga Desita merupakan salah satu perusahaan yang cukup besar. Tidak hanya properti, tapi juga menangani ekspor impor."Mereka lagi kesulitan keuangan, Pak. Selain karena Desita yang hobi belanja barang-barang branded, ibunya Desita sedang apes karena uang yang diinvestasikan pada salah satu trading, ternyata bodong.""Astaga." Pak Jon menghela nafas. Tak menyangka perusahaan Desita seda
"Lex, kamu gak sarapan dulu?" tanya Ira saat melihat Alex terburu-buru keluar dari kamar Putri untuk pamit pergi kerja. "Nanti aja, Ma. Ada urusan mendadak," ucap Alex yang kemudian pamit pada Ira."Hati-hati di jalan, kamu gak usah buru-buru," pesan Ira pada Alex yang sudah tancap gas meninggalkan rumah. Ira lalu menghubungi Rena untuk menanyakan urusan mendadak apa yang sedang Alex urus."Iya, Bu. Selamat pagi." Rena menempelkan ponselnya di telinga. "Kamu sudah di kantor?" tanya Ira. "Belum, Bu. Ini baru mau jalan. Ada apa ya, Bu?""Itu tadi Alex pagi-pagi sudah pergi. Gak sempat sarapan, katanya ada urusan mendadak. Urusan apa sih?" Ira penasaran karena wajah Alex terlihat tegang."Pak Alex ke rumah sakit, Bu.""Hah, ngapain?" Ira kaget. Yang tadinya Ia berdiri, kini ia memilih untuk duduk. Takut tambah kaget mendengar jawaban dari Rena."Dapat info dari Pak Jon, kalau proyek pembangunan apartemen yang sedang berlangsung terjadi kecelakaan







