Masuk"Ih, apa sih, Kak. Nggak ditelantarkan juga kali, ini kan kemauanku sendiri," sahut Aluna, mencoba mencairkan suasana dengan nada bercanda yang dipaksakan."Iya, iya, percaya," goda Dirga lembut.Ia kemudian melambaikan tangan ke arah pelayan kafe, memesan secangkir Americano dingin untuk dirinya sendiri dan sepiring waffle cokelat.“Aku sampai lupa pesan untuk Kak Dirga,” ujar Aluna sesaat setelah pelayan kafe yang mencatat pesanan Dirga pergi.“Nggak apa-apa. Bumilnya fokus ke suaminya terus.”“Ih…,” rajuk Aluna yang membuat Dirga tertawa.“Terus itu Kakak kok malah pesan camilan manis?” tanya Aluna heran.Dirga menatap Aluna hangat, menyunggingkan senyum yang entah mengapa terasa begitu menenangkan.“Tadi kan di chat kamu bilang belum makan siang karena mau makan bareng suamimu. Dan melihat kamu cuma pesan jus dan cake di sini, aku tebak, kamu pasti belum sempat makan sepeser pun sampai jam segini, kan?”Aluna tertegun.Skakmat.Kebohongannya runtuh seketika hanya dengan satu perha
Aluna menatap keluar saat mobil taksi online itu sudah berjalan. Rasanya kink kepalanya terasa penuh dan dadanya terasa sesak. Ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dulu, tetapi juga tidak tahu mau kemana. Aluna hanya diam di mobil itu, menatap jalanan sore yang mulai padat karena bertepatan dengan jam bubaran kantor.Saat matanya fokus menatap jalanan, Aluna melihat sebuah kafe bernuansa hangat dengan pencahayaan temaram saat mobil yang membawanya berhenti di tengah kemacetan. Tak menunggu lama, Aluna turun setelah membayar dan meminta sang driver untuk menyelesaikan orderannya.Aluna kemudian melangkah pelan menuju pintu masuk. Ia mendorong pintu kaca kafe, dan disambut denting lonceng angin yang berdenting halus. Aluna memilih meja di sudut ruangan yang agak tersembunyi, dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya.Setelah memesan segelas jus dan juga snack ringan yang sebenarnya hanya dijadikan alasan agar bisa menumpang duduk, Aluna menyandarkan punggungnya. Ia menatap k
Hembusan napas berat dari Ragil terdengar begitu kentara di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.“Nggak perlu repot-repot, Lun. Tadi di ruang rapat sudah disediakan snack berat, aku sudah agak kenyang,” ujar Ragil dengan nada suara yang terkesan enggan.Ucapan Ragil itu sempat membuat senyum di wajah Aluna menyusut, namun ia buru-buru menguasai diri. Aluna tahu jika dirinya tidak boleh egois saat suaminya sedang ditekan beban pekerjaan."Tapi makanannya sudah terlanjur aku pesan, Mas. Ini sup iga sama iga bakar madu kesukaan kamu, lagi aku hangatkan di microwave," sahut Aluna lembut dan berusaha membujuk tanpa terkesan memaksa.Ia berjalan mendekati microwave yang sudah berbunyi, menandakan proses pemanasan telah selesai.“Sayang kalau dibuang. Sedikit saja, ya? Biar perut kamu tetap keisi makanan hangat,” sambung Aluna.Ragil menatap punggung Aluna yang tengah sibuk mengeluarkan mangkuk sup yang mengepulkan asap tipis. Keheningan sempat mengg
Aluna tersentak di tempatnya berdiri. Suara pintu yang tertutup dengan keras itu seolah meremukkan sisa-sisa gairah yang sempat membakar tubuhnya beberapa saat lalu. Ruang kerja yang megah ini mendadak terasa begitu dingin dan asing. Rasa bersalah, malu, dan cemburu bercampur aduk menjadi gumpalan sesak di dadanya.Ia melirik ke arah meja kerja Ragil. Kursi besar yang tadi menjadi saksi bisu bagaimana jemari Ragil menyentuhnya kini tampak kosong. Aluna mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap pintu yang tertutup rapat.“Bisa-bisanya kamu membela sekretaris itu dan menyalahkan aku, Mas?” bisik Aluna pada keheningan ruangan.Rasa penasaran dan amarahnya justru kian membara. Aluna melangkah mendekati cermin besar di sudut ruangan. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Kini rambutnya sudah rapi kembali, namun bibirnya masih sedikit bengkak dan memerah akibat pagutan kasar Ragil tadi. Ada kilat kemarahan yang jelas di sepasang matanya.Aluna tidak bisa pulang begitu saja dengan perasaan kala
Suara wanita dari arah pintu seketika menyentak Ragil dan Aluna. Pagutan kasar yang baru saja membakar mereka terputus paksa. Keduanya menoleh cepat dengan napas memburu, dan jantung Aluna rasanya hampir mencelat keluar saat menyadari sosok wanita yang berdiri membeku di ambang pintu adalah Anggun.Aluna bergerak panik. Ia segera turun dari pangkuan Ragil dan buru-buru menarik roknya ke bawah dan merapikan rambutnya yang acak-acakan akibat jemari nakal Ragil tadi. Merasa begitu telanjang oleh rasa malu, Aluna pun sengaja memunggungi Anggun dan menyembunyikan wajahnya yang memerah padam karena tertangkap basah bermesraan dengan suaminya sendiri. Sementara itu Ragil bangkit berdiri, berusaha menguasai keadaan sambil membenarkan letak kemejanya yang kusut.“Ada apa?” tanya Ragil. Nada suaranya diatur sedatar mungkin, menyembunyikan getaran gairah yang belum sepenuhnya surut.“E.. maaf, Pak. Saya cuma mau mengingatkan kalau rapat akan segera dimulai,” ujar Anggun terbata-bata, sambil men
Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Aluna menarik napas pelan lalu tersenyum tipis. Ia pun menganggukkan kepala dengan sopan.“Terima kasih, Anggun.”“Sama-sama, Bu Aluna,” jawab Anggun sambil membalas anggukan tersebut.Tak lama kemudian wanita itu melirik ke arah Ragil dan Pak Beni sebelum kembali bersuara.“Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya masih harus menyiapkan beberapa bahan untuk rapat siang nanti.”“Ya, silakan,” sahut Pak Beni lebih dulu sebelum Ragil sempat menjawab.“Permisi.” Anggun mengangguk hormat dan kemudian ia melangkah meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya.Aluna tanpa sadar mengikuti kepergian wanita itu selama beberapa detik. Baru setelah sosok Anggun menghilang di balik koridor, ia mengalihkan kembali perhatiannya.Entah kenapa perasaan tidak nyaman yang sempat muncul tadi masih tertinggal di dalam hatinya. Meski berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja, Aluna tetap tidak bisa mengabaikan firasat aneh yang sejak tadi mengganggunya.“Ya s







