ANMELDENSuasana malam di mansion utama Dirgantara terasa sangat hening dan damai. Jam dinding kayu jati di lantai dua menunjukkan pukul dua dini hari. Pendar lampu tidur berwarna kuning hangat menerangi sebagian sudut kamar tidur utama.Althea terbangun pelan saat mendengar rengetan halus dari samping tempat tidur. Wanita itu mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, namun rasa lelah pascapersalinan masih membuat gerakannya agak lambat.Sebelum jemari Althea sempat menyentuh tepi selimut, sosok tegap di sampingnya sudah bergerak lebih dulu. Kael langsung membuka matanya, bangkit dari posisi berbaring tanpa suara sedikit pun, dan berdiri tegak di samping ranjang."Kael... kamu belum tidur?" bisik Althea seraya mengusap matanya yang masih agak berat."Aku cuma tidur ayam, Althea," pangkas Kael rendah. Pria itu menyapu rambut halus di kening istrinya dengan jemari tangannya. "Kamu berbaring saja. Biar aku yang lihat Kalathea."Kael melangkah pelan menuju boks bayi kayu jati yang terletak tepa
"Semua perlengkapan dan nutrisi tambahan Nyonya Althea sudah dimasukkan ke dalam mobil pertama, Tuan Kael," lapor Bayu seraya merapikan dokumen medis di atas meja. Kael mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Althea. Pria itu sibuk mengancingkan mantel hangat berwarna krem pada tubuh istrinya, memastikan tidak ada celah udara dingin yang bisa menyentuh kulit Althea. "Kamu tidak perlu memakai mantel setebal ini, Kael," ujar Althea seraya tersenyum tipis. "Aku sudah merasa sangat sehat." "Udaranya cukup kencang di luar, Althea," pangkas Kael lembut namun tak terbantahkan. Tangannya merapikan kerah mantel Althea dengan sangat hati-hati. "Aku tidak mau kamu terkena angin sebelum masuk ke dalam mobil." Perawat senior melangkah mendekat seraya menyerahkan Kalathea yang sudah terbungkus rapi dengan kain bedong lembut bermotif awan. "Nyonya Althea, Tuan Kalathea siap untuk dibawa pulang. Semua indikator kesehatannya sangat prima." Althea mengulurkan kedua tangannya dengan si
Kael kembali memasuki kamar utama lantai dua setelah memastikan seluruh rombongan utusan asing tersebut benar-benar telah dikawal keluar dari area gerbang luar. Suasana kamar tidur kembali tenang dan hangat. Pendar lampu sudut memantul lembut di atas boks inkubator transparan. Saat Kael melangkah mendekati ranjang, Althea rupanya sudah terbangun dari tidurnya. Wanita itu duduk bersandar di atas bantal, matanya yang agak sembab menatap lurus pada Kael dengan raut wajah khawatir. "Kael..." panggil Althea pelan, suaranya terdengar agak serak. Kael seketika mempercepat langkahnya, duduk di tepi ranjang dan merangkul bahu Althea dengan lembut. "Kenapa bangun, Sayang? Suara di bawah mengganggu tidurmu?" Althea menggelengkan kepala, meraih tangan besar Kael yang ada di bahunya dan memeganginya erat-erat. "Aku terbangun saat kamu tidak ada di sampingku. Siapa yang datang malam-malam begini, Kael? Aku dengar suara mobil banyak di luar." Kael mendesah pelan, menundukkan kepala untuk menge
Kael tidak mengalihkan pandangan matanya dari wajah Althea yang tertidur lelap di dadanya. Tangan besarnya menepuk-nepuk pelan bahu istrinya, memastikan Althea tidak tersentak oleh kedatangan Bayu di tengah malam. "Berapa banyak orang yang mereka kirim?" tanya Kael dengan suara sangat rendah, hampir seperti bisikan tajam yang bergetar dingin di udara. Bayu melangkah lebih dekat, menundukkan kepalanya. "Ada empat mobil berisi perwakilan pengacara internasional dan dua anggota dewan komisaris cabang London, Tuan. Mereka memperkirakan akan mendarat di pelataran depan dalam waktu sepuluh menit." Kael mengulus senyum tipis yang sarat akan dominasi dingin. "Mereka pikir pendaratan di tengah malam bisa membuatku lengah?" "Tim pengamanan luar sudah bersiaga di gerbang utama, Tuan Kael," lapor Bayu sopan. "Apakah Anda mau saya menahan mereka di luar gerbang besi?" "Tidak usah," pangkas Kael tegas. Pria itu menyandarkan kepala Althea di atas bantal empuk dengan kehati-hatian yang luar bia
Kael kembali melangkah naik ke lantai dua mansion. Langkah kakinya terasa jauh lebih tenang begitu dia mendekati pintu kamar perawatan VIP utama tempat istri dan putranya berada. Bayu membungkuk hormat saat Kael mendekat. "Tuan Kael, seluruh utusan dari markas besar sudah dikawal keluar dari area gerbang utama oleh tim keamanan." "Bagus," sahut Kael pendek. "Pastikan penjagaan di area luar mansion ditingkatkan dua kali lipat mulai malam ini." "Baik, Tuan Kael," jawab Bayu sigap. Kael membuka pintu kamar dengan sangat pelan, memastikan tidak ada suara bising yang mengganggu keheningan ruangan. Di dalam kamar, pendar lampu sudut yang hangat menerangi ranjang besar. Althea masih terjaga, duduk bersandar di atas bantal tebal seraya memandangi boks inkubator transparan di sampingnya. Begitu melihat Kael masuk, wajah Althea seketika menyala oleh senyuman lega. "Kael," panggil Althea pelan. Kael melangkah mendekat, melepas jas dan merapikan kemejanya sebelum duduk di tepi ranjang tepa
Kael melangkah mendekati sisi ranjang Althea, mengusap lembut kening istrinya yang masih tampak agak pucat. Binar mata hitamnya yang semula dingin menajam seketika melembut saat menatap mata Althea. "Kamu istirahat saja di sini bersama anak kita, Althea," tutur Kael rendah dan mantap. "Biar aku yang menyelesaikan urusan dengan para utusan itu di luar." Althea memegang lengan kemeja Kael, matanya memancarkan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. "Siapa mereka, Kael? Kenapa mereka datang ke rumah kita secepat ini? Bayi kita kan baru saja lahir." Kael menunduk, mendaratkan ciuman hangat di pelipis Althea seraya menggenggam erat jemari istrinya. "Hanya orang-orang tua yang terlalu cemas soal urusan takhta keluarga Dirgantara. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu ketenanganmu malam ini." Althea menghembuskan napas pelan, menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Jangan sampai ada keributan di luar ya, Kael. Kasihan anak kita kalau mendenga
Zayyan melangkah cepat keluar ruangan, langkahnya panjang dan tegas seolah tidak memberi pilihan lain. Ia berhenti sejenak di dekat pintu, menoleh sekilas memastikan Althea mengikutinya, lalu melanjutkan tanpa berkata apa pun. Althea tidak membantah. Ia berjalan keluar dengan tenang, namun sebel
Pintu yang terbuka itu menghadirkan sosok yang tidak diduga oleh siapa pun di ruangan itu, kecuali Althea. Langkahnya mantap, wajahnya tenang, dan sorot matanya tetap sama seperti sebelumnya, tajam tetapi tidak terburu-buru. Om Krisna masuk tanpa menunjukkan rasa canggung sedikit pun, seolah ia mem
“Masuk,” tambah Zayyan singkat sambil membuka pintu mobil. Althea baru saja akan melangkah ketika suara lain terdengar dari arah halaman depan. “Mau ke mana kalian pagi-pagi begini?” Althea menoleh. Seorang pria paruh baya berdiri di dekat gerbang dengan sikap santai, tapi tatapannya tajam.
Di seberang sana terdengar suara Kael yang tenang seperti biasa, tapi ada nada yang sedikit lebih serius dari biasanya. “Thea, kamu sudah di telpon Zayyan pagi ini?" Althea mengerutkan kening. “Belum. Dia hanya kirim pesan saja tadi. Kenapa?” “Zayyan baru kirim kabar,” jawab Kael. “Dia mint







