Masuk
“Apakah jalang itu masih mengurung diri?”
“Pintunya masih terkunci dari dalam.” “Ini sudah dua hari. Bagaimana kalau Tuan datang mengecek dan dia masih keras kepala?” “Kurang ajar! Sepertinya kita masih terlalu baik padanya sampai-sampai dia berani berulah.” Luna menoleh ke arah pintu kamarnya yang terkunci. Wajahnya tetap datar meski obrolan penuh kebencian itu terdengar jelas dari balik dinding. Ia berada di sebuah paviliun milik keluarga Laventin, salah satu keluarga paling berkuasa di negara ini. Luna dibawa ke tempat itu atas perintah kepala keluarga, seorang wanita tua baik hati yang mengaku sahabat mendiang kakek dan neneknya. Beliau berkata bahwa Luna akan diurus selayaknya cucu sendiri. Namun, niat baik itulah yang justru membawa Luna ke neraka kecil ini. Sejak kepindahannya, hidup Luna tak pernah tenang. Di hari pertama, Luna diseret ke kolam ikan di taman belakang dan didorong jatuh. Tidak hanya itu. Pelayan-pelayan yang sama memberinya makanan basi, memukulinya tanpa ragu, bahkan menghinanya terang-terangan. Ia dicap perempuan aji mumpung, jalang, dan sebutan keji lainnya. Tidak sanggup dengan itu semua, selama dua hari terakhir Luna memilih mengurung diri tanpa makan dan minum. Dulu, Luna tak mengerti mengapa mereka begitu membencinya. Ia berharap, kakek dan neneknya membawa serta Luna bersama mereka. Namun, itu dulu. Sekarang– “Hei! Wanita tidak tahu diuntung! Buka pintunya sebelum kami adukan ke Tuan!” teriak seseorang dari luar. Suara gedoran pintu terdengar kasar. “Aku hitung sampai tiga. Satu!” Luna menghela napas pelan. “Berisik sekali,” gumamnya datar. Perempuan itu bangkit berdiri, melangkah menuju pintu, lalu memutar kunci dan membukanya lebar-lebar. Beberapa pelayan berseragam hitam putih langsung menatapnya penuh aura permusuhan. Salah satu dari mereka, yang jelas paling berkuasa, melangkah maju dengan dagu terangkat tinggi. “Ah, akhirnya keluar juga. Masih hidup rupanya. Dasar wanita kampung,” bentak Bela. Wajah kotaknya tampak angkuh dan penuh percaya diri saat menatap Luna. “Oh, aku kira kamu akan mendadak jadi kurus setelah tidak makan dua hari. Ternyata sama aja.” Ucapan itu mengundang tawa dari beberapa pelayan yang turut ada di sana. “Kenapa sampai mengurung diri? Malu? Sama tubuhmu yang kayak bola jelek ini?” lanjut Bela sebelum alisnya berkerut dan ia mengendus bau kamar Luna secara dramatis. “Astaga … bau apa ini?” Ia mengibaskan tangan di depan wajah penuh cemooh. Padahal tidak ada bau apa-apa dari dalam kamar Luna. “Luna, Luna. aku tahu kamu sebelumnya tinggal di kampung. Tapi bukan berarti kamu bisa menjadikan kamarmu kandang sapi.” Tawa terdengar lebih keras dari para pelayan yang sedang bersama Bela. Penuh penghinaan. Bagi mereka, gadis desa seperti Luna memang tidak layak diperlakukan seperti nona rumah di sini. Namun, di sisi lain, Luna tetap diam. Sepasang mata ungunya menatap lurus, dingin, tanpa gentar. “Lihat apa, hah?” Bela mendengus. Ia tampaknya kesal karena provokasinya tidak memancing reaksi dari Luna. “Kenapa? Tidak terima? Memang kenapa kalo tidak teri–” “Bela.” Suara Luna memotongnya. “Apakah begini sikapmu menghadapi tamu majikanmu?” Hening. Udara di sekitar mereka seolah membeku. Para pelayan saling berpandangan, jantung mereka berdetak tak nyaman. Ada sesuatu yang berbeda dan terasa salah. Sejak kapan Luna Martino berani memotong ucapan orang? Namun, Bela tidak memikirkan itu. Setelah ia pulih dari keterkejutannya, ia naik pitam. Berani-beraninya gadis kampungan ini memotong ucapannya! “Berani kamu bilang begitu!?” bentak Bela. “Berengsek! Wanita jelek kampungan sepertimu ini cuma sampah yang dipungut keluarga Laventis! Dasar jalang–” Plak! Sebuah tamparan jatuh menghantam sisi wajah Bela, menjatuhkan wanita itu dalam sekali pukul. Luna Martino bertubuh besar, setiap anggota tubuhnya berdaging, sehingga tamparan ringannya bisa berubah menjadi pukulan mematikan bagi wanita sekurus Bela. “Bela, ketahui batasanmu sebagai pelayan. Serendah-rendahnya posisiku, aku adalah tamu majikanmu. Nyonya tidak membawaku ke sini untuk kamu ganggu.” Semuanya kembali terdiam. Bahkan Bela pun merasa ketakutan. Luna yang mereka kenal akan gemetar, meminta maaf, menunduk ketakutan hanya karena bentakan kecil. Kenapa Luna yang sekarang justru seperti tidak punya rasa takut!? Mereka tidak tahu– Wanita yang berdiri di hadapan mereka kini bukan lagi Luna Martino. Ia adalah Luna Emeros, wanita paling berkuasa kedua setelah Kaisar Agung di Kerajaan Emeros–seorang permaisuri yang entah bagaimana terlempar ke masa modern. Dan seorang permaisuri, sejatinya, tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak seperti ini. Luna melangkah maju. Namun, sebelum dirinya sempat melakukan apa pun, sebuah suara menghentikannya. “Luna Martino, siapa yang memberimu wewenang untuk memukuli pekerja Laventis?”“Sudahlah, dia bukannya melakukan itu dengan sengaja,” cetus Leon santai seolah kekacauan kecil tersebut sudah biasa baginya.Luna melotot ringan sebelum memalingkan muka. Ia menenggak air putih hingga tandas.Bela jelas bersikap semena-mena pada pemilik tubuh, namun respon empat tuan muda Laventin biasa-biasa saja.Seakan tindakan Bela bukan sesuatu yang mengganggu. Apa mungkin selereka mereka memang yang seperti Bela?Atau, Bela punya koneksi kuat yang membuat empat tuan muda bersedia memberinya wajah?“Bella, pergilah.” Leon mengusirnya dengan halus setelah selesai minum. “Aku perlu membicara urusan pribadi dengan Luna,” imbuhnya disertai kerlingan nakal.Bela tersipu malu. Wanita itu menyembunyikan kebencian serta cemburu terhadap Luna, kemudian pergi dengan enggan meninggalkan keduanya.“Gendut, kamu marah?” Jari telunjuk Leon menoel usil lemak pinggang Luna.Luna menepis jari kurang ajar Leon, “Tidak. Mengapa saya harus marah? Anda tidak berbuat kesalahan pada saya, tuan muda.”“
“Selamat pagi, gendut!” sapaan familier datang dari luar pintu kamar. Pintu kamar putih itu tiba-tiba didobrak. “Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?”Leon, dengan balutan atasan kaos dan bawahan celana panjang hitam tampak bersandar di kusen pintu. Mata abu indahnya mengerling nakal. “Kenapa tidak menjawbaku?“ Leon menyeringai, wajah tampannya tampak menggoda seperti seekor rubah jantan. Luna tercengang mendapati kehadiran Leon di kamar pribadinya. “Tuan muda, mengapa kamu ke sini?”“Entahlah,” bahunya terangkat acuh. “Aku sangat bosan, ayo hibur aku.”“Anda pikir saya seorang badut?” Luna menyipit sengit, sedikit marah diminta menghibur orang. Wajah bulat besarnya mengerut. Sontak Leon tertawa terbahak-bahak, memukuli permukaan pintu seraya memegangi perutnya yang keram. “Hahahaha! Wajahmu sangat lucu, tidak sia-sia aku datang kemari,” tukasnya menyeka setitik air disudut mata. Tawa Leon belum mereda sama sekali, “Perutku sampai mati rasa, hahaha, wajahmu bahkan lebih lucu dari
“Leon, untuk apa kau datang kemari?” Zeron bertanya santai, suaranya tersirat kelembutan alami. “Tumben kamu tidak pergi ke klab malam?”“Bosan, aku dengar terjadi sesuatu yang menarik di sini, jadi aku mampir sebentar.” Leon mengangkat kedua bahunya acuh saat menjawab. “Tuan muda sekalian,” suara sopan Luna menginterupsi, menarik atensi dua pria tampan itu. “Saya akan membawa Bela kembali.”Bela, yang masih berlutut di rerumputan, sontak menggeleng keras kepala. Kedua matanya memerah, bertingkah selayaknya korban teraniaya.“Nona, saya tahu anda ingin memukuli saya lagi, kan?” Bela terisak sedih. “Saya tidak mau! Lebih baik anda bunuh saja saya!”“Memukuli apa?” Kesabaran Luna mulai menipis. “Cepat kembali ke dalam!”“Tuan muda, tolong selamatkan saya!” Bela beringsut mundur dengan sengaja, tubuh sintalnya menempel di kaki panjang Zeron. Dada lembut wanita itu menggesek paha keras Zeron melalui suit pants hitamnya. Pemandangan ‘sensual’ itu menarik siulan dari bibir Leon. Luna se
“Masalah ini akan kuselidiki, jangan membuat keributan lagi di masa depan.”Tiba-tiba Marios berkata. Lalu tanpa mengatakan apa pun, pria itu pergi diikuti Luca. Sementara Luna menghela napas pelan dan kembali ke kamarnya.Ia lelah. Badan ini menyiksanya.Malam harinya, seorang wanita muda berambut cokelat dan bermata hazel tiba-tiba muncul di depan kamar Luna.Namun, tidak seperti para pelayan sebelumnya, wanita muda itu mengetuk dengan sopan. Bahkan tutur katanya lembut saat akhirnya Luna membuka pintu.“Selamat malam, Nona. Saya adalah pelayan baru di paviliun ini. Nama saya Anna.”Luna menatap wanita muda itu dalam diam selama beberapa saat.“Tuan muda Marios mengirimmu kemari?” tanya Luna kemudian. “Benar, Nona. Saya diminta mengawasi gerak-gerik pelayan di gedung sekaligus menjadi pelayan pribadi anda!” Anna menjawab antusias. Luna mengangguk. Ia tidak melihat sikap buruk dari sikap Anna sejauh ini.“Baiklah. Bisakah kau bantu aku mengambil makan malam dari dapur?” tanya Luna
Reaksi tersebut tidak lolos dari perhatian Luna, sang permaisuri kerajaan Emeros. Namun, gadis itu menjaga ekspresi netralnya. Benar, Luna Martino dibawa ke sini sebagai calon istri dari salah satu tuan muda Laventin. Bahkan, keempat tuan muda tersebut menjemput Luna Martino sendiri karena diperintah oleh sang nyonya besar. Sebelumnya, ia bersikap baik dan penurut. Dengan harapan bisa diterima oleh keluarga barunya. Luna Martino sempat berharap. Namun, keempat tuan muda tersebut tidak ada yang ramah pada gadis malang itu. Tidak ada yang membantunya, membiarkan Luna Martino menghadapi siksaan para pelayan, lalu terisolasi sendirian sampai mati konyol. Dengan situasi seperti itu, mana mungkin Luna mau menikah dengan salah satu dari tuan muda Laventin!? Lalu kenapa Marios terkejut dan tidak terima dengan pernyataannya? “Sombong sekali!” Luna menoleh ke sumber suara. Bukan Marios yang berucap, melainkan seorang pemuda berwajah tampan tapi dengan garis wajah lembut nan feminin. B
Suara bariton itu menarik Luna untuk menoleh dan menemukan sesosok pria rupawan berdiri di ujung atas anak tangga. Tubuh pria itu tinggi tegap, dibalut kemeja formal hitam yang dipadukan celana kantor rapi. Setelan itu pas di badan, membuat otot tubuh pria itu tercetak jelas dari balik kain, terutama di area dada bidangnya dan lengan bagian atas. Sekalipun Luna punya segudang pengalaman melihat pria tampan di zaman kuno, bahkan punya haremnya sendiri, penampilan pria itu tetap membuatnya tertegun.Dari ingatan pemilik tubuh yang asli, Luna mengenali pria itu sebagai Marios Laventin, cucu pertama keluarga Laventin.Sosok itu mengambil langkah lebar menghampiri Luna. Mata hitamnya berkilat dingin, memancarkan ketidaksenangan atas tindakan Luna. “T-Tuan,” ucap Bela, memasang ekspresi sedih dan teraniaya. “Mohon maafkan saya. Saya bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Nona Muda.”Bela langsung menangis usai mengatakan itu. Dirinya berlutut di bawah kaki Luna, meraung histeris







