로그인Arman dan Rahayu akhirnya tiba kembali di tempat persembunyian di ruang bawah tanah laboratorium yang hanya diterangi satu buah lampu darurat.
Begitu suara langkah kaki mereka terdengar, dua sosok wanita yang sejak tadi menunggu dengan cemas segera berdiri. "Mas!" Rini berlari paling cepat menghampiri Arman. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan akhirnya sedikit mengendur setelah melihat pria itu kembali dengan selamat. Tanpa ragu ia memeluk lengan Arman erat-erat. "Kalian tidak apa-apa, Mas?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran. Di belakangnya, Sekar hanya berdiri memandangi Arman dan Rahayu bergantian. Meski tidak seberani Rini dalam mengungkapkan perasaannya, sorot matanya sudah cukup menunjukkan betapa lega ia melihat keduanya kembali. Arman tersenyum menenangkan. "Kami baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Mendengar jawaban itu, Rini mengembuskan napas panjang seolah beban di dadanya akhirnya terangkat. Sementara itu, Rahayu memandang interaksi keduanya dengan ekspresi datar. Ia bahkan sempat memutar bola mata, merasa sedikit jengah melihat bagaimana Rini begitu lengket kepada Arman. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rahayu meletakkan tas besar yang dibawanya ke lantai. "Ayo, kita bagi hasil temuan malam ini." Perkataannya langsung mengalihkan perhatian semua orang. Rahayu membuka resleting tas lalu mengeluarkan satu per satu isinya, beberapa kaleng makanan, Roti yang masih tersegel, air minum dan sdikit makanan kering. Dia menyusunnya dengan rapi di atas lantai, kemudian membaginya menjadi empat bagian yang hampir sama besar. Sementara itu, peluru pistol dan sebuah pisau tempur tetap ia sisakan di dalam tas. Setelah semuanya selesai, Rahayu menatap ketiga orang di hadapannya. "Makanan kita bagi rata, untuk senjata dan peluru... semuanya menjadi milikku." Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada tegas. "Aku yang memasang perangkap, jadi kurasa itu pembagian yang adil." Arman menganggukkan kepala. "Atur saja sesuai yang kamu inginkan." Rini juga mengangguk setuju. "Aku juga tidak masalah." Namun, Sekar justru terlihat kebingungan, wanita itu menunjuk dirinya sendiri. "Aku... juga mendapat bagian?" Nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. Sejak dunia berubah menjadi neraka seperti sekarang, dia sudah terlalu sering dikhianati. Makanan adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang ataupun emas. Karena itulah ia tidak pernah membayangkan akan ada orang yang bersedia membaginya secara cuma-cuma. Melihat ekspresi Sekar, Rini tersenyum hangat, dia mengambil jatah makanannya sendiri lalu meletakkannya di depan Sekar. "Kita gabungkan saja." Sekar terkejut. "Kita hidup bersama sekarang." Rini tersenyum ceria. "Kakak pertama yang menyimpan semuanya, benarkan Mas?" Arman ikut tersenyum melihat pemandangan itu, dia kemudian mendorong jatah makanannya sendiri ke arah Sekar. "Kalau begitu, punyaku juga kamu pegang." Sekar membeku, tatapannya bergantian mengarah kepada Arman dan Rini. Matanya perlahan memerah, seumur hidupnya, baru kali ini ada orang yang benar-benar mempercayainya tanpa meminta imbalan apa pun. Rasa hangat yang sudah lama hilang perlahan memenuhi dadanya. Air mata bening mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku..." Dia menggigit bibir, berusaha menahan emosinya. "Terima kasih..." Pada saat itulah, sebuah suara mekanis yang hanya bisa didengar Arman kembali bergema. [Ding! Poin Afeksi Sekar Ayu meningkat +50. Poin Afeksi saat ini: 0/100.] Mata Arman langsung berbinar, dalam hati ia hampir bersorak kegirangan, usahanya ternyata tidak sia-sia. Setidaknya, Sekar sudah tidak lagi memandangnya sebagai orang asing yang berbahaya, hubungan mereka akhirnya mulai membaik. Di sisi lain, Rahayu hanya menggeleng pelan, dia merasa suasana hangat di antara ketiganya terlalu memuakkan untuk dilihat. "Benar-benar sekumpulan orang bodoh,." gumamnya pelan. Dia kemudian mengumpulkan seluruh jatah makanannya, memasukkannya kembali ke dalam tas, lalu berjalan menuju sebuah ruangan sempit yang selama ini ia gunakan sebagai kamar pribadi. Tak lama kemudian pintu ruangan itu tertutup. Kini hanya tersisa Arman, Rini, dan Sekar. Arman mengembuskan napas pelan, dia lalu membuka antarmuka transparan Sistem yang hanya bisa dilihat olehnya. [Toko Sistem.] Berbagai barang kembali muncul di hadapannya. Setelah memperhatikan daftar yang tersedia, ia segera membeli dua set pakaian musim dingin lengkap dengan pakaian dalam untuk wanita. Harga yang harus dibayar memang tidak murah, tetapi menurutnya itu jauh lebih penting. [Berhasil membeli dua set pakaian wanita dan pakaian dalam. Poin berkurang 30. Poin toko tersisa: 230.] Dua kantong pakaian langsung muncul di tangannya yang disembunyikan fibalakang punggung. Arman menyerahkan pakaian itu kepada Rini dan Sekar. "Kalian pakailah, Musim dingin sudah mulai datang. Pakaian yang kalian kenakan sekarang terlalu tipis." Mata Rini langsung berbinar. "Mas... ini untuk kami?" Arman mengangguk sambil tersenyum. "Wah! Bagus sekali!" Rini memeluk pakaian itu dengan wajah berseri-seri. "Terima kasih, Mas." Karena terlalu senang, Rini spontan berdiri berjinjit lalu mengecup pipi Arman dengan cepat. Setelah itu ia tersenyum malu-malu sebelum menyerahkan satu kantong pakaian lainnya kepada Sekar. "Kak, ini punyamu." Suara Sistem kembali berbunyi. [Ding! Poin Afeksi Rini Wulandari meningkat 10. Poin Afeksi saat ini: 16/100. Anda mendapatkan 100 Poin Toko. Poin Anda sekarang: 330.] Arman tersenyum tipis, dalam hati ia mulai memahami cara kerja Sistem. Semakin besar kepercayaan dan kedekatan para wanita yang memenuhi syarat, semakin banyak keuntungan yang diperolehnya. Namun, ia tidak ingin menjadikan mereka sekadar alat untuk memperoleh poin. Baginya, bertahan hidup bersama jauh lebih penting. --- Beberapa saat kemudian, setelah kedua wanita pergi berganti pakaian, Arman kembali membuka antarmuka Sistem. Dia menggunakan sebagian besar poin yang dimilikinya untuk membeli berbagai kebutuhan. Makanan, Air minum, senjata dan beberapa obat-obatan. Total pengeluarannya mencapai tiga ratus poin. Seluruh barang itu otomatis masuk ke dalam ruang penyimpanan Sistem yang hanya bisa diakses olehnya. Melihat persediaan mereka bertambah banyak, Arman menghela napas lega. Setidaknya untuk beberapa hari ke depan, mereka tidak perlu mempertaruhkan nyawa demi mencari makanan. Saat sedang memeriksa kembali isi ruang penyimpanan, suara langkah kaki lembut terdengar dari belakangnya. "Mas...." Arman menoleh. Rini berdiri beberapa langkah darinya. Wanita itu kini mengenakan pakaian musim dingin baru berwarna cerah yang tadi dibelinya. Meski wajahnya masih tampak kusam akibat debu dan kehidupan keras di akhir zaman, pakaian baru itu membuat kecantikannya terlihat jauh lebih menonjol. Rambutnya yang telah dirapikan tergerai hingga melewati bahu. Senyumnya yang hangat membuat suasana ruang bawah tanah terasa sedikit lebih hidup. Arman sampai terpaku beberapa saat. "Bagaimana...." Rini memutar tubuhnya perlahan. "... bagus tidak?" Arman tersenyum tulus. "Bagus...." Pipi Rini langsung memerah, dia berjalan mendekat dengan langkah kecil sebelum berhenti tepat di depan Arman. Tatapannya dipenuhi rasa syukur sekaligus kepercayaan. "Mas... sebelum bertemu denganmu, aku selalu berpikir tidak akan ada lagi orang yang mau melindungiku. Sekarang..." Dia tiba-tiba duduk dipangkuan Arman sebelum melanjutkan, "... aku sudah menjadi milikmu, bagaimana kalau....."Keesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi
Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu
Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se
Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.
Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k
Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam







