LOGINArman terdiam beberapa saat dengan ekspresi sulit dijelaskan. Sudut bibirnya berkedut pelan, sementara tatapannya terpaku pada layar hologram transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.
Biasanya, berdasarkan pengetahuan yang ia miliki dari berbagai novel yang pernah dibaca sebelum dunia berubah menjadi neraka, hadiah pemula dari sebuah Sistem selalu berupa kemampuan bela diri, kekuatan supernatural, senjata langka, atau setidaknya teknik bertahan hidup. Namun, Hadiah miliknya justru sangat jauh dari harapan. 10 Set Bikini Transparan? "..." Arman berkedip beberapa kali, dia membaca tulisan itu berulang-ulang, berharap matanya sedang salah melihat. Sayangnya, tulisan itu tetap sama. Sesaat kemudian, suara mekanis kembali terdengar di dalam kepalanya. [10 Set Bikini Transparan telah disimpan otomatis ke Ruang Penyimpanan Anda bisa mengambilnya kapanpun.] "Astaga... Sistem macam apa ini?" Hampir saja Arman memaki sambil menunjuk layar hologram tersebut, urat di dahinya bahkan mulai menonjol karena menahan kesal. Di tengah dunia yang dipenuhi monster mutasi, kelaparan, dan para pembunuh, Sistem justru memberinya sepuluh set bikini transparan. Apa gunanya benda seperti itu untuk bertahan hidup? Apa monster bisa dikalahkan dengan bikini? Atau para geng akan mati karena mimisan? Semakin dipikirkan, semakin ingin Arman memukul sesuatu. Namun, sebelum amarahnya benar-benar meledak, ia teringat bahwa Rini duduk disebelahnya. Gadis itu tentu tidak dapat melihat layar hologram miliknya. Arman buru-buru menarik napas panjang, menelan semua kekesalan, lalu memasang senyum yang terlihat sangat dipaksakan. Rini memiringkan kepala. "Mas Arman... kamu kenapa?" "Tidak apa-apa." Arman menggeleng cepat. "Aku hanya... teringat sesuatu." Dia segera mengalihkan pembicaraan agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Oh iya, kau tahu tempat yang aman dari kekuasaan geng-geng di sekitar kota ini?" Rini terdiam sejenak, tatapannya mengarah ke luar gedung yang hancur, melihat jalanan yang dipenuhi bangkai kendaraan, puing bangunan, dan bercak darah yang sudah mengering. Wajahnya perlahan berubah muram. "Tempat aman..." Ia menghela napas pelan. "... hampir seluruh kota ini sudah dibagi menjadi wilayah kekuasaan dua faksi geng. Mereka memeras para penyintas, menculik perempuan, merampas makanan, bahkan membunuh siapa pun yang berani melawan." "Jadi..." Rini menggeleng. "Tidak ada tempat yang benar-benar aman." Mendengar jawaban itu, Arman sedikit kecewa. Akan tetapi beberapa detik kemudian, mata Rini berbinar seolah teringat sesuatu. "Tapi..." Arman langsung mengangkat kepala. "Tapi apa?" Rini segera menjawab. "Ada satu tempat yang bahkan kedua faksi itu tidak berani datangi." "Di mana?" "Bekas Laboratorium BioGen." Mata Arman langsung berbinar. "Bagus! Kalau begitu kita pergi ke sana." Namun, ekspresi Rini justru berubah aneh, senyumnya terlihat kaku. Melihat reaksi itu, Arman kembali mengernyit. "Kenapa? Kau terlihat seperti menyembunyikan sesuatu." Rini menundukkan kepala. "Sebenarnya... tempat itu memang tidak dikuasai geng mana pun. Tetapi... di sana berkeliaran makhluk-makhluk mutasi. Mereka jauh lebih mengerikan daripada zombie, bahkan peluru senapan pun hampir tidak mampu membunuh mereka." Ucapan itu membuat semangat Arman langsung menguap, wajahnya seketika berubah masam. Ia hanya memiliki sebilah pisau dapur yang mulai tumpuk, melawan manusia saja masih berbahaya. Apalagi monster mutasi yang kebal terhadap peluru. Arman menghela napas pelan, kemudian teringat dengan senjata di toko Sistem. "Sistem, buka toko senjata!" perintahnya dalam hati. Layar hologram langsung terbuka di depan matanya. Puluhan ikon senjata muncul berjejer rapi lengkap dengan harga masing-masing. [Pistol — 30 Poin. Granat Fragmentasi — 40 Poin. Senapan Sergap — 50 Poin. Senapan Corrosive — 60 Poin.] Masih banyak kategori lain yang terkunci dan belum dapat dibeli. Arman memperhatikan daftar itu dengan saksama, ia sempat mengernyit. "Aneh...harga senjata justru lebih murah daripada bahan makanan?" Ia masih ingat bahwa sepotong roti dan makanan kaleng memiliki harga yang hampir sama mahalnya. Namun, pistol yang mampu menyelamatkan nyawa justru hanya bernilai tiga puluh poin. Walaupun terasa tidak masuk akal, Arman tidak ingin mempermasalahkannya. Sebaliknya, sudut bibirnya perlahan terangkat. Selama bisa mengumpulkan poin, ia tidak perlu lagi takut menghadapi manusia ataupun monster. "Baguslah...." Ucapan itu keluar tanpa sadar. Rini kembali memiringkan kepala dengan wajah penuh kebingungan. "Apa yang bagus, Mas Arman?" Arman langsung tersadar. "Hah? Oh... tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Baru saja ia hendak mencari alasan lain, suara batuk pelan terdengar dari sudut ruangan. "Uhuk... uhk..." Arman dan Rini spontan menoleh. Sekar yang sejak tadi pingsan akhirnya mulai sadar. Kelopak matanya bergerak perlahan sebelum terbuka sedikit demi sedikit. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa berat. Dengan tubuh gemetar, gadis itu berusaha duduk sambil melihat keadaan di sekitarnya. Tatapan matanya kosong selama beberapa detik, ketika melihat Arman duduk tidak jauh darinya, pupil matanya langsung mengecil, wajahnya berubah pucat. "Kamu...!" Refleks, Sekar menggeser tubuhnya mundur sambil memeluk kedua lututnya. Trauma akibat dikejar para anggota geng masih membekas jelas di dalam benaknya. Saat ini, setiap laki-laki terasa sama mengerikannya. Arman tidak menunjukkan ekspresi tersinggung. Sebaliknya, ia mengulurkan botol air mineral ditangannya. "Tidak perlu takut, aku bukan orang jahat." Suaranya terdengar lembut. Sekar masih menatapnya dengan penuh kewaspadaan. Tatapan itu berpindah dari wajah Arman menuju botol air mineral di tangannya. Namun, rasa takut membuatnya tidak berani menerima pemberian tersebut. Melihat keraguan itu, Arman menghela napas pelan. Tanpa bersikap kasar, ia meraih tangan Sekar dengan hati-hati lalu meletakkan botol air mineral itu di atas telapak tangannya. "Minumlah, kau pasti sangat haus." Sekar menunduk, botol itu terasa begitu dingin di tangannya, bibirnya yang pecah-pecah mulai bergetar. Sudah beberapa hari ia hidup dalam pelarian, dan kelaparan. Perlahan, ia membuka tutup botol, tanpa memedulikan penampilannya lagi, Sekar langsung menenggak air itu dengan rakus. Dalam hitungan detik, seluruh isi botol habis tak bersisa. Melihat Sekar akhirnya mau minum, Arman tersenyum tipis. "Jika kau mau... ikutlah denganku. Aku akan melindungimu." Sekar mengangkat kepalanya perlahan, tatapannya kembali bertemu dengan mata Arman. Ia tidak melihat keserakahan ataupun nafsu di mata seorang pria, yang ia lihat hanyalah ketulusan. Meski begitu, luka batin yang terlalu dalam membuatnya belum mampu mempercayai Arman sepenuhnya. Tepat saat itu, suara notifikasi Sistem kembali bergema di dalam kepala Arman. [Ding! Poin Afeksi Sekar Ayu meningkat 5. Poin Afeksi saat ini: -75/100.] Melihat angka itu, Arman mengembuskan napas lega, setidaknya usahanya tidak sia-sia. Hubungan mereka mulai menunjukkan perkembangan, meskipun masih berada jauh di bawah nol. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali mengernyit, karena tidak mendapatkan poin toko dari Sistem.Keesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi
Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu
Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se
Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.
Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k
Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam







