مشاركة

Bab 4

مؤلف: Pein
last update تاريخ النشر: 2026-07-14 11:30:17

Arman terdiam beberapa saat dengan ekspresi sulit dijelaskan. Sudut bibirnya berkedut pelan, sementara tatapannya terpaku pada layar hologram transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.

Biasanya, berdasarkan pengetahuan yang ia miliki dari berbagai novel yang pernah dibaca sebelum dunia berubah menjadi neraka, hadiah pemula dari sebuah Sistem selalu berupa kemampuan bela diri, kekuatan supernatural, senjata langka, atau setidaknya teknik bertahan hidup.

Namun, Hadiah miliknya justru sangat jauh dari harapan.

10 Set Bikini Transparan?

"..." Arman berkedip beberapa kali, dia membaca tulisan itu berulang-ulang, berharap matanya sedang salah melihat.

Sayangnya, tulisan itu tetap sama.

Sesaat kemudian, suara mekanis kembali terdengar di dalam kepalanya.

[10 Set Bikini Transparan telah disimpan otomatis ke Ruang Penyimpanan Anda bisa mengambilnya kapanpun.]

"Astaga... Sistem macam apa ini?" Hampir saja Arman memaki sambil menunjuk layar hologram tersebut, urat di dahinya bahkan mulai menonjol karena menahan kesal.

Di tengah dunia yang dipenuhi monster mutasi, kelaparan, dan para pembunuh, Sistem justru memberinya sepuluh set bikini transparan.

Apa gunanya benda seperti itu untuk bertahan hidup?

Apa monster bisa dikalahkan dengan bikini?

Atau para geng akan mati karena mimisan?

Semakin dipikirkan, semakin ingin Arman memukul sesuatu. Namun, sebelum amarahnya benar-benar meledak, ia teringat bahwa Rini duduk disebelahnya.

Gadis itu tentu tidak dapat melihat layar hologram miliknya.

Arman buru-buru menarik napas panjang, menelan semua kekesalan, lalu memasang senyum yang terlihat sangat dipaksakan.

Rini memiringkan kepala. "Mas Arman... kamu kenapa?"

"Tidak apa-apa." Arman menggeleng cepat. "Aku hanya... teringat sesuatu."

Dia segera mengalihkan pembicaraan agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Oh iya, kau tahu tempat yang aman dari kekuasaan geng-geng di sekitar kota ini?"

Rini terdiam sejenak, tatapannya mengarah ke luar gedung yang hancur, melihat jalanan yang dipenuhi bangkai kendaraan, puing bangunan, dan bercak darah yang sudah mengering.

Wajahnya perlahan berubah muram. "Tempat aman..." Ia menghela napas pelan. "... hampir seluruh kota ini sudah dibagi menjadi wilayah kekuasaan dua faksi geng. Mereka memeras para penyintas, menculik perempuan, merampas makanan, bahkan membunuh siapa pun yang berani melawan."

"Jadi..." Rini menggeleng. "Tidak ada tempat yang benar-benar aman."

Mendengar jawaban itu, Arman sedikit kecewa.

Akan tetapi beberapa detik kemudian, mata Rini berbinar seolah teringat sesuatu. "Tapi..."

Arman langsung mengangkat kepala. "Tapi apa?"

Rini segera menjawab. "Ada satu tempat yang bahkan kedua faksi itu tidak berani datangi."

"Di mana?"

"Bekas Laboratorium BioGen."

Mata Arman langsung berbinar. "Bagus! Kalau begitu kita pergi ke sana."

Namun, ekspresi Rini justru berubah aneh, senyumnya terlihat kaku.

Melihat reaksi itu, Arman kembali mengernyit. "Kenapa? Kau terlihat seperti menyembunyikan sesuatu."

Rini menundukkan kepala. "Sebenarnya... tempat itu memang tidak dikuasai geng mana pun. Tetapi... di sana berkeliaran makhluk-makhluk mutasi. Mereka jauh lebih mengerikan daripada zombie, bahkan peluru senapan pun hampir tidak mampu membunuh mereka."

Ucapan itu membuat semangat Arman langsung menguap, wajahnya seketika berubah masam.

Ia hanya memiliki sebilah pisau dapur yang mulai tumpuk, melawan manusia saja masih berbahaya. Apalagi monster mutasi yang kebal terhadap peluru.

Arman menghela napas pelan, kemudian teringat dengan senjata di toko Sistem. "Sistem, buka toko senjata!" perintahnya dalam hati.

Layar hologram langsung terbuka di depan matanya. Puluhan ikon senjata muncul berjejer rapi lengkap dengan harga masing-masing.

[Pistol — 30 Poin.

Granat Fragmentasi — 40 Poin.

Senapan Sergap — 50 Poin.

Senapan Corrosive — 60 Poin.]

Masih banyak kategori lain yang terkunci dan belum dapat dibeli.

Arman memperhatikan daftar itu dengan saksama, ia sempat mengernyit. "Aneh...harga senjata justru lebih murah daripada bahan makanan?"

Ia masih ingat bahwa sepotong roti dan makanan kaleng memiliki harga yang hampir sama mahalnya.

Namun, pistol yang mampu menyelamatkan nyawa justru hanya bernilai tiga puluh poin. Walaupun terasa tidak masuk akal, Arman tidak ingin mempermasalahkannya.

Sebaliknya, sudut bibirnya perlahan terangkat. Selama bisa mengumpulkan poin, ia tidak perlu lagi takut menghadapi manusia ataupun monster.

"Baguslah...." Ucapan itu keluar tanpa sadar.

Rini kembali memiringkan kepala dengan wajah penuh kebingungan. "Apa yang bagus, Mas Arman?"

Arman langsung tersadar. "Hah? Oh... tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."

Baru saja ia hendak mencari alasan lain, suara batuk pelan terdengar dari sudut ruangan.

"Uhuk... uhk..."

Arman dan Rini spontan menoleh.

Sekar yang sejak tadi pingsan akhirnya mulai sadar. Kelopak matanya bergerak perlahan sebelum terbuka sedikit demi sedikit.

Ia memegangi kepalanya yang masih terasa berat. Dengan tubuh gemetar, gadis itu berusaha duduk sambil melihat keadaan di sekitarnya.

Tatapan matanya kosong selama beberapa detik, ketika melihat Arman duduk tidak jauh darinya, pupil matanya langsung mengecil, wajahnya berubah pucat.

"Kamu...!" Refleks, Sekar menggeser tubuhnya mundur sambil memeluk kedua lututnya.

Trauma akibat dikejar para anggota geng masih membekas jelas di dalam benaknya. Saat ini, setiap laki-laki terasa sama mengerikannya.

Arman tidak menunjukkan ekspresi tersinggung. Sebaliknya, ia mengulurkan botol air mineral ditangannya.

"Tidak perlu takut, aku bukan orang jahat." Suaranya terdengar lembut.

Sekar masih menatapnya dengan penuh kewaspadaan. Tatapan itu berpindah dari wajah Arman menuju botol air mineral di tangannya. Namun, rasa takut membuatnya tidak berani menerima pemberian tersebut.

Melihat keraguan itu, Arman menghela napas pelan. Tanpa bersikap kasar, ia meraih tangan Sekar dengan hati-hati lalu meletakkan botol air mineral itu di atas telapak tangannya.

"Minumlah, kau pasti sangat haus."

Sekar menunduk, botol itu terasa begitu dingin di tangannya, bibirnya yang pecah-pecah mulai bergetar.

Sudah beberapa hari ia hidup dalam pelarian, dan kelaparan. Perlahan, ia membuka tutup botol, tanpa memedulikan penampilannya lagi, Sekar langsung menenggak air itu dengan rakus.

Dalam hitungan detik, seluruh isi botol habis tak bersisa. Melihat Sekar akhirnya mau minum, Arman tersenyum tipis.

"Jika kau mau... ikutlah denganku. Aku akan melindungimu."

Sekar mengangkat kepalanya perlahan, tatapannya kembali bertemu dengan mata Arman. Ia tidak melihat keserakahan ataupun nafsu di mata seorang pria, yang ia lihat hanyalah ketulusan.

Meski begitu, luka batin yang terlalu dalam membuatnya belum mampu mempercayai Arman sepenuhnya.

Tepat saat itu, suara notifikasi Sistem kembali bergema di dalam kepala Arman.

[Ding!

Poin Afeksi Sekar Ayu meningkat 5.

Poin Afeksi saat ini: -75/100.]

Melihat angka itu, Arman mengembuskan napas lega, setidaknya usahanya tidak sia-sia. Hubungan mereka mulai menunjukkan perkembangan, meskipun masih berada jauh di bawah nol.

Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali mengernyit, karena tidak mendapatkan poin toko dari Sistem.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 8

    Arman berusaha menahan rasa kesalnya. Lagi pula, misi yang baru saja berhasil diselesaikannya memang terjadi secara tidak sengaja. Jika hadiahnya hanya tiga bungkus mi instan, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mendapat apa pun."Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Rahayu tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.Arman menoleh ke wanita itu, tanpa banyak bicara, dia menyelipkan tangan ke dalam pakaiannya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan tiga bungkus mi instan hadiah dari Sistem dan menyodorkannya kepada Rahayu."Masak ini dulu. Kalian pasti lapar, bukan?"Mata Rahayu langsung membelalak. "Mi... mie instan?"Di sampingnya, Rini buru-buru meraih ketiga bungkus mie itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Mas, dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" tanyanya antusias, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.Arman sempat mengernyit heran. Namun, beberapa detik kemudian ia baru teringat.Ini adalah dunia yang telah runtuh.Di akhir zaman seperti sekarang, bahkan

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 7

    Melihat layar hologram Sistem yang menyatakan bahwa wanita di hadapannya memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Keluarga Harmonis, Arman menyunggingkan senyum tipis. Senyum itu justru membuat Rahayu semakin kesal. Genggaman tangannya pada pistol semakin erat, sementara tekad untuk membunuh pria di hadapannya kian menguat. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, Arman bergerak lebih cepat. Duak! Kakinya melesat menendang pergelangan tangan Rahayu. Pistol yang berada dalam genggamannya terlepas dan melayang jatuh beberapa meter. Rahayu terkejut. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah pistol itu. Sayangnya, Rini bergerak lebih sigap. Wanita itu lebih dulu meraih pistol, lalu mengacungkannya tepat ke arah Rahayu. Rahayu mendongak dengan wajah penuh amarah. "Berikan pistolku! Jangan percaya pada pria gila itu! Wanita seperti kita c

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 6

    Arman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam. Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras. "Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita. Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya. Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang. Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal." Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu. Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya. Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 5

    Arman masih mematung di tempatnya. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. Alisnya berkerut dalam melihat notifikasi Sistem yang tertera.Poin toko sama sekali tidak berubah. Padahal beberapa saat sebelumnya, poin afeksi Sekar telah meningkat lima poin. Seharusnya, menurut dugaan Arman, peningkatan afeksi akan diikuti dengan bertambahnya poin toko. Namun kenyataannya, saldo poin tetap sama.Rasa kesal mulai memenuhi dadanya, dalam hati ia menggerutu. "Sistem, jangan main curang! Hadiah pemula yang kau berikan saja sudah aneh. Bukannya kemampuan bertarung atau senjata, malah sepuluh set bikini transparan. Sekarang poin toko juga tidak bertambah? Jangan bilang kau memang sengaja mempermainkanku!"Suara Sistem segera bergema di dalam benaknya.[Poin Toko hanya diperoleh ketika Poin Afeksi meningkat dari nilai positif. Poin Afeksi yang naik dari nilai minus tidak menghasilkan Poin Toko.]Arman membeku beberapa saat, kemudian urat di

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 4

    Arman terdiam beberapa saat dengan ekspresi sulit dijelaskan. Sudut bibirnya berkedut pelan, sementara tatapannya terpaku pada layar hologram transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.Biasanya, berdasarkan pengetahuan yang ia miliki dari berbagai novel yang pernah dibaca sebelum dunia berubah menjadi neraka, hadiah pemula dari sebuah Sistem selalu berupa kemampuan bela diri, kekuatan supernatural, senjata langka, atau setidaknya teknik bertahan hidup.Namun, Hadiah miliknya justru sangat jauh dari harapan.10 Set Bikini Transparan?"..." Arman berkedip beberapa kali, dia membaca tulisan itu berulang-ulang, berharap matanya sedang salah melihat.Sayangnya, tulisan itu tetap sama.Sesaat kemudian, suara mekanis kembali terdengar di dalam kepalanya.[10 Set Bikini Transparan telah disimpan otomatis ke Ruang Penyimpanan Anda bisa mengambilnya kapanpun.]"Astaga... Sistem macam apa ini?" Hampir saja Arman memaki sambil menunjuk layar hologram tersebut, urat di dahinya bahkan mulai menonj

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 3

    Mendengar ada yang menegurnya, Arman pun mendongak dengan waspada, tapi ketika melihat siapa orang tersebut dia mengerutkan kening.Orang yang memanggilnya ternyata adalah seorang wanita berambut pendek dengan tubuh langsing dan wajah cantik, sedang menodongkan pistol ke arahnya.[Ding!Terdeteksi wanita yang dapat dijadikan Keluarga Harmonis.Nama: Rini Wulandari.Tingkat Kecantikan: 92/100.Poin Afeksi: 0/100.]Melihat pemberitahuan dari Sistem, Arman tersenyum dan masih memasang ekspresi bodoh seperti pemilik tubuh sebelumnya, dia menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. "Kakak... aku bukan orang jahat, aku mau menyelamatkan dia," katanya sambil menunjuk Sekar.Rini menyipitkan mata, tatapannya beralih ke tubuh Sekar yang masih tak sadarkan diri di lantai. Wajah wanita itu dipenuhi debu, pakaiannya kusut, dan tubuhnya tampak kurus akibat kekurangan makanan.Sesaat kemudian, Rini kembali berkata. "Kau mau menyelematkan dia tidak ada urusannya denganku, cepat serahkan semua sum

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status