تسجيل الدخولMendengar ada yang menegurnya, Arman pun mendongak dengan waspada, tapi ketika melihat siapa orang tersebut dia mengerutkan kening.
Orang yang memanggilnya ternyata adalah seorang wanita berambut pendek dengan tubuh langsing dan wajah cantik, sedang menodongkan pistol ke arahnya. [Ding! Terdeteksi wanita yang dapat dijadikan Keluarga Harmonis. Nama: Rini Wulandari. Tingkat Kecantikan: 92/100. Poin Afeksi: 0/100.] Melihat pemberitahuan dari Sistem, Arman tersenyum dan masih memasang ekspresi bodoh seperti pemilik tubuh sebelumnya, dia menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. "Kakak... aku bukan orang jahat, aku mau menyelamatkan dia," katanya sambil menunjuk Sekar. Rini menyipitkan mata, tatapannya beralih ke tubuh Sekar yang masih tak sadarkan diri di lantai. Wajah wanita itu dipenuhi debu, pakaiannya kusut, dan tubuhnya tampak kurus akibat kekurangan makanan. Sesaat kemudian, Rini kembali berkata. "Kau mau menyelematkan dia tidak ada urusannya denganku, cepat serahkan semua sumberdaya milikmu!" Arman mengangguk pelan. "Baik, Kak." Dia perlahan berdiri, pura-pura mengambil sesuatu dari sakunya, tapi tiba-tiba dia mengulurkan tangan meraih tangan wanita tersebut dan menariknya ke dalam pelukan, mengunci lehernya. Rini jelas saja terkejut dengan tindakan Arman yang begitu cepat, dia yakin kalau pria itu mahir bertarung. "Kau... lepaskan aku!" teriak Rini sambil berusaha berontak. Arman berkata dengan dingin. "Lebih baik kau jangan berteriak, atau kita berdua akan ketahuan dan mati di sini bersama." Mendengar ucapan Arman, gerakan Rini berhenti. "Kau tidak bergabung dengan fraksi manapun?" Arman menjawab dengan datar. "Kalau aku bergabung dengan sebuah fraksi, ngapain juga menyelematkan wanita itu?" [Ding! Poin Afeksi Rini Wulandari naik 5 poin. Anda mendapatkan 50 poin toko.] Melihat pemberitahuan dari Sistem, Arman mengerutkan keningnya, dia masih mengunci gerakan Rini, tapi kenapa tiba-tiba Poin Afeksinya naik? Dia benar-benar bingung, tapi kemudian kepikiran sesuatu dan semakin mempererat kuncian dileher Rini. "Mmmh...." Terdengar suara lenguhan dari Rini. [Ding! Poin Afeksi Rini Wulandari naik 1 poin! Anda mendapatkan 10 poin toko.] Arman menelan ludah. "Sialan, ternyata wanita ini masokis!" Dia pun segera meraih pistol Rini dan mendorongnya menjauh, tapi wanita itu malah jatuh terduduk di hadapannya dan menatap sambil menggigit bibir bawah. Arman menelan ludah, tak menyangka akan bertemu dengan wanita seperti Rini di saat seperti itu, tapi dia juga mendapatkan keuntungan, karena akan mudah mendapatkan Rini. Arman menatap layar jumlah poin Afeksi diatas kepala Rini. [Rini Wulandari, Poin Afeksi; 6.] Arman menghela napas pelan, kemudian bertanya. "Katakan, kenapa kau ada di sini?" "Mencari makanan," jawab Rini cepat. Arman pun mengedarkan pandangannya, dia melihat rak-rak terbengkalai di sana. "Kau sudah menggeledah semua tempat ini?" Rini menggeleng. "Belum, aku baru masuk dan melihat kamu." Arman tidak bertanya lagi, membawa pistol Rini, segera menggeledah tempat tersebut untuk mencari makanan. Dia menemukan dua kaleng makanan yang masih tersegel, selain itu terdapat sebuah botol air mineral kecil yang isinya tinggal setengah tergelatak dibawah rak. Meski jumlahnya sedikit, bagi orang yang hidup di dunia penuh kelaparan seperti sekarang, barang-barang itu merupakan harta yang sangat berharga. Arman segera membawa makanan tersebut. Setelah memastikan tidak ada lagi barang berharga lainnya, ia kembali dan duduk bersandar pada tembok bangunan yang telah retak, melemparkan satu kaleng makanan untuk Rini. "Arman, namamu siapa?" tanyanya langsung, tahu kalau Rini bukan wanita berbahaya. Rini menangkap kaleng makanan tersebut dan tersenyum. "Rini Wulandari, Mas Arman, aku sudah lama tidak anu...." Dia sengaja menggantung kalimat dan menggigit bibir bawahnya. Arman tersenyum getir, meski dia diharuskan membangun keluarga Harmonis, tapi rasanya aneh juga mendapatkan wanita masokis dan langsung berbicara ke arah sana. "Buang pikiran kotormu itu, lebih baik pikirkan dulu bagaimana kita bisa menemukan tempat aman," tegur Arman pelan, membuat Rini segera menundukkan kepalanya sambil menggembungkan pipi kesal. Arman kemudian menatap Sekar yang masih terbaring tak sadarkan diri di sampingnya. Menerka-nerka bagaimana sifat wanita itu nantinya. Dalam benaknya, ia memberikan perintah. "Sistem... buka toko." [Ding!] Sebuah layar hologram transparan langsung muncul di hadapannya. Di dalam layar itu terpampang deretan barang yang tersusun rapi. Air minum berbagai ukuran, Makanan kaleng, Ransum militer, Pakaian, Obat-obatan dan berbagai Peralatan bertahan hidup. Semua memiliki harga masing-masing, melihat pemandangan itu, Arman tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya. "Benar-benar seperti Sistem dalam film drama pendek yang dulu sering kutonton, tapi harga barangnya sangat mahal, air mineral saja 20 poin?" ucapnya dalam hati. Di kehidupan sebelumnya, meski dikenal sebagai bos gangster yang disegani, Arman memiliki hobi aneh. Saat waktu senggang, ia gemar menonton drama pendek bertema sistem, transmigrasi, dan kiamat. Tak disangka, kini justru dirinya sendiri yang mengalami kejadian seperti itu. Setelah menenangkan diri, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya. "Sistem, bukankah harusnya ada hadiah pemula?" tanyanya masih dalam hati. Beberapa detik kemudian, suara mekanis terdengar. [Tentu ada, Tuan. Apakah Anda ingin membuka Hadiah Pemula sekarang?] Wajah Arman langsung berbinar. "Ya! Buka sekarang!" Layar hologram berubah, sebuah peti harta karun berwarna emas muncul di tengah layar, tutupnya perlahan terbuka. Arman menahan napas, jantungnya berdegup semakin cepat. Dia bergumam, "Senjata legendaris? Kemampuan super Atau mungkin obat evolusi?" Berbagai kemungkinan melintas di kepalanya. Tak lama kemudian, tulisan besar perlahan muncul di atas layar hologram. [Selamat! Anda memperoleh Hadiah Pemula. 10 Set Bikini Transparan.] Ruangan itu mendadak sunyi, Arman membeku, kedua matanya berkedip beberapa kali. "Hah?!" Rahang Arman ternganga lebar.Arman berusaha menahan rasa kesalnya. Lagi pula, misi yang baru saja berhasil diselesaikannya memang terjadi secara tidak sengaja. Jika hadiahnya hanya tiga bungkus mi instan, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mendapat apa pun."Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Rahayu tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.Arman menoleh ke wanita itu, tanpa banyak bicara, dia menyelipkan tangan ke dalam pakaiannya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan tiga bungkus mi instan hadiah dari Sistem dan menyodorkannya kepada Rahayu."Masak ini dulu. Kalian pasti lapar, bukan?"Mata Rahayu langsung membelalak. "Mi... mie instan?"Di sampingnya, Rini buru-buru meraih ketiga bungkus mie itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Mas, dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" tanyanya antusias, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.Arman sempat mengernyit heran. Namun, beberapa detik kemudian ia baru teringat.Ini adalah dunia yang telah runtuh.Di akhir zaman seperti sekarang, bahkan
Melihat layar hologram Sistem yang menyatakan bahwa wanita di hadapannya memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Keluarga Harmonis, Arman menyunggingkan senyum tipis. Senyum itu justru membuat Rahayu semakin kesal. Genggaman tangannya pada pistol semakin erat, sementara tekad untuk membunuh pria di hadapannya kian menguat. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, Arman bergerak lebih cepat. Duak! Kakinya melesat menendang pergelangan tangan Rahayu. Pistol yang berada dalam genggamannya terlepas dan melayang jatuh beberapa meter. Rahayu terkejut. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah pistol itu. Sayangnya, Rini bergerak lebih sigap. Wanita itu lebih dulu meraih pistol, lalu mengacungkannya tepat ke arah Rahayu. Rahayu mendongak dengan wajah penuh amarah. "Berikan pistolku! Jangan percaya pada pria gila itu! Wanita seperti kita c
Arman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam. Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras. "Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita. Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya. Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang. Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal." Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu. Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya. Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi
Arman masih mematung di tempatnya. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. Alisnya berkerut dalam melihat notifikasi Sistem yang tertera.Poin toko sama sekali tidak berubah. Padahal beberapa saat sebelumnya, poin afeksi Sekar telah meningkat lima poin. Seharusnya, menurut dugaan Arman, peningkatan afeksi akan diikuti dengan bertambahnya poin toko. Namun kenyataannya, saldo poin tetap sama.Rasa kesal mulai memenuhi dadanya, dalam hati ia menggerutu. "Sistem, jangan main curang! Hadiah pemula yang kau berikan saja sudah aneh. Bukannya kemampuan bertarung atau senjata, malah sepuluh set bikini transparan. Sekarang poin toko juga tidak bertambah? Jangan bilang kau memang sengaja mempermainkanku!"Suara Sistem segera bergema di dalam benaknya.[Poin Toko hanya diperoleh ketika Poin Afeksi meningkat dari nilai positif. Poin Afeksi yang naik dari nilai minus tidak menghasilkan Poin Toko.]Arman membeku beberapa saat, kemudian urat di
Arman terdiam beberapa saat dengan ekspresi sulit dijelaskan. Sudut bibirnya berkedut pelan, sementara tatapannya terpaku pada layar hologram transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.Biasanya, berdasarkan pengetahuan yang ia miliki dari berbagai novel yang pernah dibaca sebelum dunia berubah menjadi neraka, hadiah pemula dari sebuah Sistem selalu berupa kemampuan bela diri, kekuatan supernatural, senjata langka, atau setidaknya teknik bertahan hidup.Namun, Hadiah miliknya justru sangat jauh dari harapan.10 Set Bikini Transparan?"..." Arman berkedip beberapa kali, dia membaca tulisan itu berulang-ulang, berharap matanya sedang salah melihat.Sayangnya, tulisan itu tetap sama.Sesaat kemudian, suara mekanis kembali terdengar di dalam kepalanya.[10 Set Bikini Transparan telah disimpan otomatis ke Ruang Penyimpanan Anda bisa mengambilnya kapanpun.]"Astaga... Sistem macam apa ini?" Hampir saja Arman memaki sambil menunjuk layar hologram tersebut, urat di dahinya bahkan mulai menonj
Mendengar ada yang menegurnya, Arman pun mendongak dengan waspada, tapi ketika melihat siapa orang tersebut dia mengerutkan kening.Orang yang memanggilnya ternyata adalah seorang wanita berambut pendek dengan tubuh langsing dan wajah cantik, sedang menodongkan pistol ke arahnya.[Ding!Terdeteksi wanita yang dapat dijadikan Keluarga Harmonis.Nama: Rini Wulandari.Tingkat Kecantikan: 92/100.Poin Afeksi: 0/100.]Melihat pemberitahuan dari Sistem, Arman tersenyum dan masih memasang ekspresi bodoh seperti pemilik tubuh sebelumnya, dia menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. "Kakak... aku bukan orang jahat, aku mau menyelamatkan dia," katanya sambil menunjuk Sekar.Rini menyipitkan mata, tatapannya beralih ke tubuh Sekar yang masih tak sadarkan diri di lantai. Wajah wanita itu dipenuhi debu, pakaiannya kusut, dan tubuhnya tampak kurus akibat kekurangan makanan.Sesaat kemudian, Rini kembali berkata. "Kau mau menyelematkan dia tidak ada urusannya denganku, cepat serahkan semua sum







