Share

Bab 3

Author: Pein
last update publish date: 2026-07-14 11:29:54

Mendengar ada yang menegurnya, Arman pun mendongak dengan waspada, tapi ketika melihat siapa orang tersebut dia mengerutkan kening.

Orang yang memanggilnya ternyata adalah seorang wanita berambut pendek dengan tubuh langsing dan wajah cantik, sedang menodongkan pistol ke arahnya.

[Ding!

Terdeteksi wanita yang dapat dijadikan Keluarga Harmonis.

Nama: Rini Wulandari.

Tingkat Kecantikan: 92/100.

Poin Afeksi: 0/100.]

Melihat pemberitahuan dari Sistem, Arman tersenyum dan masih memasang ekspresi bodoh seperti pemilik tubuh sebelumnya, dia menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. "Kakak... aku bukan orang jahat, aku mau menyelamatkan dia," katanya sambil menunjuk Sekar.

Rini menyipitkan mata, tatapannya beralih ke tubuh Sekar yang masih tak sadarkan diri di lantai. Wajah wanita itu dipenuhi debu, pakaiannya kusut, dan tubuhnya tampak kurus akibat kekurangan makanan.

Sesaat kemudian, Rini kembali berkata. "Kau mau menyelematkan dia tidak ada urusannya denganku, cepat serahkan semua sumberdaya milikmu!"

Arman mengangguk pelan. "Baik, Kak."

Dia perlahan berdiri, pura-pura mengambil sesuatu dari sakunya, tapi tiba-tiba dia mengulurkan tangan meraih tangan wanita tersebut dan menariknya ke dalam pelukan, mengunci lehernya.

Rini jelas saja terkejut dengan tindakan Arman yang begitu cepat, dia yakin kalau pria itu mahir bertarung.

"Kau... lepaskan aku!" teriak Rini sambil berusaha berontak.

Arman berkata dengan dingin. "Lebih baik kau jangan berteriak, atau kita berdua akan ketahuan dan mati di sini bersama."

Mendengar ucapan Arman, gerakan Rini berhenti. "Kau tidak bergabung dengan fraksi manapun?"

Arman menjawab dengan datar. "Kalau aku bergabung dengan sebuah fraksi, ngapain juga menyelematkan wanita itu?"

[Ding!

Poin Afeksi Rini Wulandari naik 5 poin.

Anda mendapatkan 50 poin toko.]

Melihat pemberitahuan dari Sistem, Arman mengerutkan keningnya, dia masih mengunci gerakan Rini, tapi kenapa tiba-tiba Poin Afeksinya naik?

Dia benar-benar bingung, tapi kemudian kepikiran sesuatu dan semakin mempererat kuncian dileher Rini.

"Mmmh...." Terdengar suara lenguhan dari Rini.

[Ding!

Poin Afeksi Rini Wulandari naik 1 poin!

Anda mendapatkan 10 poin toko.]

Arman menelan ludah. "Sialan, ternyata wanita ini masokis!"

Dia pun segera meraih pistol Rini dan mendorongnya menjauh, tapi wanita itu malah jatuh terduduk di hadapannya dan menatap sambil menggigit bibir bawah.

Arman menelan ludah, tak menyangka akan bertemu dengan wanita seperti Rini di saat seperti itu, tapi dia juga mendapatkan keuntungan, karena akan mudah mendapatkan Rini.

Arman menatap layar jumlah poin Afeksi diatas kepala Rini.

[Rini Wulandari, Poin Afeksi; 6.]

Arman menghela napas pelan, kemudian bertanya. "Katakan, kenapa kau ada di sini?"

"Mencari makanan," jawab Rini cepat.

Arman pun mengedarkan pandangannya, dia melihat rak-rak terbengkalai di sana. "Kau sudah menggeledah semua tempat ini?"

Rini menggeleng. "Belum, aku baru masuk dan melihat kamu."

Arman tidak bertanya lagi, membawa pistol Rini, segera menggeledah tempat tersebut untuk mencari makanan.

Dia menemukan dua kaleng makanan yang masih tersegel, selain itu terdapat sebuah botol air mineral kecil yang isinya tinggal setengah tergelatak dibawah rak.

Meski jumlahnya sedikit, bagi orang yang hidup di dunia penuh kelaparan seperti sekarang, barang-barang itu merupakan harta yang sangat berharga.

Arman segera membawa makanan tersebut. Setelah memastikan tidak ada lagi barang berharga lainnya, ia kembali dan duduk bersandar pada tembok bangunan yang telah retak, melemparkan satu kaleng makanan untuk Rini.

"Arman, namamu siapa?" tanyanya langsung, tahu kalau Rini bukan wanita berbahaya.

Rini menangkap kaleng makanan tersebut dan tersenyum. "Rini Wulandari, Mas Arman, aku sudah lama tidak anu...." Dia sengaja menggantung kalimat dan menggigit bibir bawahnya.

Arman tersenyum getir, meski dia diharuskan membangun keluarga Harmonis, tapi rasanya aneh juga mendapatkan wanita masokis dan langsung berbicara ke arah sana.

"Buang pikiran kotormu itu, lebih baik pikirkan dulu bagaimana kita bisa menemukan tempat aman," tegur Arman pelan, membuat Rini segera menundukkan kepalanya sambil menggembungkan pipi kesal.

Arman kemudian menatap Sekar yang masih terbaring tak sadarkan diri di sampingnya. Menerka-nerka bagaimana sifat wanita itu nantinya.

Dalam benaknya, ia memberikan perintah. "Sistem... buka toko."

[Ding!]

Sebuah layar hologram transparan langsung muncul di hadapannya. Di dalam layar itu terpampang deretan barang yang tersusun rapi.

Air minum berbagai ukuran, Makanan kaleng, Ransum militer, Pakaian, Obat-obatan dan berbagai Peralatan bertahan hidup.

Semua memiliki harga masing-masing, melihat pemandangan itu, Arman tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya. "Benar-benar seperti Sistem dalam film drama pendek yang dulu sering kutonton, tapi harga barangnya sangat mahal, air mineral saja 20 poin?" ucapnya dalam hati.

Di kehidupan sebelumnya, meski dikenal sebagai bos gangster yang disegani, Arman memiliki hobi aneh. Saat waktu senggang, ia gemar menonton drama pendek bertema sistem, transmigrasi, dan kiamat.

Tak disangka, kini justru dirinya sendiri yang mengalami kejadian seperti itu.

Setelah menenangkan diri, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya. "Sistem, bukankah harusnya ada hadiah pemula?" tanyanya masih dalam hati.

Beberapa detik kemudian, suara mekanis terdengar.

[Tentu ada, Tuan.

Apakah Anda ingin membuka Hadiah Pemula sekarang?]

Wajah Arman langsung berbinar. "Ya! Buka sekarang!"

Layar hologram berubah, sebuah peti harta karun berwarna emas muncul di tengah layar, tutupnya perlahan terbuka.

Arman menahan napas, jantungnya berdegup semakin cepat.

Dia bergumam, "Senjata legendaris? Kemampuan super Atau mungkin obat evolusi?"

Berbagai kemungkinan melintas di kepalanya.

Tak lama kemudian, tulisan besar perlahan muncul di atas layar hologram.

[Selamat!

Anda memperoleh Hadiah Pemula.

10 Set Bikini Transparan.]

Ruangan itu mendadak sunyi, Arman membeku, kedua matanya berkedip beberapa kali.

"Hah?!" Rahang Arman ternganga lebar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 102

    Keesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 101

    Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 100

    Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 99

    Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 98

    Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 97

    Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status