แชร์

116

ผู้เขียน: Dao Yue
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-11 23:39:04

"Bagus sekali permainan kalian, tapi kalian salah memilih lawan," bisik Andre seraya memamerkan senyuman tipis yang sangat tenang, menyembunyikan siasat besar yang mulai dirancangnya.

Pria berjas hitam itu melangkah lebih dekat, menatap Andre dengan raut menghina.

"Kenapa kau melamun? Apa kau baru sadar kalau kemampuan memasak dari negaramu itu tidak akan ada apa-apanya di sini? Cih, negara kecil terbelakang … tidak pantas ada di panggung internasional,* cemooh lelaki itu.

"Oh, begitu, ya. Set
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pemikat Para Gadis Desa   121

    Kata-kata itu menghantam Pak Kades bagaikan petir di siang bolong, menambah kehancuran sebagai mantan penguasa desa. "Apa kamu bilang? Istriku ... berbuat nista lagi di tempat gila itu!" teriak Pak Kades dengan mata melotot lebar sebelum tubuhnya mendadak tegang dan kembali ambruk pingsan untuk kedua kalinya di atas kasur.Airin panik dan berlari memanggil dokter, agar memeriksa ayahnya yang kembali pingsan.Di saat tim medis berhamburan masuk menangani Pak Kades yang tidak sadarkan diri, Raka dan lelaki yang adalah pamannya itu, bergegas pulang ke desa untuk membereskan skandal memalukan yang menimpa ibunya. Dengan sisa uang tabungannya, Raka membayar sejumlah denda adat kepada warga desa agar masalah tersebut tidak sampai dibawa ke kantor polisi, sekaligus mengusir pemuda selingkuhan ibunya keluar dari kampung hari itu juga."Sekali lagi kamu berani menampakkan mukamu di desa ini, aku pastikan kamu tidak bakal pulang dalam keadaan bernyawa!" ancam Raka marah dan mendorong pemuda i

  • Pemikat Para Gadis Desa   120

    Langkah pertama yang dilakukan Andre adalah mengirim bukti berupa tangkapan layar percakapan kepada Sadri, yang berisi bukti transfer sejumlah uang kepada Pak Kades, dan balasan ucapan terima kasih.Tepat setelah bukti transfer itu dikirimkan, Andre menelpon Sadri kembali untuk menjalankan rencana yang sudah dirancangnya.[Sadri, tolong kamu cetak spanduk ukuran paling besar. Isinya yang tadi kirim ke kamu, biar dia inget kalo dana kampanye Pak Kades dibantu aku, pasang besok di depan TPS, kantor lurah, dan halaman rumah Pak Kades sendiri. Kalo perlu di setiap tempat rame,] kata Andre memberikan instruksi yang sangat jelas.[Oke, Mas. mantap juga idenya nih, bikin mereka kena mental,] sahut Sadri.Bukan Sadri namanya jika tidak turut membalas rasa kesal, lelaki itu menghubungi Bu Ram dan mengatakan rencana Andre, lalu mengirimkan bukti percakapan kepasa wanita itu.Bu Ram yang masih merasa sakit hati dengan fitnah keji tersebut, rupanya tidak mau tinggal diam begitu saja melihat ide A

  • Pemikat Para Gadis Desa   119

    Andre menatap pria yang kini berlutut sambil menunduk pasrah di depannya.Ingatan masa lalunya mendadak berputar cepat seperti film lama, teringat betapa tajamnya lidah yang menghinanya, suara tawa ejekan Raka saat membawa Rumala dari rumah sewa Yudha, mantan mertuamya, ingatan tentang tatapan merendahkan dari Rumala yang menganggapnya tidak punya masa depan, hingga saat Pak Kades dengan sengaja datang ke kios hanya untuk mengantarkan undangan pernikahan Rumala dan Raka dengan senyum penuh kesombongan."Dulu kamu bilang aku cuma sampah yang tidak bakal punya masa depan, kan, Ka?" bisik Andre dengan suara pelan terasa begitu dingin.Pak Kades dan Raka saling tatap, keduanya kemudian menunduk, tidak berani lagi mengangkat wajah.Andre teringat sumpah yang pernah diucapkan ketika amarah menguasai dirinya, pada malam yang kelam itu, bahwa suatu hari nanti, semua orang yang pernah menghina dan meremehkannya akan mengemis kepadanya. Satu per satu ucapan itu kini menjadi kenyataan, wanita-w

  • Pemikat Para Gadis Desa   118

    Chef Aris tersenyum tipis, menggeleng pelan sambil menepuk bahu Andre."Nggak usah repot-repot, Ndre. Lagian muka kalian berdua udah pucat begitu, jelas banget masih teler gara-gara jetlag belasan jam di udara. Mending biar saya aja yang antar kalian balik atau carikan makanan yang gampang dicerna, habis itu kalian langsung istirahat," ujar Chef Aris menolak tawaran makan malam di luar secara halus.Mayang yang berdiri di samping Andre hanya bisa mengangguk setuju, merasa matanya memang sudah teramat berat untuk diajak berputar-putar mencari restoran."Bener kata Chef Aris, Ndre. Badanku rasanya udah kayak pohon mau roboh," sahut Mayang sambil mengusap tengkuknya yang kaku.“Oke deh, kapan-kapan aja kalo gitu. Tapi aku lapar, tau sendiri kan laki-laki itu ga bisa tahan lapar.” Andre tertawa kecil.Akhirnya Chef Aris memutuskan untuk memesan makanan sederhana yang hangat dan langsung menyantapnya di area santai ruko sebelum benar-benar berpisah. Rasa gurih sup hangat sedikit mengembal

  • Pemikat Para Gadis Desa   117

    "Berdasarkan bukti laboratorium yang tidak bisa dibantah lagi, panitia resmi mencabut hak kepesertaan negara kalian dan memblokir seluruh perwakilannya dari kompetisi kuliner internasional ini selamanya," tegas Juri Kepala dengan tegas, mengetukkan palunya keras-keras di atas mimbar.Pria berjas hitam dan rombongannya, diseret keluar aula oleh petugas keamanan dengan kepala tertunduk malu, diiringi sorak sorai cemoohan penonton, sementara Juri Kepala mengumumkan kembali dengan lantang bahwa Andre adalah juara yang sangat layak memegang piala tersebut."Kemenanganmu bukan cuma soal cita rasa yang sempurna, Andre, tapi juga tentang kejujuran dan martabat seorang koki sejati," puji Juri Kepala seraya menyerahkan kembali piala emas itu ke dalam genggaman Andre penuh rasa bangga.Mayang yang menyaksikan momen itu, merasa sangat bahagia dan penuh haru.Sangat jarang dari negaranya yang sukses di kancah internasional, terlebih hanya mengandalkan rempah dan makanan tradisional tanpa dimodifik

  • Pemikat Para Gadis Desa   116

    "Bagus sekali permainan kalian, tapi kalian salah memilih lawan," bisik Andre seraya memamerkan senyuman tipis yang sangat tenang, menyembunyikan siasat besar yang mulai dirancangnya.Pria berjas hitam itu melangkah lebih dekat, menatap Andre dengan raut menghina. "Kenapa kau melamun? Apa kau baru sadar kalau kemampuan memasak dari negaramu itu tidak akan ada apa-apanya di sini? Cih, negara kecil terbelakang … tidak pantas ada di panggung internasional,* cemooh lelaki itu."Oh, begitu, ya. Setauku … pecundang yang tidak bisa menerima kekalahan, manusia sepertimu membuat malu negaramu saja.”“Aku cuma sedang menikmati kualitas ikan segar yang kalian bawa ini, luar biasa sekali perhatian kalian padaku," balas Andre lantang dengan bahasa internasional yang tegas, memancing tawa puas dari rombongan musuhnya yang mengira Andre benar-benar masuk ke dalam perangkap.Mayang yang berdiri di pinggir panggung mengepalkan tangannya cemas, menatap pergerakan Andre dengan dada berdegup kencang."A

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status