เข้าสู่ระบบAmanda menghela napas panjang. Mobilnya melaju membelah jalanan malam, lampu kota berkelebat di sisi jendela seperti bayangan pikirannya sendiri.“Aku kenapa sampai segininya sih sama Mas Rhevan?” gumamnya lirih.Ia menertawakan dirinya sendiri yang sejak beberapa saat lalu terus berjuang, memohon, bahkan merendahkan diri di hadapan Pak Wijaya.Tapi untuk apa? Tidak ada satu pun yang benar-benar menganggapnya hanya karena ia cuma selingkuhan Rhevan.“Benar kata Pak Wijaya,” ucapnya pelan, mengulang kata-kata Pak Wijaya. “Untuk apa aku harus melakukan ini semua untuk Mas Rhevan.”Amanda menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Bayangan wajah Rhevan muncul di kepalanya—putus asa, penuh tuntutan, menggantungkan seluruh hidupnya pada satu orang: dirinya.“Ck. Kenapa juga Mas Rhevan segitu bergantungnya sama aku?” desahnya.“Padahal aku bisa kabur dan mendapatkan cowok yang lebih dari dia. Bahkan aku juga bisa dapat yang lebih kaya.”“Aku mau sama dia juga karena aku bisa hidup enak,” katany
Amanda masih mengendarai mobilnya. Matanya fokus ke jalan, tapi pikirannya melayang jauh ke belakang. Ke beberapa hari lalu, saat ia mendatangi rumah keluarga Rhevan.Jadi, beberapa saat setelah Rhevan digiring ke kantor polisi, Amanda langsung melajukan mobilnya ke rumah besar keluarga Wijaya. Tangannya masih gemetar saat memarkir kendaraan di halaman luas berlapis batu alam itu.Amanda turun dari mobil, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Pintu dibuka oleh seorang asisten rumah tangga.“Cari siapa, Mba?” tanyanya sopan.“Saya Amanda,” jawabnya cepat. “Saya mau bertemu Pak Wijaya.”Perempuan itu ragu sejenak, lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian, Amanda dipersilakan masuk ke ruang tamu.Pak Wijaya sudah duduk di sana.Pria paruh baya itu bersandar di sofa, kakinya disilangkan. Setelan rumahnya rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.“Malam, Pak.”Tatapannya terangkat begitu mendengar suara sapaan Amanda. Sorot mata yang begitu angkuh dan penuh ketidaks
“Mas, gimana keadaan kamu?”Itulah kalimat pertama yang meluncur dari bibir Amanda begitu ia duduk di hadapan Rhevan, dipisahkan oleh sekat besi dingin ruang tahanan. Suaranya terdengar cemas, matanya menyapu wajah pria itu tanpa berkedip. “Kamu sehat, kan?”Rhevan tampak jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya kusut, rahangnya ditumbuhi jambang tipis, dan lingkar hitam di bawah matanya menandakan kurang tidur. Tubuhnya tampak lebih kurus, bahunya merosot, seolah harga dirinya ikut terkikis bersama hari-hari di balik jeruji.Alih-alih menjawab, Rhevan justru condong ke depan. Suaranya mendesak, nyaris putus asa.“Bantu aku keluar dari sini, Manda!”Amanda tercekat. Dadanya terasa mengencang.“Tempat ini kotor,” lanjut Rhevan cepat, nadanya naik. “Bau. Aku harus tidur di lantai dingin. Belum lagi napi-napi di sini—mereka memperlakukanku seenaknya!”Amanda menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Rasa iba jelas tergambar di wajahnya.“Aku tahu, Mas,” ucapnya pelan. “Aku be
“Halo...” Tanpa pikir panjang, Nasine segera menerima panggilan tersebut. Rupanya itu dari Pak Adrian, pengacara Nadine. “Selamat malam, Bu Nadine.” “Malem Pak. Ada apa ya?” tanya Nadine to the point. Jujur ia merasa gugup saat mendengar suara Pak Adrian. Apalagi pria itu terdengar cukup serius di line sana. Dan itu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Di seberang sana, suara Pak Adrian terdengar tenang dan profesional, tapi ada penekanan di tiap katanya. “Saya hanya ingin mengabari perkembangan terbaru soal Pak Rhevan.” “Oh ya? Gimana, Pak jadinya?” “Satu jam yang lalu, pihak kepolisian sudah mendatangi apartemen Pak Rhevan.” Nadine tercekat kaget. Kedua kelopak matanya langsung melebar saat itu juga. Nadine. “L-lalu, Pak?” “Saat ini, Pak Rhevan sudah resmi diamankan. Dan proses penangkapan berjalan lancar.” Nadine merasakan telapak tangannya mendadak dingin. “D-ditangkap?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. "Ini serius Pak?" “Benar, Bu. Berdasarka
Amanda sempat menarik napas dalam-dalam, telapak tangannya sedikit gemetar saat memutar gagang pintu. Dan begitu pintu apartemen mereka terbuka, kedua bola mata perempuan itu seketika melebar. “Ka—kalian?” suaranya tercekat, nyaris tak keluar.Di hadapannya berdiri tiga pria. Salah satunya berperawakan tinggi dan tegap, mengenakan jaket kulit hitam. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam dan dingin. Dialah yang lebih dulu melangkah setengah maju.“Kami ingin bertemu dengan saudara Rhevan,” ucap pria itu tegas, tanpa basa-basi. “Apa dia ada?”Amanda refleks menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang, kepalanya berputar cepat mencari alasan. Ia menggeleng, senyum dipaksakan. “Mas Rhevan sedang tidak ada di—”“Manda!”Deg!Suara itu datang dari dalam apartemen. Amanda membeku. Dadanya terasa seperti diremas kuat. Segala usaha untuk menyembunyikan Rhevan runtuh dalam sekejap.Mendengar suara Rhevan, pria berjaket kulit itu langsung memberi isyarat singkat. Tanpa permisi, ia bersama dua r
Amanda tertawa pendek, getir. “Oh, jadi sekarang kamu mau hitung-hitungan?” Ia melangkah mendekat, menantang. “Aku dapat itu semua juga karena aku udah ngasih kenikmatan buat kamu. Hal yang nggak bisa Nadine berikan?”Ucapan Amanda menggantung di udara, tajam dan menusuk. Rhevan terdiam. Untuk sesaat, amarah yang tadi membara perlahan meredup, digantikan rasa bersalah yang datang terlambat.Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan napas panjang. Bahunya sedikit merosot, seolah beban di kepalanya tiba-tiba terasa berlipat.“Amanda…” panggilnya lebih pelan. Tidak ada lagi nada menuduh, yang tersisa hanya kelelahan.Amanda memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Dadanya naik turun menahan emosi yang belum reda.Rhevan melangkah mendekat, kali ini jauh lebih hati-hati. “Aku minta maaf,” ucapnya lirih. “Aku gak bermaksud nyalahin kamu.”Amanda mendengus, suaranya sinis. “Tapi kamu kamu menyebutku begitu, Mas.”Rhevan menelan ludah. Ia meraih lengan Amanda, tapi perempuan itu langsung







