แชร์

Digendong?

ผู้เขียน: CH. Blue Lilac
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-29 20:28:31

Begitu Dirga melepaskan pelukannya, pandangannya langsung tertuju ke arah Nadine. Alisnya sedikit terangkat, sorot matanya penuh perhatian.

“Ada apa?” tanyanya lembut.

Nadine menelan ludah, lalu melirik sekilas ke arah meja kecil di samping ranjang. “Bu-buburnya keburu dingin, Ga,” ucapnya sedikit gugup, berusaha mengalihkan perhatian.

Dirga mengikuti arah pandang Nadine. Ia menoleh ke bubur yang tergeletak di atas meja kecil, lalu menghela napas pendek sambil menggeleng pelan. “Sorry, Nad,” uj
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Happy End

    Hari yang dinanti pun tiba dengan segala debarannya. Di usia kehamilan 37 minggu lebih 2 hari, perjalanan panjang itu akhirnya mencapai puncaknya. Nadine telah dilarikan ke rumah sakit saat fajar baru saja menyingsing, membawa rasa sakit yang mulai datang dan pergi secara teratur. Di dalam ruang rawat, suasana terasa begitu emosional. Nadine mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal. Ia tampak bingung sekaligus tegang menghadapi gelombang cinta yang semakin hebat menghantam tubuhnya. Rasa sakit itu asing, namun ia tahu ini adalah bahasa tubuhnya untuk menyambut kehidupan. Raut wajah Dirga tak bisa menyembunyikan kecemasan yang mendalam. Meski hatinya bergemuruh, ia tetap berusaha menjadi karang yang kokoh bagi Nadine. Ia terus berada di sisi istrinya, membisikkan kata-kata penguat, dan mengusap keringat di kening Nadine dengan jemari yang sedikit gemetar. Tak lama, kedua ibu mereka datang membawa kehangatan. Mama mertua dan Mama kandung Nadine segera membanjiri ruangan d

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Hamil Muda

    Mama menggeleng sambil tertawa kecil. "Orang mual begini jangan langsung dikasih asam, Dirga. Perutnya masih kosong. Sayang... ini Mama buatkan wedang jahe geprek sama biskuit gandum. Sedikit-sedikit saja ya, buat ganjel perutnya." Mama Nadine kemudian menyuapi anaknya ini dengan sangat sabar. Ia tidak memaksa, hanya membimbing Nadine perlahan. "Dulu Mama waktu hamil kamu juga begini, bahkan lebih parah. Ini namanya tanda cinta dari si Adik. Dinikmati saja ya, Sayang." Melihat betapa tenangnya sang Mama menangani situasi, Dirga akhirnya bisa bernapas lega. Ia baru sadar bahwa dalam urusan ini, pengalaman Mama jauh lebih berharga daripada semua artikel kehamilan yang ia baca di ponsel. Nadine perlahan membuka matanya, menatap Mamanya dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Makasih ya, Ma. Rasanya lebih enakan kalau Mama yang pegang." "Sama-sama, Sayang. Tugas Dirga itu jaga semangat kamu dan tugas Mama itu jaga supaya kamu tetap bisa makan enak," sahut Mama sambil mengus

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Kejutan

    "Oh iya, Ma, Pa... sebenarnya ada satu hal kecil yang ingin kami kasih ke kalian," ujar Dirga sambil meletakkan dua kotak kado kecil yang identik di depan kedua ibu mereka. "Lho, ada apa ini? Kok pakai kado-kadoan segala?" tanya Mama Nadine heran, namun tangannya mulai membuka pita kado itu dengan antusias. Kedua ibu itu membuka kotak secara bersamaan. Di dalamnya, terletak sepasang sepatu bayi rajut berwarna putih bersih dan sebuah foto hitam putih berukuran kecil—hasil USG transvaginal tadi pagi. Hening sejenak. "Ini... ini maksudnya apa, Nadine?" tanya Mama Mertua, suaranya mulai bergetar. Matanya menatap lekat titik kecil di dalam foto yang diberi tanda panah oleh dokter. "Itu cucu Mama," jawab Nadine dengan suara serak karena menahan tangis. "Usianya sudah empat minggu. Penantian kita semua akhirnya terjawab, Ma..." Seketika, suasana pecah. Mama Nadine langsung menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika. Ia bangkit dari kursi dan langsung memeluk Nadi

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jangan Capek-capek

    "Mulai detik ini, kamu enggak boleh capek sedikit pun. Titik!” perintah itu layaknya gombalan maut Dirga. Nadine hanya cekikikan mendengarnya. Sesampainya di tepi ranjang, ia merebahkan Nadine dengan gerakan yang sangat pelan. Dirga kemudian berlutut di lantai, sejajar dengan perut Nadine. Ia menarik selimut hingga sebatas dada istrinya, lalu mengecup perut Nadine yang masih rata itu. "Terima kasih sudah mampir ke sini, Sayang. Ayah tunggu ya," bisiknya lirih di depan perut Nadine, membuat mata Nadine kembali berkaca-kaca. Dirga kemudian naik ke ranjang, berbaring di samping Nadine dan menarik istrinya ke dalam dekapannya. Ia menggenggam tangan Nadine, menautkan jemari mereka di atas perut. "Sayang nanti kita USG transvaginal, ya?" ujar Nadine saat mereka tengah bercerita. Dirga mengerutkan kening, tampak sedikit bingung. "Transvaginal? Bedanya apa dengan USG biasa yang di perut, Sayang?" Nadin

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ayo Periksa

    “Kita ke IGD aja yuk, Sayang? Aku enggak tenang liat kamu begini," tawar Dirga, suaranya terdengar sangat khawatir. Nadine berusaha memberikan senyum tipis, mencoba menenangkan kegelisahan suaminya. “Enggak usah. Aku baik-baik aja kok. Aku cuman perlu istirahat, Sayang,” terang Nadine berusaha mencairkan rasa khawatir Dirga. “Kamu yakin? Perlu aku antar?” Dirga kembali menawarkan, kali ini sedikit memaksa. “Enggak apa-apa, Sayang. Beneran. Aku kuat kok. Aku juga udah pesen taxi online, mungkin 5 menit lagi sampai. Kamu hari ini ada survey kan ke tempat client?” Dirga menghela nafas panjang. Ia menatap istrinya ini dalam-dalam. “Sayang… masalah kerjaanku bisa dihandle Gio dan Clara. Kesehatan kamu lebih penting,” debat Dirga tegas. Nadine terdiam, kehilangan kata-kata untuk mendebat lagi. Sementara itu, Dirga tetap diam di sisinya. Pun matanya tak membiarkan lepas sedikit pun dari Nadine.

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Nggak Enak Badan

    Merasa itu adalah sebuah petunjuk, sore harinya Nadine sudah berkemas lebih dulu. Diikuti sang Mama kini mereka sudah siap menunggu Dirga yang masih berbenah. Tak jauh dari rumah, hanya berjarak beberapa meter saja merekapun sampai di tempat tujuan. Nadine mengulas senyumnya. Seolah ia sudah berdamai dengan rasa pedihnya. Angin sore di pemakaman itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di depan pusara sang papa, Nadine bersimpuh. Suaranya serak saat menceritakan semua beban yang akhirnya terangkat, tentang rumah yang kini siap mereka tempati kembali, dan tentang Dirga—pria yang berdiri tegap di belakangnya, menjaga dalam diam. "Pa, Nadine pulang ya. Kita semua pulang. Nadine janji enggak akan bikin Mama nangis lagi kaya kemarin," bisiknya lirih dengan senyum yang berat. Menyeka air mata yang jatuh ke rumput hijau. Sang mama mengusap bahu Nadine, memberikan kekuatan yang selama ini sempat hilang. “Kuat y

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ini Milik Siapa?

    Staf butik itu tampak sedikit ragu. Bibirnya sempat terbuka seolah hendak menjawab pertanyaan Amanda. Namun sebelum ia mengatakan apa pun— “Manda.” Suara Rhevan tiba-tiba terdengar dari arah ruang ganti. Amanda menoleh. Rhevan keluar dari ruang ganti dengan jas yang baru saja ia coba. Jas itu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-05
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Terus Dihina

    Rhevan menatap Nadine dengan tajam. Lalu ia melangkah mendekat. Sepatu kulitnya berdetak pelan di lantai marmer, namun suara itu terasa sangat jelas di tengah keheningan kerumunan. Nadine ikut menegang ketika Rhevan berhenti tepat di depannya. Dan sekarang, jarak mereka menjadi sangat dekat. Cuku

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-05
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Pertemuan Penting

    Malam itu, minimarket di dekat apartemen Nadine tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang mondar-mandir di lorong rak, sisanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Lampu putih terang memantul di lantai keramik, memberi kesan dingin yang kontras dengan udara malam di luar.Nadine berdiri di depan

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Makin Kepikiran

    Begitu rapat resmi ditutup, suasana ruang rapat perlahan mengendur. Tim admin keuangan beranjak keluar satu per satu, disusul Sarah yang langsung menarik map dan tabletnya sambil berkata, “Aku duluan ya, Mba. Perut udah demo nih.” lalu Dea ikut pamit sambil mengajak Sarah ke kantin.Pintu menutup p

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status