LOGINRaka melangkah terhuyung masuk ke dalam kamarnya. Luna dengan wajah pucat mengikuti langkahnya. Tangannya menenteng kantong plastik berisi mie goreng duk duk untuk Raka. Ia masih mengawasi saat lelaki itu kesulitan membuka kunci kamarnya. “Raka, aku … aku minta maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini,” ucapnya sedikit ragu. Raka berhenti mencoba membuka kunci dengan satu tangannya. Ia berbalik dan menatap gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya yang biasanya ceria, justru terlihat sendu. Jelas menunjukkan penyesalannya. “Bantu aku buka pintunya.” Raka menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Luna segera memutar kunci. Kunci tua yang agak berat ketika diputar dari lubangnya. Raka mendorong pintu itu dan masuk ke dalam kamarnya. Luna mengekor di belakangnya masih dengan rasa bersalah. “Aku … bantu obatin lukamu, ya,” tawar Luna setelah meletakkan bung
Luna segera bersembunyi di balik punggung Raka. Raka dapat merasakan tangan gemetarnya mencengkeram di belakang kaos Raka. Dari arah dalam gang sempit itu, muncul lima orang preman berbadan gempal. Dua di antara mereka terlihat familiar di mata Raka. “Heh! Minggir! Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan,” teriak salah satu preman itu dengan suara kencang. Raka langsung melihat ke atas langit. “Udah malam, Bang. Bukan siang,” seloroh Raka dengan santainya, “lagian … abang-abang semua nggak malu, gangguin satu cewek rame-rame gini?” “Bacot!” teriak seorang dari mereka, lagi, “Minggir lo! Lo nggak ada urusan sama kami.” Raka mengerutkan keningnya. Ia menunjuk satu orang yang berdiri di belakang pria garang di depannya. Ada senyum kecil di bibirnya. “Udah sembuh yang kemaren, Bang? Mau lagi?” Lelaki dengan luka di bagian pipi kiri itu mengeraskan rahangnya. Sontak kawan di sisinya menoleh ke arahnya. “Oh … j
Raka masih terpaku di posisinya. Dia melihat bagaimana tante Sofi menengadahkan wajahnya dengan tatapan manja pada Ardy. Pria itu juga membalas dengan sorot lembut yang tampak sarat dengan cinta.Ardy mengangkat dagu tante Sofi. Bibir perempuan itu terbuka dan matanya memejam. Sikap itu sudah menunjukkan izin pada pria kekar yang mendekapnya, untuk bebas bertindak.Persis seperti yang ada di pikiran Raka, Ardy mengecup lembut bibir tante Sofi. Pria itu lalu melirik Raka sebelum melumatnya. Raka yang tahu pasti akan ada adegan plus- plus nantinya, menjadi makin bersemangat melihat adu mulut di depannya. Pemuda itu menjilat bibirnya, dia juga jadi kepingin merasakan bibir lembut tante Sofi. “Sudah cukup Ardy, malu ada orang baru,” ujar tante Sofi dengan manja. “Ya, Tante,” sahut Ardy menuruti, “mau langsung pijat atau mandi dulu?” bisik therapist itu lembut. “Tentu saja mandi dulu.” Sofi menjawab dengan manja.“Pilihan
Raka masuk ke sebuah ruangan. Dia bersemangat sekali karena akan latihan memijat perempuan. Kulit halus dan aroma wangi sudah ada dalam bayangan pria itu. Dia berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri. Raka melihat beberapa therapist pria yang sedang duduk istirahat menunggu klien. Mereka semua pria yang tampan, berkulit bersih dan tampak segar.Raka jadi percaya diri. Pria-pria itu juga menatapnya dan tersenyum ramah. Dia sudah membayangkan kalau mereka semua pasti punya pengalaman yang harus diserap olehnya.Dinda membuka sebuah ruangan. Raka yang masuk merasa heran. Ruangan ini hanya ada televisi dan sofa. Di sudut ada meja dengan cemilan di atasnya, juga minuman.“Kok tidak ada tempat tidurnya?” tanya Raka tak mengerti.“Mas kan masih latihan, jadi awalnya baca buku ini lalu belajar teknik melalui video, setelah hapal baru praktek.” Dinda menjelaskan dengan lembut.“Ooo … aku pikir langsung praktek sama kamu, Mbak Din.” Raka
Wanita berusia tiga puluhan itu segera mengalihkan perhatiannya dari buku di hadapannya. Senyuman langsung mengembang di bibirnya saat melihat sosok yang muncul dari pintunya. Raka membalas senyuman itu dengan canggung. Tante Nilam sangat cantik. Kulitnya putih bersih, dengan satu tahi lalat kecil di sudut matanya. Perawakannya yang langsing dan kulitnya kencang, jelas menunjukkan perawatannya yang bagus. Jika dibandingkan dengan gori … ah, Vero. Setiap pria normal, sudah pasti lebih memilih Tante cantik yang satu ini. Dia pintar merawat diri, sudah pasti pintar merawat suaminya.“Ka, ngapain lo bengong di situ, ayo masuk!” Suara cempreng Vero langsung menusuk telinga Raka. Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Raka langsung duduk di sisi Vero, berhadapan langsung dengan Tante Nilam. “Ini temanku Raka.” Vero memperkenalkan diri, “dan Raka. Kenalin, ini Tante Nilam, dia sudah kuanggap mama sendiri.” Raka mengulurkan tangannya. Nilam melirik tangan yang terulur di depannya dan tanpa r
Vero tidak langsung menjawab. Gadis itu mengusap tangannya yang berbulu. Raka yang melihatnya pun merasa geli. Otak kotornya bekerja cepat, membayangkan bagaimana bulu-bulu itu bergesekan dengan kulitnya. “Kamu kenapa sih pelihara bulu?” Raka tiba-tiba menceletuk penasaran, lupa dengan percakapan sebelumnya.“Suka saja!” Veronica membelai bulunya dengan santai. “Kan gak semua orang punya.” “Kamu minum obat hormon pria ya?” todong Raka asal.“Kamu lihat aku kayak laki apa?” Vero berkacak pinggang.Memang tubuh Veronica tidak kelihatan kekar seperti dirinya. Namun, perawakannya yang tinggi besar itu membuat sosoknya seperti laki-laki dengan bulu sensual.Untung saja rambutnya tidak pendek cepak dan bulu matanya lentik. Jika dia potong rambut pendek, habislah sudah, celana jeans dan kaos oblongnya sudah bisa membuat orang salah mengira dia laki-laki.Berpikir tentang kaos oblong dan tubuh besar Vero, Raka menatap dada gadis itu. Besar. Lebih besar dari Tante Feli, tetapi entah apa sebe
“Aku mau kamu jadi simpananku.” Raka mengira ia salah dengar. Tapi tante Feli mengucap kalimat yang sama, dengan sangat jelas. Dia tak menyangka kalau perempuan yang biasanya judes itu bisa mengucapkan kalimat seperti yang diimpikannya. Pemuda itu masih tercengang dengan hati yang bersorak.Melih
Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin
Raka masih merasa sangat canggung. Dia melihat mata ibu kos cantiknya itu melotot. Perasaan dikagumi itu membuatnya menjadi bangga.Batangnya memang terlihat membesar seperti tubuhnya. Dia menjadi semakin percaya diri melihat kilau kekaguman dan hasrat di mata sang ibu kos. Raka lebih terkejut lag
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya







