LOGINRaka berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia menatap sosok gagah penuh karisma yang menatapnya balik. Ia masih tak bisa mempercayai bahwa itu adalah bayangan dirinya saat ini. Ia mengamati luka di dada dari pantulan cermin di depannya. Luka terbuka yang semalam dilihatnya, kini hanya terlihat seperti garis bilur berwarna kehitaman. Lagi-lagi cincin itu menunjukkan kehebatannya dengan keajaiban penyembuhannya yang sangat cepat. “Gila! Jangan-jangan … kalo aku mati pun, kamu bikin aku bangun lagi macem zombie,” gumamnya sambil melirik ke arah benda yang melingkar di jarinya. Ia bergidik ngeri memikirkan ucapannya sendiri. Bayangan menjadi mayat hidup membuatnya hampir muntah.Cepat ia menyalakan kran air, membiarkan dinginnya air shower membasuh tubuhnya dan meredam kegelisahan salah satu bagian tubuhnya karena godaan tiga gadis penghuni kos nya. …..Matahari sudah cukup tinggi saat Raka sudah siap di atas motornya. Semua CCTV sudah siaga, merekam semua yang bakal terjadi sepanjang
Glek! Suara Raka menelan ludah terdengar jelas oleh Wina. Pemuda itu menatap ke arah belahan dada itu nyaris tanpa berkedip.Padahal dia sudah pernah merasakan dua macam dada wanita, berukuran tanggung dan super besar. Namun, ternyata pria memang tidak pernah puas. Tangan pria itu gatal sekali, lidahnya pun terasa ingin berontak keluar dari kerangkeng giginya. Raka benar-benar ingin meremas dan merasakan kelembutan milik Wina. Apalagi dada itu tepat di hadapannya seolah sedang menantang. Kulit Wina yang putih mulus karena rajin suntik pemutih itu, seolah berkilauan di mata Raka.Namun, sebelum dia bisa memutuskan apa yang hendak dilakukannya. Suara lembut lainnya mengembalikan kesadaran Raka. “Kalian berdua ngapain?” Kali ini Sari si rambut panjang hitam kelam itu keluar sambil menguap.Raka mengerjapkan matanya beberapa kali dan menunduk. Entah mengapa hari ini dia suka dengan sikapnya yang malu-malu seperti ini daripada sok akrab. Buktinya Wina justru berani menggodanya.“Lagi na
Ibu kos memang mengetuk pintu kamarnya, tetapi tetap saja wanita itu langsung mendorong pintu kamar Raka. Perempuan cantik berusia empat puluhan itu langsung saja mendekati pemuda idamannya itu.“Kok sudah bobok jam segini, Sayang, lagi mau godain tante ya?” bisik Feli dengan manja. “Tante punya kejutan untukmu.” Perempuan itu melepaskan daster yang dikenakannya. Dia hendak memamerkan baju dalam berenda yang baru saja dibelinya. Pakaian berwarna merah itu membuat penampilannya semakin terlihat berani.“Tante Feli?” Raka menoleh dengan malas.Dia tadi membayangkan Luna. Gadis manis itu terlihat menarik dengan sikap malu-malunya. Namun, yang ada di depannya sekarang justru ibu kos dengan penampilan menantang.“Bagaimana menurutmu?” bisik tante Feli dengan senyum dan kerling mata yang memikat.“Cantik sekali, Tante.” Raka berkata dengan jujur.“Benarkah … tapi kok rasanya kamu gak serius?” Feli mengerucutkan bibirnya.
Raka melangkah terhuyung masuk ke dalam kamarnya. Luna dengan wajah pucat mengikuti langkahnya. Tangannya menenteng kantong plastik berisi mie goreng duk duk untuk Raka. Ia masih mengawasi saat lelaki itu kesulitan membuka kunci kamarnya. “Raka, aku … aku minta maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini,” ucapnya sedikit ragu. Raka berhenti mencoba membuka kunci dengan satu tangannya. Ia berbalik dan menatap gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya yang biasanya ceria, justru terlihat sendu. Jelas menunjukkan penyesalannya. “Bantu aku buka pintunya.” Raka menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Luna segera memutar kunci. Kunci tua yang agak berat ketika diputar dari lubangnya. Raka mendorong pintu itu dan masuk ke dalam kamarnya. Luna mengekor di belakangnya masih dengan rasa bersalah. “Aku … bantu obatin lukamu, ya,” tawar Luna setelah meletakkan bung
Luna segera bersembunyi di balik punggung Raka. Raka dapat merasakan tangan gemetarnya mencengkeram di belakang kaos Raka. Dari arah dalam gang sempit itu, muncul lima orang preman berbadan gempal. Dua di antara mereka terlihat familiar di mata Raka. “Heh! Minggir! Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan,” teriak salah satu preman itu dengan suara kencang. Raka langsung melihat ke atas langit. “Udah malam, Bang. Bukan siang,” seloroh Raka dengan santainya, “lagian … abang-abang semua nggak malu, gangguin satu cewek rame-rame gini?” “Bacot!” teriak seorang dari mereka, lagi, “Minggir lo! Lo nggak ada urusan sama kami.” Raka mengerutkan keningnya. Ia menunjuk satu orang yang berdiri di belakang pria garang di depannya. Ada senyum kecil di bibirnya. “Udah sembuh yang kemaren, Bang? Mau lagi?” Lelaki dengan luka di bagian pipi kiri itu mengeraskan rahangnya. Sontak kawan di sisinya menoleh ke arahnya. “Oh … j
Raka masih terpaku di posisinya. Dia melihat bagaimana tante Sofi menengadahkan wajahnya dengan tatapan manja pada Ardy. Pria itu juga membalas dengan sorot lembut yang tampak sarat dengan cinta.Ardy mengangkat dagu tante Sofi. Bibir perempuan itu terbuka dan matanya memejam. Sikap itu sudah menunjukkan izin pada pria kekar yang mendekapnya, untuk bebas bertindak.Persis seperti yang ada di pikiran Raka, Ardy mengecup lembut bibir tante Sofi. Pria itu lalu melirik Raka sebelum melumatnya. Raka yang tahu pasti akan ada adegan plus- plus nantinya, menjadi makin bersemangat melihat adu mulut di depannya. Pemuda itu menjilat bibirnya, dia juga jadi kepingin merasakan bibir lembut tante Sofi. “Sudah cukup Ardy, malu ada orang baru,” ujar tante Sofi dengan manja. “Ya, Tante,” sahut Ardy menuruti, “mau langsung pijat atau mandi dulu?” bisik therapist itu lembut. “Tentu saja mandi dulu.” Sofi menjawab dengan manja.“Pilihan
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Raka tertawa pelan melihat reaksi tante cantik bertubuh sexy itu. Matanya yang bulat itu terlihat seperti gadis lugu. “Bukannya tadi tante bilang kalo perempuan bisa mencapai klimaks berkali-kali?” goda Raka, “jadi … aku memang mesti nunjukin kalau laki-laki itu diciptakan kuat, bahkan bisa nemani







