LOGINVero langsung mendelik. Ia melangkah menghampiri Tora, tangannya langsung menepuk belakang kepala lelaki bertato itu.
“Kamu muncul, demo ke kantor polisi dengan gaya seperti ini? Kamu pikir polisi nggak bakal makin curiga?” Tora langsung terdiam. Ia tak berani menjawab. “Lalu apa rencanamu,” tanya Rino kemudian. “Kita tunggu saja.” Vero kembali duduk dengan santainya. “Nunggu?” Rino mengulang ucapan Vero. “Cuma nunMalam mulai turun ketika mobil yang ditumpangi Shakira meninggalkan rumah keluarganya. Sugeng berada di kursi pengemudi. Beni duduk di depan sebagai pengawal yang bertugas mengawasi keadaan sekitar. Sementara Ruslan berada di kursi belakang bersama Shakira.Shakira menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memandang keluar jendela. Tetapi, ketenangan itu tidak bertahan lama.Sugeng melirik kaca spion. Sebuah mobil hitam terlihat beberapa puluh meter di belakang mereka. Entah kenapa mobil itu seperti mengikuti mereka.Sugeng menyipitkan mata. “Beni.”Beni menoleh. “Apa?”“Lihat belakang,” bisik Sugeng.Beni menoleh ke kaca spion tengah seketika mimik wajahnya berubah. Ia melebarkan mata. “Itu mobil siapa?”Sugeng tidak menjawab. Mobil hitam itu tiba-tiba mempercepat lajunya. Tampak jarak mereka semakin dekat.Ruslan mencondongkan tubuh ke depan. “Jangan bilang …”“Kita tidak tahu pastinya,” jawab Sugeng.
Ruang belakang rumah Rino di penuhi oleh anak buah Raka dan anak buah Anom. Mereka semua mengerumuni pelataran tersebut di mana seorang pria dan wanita berada di tengah-tengah.Sekar dan pengawal Anom sudah siap di tengah pelataran belakang. Raka memang tidak menginginkan keramaian di pelataran depan, karena tak ingin ada salah paham dengan tetangga. “Raka … kamu yakin kah si Anton mau kamu suruh lawan Sekar?” Anom tersenyum menyepelekan.“Bukan melawan, Pak Anom, hanya latihan tanding saja. Sekar kan masih anak-anak dan kurang pengalaman, biar dia belajar dari Anton.” Raka merendah. “Terserah kamu dah.” Anom lalu menatap ke arah pengawalnya. “Kamu hati-hati jangan melukai anak kecil, nanti kena tuduhan penganiayaan lagi!” “Tenang saja, Boss. Kita hanya main-main saja.” Anton tersenyum mengejek. “Paling juga satu, dua menit sudah selesai.” Teman-teman Anton pun tertawa kecil. Mereka menganggap pertunjukkan ini akan menjadi to
Raka tidak melawan. Dia membiarkan mereka mendorong dan menekannya. Justru dia dibuat kagum dengan kesigapan pengawal pria itu. Pemuda itu tidak mau berseteru dengan Anom, lagipula dalam beberapa detik saja akan ketahuan kalau sebenarnya tidak ada apa-apa dengan kliennya itu.“Cukup-cukup. Aku sudah tidak apa-apa,” ujar Anom seraya mengangkat tangannya menghentikan tindakan pengawalnya. Pria setengah baya itu menarik napas panjang lalu menatap ke arah kakinya. Rasa sakit yang tadi dia rasakan hanya sepintas, jejak ngilu masih dirasakannya, tetapi aliran hangat membuat kakinya terasa nyaman.“Anda yakin, Tuan?” tanya pengawal yang di belakang Anom, memastikan.“Hmm ….” Anom menganggukan kepalanya. “Setelah merasa rileks, coba untuk berdiri dan berjalan lagi.” Raka tersenyum tipis tanpa merasa marah.“Kalian tenang saja, Mas Raka gak mungkin celakain kalian. Lagipula buat apa coba menjelekkan nama baik sendiri.” Sekar y
Anom Sadewa yang masih harus terapi, datang mencari Raka di kantor baru pemuda itu. Dia memperhatikan halaman depan di mana beberapa orang sedang berlatih bela diri. Pria itu masuk dan disambut oleh Sekar. Gadis itu membawa masuk Anom ke ruang kerja Raka dan disanalah Raka memijat penguasaha perkebunan itu. “Jadi, kamu benar-benar sudah tidak kerja lagi di panti pijatnya Nilam?” Anom Sadewa, klien pria pertama Raka menatap pemuda itu dengan bersemangat. “Tidak, Pak.” Raka menjawab sambil mengurut kaki laki-laki setengah baya itu. “Bagus. Bagus.” Anom Sadewa tertawa terbahak-bahak penuh semangat. “Loh, kok bagus?” Raka menatap sepintas ke arah kliennya itu. “Artinya aku bebas untuk menarikmu jadi anak buahku.” Anom menatap kagum ke arah Raka. “Aku akan membayarmu dua kali lipat dari apa yang kamu dapat total selama sebulan di panti itu.” Raka tersenyum tipis, tawaran itu memang
Sekar tidak menjawab. Dia tetap diam sambil memainkan ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat dan terlatih memainkan game yang sedang booming saat ini, penuh konsentrasi. Raka menarik kursi dan duduk di depan Sekar. Pemuda itu menatap lekat ke arah wajah gadis di depannya. Wajah gadis itu cukup manis, tetapi terlihat datar seolah tak memiliki perasaan. Dia yang biasanya selalu berdebat dan tak peduli jika siapapun berusaha untuk mencegahnya mengkritik Rino. Namun, kali ini sungguh mengherankan. Hanya satu kali tatapan Raka saja sudah membuat Sekar tak bicara apa-apa lagi. Padahal sebelumnya, hal itu tak pernah berpengaruh pada Sekar. Perdebatan hanya akan berhenti kalau Rino pergi.“Sekar … kamu tidak apa-apa?” Raka mengulang pertanyaannya tadi. Sekar mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Raka dengan sorot datar. Dia sesaat tidak menjawab pertanyaan laki-laki itu, seolah sedang merangkai kalimat yang tepat. “Memangnya ada a
Raka termenung. Dia memikirkan segala kemungkinan. Shakira sedang di luar kota, tapi bisa saja janda perawan yang sekarang kaya raya itu mempunyai akses untuk mengenal orang-orang kaya itu. Memikirkan kemungkinan itu perasaan Raka jadi berbunga-bunga. Pemuda itu membayangkan di depannya saat ini adalah si janda cantik itu.Ah, ingin sekali Raka memeluk pinggang ramping itu dan menatap lekat ke arah matanya. Ingin sekali dia mengecup kening perempuan itu dan mengatakan, terimakasih.“Ngelamun apa, Suhu!” Rino menyenggol bahu Raka yang berdiri di sampingnya. “Eh, enggak. Aku cuma mikir siapa yang memberi rekomendasi.” Raka menyembunyikan pikirannya dari siapapun.“Gampang … nanti saja kalau kita ketemuan sama mereka kita tanya langsung saja. Aku juga penasaran siapa pemilik dua club itu.” Rino menggeser kedua tangannya dengan antusias. Raka menatap ke arah Rino. Pemuda itu jelas bukanlah berandalan biasa. Rumah besar yang diguna
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







