Home / Male Adult / Mau Berapa Ronde? / Bab 187. Pasrah

Share

Bab 187. Pasrah

last update publish date: 2026-09-23 18:00:54

Raka bangkit. Rahangnya mengeras menahan amarah. Ia menarik napas panjang. Mencoba berpikir jernih di tengah kepanikan yang melanda.

Titik lokasi GPS hp Shakira. Raka segera membuka aplikasi pelacak di ponselnya sendiri, jarinya bergetar saat mengetik kata sandi. Titik biru kecil muncul di layar, berkedip di sebuah lokasi beberapa kilometer dari tempatnya berdiri sekarang.

Tanpa berpikir dua kali, Raka berlari menuju motornya yang terparkir tak jauh dari sana. Ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 189. Secepat Kilat

    Raka menyipitkan mata. Dalam sepersekian detik, dia merasakan sensasi yang familiar itu. Dunia di sekelilingnya melambat. Gerakan mereka yang tadinya cepat kini tampak lambat Cincin di jari manisnya berdenyut hangat, seolah menyambut pertarungan depan mata.Bagi Raka, waktu terasa merangkak. Tetapi, bagi orang-orang di sekelilingnya, yang mereka lihat hanyalah bayangan yang menghilang dan muncul di waktu bersamaan.“Jangan menjauh dari punggungku.” Raka berbisik pada Shakira.“Ti-tidak akan!” Shakira menjawab gemetar. Jarinya mencengkram erat bagian belakang kemeja Raka.Tiga orang menyerbu dari depan hampir bersamaan. Bagi mereka, itu adalah serangan yang tak mungkin dihindari. Tetapi, bagi Raka, dia punya cukup waktu untuk menghitung jarak, sudut, dan titik lemah pada lawan.Raka melangkah maju. Ia menghindari tinju pertama hanya dengan memiringkan kepala. Angin berdesir tipis melewati pipinya. Pukulannya meleset. Dalam gerakan yang sam

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 188. Harapan

    “Sudahlah. Jika kulepas ini semua tidak masalah. Toh semua harta peninggalan Ryu, bukan sepenuhnya milikku. Jika aku melepaskannya sekarang, mungkin Devon juga tidak akan mengintimidasiku lagi. Aku ingin hidup tenang dan damai tanpa tertekan lagi,” batin Shakira.Shakira mengepalkan tangannya. Menyerah sudah. “Baiklah. Aku akan tanda tangan.”“Ha-ha-ha! Pilihan yang bijak! Lagipula, untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak bisa kamu selamatkan?”Shakira memejamkan mata. Ia berpikir jika ini yang harus dia lakukan untuk tetap hidup maka biarkan saja. Harta bisa dicari lagi. Sedangkan nyawa tidak.Tangan Shakira menerima pena yang disodorkan padanya. Pria paruh baya itu menunjuk ke bagian bawah kertas.“Tanda tangan di sini,” perintah penculik itu.Shakira menggigit bibir bawahnya. Ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya membuka mata dan bersiap untuk tanda tangan.Brak!

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 187. Pasrah

    Raka bangkit. Rahangnya mengeras menahan amarah. Ia menarik napas panjang. Mencoba berpikir jernih di tengah kepanikan yang melanda.Titik lokasi GPS hp Shakira. Raka segera membuka aplikasi pelacak di ponselnya sendiri, jarinya bergetar saat mengetik kata sandi. Titik biru kecil muncul di layar, berkedip di sebuah lokasi beberapa kilometer dari tempatnya berdiri sekarang. Tanpa berpikir dua kali, Raka berlari menuju motornya yang terparkir tak jauh dari sana. Ia menyalakan mesin, kemudian melesat membelah jalanan yang gelap.Titik biru di layar akhirnya berhenti bergerak. Raka mengerem motornya di pinggir jalan sepi bia hampir terjungkal saat turun. Ia mengamati sekeliling. Jalanan tampak kosong, tidak ada bangunan, dan tidak ada satupun kendaraan lain yang mencurigakan.Mata Raka menyipit menangkap sesuatu yang berkilau di bawah lampu jalan. Ia mendekat, jantungnya berdebar kencang, berharap menemukan sesuatu.

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 186. Tanda Tangan!

    Shakira mengangkat kepalanya. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya melemas. Bagaimana jika orang itu berniat membunuhnya? Tubuh Shakira bergetar hebat.“Sudah bangun rupanya.” Suara itu terdengar asing.“Siapa kamu?” Shakira mencoba bertanya. “Kenapa kamu melakukan ini padaku?”Tak ada jawaban. Sebaliknya, terdengar suara kertas yang dibuka. Shakira menajamkan telinganya.“Aku punya sesuatu untukmu. Tanda tangani berkas ini.”Shakira mengerutkan kening. “Apa maksudmu? Berkas apa? Aku tidak mau ditipu!”Orang itu melepaskan ikatan tangan Shakira. “Surat penyerahan harta. Semua yang kamu miliki. Perusahaan, aset, saham harus diserahkan semuanya. Tanda tangani ini di bawah, dan semua ini selesai malam ini juga.”Dengan cepat Shakira membuka penutup matanya. Seketika tubuhnya membeku. Pria itu mengenakan topeng di sebagian wajahnya. Suaranya juga asing di telinga Shakira.“Sudah bi

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 185. Lepaskan Aku!

    Kesadaran Shakira kembali perlahan. Ia berkedip. Tetapi, tetap gelap gulita. Tak ada yang berubah. Meski dia mencobanya berulang kali. Ada sesuatu yang menutupi matanya.“Mataku ditutup kain. Aku tidak bisa melihat. Di mana ini?” tanya Shakira.Ia mencoba menggerakkan tangannya. Tangannya terikat. Pergelangan tangannya terikat di belakang punggung kursi. Terasa talinya yang kasar menggesek kulit setiap kali dia mencoba melepaskan diri. Kakinya juga terikat. Masing-masing ke kaki kursi.“Bahkan tangan dan kakiku terikat? Ya Tuhan! Bagaimana ini?” Shakira menggumam panik.Bau di sekelilingnya asing. Debu, karat, dan bau jamur di dinding. Tidak ada suara apapun. Seolah tempat itu berada di tempat yang jauh dari pusat keramaian. “Halo?” Suaranya terdengar bergetar. “Ada orang?”Tidak ada jawaban. Suaranya menggema di ruangan itu.“Sugeng? Beni? Ruslan?” Shakira memanggil tiga nama pe

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 184. Tertangkap!

    Pria itu membalas dengan sikutan ke wajah. Ruslan menangkis sebagian, merasakan perih di pelipis. Tampak Tuslan membalas dengan tendangan keras yang membuat lawannya terjengkang jauh dari mobil.Sementara itu Sugeng masih terjebak adu pukul dengan lawannya. Beni datang membantu setelah berhasil melumpuhkan lawannya sendiri.Mereka berdua mengepung pria ketiga dari dua sisi. Namun, di tengah kepungan itu, terdengar suara pintu mobil hitam terbuka lagi.Beni menoleh cepat. “Ruslan!”Ruslan yang baru saja bangkit dari aspal ikut menoleh ke arah suara itu. Dari dalam mobil hitam keluar satu orang lagi. Ia berdiri diam sejenak sebelum tatapannya terkunci lurus ke mobil Shakira. Perlahan dia melangkah menuju mobil.Sugeng merinding. “Dia target utamanya?”Beni menyeka keringat dan darah yang bercampur di dahinya. “Yang itu?”Sugeng mengangguk sekali. “Jangan biarkan dia mendekati mobil!”Ketiganya berusaha bergerak se

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 3. Cincin Aneh

    Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 2. Basah

    Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 1. Tante Galak Yang Bahenol

    "Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 4. Perubahan Besar

    Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status