LOGINMatahari pagi baru saja menyembul tipis ketika shift malam di tempat parkir karaoke, resmi berakhir. Gufron, Parto dan Sudar pun pulang dengan sepeda motor butut mereka masing-masing, berjalan gontai menyusuri jalan setapak menuju mess karyawan, sebuah rumah berarsitektur modern yang disediakan cuma-cuma oleh boss mereka, Rino dan Raka.
Dengan seragam satpam yang mulai kusut dan lingkaran hitam di bawah mata, ketiganya melangkah layaknya zombi kurang tidur. Sudar paling belakang, berRino sudah memegang kunci motor ketika sebuah motor besar hitam berhenti di depan pagar. Raka turun dengan jaket setengah terbuka, wajahnya datar seperti biasa. Raka mengerutkan dahinya. “Mau ke mana? Kita masih ada banyak kerjaan ya.” “Luna hilang!” Rino menyahut sambil tidak menoleh. “Aku harus cari dia secepatnya!” “Oh ya? Mungkin dia lagi keluar sebentar,” ujar Raka. Rino berhenti. Ia berjalan mendekati Raka. “Dengan koper yang juga ikut menghilang? Jelas dia pergi dari sini! Atau mungkin dia diculik! Bisa saja kan?” Raka memutar bola mata. “Dia pergi karena keinginannya sendiri kan? Kenapa kamu harus repot sih? Aku yakin, kalau masalah dia selesai, dia bakalan pulang ke sini lagi. Udah. Biarin aja dia sendiri dulu.” Rahang Rino mengeras. “Aku membiarkannya? Ka, Luna pergi! Aku nggak mungkin dong diam aja! Masalah? Kami nggak ada masalah sama sekali!” Raka menyandarkan punggu
“Luna Honey?” Tidak ada jawaban. Mata Rino mengedar mengitari kamar itu. Alisnya naik satu. Tampak kasur itu rapi. Lemari terbuka separuh. Rino berlari menuju lemari dan membukanya lebar-lebar. Seketika matanya membulat saat melihat koper Luna tidak ada di tempatnya. “Luna!” Rino berteriak memanggil nama Luna sambil mengecek kamar mandi, balkon, dapur, garasi. Nomor ponsel Luna di telepon. Nada sambung tetapi mati kemudian. Rino pun mencoba lagi. Tidak aktif! Tubuh Rino lesu seketika. Tangannya gemetar. “Tidak mungkin kan kamu ninggalin aku?” Ia pun bergegas turun ke halaman dengan wajah pucat. Ketiga anggota baru itu mengerutkan kening saat melihat Rino gelisah. “Latihan bubar! Apa ada yang lihat Luna keluar rumah?” Rino mengusap wajahnya dengan kasar. Mereka bertiga saling pandang. Dimas dan Seto menggelengkan kepala pelan. Sementara Hadi menggelengkan kepala dengan cepat. “Nggak, Boss. Kita di sini terus dari tadi.” “Iya, Boss. Kita semua capek dan dari tadi nggak a
Waktupun berlalu. Tak terasa siang telah berganti sore. Di satu halaman belakang yang luas, terdengar berbagai suara yang bising. Salah satunya tepukan tangan beradu dengan embusan napas kasar oleh banyak orang.Rino berjalan cepat dan menepuk paha Hadi dengan ujung tongkat. “Hadi, kuda - kudamu terlalu terbuka. Jika lawan menarik kerahmu, kamu bisa tumbang seketika!”Hadi tampak memperbaiki kuda-kudanya. Keringat membasahi kaos miliknya. Rino mengangguk saat Hadi sudah sesuai arahannya.Mata Rino kini mengamati Dimas. Ia memicingkan mata. “Dimas, jangan cuma mengandalkan tangan saja! Gerakkan pinggulmu! Putar woi!”“Aduh, Boss! Saya nggak kuat! Istirahat dulu yuk?” Seno terengah di pojok, tangannya bertumpu di lutut.Rino melirik jam tangannya. Ternyata hampir pukul empat. Ia menaruh tongkat ke tanah dan menyilangkan tangan. “Kalau begitu selesai. Sekarang aku mau lihat hasil latihannya. Hadi, Dimas, maju. Kalian sparing.”“Apa?
“Halah! Kayak nggak pernah aja dikibulin buaya,” goda Wina. Sari mengacak rambutnya. “Aku frustasi nih. Si Budi tadi bilang kalau dia lagi nyapu kan pas kejadian itu? Artinya dia paling tahu sekarang ini!” “Coba tanya yang lain. Penghuni kos sini pasti tahu kan?” Luna memberikan ide. Supaya mereka bertiga tidak gelisah macam ulet bulu kepanasan. “Anak-anak yang ada di sini kan kalo siang kerja, Lun! Si Budi itu di rumah karena nganggur! Jadi, ya cuma dia aja yang tahu kronologinya!” Nisa memejamkan mata gemas. “Ihh! Melani kok gitu sih? Aduh…padahal tinggal dikit lagi kita dapat informasinya!” Luna menatap jalanan yang sepi. Di kejauhan tampak Budi diseret paksa istrinya. “Budi takut istrinya?” tanya Luna penasaran. “Gimana nggak takut? Budi aja pernah dibanting sama Melani gara-gara dia malah ngegosip sama tetangga! Dia lupa Melani nyuruh beliin mie tektek eh dia malah sibuk gosip sama tetangg
“Lunaaaaa!” Sari menghambur ke pelukan Luna begitu Luna sampai di kos lamanya. Tentu saja Luna menyambut pelukan Sari dengan penuh haru.“Makasih ya udah disambut gini.” Luna tersenyum lebar. Hingga dia merasakan sesuatu. “Ei, kamu nggak pakai plat Jambu lagi?”“Ckckcck! Halah. Cuma di kos doang.” Sari melepaskan pelukannya sambil cekikikan. “Gimana kabarmu—”Belum sempat Sari menyelesaikan ucapannya, kepala gadis itu mendongak tiba-tiba. Membuat Luna terkejut karena ternyata Wina menjambak rambut Sari.“Giliranku, Sari! Ya ampun! Cantikku sudah pulang!” Wina mencubit dua pipi Luna. “Aku takut kamu nggak bakal balik lagi lo.”Luna tersenyum. “Sekarang balik kan?”Wina mengangguk. “Iya! Syukurlah kamu masih bisa senyum begini. Hah…bener-bener deh. Akhirnya ada yang enak dilihat juga di sini. Belakangan suasana di sini tuh-”Pak!Wina tersingkir begitu saja. Terganti wajah Nisa yang cantik dengan body idealnya. Ia menggeser kuat tubuh Wina dengan tubuhnya.“Lain kali kamu harus yoga jug
Plak!Luna menampar Hadi sekuat tenaganya. Lalu dia mendorong tubuh Hadi agar mundur keluar dari pintu kamarnya. Karena perbedaan berat tubuh yang besar, Hadi nyaris tidak bergerak sedikitpun.Hadi memegangi pipinya yang terasa sedikit panas. Matanya melotot dan dia menggertakkan giginya. Wajahnya memerah penuh amarah.“Dasar jalang! Beraninya kamu menamparku!” Hadi semakin gencar mendekati Luna.Melihat keadaan menjadi bahaya, Luna menjadi panik. Ia mencoba berlari menjauh. Akan tetapi, Hadi sudah bergerak cepat dan pria itu menangkap tangan Luna. Ia menarik kuat tangan perempuan itu hingga membuatnya tertarik mundur terantuk dada Hadi.“Hadi, lepas!” Luna menjerit ketakutan.Hadi malah mengambil satu tangan Luna yang bebas itu dan menyatukannya ke atas kepala Luna. Setelahnya pria itu membawa Luna ke tembok. Membuat Luna tidak bisa bergerak.“Wah! Cantik sekali.” Suara rendah Hadi terdengar bersamaan dengan senyum seringainya. Membuat Luna bergidik ngeri.“Hadi…tolong lepaskan aku,”
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli







