LOGINPak Bambang berdiri dari kursinya dengan wajah yang mendadak memerah. Suaranya melengking tinggi penuh emosi yang dibuat - buat, persis seperti penampilannya saat mengamuk di depan karyawan semalam.
“Itu bukan sekedar kelalaian, Mas Raka! Itu tindakan tidak berpendidikan! Tidak tahu malu! Tidak sopan dan mengganggu ketenangan kerja semua karyawan perempuan saya. Mana tahu apa yang sudah dilakukan Gufron botak itu dengan yang lainnya, tindakan melecehkan yang dia lakukan pada Mita pasSosok yang melangkah keluar dari sudut lorong itu adalah Parto. Komandan regu satpam Agensi Sentosa itu berjalan mendekat dengan langkah tegap, sorot matanya yang tenang tapi tajam langsung mengunci keberadaan Siska dan Vico yang berdiri tegang di depan pos pantau lantai atas."Ada apa ini, Vic? Kenapa Mbak Siska menangis di jam operasional begini?" tanya Parto dengan nada suara berat yang begitu mantap.Setelah tekanan yang diberikan pada kelompoknya, Parto yang paling dewasa merasa bertanggung jawab untuk memastikan semua bekerja dengan baik dan jauh dari ancaman.Vico menoleh ke arah seniornya, lalu menghembuskan napas panjang. "Ini, Mas Parto. Mbak Siska tiba-tiba datang sambil menangis, minta saya nemenin dia masuk ke ruang arsip di ujung lorong sana. Katanya mau beresin dokumen kasir. Tapi pas saya tanya kenapa harus di ruangan sepi, dia malah tambah bingung."Parto memiringkan kepalanya sedikit, menatap Siska yang kini makin merapatkan tubu
Dua hari kemudian.Malam kian larut, menyisakan bising musik remix yang meredup di balik dinding tebal ruang karaoke. Di pos pantau lorong lantai dua, Vico berdiri tegak mengawasi situasi.Meskipun rencana jebakan Mita berhasil dia patahkan dua hari sebelumnya berkat bantuan Koko, Vico tidak sedikitpun menurunkan kewaspadaannya. Ia tahu pihak manajemen pasti sedang menguji dirinya.Samar … Vico mendengar langkah kaki maju mendekat dari arah tangga darurat. Vico menoleh cepat dan dari balik bayang - bayang koridor, munculah Sisca.Siska berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Vico. Ia menarik napas panjang, meremas jemarinya sendiri yang bergetar hebat."Mas... Mas Vico," panggil Siska dengan suara lirih dan bergetar, hampir tak terdengar di atas dengung AC koridor.Vico menyipitkan matanya, menatap Siska dari atas ke bawah dengan tatapan waspada. Satpam senior itu tidak langsung melunak. "Ada apa, Siska? Kenapa malam-malam nan
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Siska yang merupakan kasir yang terkadang diperbantukan sebagai pemandu lagu junior, masuk dengan sopan. Dia adalah seorang ibu tunggal yang bekerja keras untuk menghidupi anaknya dan selama ini terkenal paling pendiam di antara semua pekerja perempuan di tempat itu.“Ada apa, Pak Bambang memanggil saya?” tanya Siska pelan, ia berdiri canggung di depan meja sang manager.Dari sudut matanya perempuan itu melihat Mita duduk dengan satu kaki bertumpu pada kaki lainnya dan tangannya sedang mempermainkan kuku - kuku yang lentik.Sedangkan pria setengah baya itu tidak membalas dengan senyuman. Pria paruh baya itu justru membuka laci mejanya, mengambil sebuah foto cetak berukuran sedang, lalu melemparkannya ke atas meja tepat di hadapan Siska.Mata Siska terbelalak seketika. Wajahnya mendadak pucat pasi bagai kertas. Di dalam foto tersebut, terekam jelas gambar dirinya yang sedang di peluk dan bercumbu dengan seorang pelanggan di dalam ruangan y
Beberapa hari kemudian di rumah karaoke jalan Rambutan.Vico berjalan dengan wajah dinginnya menyisiri lorong gedung karaoke. Dari pengalamannya terkena grebek di gedung karaoke cabang lain dia lebih berhati - hati. Sebagai pengganti Gufron di cabang rambutan ini, pria itu tak mau melakukan sebuah kesalahan yang sama yang membuat malu agen Sentosa. Vico dengan wajah yang minim senyuman, terlihat dingin dan penuh kewaspadaan. Saat jam operasional mulai ramai, Mita mulai muncul di balik lorong. Sesuai dengan tujuan awalnya, dia menggunakan gaun merah dengan tatanan rambut yang sengaja dibuat berantakan untuk memberi kesan tak berdaya. Dengan wajah yang cemas dan langkah yang tak beraturan, Mita mendekati Vico yang sedang berdiri siaga di pos bagian dalam. “Mas … Mas Vico, tolongin Mita dong,” ujarnya dengan suara manja, matanya tampak berkaca - kaca seolah sedang ketakutan. “Di ruangan VIP 4 ada lampu yang mati terus. Hidup mati gitu …
“Ough!” Sepasang mata pemuda itu langsung mendelik. Ia merasakan hangat di antara kedua kakinya. Raka menegakkan tubuhnya. Napasnya masih terengah. Jantungnya masih berdebar dengan kencang. Tapi … ia sama sekali tak melihat bayangan Shakira di sekelilingnya. “Sialan!” Makinya sambil tertawa. Tentu saja semua itu hanya mimpi. Perempuan seperti Shakira tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu padanya. Tembok yang berdiri di antara mereka terlalu tinggi. Dan … mungkin, seharusnya Raka bersyukur bisa mengenalnya walau hubungan mereka hanya bisa sebatas teman. Raka menatap jam di dinding rumahnya. Jarum masih menunjuk ke angka tiga. Ia segera bangkit dan cepat menarik sprei nya yang basah, sebelum ke kamar mandi untuk membebaskan diri dari rasa lengket di kedua pahanya. Ia menatap bayangan dirinya di cermin dan tersenyum sendiri saat memikirkan perubahan nasibnya. Lelaki kurus kerempeng berkulit hitam tanpa masa de
Raka merasakan sentuhan jemari itu bergerak perlahan menyentuh kulitnya. Tubuhnya menegang seketika saat perempuan cantik yang biasanya tampil anggun dan elegan di setiap perjumpaannya itu mendekatkan wajahnya. Tak ada noda sedikitpun di wajahnya, bahkan dalam jarak yang begitu dekat, kulitnya terlihat begitu halus bagai porselen. Ia benar-benar bagai dewi yang turun ke bumi. “Raka —” Suara desahnya begitu sensual di telinga Raka, membuat tubuh lelaki itu panas dingin seketika. Ia tak pernah merasakan hal seperti ini, bahkan dulu saat pertama ia merasakan sentuhan seorang wanita. Shakira mendekatkan bibirnya di telinga Raka. Kehangatan dan sensasi basah itu terasa begitu nyata dan membuatnya melayang seketika. “Aku mau kamu, Ka.” Suara lembut itu membuat dada Raka berdebar semakin kencang. “Aku bukan cuma mau tahu kamu luar dalam. Tapi aku mau kamu utuh. Cuma buat aku.” Raka menelan ludahnya. Ia dapat merasakan sentuhan basah itu menyentuh jakunnya, menurun hingga dada telanjang
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







