LOGINSuara deru mesin Honda Goldwing berkapasitas besar itu menggerung halus namun bertenaga di area parkir depan. Raka, yang telah mengenakan helm premium berdesain elegan, sudah duduk gagah di atas jok motor mewahnya.
Jemari tangannya yang kokoh memutar sedikit stang gas, bersiap melaju menuju kantor pusat jaringan karaoke untuk menemui Bu Maya Direktur Utama yang memegang kendali penuh atas bisnis tersebut.Namun, baru saja roda depan motornya hendak bergulir menuju pintu kelBeberapa hari kemudian di rumah karaoke jalan Rambutan.Vico berjalan dengan wajah dinginnya menyisiri lorong gedung karaoke. Dari pengalamannya terkena grebek di gedung karaoke cabang lain dia lebih berhati - hati. Sebagai pengganti Gufron di cabang rambutan ini, pria itu tak mau melakukan sebuah kesalahan yang sama yang membuat malu agen Sentosa. Vico dengan wajah yang minim senyuman, terlihat dingin dan penuh kewaspadaan. Saat jam operasional mulai ramai, Mita mulai muncul di balik lorong. Sesuai dengan tujuan awalnya, dia menggunakan gaun merah dengan tatanan rambut yang sengaja dibuat berantakan untuk memberi kesan tak berdaya. Dengan wajah yang cemas dan langkah yang tak beraturan, Mita mendekati Vico yang sedang berdiri siaga di pos bagian dalam. “Mas … Mas Vico, tolongin Mita dong,” ujarnya dengan suara manja, matanya tampak berkaca - kaca seolah sedang ketakutan. “Di ruangan VIP 4 ada lampu yang mati terus. Hidup mati gitu …
“Ough!” Sepasang mata pemuda itu langsung mendelik. Ia merasakan hangat di antara kedua kakinya. Raka menegakkan tubuhnya. Napasnya masih terengah. Jantungnya masih berdebar dengan kencang. Tapi … ia sama sekali tak melihat bayangan Shakira di sekelilingnya. “Sialan!” Makinya sambil tertawa. Tentu saja semua itu hanya mimpi. Perempuan seperti Shakira tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu padanya. Tembok yang berdiri di antara mereka terlalu tinggi. Dan … mungkin, seharusnya Raka bersyukur bisa mengenalnya walau hubungan mereka hanya bisa sebatas teman. Raka menatap jam di dinding rumahnya. Jarum masih menunjuk ke angka tiga. Ia segera bangkit dan cepat menarik sprei nya yang basah, sebelum ke kamar mandi untuk membebaskan diri dari rasa lengket di kedua pahanya. Ia menatap bayangan dirinya di cermin dan tersenyum sendiri saat memikirkan perubahan nasibnya. Lelaki kurus kerempeng berkulit hitam tanpa masa de
Raka merasakan sentuhan jemari itu bergerak perlahan menyentuh kulitnya. Tubuhnya menegang seketika saat perempuan cantik yang biasanya tampil anggun dan elegan di setiap perjumpaannya itu mendekatkan wajahnya. Tak ada noda sedikitpun di wajahnya, bahkan dalam jarak yang begitu dekat, kulitnya terlihat begitu halus bagai porselen. Ia benar-benar bagai dewi yang turun ke bumi. “Raka —” Suara desahnya begitu sensual di telinga Raka, membuat tubuh lelaki itu panas dingin seketika. Ia tak pernah merasakan hal seperti ini, bahkan dulu saat pertama ia merasakan sentuhan seorang wanita. Shakira mendekatkan bibirnya di telinga Raka. Kehangatan dan sensasi basah itu terasa begitu nyata dan membuatnya melayang seketika. “Aku mau kamu, Ka.” Suara lembut itu membuat dada Raka berdebar semakin kencang. “Aku bukan cuma mau tahu kamu luar dalam. Tapi aku mau kamu utuh. Cuma buat aku.” Raka menelan ludahnya. Ia dapat merasakan sentuhan basah itu menyentuh jakunnya, menurun hingga dada telanjang
“Dulu aku pikir, selama aku bisa mengatasi semuanya, aku nggak perlu merepotkan orang lain,” katanya lirih. “Aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja, sampai kadang-kadang aku sendiri lupa bagaimana caranya mengakui kalau aku sedang nggak baik-baik saja.”Raka mendengarkan tanpa menyela. “Lalu … ketika aku mengenal kamu, aku merasa kamu nggak jauh berbeda denganku. Selalu berusaha tetap tegar, walau terus ditempa kesulitan,” lanjut Shakira, “karena itu aku ingin mengenalmu lebih lagi. Bukan karena aku kasihan, Raka. Aku ingin tahu lebih banyak lagi tentang kamu.” Jemari Raka bergerak menyentuh benda kecil yang melingkar di jarinya. Untuk sesaat, ia kembali memandangi lingkaran keemasan itu.Selama ini ia sering bertanya-tanya apakah perhatian yang diterimanya benar-benar ditujukan kepadanya atau hanya kepada sesuatu yang melekat pada dirinya. Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidup dengan meragukan ketulusan setiap orang yang mendekat.
Raka mengatupkan rahangnya. Tatapannya beralih ke jendela kamar yang gelap.“Justru mungkin kamu yang nggak akan pernah melirik pemuda hitam, dekil, miskin yang bayar kos saja nunggak,” sahut Raka. Lelaki muda itu melirik ke arah benda kecil yang melingkar di jarinya. Garis tipis berwarna keemasan itu seperti mengejeknya. Tanpa campur tangan benda itu, tak satu pun wanita yang akan melirik apalagi mendekat seperti sekarang. “Kamu benaran mikir seperti itu?”“Dulu, aku nggak punya apa-apa, Kira.” Suara Raka terdengar lebih pelan. “Aku bahkan nggak tahu bagaimana caranya memastikan hidupku sendiri besok. Aku sibuk memikirkan bagaimana cari uang buat bayar sewa kos, buat makan, dan bagaimana caranya bertahan sampai akhir bulan.”Shakira menarik sudut bibirnya. Ia bisa merasakan sisi rapuh lelaki itu. Sisi rapuh saat ia menceritakan masa lalu itu justru membuat Shakira ingin merengkuhnya lebih erat. Raka tidak seperti Ryu yang sem
Raka langsung menghentikan langkahnya.“Apa?”Shakira meremas ujung selimut dengan tangan kirinya. Wajahnya mulai terasa panas. “Aku cuma ingin dengar suara kamu.”Raka bergeming. Tangannya yang semula hendak memutar kunci kontaknya mendadak berhenti bergerak. Ia menelan ludahnya, memastikan dirinya tidak salah mendengar perkataan Shakira.“Apa?” tanyanya sekali lagi, kali ini jauh lebih pelan.“Aku cuma ingin dengar suara kamu,” ulang Shakira nyaris tak terdengar. Untuk beberapa saat, Raka tidak mampu mengatakan apa-apa. Shakira hanya ingin mendengar suaranya. Kenyataan itu terdengar begitu manis, seperti menyiram sebuah harapan yang mekar di dalam hatinya.Raka menunduk, menatap helm di tangannya. Namun sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas, membentuk seulas senyuman. “Shakira,” panggilnya.“Hmm –”“Kamu tahu sekarang jam berapa?” tanya Raka kemudian.“Tahu.” Jawaban
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







