Share

Bab 317

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-06-07 11:34:46

​Mendengar konfirmasi dari pihak kepolisian bahwa tragedi ini adalah murni aksi pembunuhan berencana menggunakan racun saraf, suasana di koridor depan ruang IGD Rumah Sakit seketika berubah menjadi sedingin es. Ibu Maudy langsung lemas, beruntung Cindy dengan sigap menahan tubuh wanita paruh baya itu agar tidak jatuh tersungkur ke lantai.

​Asisten pribadi Bayu, yang sejak awal mengawal seluruh dinamika hidup bosnya, mengepalkan kedua tangannya. Urat-urat di pelipisnya menegang. Sebagai orang ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 323

    Suasana di dalam ruang tamu yang semula sudah tegang kini mendadak terasa makin menghimpit dada. Di bawah pendar lampu gantung yang benderang, sosok yang berdiri di ambang pintu dengan napas yang tersengal menahan amarah dan duka itu akhirnya terlihat jelas.​Wanita itu adalah Silvy.​Istri dari mendiang Baron itu datang tanpa mengenakan riasan sama sekali. Wajahnya yang biasa tampak anggun kini terlihat teramat kuyu, dengan kantung mata yang menghitam dan membengkak akibat tangisan yang tak kunjung reda selama tiga hari berturut-turut. Pakaian hitam yang ia kenakan tampak kusut, mencerminkan betapa hancur dan tidak terurusnya hidup wanita itu sejak sang suami pergi untuk selamanya.​Maudy yang mengenali sosok itu langsung bangkit berdiri dari sofanya dengan gerakan lambat. Sepasang matanya membelalak tidak percaya menatap kedatangan Silvy yang begitu mendadak, apalagi dengan kalimat pembuka yang terasa seperti hantaman godam di dada mereka.​"Bu Silvy..." bisik Maudy teramat lirih, su

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 322

    Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam yang merenggut nyawa Baron. Setelah melalui serangkaian perawatan intensif, proses bilas lambung, dan observasi ketat dari tim dokter spesialis toksikologi, para korban keracunan massal perlahan-lahan dinyatakan membaik. Akhirnya, pada siang hari yang terik itu, pihak Rumah Sakit memperbolehkan sebagian besar pasien untuk pulang ke rumah masing-masing, termasuk Bayu dan Maudy.​Langkah kaki mereka saat keluar dari pintu lobi rumah sakit terasa begitu berat. Harusnya, jika semuanya berjalan sesuai rencana semula, tiga hari kemarin adalah waktu di mana mereka berdua sibuk melakukan gladi bersih, mengecek sentuhan akhir dekorasi gedung, dan menyortir kembali daftar tamu VIP. Namun kenyataannya, semua urusan pernikahan itu terbengkalai total. Berkas-berkas penting menumpuk tanpa tersentuh di sudut meja, koordinasi dengan pihak wedding organizer terputus, dan atmosfer kebahagiaan yang harusnya membumbung tinggi justru menguap, digantikan oleh

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 321

    Kabar mengenai penangkapan Rio di gang buntu pasar tradisional langsung menyebar cepat malam itu. Bagi Bayu, tertangkapnya sang mantan suami Maudy setidaknya membawa satu titik kejelasan hukum. Otak kriminal yang telah meracuni hari bahagia mereka kini sudah mengenakan rompi tahanan, mendekam di balik jeruji besi Mapolres untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kejinya."Aku lega sekali Bayu, akhirnya Rio tertangkap juga. Selama ini dia selalu melarikan diri dari kejaran hukum. Sekarang dia kena batunya," ujar Maudy dengan pwnuh kelegaan meski tangannya masih tertempel selang infus."Benar. Sekarang dia sudah tidak punya kekuatan untuk melawan. Dan sekarang, sudah tidak ada lagi yang mengganggu ketenangan kita," sahut Bayu sambil mengelus punggung tangan Maudy.​Satu masalah besar yang mengancam nyawa mereka memang telah selesai, tapi roda kehidupan tidak lantas berjalan mulus begitu saja. Badai yang ditinggalkan oleh semprotan racun saraf Rio di pekuburan ternyata menorehkan luka yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bayu 320

    Langkah kaki Rio yang terburu-buru terasa semakin berat saat ia mencoba menyelinap di antara lorong-lorong sempit pasar tradisional yang becek. Bau amis dari los ikan dan aroma sayuran busuk yang menyengat hidung sama sekali tidak meredakan rasa panik yang menjalar di sekujur tubuhnya. Keringat dingin terus mengucur deras dari dahi, membasahi masker medis yang menutup paruh wajahnya.​Setiap beberapa langkah, Rio melirik ke belakang melalui sudut matanya. Di antara kerumunan ibu-ibu yang berbelanja, ia bisa melihat siluet dua orang pria berjaket kulit dengan langkah konstan yang sengaja menjaga jarak. Mereka adalah tim buser sudah mulai menyisir area pasar. Polisi tidak langsung menerjang karena kondisi pasar yang terlalu ramai, mereka sedang menunggu momentum di tempat yang agak lengang.​Rio membelokkan tubuhnya ke sebuah gang buntu di dekat tempat pembuangan sampah pasar. Napasnya memburu kasar, terdengar parau dan putus asa. Ia bersandar pada dinding batako yang berlumut.​Di dala

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bayu 319

    Sementara mobil-mobil minibus hitam milik tim buser mulai memasuki wilayah pinggiran kota yang padat, suasana di dalam kamar perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit masih dilingkupi ketegangan yang sunyi. Jarum jam dinding berdetak pelan, menemani suara desis mesin ventilator yang membantu pernapasan Maudy.​Ibu Maudy dan Cindy akhirnya diizinkan mengintip dari balik tirai kaca setelah melewati perdebatan panjang dengan perawat jaga. Mereka hanya bisa menggenggam tisu yang sudah basah oleh air mata, menatap dua tubuh yang terbaring lemah di sana. Di dalam ruangan, perlahan-lahan kondisi Maudy mulai menunjukkan grafik yang stabil. Atropin sulfat yang disuntikkan dokter secara berkala mulai bekerja mengikat racun saraf di tubuhnya.​Di brankar sebelah, kelopak mata Bayu bergerak sedikit. Dengan sisa tenaga yang perlahan kembali mengalir ke ujung jemarinya, pria itu membuka matanya lambat-lambat. Pandangannya yang semula kabur dan memutih akibat lampu ICU, kini mulai fokus. Hal pertama yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 318

    Fajar baru saja menyingsing, tapi langit di atas kota masih kelihatan mendung, seirama dengan suasana tegang di Markas Polres Kota. Ruang kendali Tim Reskrim sudah sibuk sejak pagi. Di bawah lampu neon yang terang, beberapa polisi duduk menghadap layar monitor besar yang menampilkan daftar tamu, data katering, dan rekaman CCTV di sekitar Pemakaman Umum.​Seorang polisi senior yang kemarin memimpin olah TKP masuk ke ruangan dengan langkah yang santai tapi pasti. Di tangannya, ada sebuah map berkas warna merah tua yang berisi hasil laporan akhir dari Lab Forensik.​"Komandan, Hasil pemeriksaan penuh soal tiga titik sidik jari di botol plastik racun yang ditemukan di semak-semak pekuburan sudah keluar seratus persen," panggil polisi senior itu, memecah keheningan ruangan yang cuma diisi suara ketikan komputer. ​Kasat Reskrim langsung balik badan dan melipat tangan di dada. "Bagaimana hasilnya? Apa cocok dengan sidik jari orang katering atau daftar tamu?"​Polisi senior itu menggelengkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status