ANMELDENMantemans, ada kabar baik niiih. Mulai besok, Jumat, 10 April 2026, Mayor Raiden akan tayang tiga bab setiap hari sekitar jam 14, 17, dan 20 WIB. Jangan lupaaa, terus berikan like, komentar, vote GEMS, dan beri ulasan serta bintang 5 supaya cerita Naomi-Raiden bisa berjalan lancar. Terima kasih, mantemans. Selamat melanjutkan membaca ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡
Di RSPU, tidak ada yang tidak mengenal Dante Emilio. Meski Dante tidak memakai scrubs, atau pun seragam medis lainnya, dan tidak memiliki jabatan resmi sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit ini, sosoknya tetap jauh lebih terkenal daripada ayahnya sendiri, pemilik RSPU. Wajah tampan Dante sangat mudah diingat, terutama dalam ingatan para wanita. Cerita tentang bagaimana Nicolle Phyer yang selalu bersikap dingin, secara tidak sengaja mengubah Dante dari playboy yang mengoleksi banyak wanita menjadi pria yang hanya mengejarnya selama dua tahun, sudah tersebar cukup jauh di beberapa kalangan RSPU. Bahkan Dante-lah yang menginisiasi renovasi rooftop menjadi taman, begitu mengetahui Nicolle sering mencari udara segar di sini saat awal bertugas. Para koas baru di hadapan Nicolle pasti sudah mendengar versi cerita itu. Dante menatap mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki penuh penilaian.
Kartu ucapan itu masih berada di tangan Nicolle ketika wanita itu menoleh ke kanan. “Di boks makanan kamu, ada kartu ucapan seperti ini?” tanya Nicolle pelan, tidak mau menarik perhatian yang lain. Nicolle mengangkat sedikit kartu yang tadi dia temukan. Residen itu berhenti mengunyah. Dia melirik kartu di tangan Nicolle sebentar, lalu menggeleng. “Tidak ada, Dokter.” “Tidak ada?” Nicolle memastikan lagi. “Tidak,” jawabnya santai. “Cuma makanan saja.” Nicolle mengangguk pelan. “Begitu, ya.” Dia tersenyum tipis sebelum menurunkan kartu itu kembali ke dalam boks. Wanita itu merasa sedikit lega. Berarti para residen tidak tahu kalau Dante yang mengirim semua boks ini. Namun Nicolle juga tidak berniat memberitahu mereka. Biarkan saja mereka mengira kalau Nicolle yang mengirimkannya. Itu lebih baik. Semakin sed
Nicolle spontan tersenyum tipis. Namun dia segera menghapusnya. “Dasar tidak tahu diri,” gumam Nicolle pelan. Dia meraih catatan itu, menggumpalkannya dalam genggaman, dan membuangnya ke tempat sampah di bawah meja. Kemudian Nicolle mengambil ponselnya, memotret boks makanan itu, dan mengirim foto ke grup residen. “Kenapa belum ada yang mengambil?” Pesan itu belum genap satu menit terkirim ketika pintu ruang residen sudah terdorong terbuka. Seorang residen tahun pertama masuk setengah berlari, matanya langsung jatuh pada boks makanan di atas meja Nicolle. “Wah, hari ini boks makanannya datang lagi, ya?” Dia mendekat dengan antusias. “Kami kira tidak ada yang datang seperti kemarin, jadi tidak begitu berharap.” Dia melirik ke arah Nicolle dengan mata berbinar. “Boleh buat saya, Dokter?” “Ambil saja.” Residen itu tersenyum lebar seketika
“Mama Aveline tidak mau menjawab?” Nicolle tidak perlu menoleh untuk tahu itu suara milik siapa. Suara langkah wanita itu mendekat. Iris berhenti tepat di hadapannya. Dia melipat tangan di depan dada sambil sedikit menengadahkan dagu. Wanita itu tampak rapi seperti biasanya. Rambut ditata sempurna, riasan wajah nyaris tanpa cela, dan tas bermerek menggantung di lengannya. “Bagaimana, Mama?” desak Iris sambil tersenyum sinis. “Dijawab dong?” Nicolle menghela napas panjang. “Saya tidak seperti itu,” jawab Nicolle sambil mengangkat kedua alisnya. “Memangnya saya terlihat seperti wanita yang bisa disimpan?” Nicolle begitu percaya diri. Meski tidak merias wajah atau memakai pakaian bermerek seperti Iris, wanita itu masih terlihat jauh lebih menarik. Nicolle memang terlalu bersinar untuk sekadar menjadi wanita simpanan. Iris membuka mulut, l
Tidak ada siapa-siapa yang mendekati meja Nicolle hari ini. Nicolle menatap layar monitor di ruang pengawas CCTV itu sampai matanya sedikit memerah. Meja kerja Nicolle di ruang residen terlihat jelas dari sudut kamera, dan selama delapan jam terakhir, tidak satu pun orang yang meletakkan boks makanan di sana. Bukan terlambat atau diambil duluan. Namun memang tidak dikirim. “Tidak ada siapa-siapa yang pergi ke meja Dokter.” Satpam di sebelah Nicolle ikut memperhatikan layar. Kemudian dia menoleh. “Mungkin flashdisk Dokter jatuh di koridor? Saya bantu carikan ya, Dokter?” Nicolle menoleh ke arah pria itu. Nicolle memang memakai alasan flashdisk hilang untuk mendapatkan izin masuk ke sini. Alasan yang paling tidak memerlukan banyak penjelasan. “Tidak perlu, Pak. Terima kasih.” Nicolle berdiri sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Saya beli saja yang baru.”
[Dokter Nicolle Phyer, selamat atas jabatan barunya.] Kalimat itu muncul di layar komputer Nicolle dalam bentuk dokumen resmi yang baru saja masuk ke surelnya. Surel dari Henry itu tiba pukul empat sore kurang sepuluh menit. Nicolle hampir tidak percaya ketika membukanya. Dokumen resmi berlambang RSPU, lengkap dengan tanda tangan para petinggi rumah sakit dan Henry di bagian paling bawah, menyatakan dengan tegas bahwa mulai hari ini, dr. Nicolle Phyer resmi ditunjuk sebagai dokter penanggung jawab Mayor Raiden Vargas. Nicolle mematung di depan layar komputer di ruang residen, jemarinya tidak bergerak di atas keyboard. Henry menyelesaikan dokumen resmi itu hanya dalam beberapa jam setelah mereka berbicara di lorong. Nicolle pasti sangat membuat Henry murka hingga pria paruh baya itu bisa melakukan hal segila ini. Dering ponsel di atas meja memutus lamunan Nicolle.
"Dari …." Otak Nicolle bekerja keras mencari jawaban. Alasan yang tidak memancing pertanyaan lebih lanjut dan cukup meyakinkan untuk menutup kecurigaan di mata pria itu. Namun sebelum satu kata pun sempat terucap dengan benar, tubuh Raiden tiba-tiba li
Nicolle mencengkeram tepi daftar itu tanpa sadar, sampai ujung-ujungnya melipat ke dalam. Di benaknya, lima tahun berputar sekaligus dalam hitungan detik. Malam pertama di Palvenia dengan perut besar dan tidak ada siapa pun, persalinan yang dia jalani den
Jam dinding di ruang jaga menunjukkan pukul enam lewat dua belas menit ketika Nicolle melangkah masuk. Olivia, seorang perawat yang sedang menyortir berkas di mejanya, mendongak. Dia langsung menyipitkan matanya memperhatikan wajah dokter koas yang baru saja masuk itu.
Ada yang berbeda dari rumah Raiden saat ini. Raiden sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia tidur nyenyak. Bunyi dering telepon membelah keheningan kamar. Raiden membuka matanya. Cahaya pagi yang baru saja mener







