LOGINDamar melihat langit yang mulai gelap tentu saja ia paham dengan ucapan Sari, waktu yang dimaksud adalah hari yang yang sudah mulai gelap.
“Aku akan memberikan hikmat untuk sementara padamu. Tapi ini hanya bisa dipakai sekali saja, jadi akan bertahan sampai pagi.”“Setelah itu besok gali benda yang aku maksud lalu segera bawa ke sini tanpa menunda-nunda.”Damar mengambil jimat yang penangkal ilmu hitam yang sudah dibuatnya. Dia memang sering membuat beberapa jimat uSetiap kali Damar menghisap dadanya, bagian bawah tubuh Dian terasa berkedut-kedut. Damar merasa puas setelah menghisap dada Dian, sehingga ia pun melepaskan mulutnya. Ia melihat dada besar itu menjadi semakin bengkak dan ada bekas gigitannya di bagian ujung. Namun, dalam hati Damar merasa sangat puas dengan apa yang sudah dilakukannya. Ujung mata Damar terlihat menyipit, dengan sudut bibir yang melengkung. “Benar-benar wanita binal!” Tangan Damar mulai menyeka bagian mulutnya yang terlihat basah karena air liur. “Aku rasa saatnya bagian lainnya juga harus segera kita masukkan susuk ke dalamnya.” Arah mata Damar menatap langsung pada wajah Dian. Ia siap menunggu pemasangan susuk selanjutnya. “Jadi, di mana kamu ingin aku memasangnya lagi?” “Itu … di bagian sini!” Tangan Dian mulai melepaskan celana dalamnya yang basah, terlihat lengket
Wajah Dian mengangguk, kemudian pandangannya melihat ke bawah. Ia melihat tangan Damar mulai memasukkan jarum ke dalam dengan perlahan. Akan tetapi, rasanya tidak sesakit saat dimasukkan ke wajah tadi. Dian tidak tahu mengapa, tapi rasanya hanya berfokus pada rasa remasan tangan Damar tadi. “Apa tidak sakit?” tanya Damar. “Tidak, rasanya tidak sesakit saat tadi dimasukin ke area wajah.” Dian melihat tangan Damar yang sedang memasukkan kembali susuk ke dada yang satunya. Namun, anehnya Dian merasa meskipun tangan Damar memang terlihat keriput dan dia merupakan orang tua. Tapi Dian tetap merasa sangat nikmat akan sentuhan itu. Apa mungkin karena usianya, dia jadi lebih berpengalaman? Diam-diam Dian menatap wajah pria tua di hadapannya. Namun, ia merasakan getaran perasaan yang aneh. Jantungnya berdegup kencang dan juga pandangannya tidak bisa lepas dari tangan Damar yang sedang mem
“Baiklah, kita bisa atur itu.” Memasang susuk bukanlah hal yang susah baginya. Itu sangat mudah, jadi Damar segera melambaikan tangannya pada Sekar yang baru saja datang setelah mengantar Sari pulang. Saat melihat ke arah pondok, Sekar segera berjalan cepat ke sana karena dipanggil Damar. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar saat menapaki lantai kayu di dalam pondok. “Haah … ada apa, Mbah?” tanya Sekar. “Ini, aku ingin kamu menyiapkan sebuah kamar di dalam. Aku akan memasangkan susuk pada pelanggan kita.” Hanya dengan melemparkan pandangan ke arah Dian, Sekar sudah tahu pada siapa susuk itu akan diberikan. “Ya, aku akan segera menyiapkannya, jadi mohon tunggu sebentar.” Sementara Sekar menyiapkan kamar yang sering digunakan untuk keperluan ritual, ia juga menyuruh Dian menunggu di ruang tamu dalam rumahnya. Sementara Damar menyelesaikan sisa pertemuannya dengan pelanggan lain yang datang menemuinya. Sampai satu jam berlalu … Damar baru saja selesai bertemu den
“Eh, Mbah Wurip! Bikin kaget aja deh!” Sekar yang duduk sambil menyaksikan ritual yang dilakukan Damar dari sana. Sekarang ia bersama dengan Wurip sambil menyaksikan roh halus itu yang berdesakan di dalam pondok.“Tapi Mbah, kenapa ada di sini? Bukannya tadi berada di samping Mbah Damar?”“Ya kan, kamu lihat itu di sana udah full. Kalau aku juga ada di sana apa bedanya sama mereka?”“Mbah, bisa aja. Ya beda lah! Eh, tapi iya juga ya. Kalian kan sama-sama roh!”Mendengar itu Wurip sempat tersenyum pelan lalu sampai bersandar ke sandaran bangku kayu.“Karena itu Aku ini tidak mau berasa di sana. Meski aku berbeda tapi tetap saja kami sama-sama hanyalah roh saja.” “Tapi Mbah bisa nyandar tuh!” Jari telunjuk Sekar langsung menunjuk.“Ah, ini sih. Suka-suka aku aja kan kamu tahu aku ini roh yang spesial. Mungkin karena aku ini orang baik.” Wurip langsung tertawa pelan.“Mbah Wurip ini d
Dari zamar dulu karena ajaran keluarga dukun mereka sangatlah susah untuk dipelajari. Tidak ada satupun yang berhasil diterima sebagai murid. Akan tetapi, kakeknya pernah mengatakan kalau ada satu orang yang berhasil. Bahkan karena kecerdasannya dalam menguasai ilmu perdukunan dia hampir mengimbangi kekuatan yang dimiliki oleh gurunya. Dan saat Sekar bertanya siapa orangnya sang kakek menunjuk ke arah Damar yang sedang tertidur. Sekar yang memiliki mata indra keenam tentu saja langsung melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Ia melihat semua fisik Damar yang menua tetapi roh yang dimilikinya masih sangat muda. Seorang pria tampan yang tidak memiliki kesadaran karena rohnya saat itu juga ikut terkunci oleh kutukan. Mulai saat itulah Sekar selalu datang ke tempat Damar dan membersihkan rumah dan semua yang ada di sana. Meskipun tempat itu tidak lagi layak huni tapi Sekar selalu members
Damar melihat langit yang mulai gelap tentu saja ia paham dengan ucapan Sari, waktu yang dimaksud adalah hari yang yang sudah mulai gelap.“Aku akan memberikan hikmat untuk sementara padamu. Tapi ini hanya bisa dipakai sekali saja, jadi akan bertahan sampai pagi.”“Setelah itu besok gali benda yang aku maksud lalu segera bawa ke sini tanpa menunda-nunda.”Damar mengambil jimat yang penangkal ilmu hitam yang sudah dibuatnya. Dia memang sering membuat beberapa jimat untuk diberikan pada pelanggannya. Itu sebabnya Damar memiliki beberapa stok jimat yang sudah dibuatnya, dengan berbagai macam fungsi penangkal tergantung keinginan pelanggan.Dengan mengeluarkan jimat lalu memberikannya pada Sari.“Ini sebaiknya diikatkan di pinggang agar tidak lepas. Aku akan menyuruh Sekar untuk membantumu memakaikan ini di pinggangmu.” Damar kemudian melihat Sekar yang baru saja datang membawakan garam kasar seperti yang disuruhnya tadi.