LOGIN"Jadi, alasanmu apa pergi tanpa bilang-bilang?" Sembari menunggu Aeri yang tidak mau ditemani menemui dokter. Kedua laki-laki itu akhirnya bisa bicara setelah beberapa hari tidak bertemu.
Idris mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut beludru hitam. Arvan menghela napas, dia menatap kasihan pada temannya itu.
"Kamu tahu kan, ini tidak ada gunanya."
Idris tertawa kecil, dia membuka kotak itu yang di dalamnya berisi sebuah cincin bertabur berlian sembari menghadap Arvan.
"Jadi, alasanmu apa pergi tanpa bilang-bilang?" Sembari menunggu Aeri yang tidak mau ditemani menemui dokter. Kedua laki-laki itu akhirnya bisa bicara setelah beberapa hari tidak bertemu.Idris mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut beludru hitam. Arvan menghela napas, dia menatap kasihan pada temannya itu."Kamu tahu kan, ini tidak ada gunanya."Idris tertawa kecil, dia membuka kotak itu yang di dalamnya berisi sebuah cincin bertabur berlian sembari menghadap Arvan."Gimana, bagus, nggak?" Idris tersenyum melihat cincin di tangannya.Melihat ekspresi temannya yang tengah kasmaran membuat Arvan ingin sekali memeriksakannya juga. Mungkin ke dokter neurologi. Karena jatuh cinta membuat saraf di otak Idris tidak berfungsi. Alias membuat laki-laki jangkung itu jadi bodoh.Atau mungkin bodoh masih terlalu bagus kalau melihat kelakuannya saat ini yang begitu tidak tahu malunya. Bagaimana tidak, dengan nada suara lembut dia mengucapkan kali
Sudah 30 menit pergerakan hewan pengerat itu masuk dalam radar pengintai. Tubuh si hewan begitu mungil, tapi suaranya cukup bergema."Ck, tunggu apa lagi itu tikusnya sudah diam." Si pengintai penakut menowel punggung istrinya yang tidak lepas melihat pergerakan tikus yang nampak gelisah."Bentar."Arvan memutar bola matanya, sudah sejak tadi Aeri hanya mengatakan itu.Saat tikus tepat di depan mereka, Aeri hanya bergeming, dan sekarang ketika tikus itu lebih dekat lagi dari mereka, itu juga yang Aeri katakan."Bisa-bisa tikusnya kabur lagi nanti." Arvan rasanya ingin mengambil sapu di tangan Aeri. Andaikan dia punya keberanian, sudah pasti tikus itu dia tangkap sendiri."Cerewet, kamu kira aku siap nangkap tikus semungil itu?" kesal Aeri karena suaminya begitu mengganggu konsentrasinya sejak tadi."Kalau kamu mau kita tidur bareng, sana tangkap itu tikus." Arvan memberi penekanan pada kalimat yang dia ucapkan.Sejujurnya ucapan penuh penegasannya sama sekali tidak cocok dengan situas
Tidak ada rasa takut ketika mereka mendengar bunyi mencurigakan itu."Penunggunya tuh, mau disapa?" Malah Aeri masih sempatnya bercanda."Kamu saja sana." Arvan malah menghiraukan dan lanjut melihat sekitar.Aeri lalu menuju ke arah suara, namun yang dia dapati adalah pintu yang tertutup rapat. Karena tidak ada apapun di sana, dia menyusul ke mana suaminya pergi.Laki-laki itu begitu teliti mengecek setiap sudut rumah, tidak peduli kalau malam sudah semakin larut.Aeri yang melihat suaminya sampai capek sendiri. "Haruskah lihat-lihatnya malam ini?"Meski tidak sebesar rumah orang tua Arvan, rumah itu cukup besar untuk ditempati mereka berdua. "Besok kan, bisa."Arvan menggeleng, "Aku harus pastikan tidak ada tikus-tikus itu malam ini."Aeri memutar bola matanya, ternyata masalah tikus dulu masih menjadi trauma bagi suaminya."Sebelum jadi rumah kita, ini tadinya rumah mereka, loh. Kamu kayak penjajah aja ngusir tikus dari rumahnya.""Sebelum jadi rumah tikus, ini awalnya rumah manusia.
Aeri mengarahkan senyumnya melihat kedatangan tidak terduga perempuan itu.Begitupun Arvan, namun tidak halnya dengan Senopati. Seakan papa-nya itu sudah menduga kedatangannya.“Hai,” sapa Frisya tanpa canggung ketika masuk tadi langsung menjadi pusat perhatian. “Mm ... maaf aku telat, karena masih ada kerjaan,” jelasnya.“Tidak apa-apa, kamu duduk di sini, Sya.” Rullistya tersenyum pada perempuan itu sebelum menyuruhnya duduk di sampingnya.“Kenapa dia ada di sini?” tanya Arvan bersikap dingin saat Frisya memberinya senyum.Arvan meminta penjelasan dari Senopati yang nampak tidak terlalu peduli.“Mama yang mengajaknya ikut serta.” Malah Rullistya yang menjawab.Bagaimana makan malam ini sampai terjadi meski awalnya Rullistya tidak setuju, karena Senopati berjanji untuk mengizinkan Frisya ikut serta.Bagi Senopati keberadaan perempuan itu bukanlah ancaman, karena itu d
Semua orang menoleh pada Alvin, dibanding semua orang di sana, dialah yang paling menikmati keributan kecil ini.“Alvin kalau makannya sudah selesai, balik belajar sana.” Sayangnya dia malah diusir oleh sang papa.“Tapi aku belum selesai makan.” Kenyataannya dia sengaja menambah makanannya agar ada alasan untuk tetap di sana.“Alvin.” Namun satu kata penuh ketegasan dari sang Mama membuatnya langsung beranjak.Saat ini Mama-nya sedang sensitif, Alvin tidak mau menggali kuburannya sendiri dengan membuat marah sang Mama.Seusai kepergian Alvin, Arvan menyentil dahi istrinya itu. “Kalau ngomong jangan sembarangan.”“Makanya jangan sembarangan juga meremas pahaku.” Aeri menggeser kursinya agak menjauh dari Arvan. “Dikira nggak geli, apa,” lanjutnya membuat Arvan ingin sekali menjitaknya lagi.“Aeri itu istri pilihan Arvan. Pasti ada alasannya kenapa dia memilih Aeri. Lagipula Aeri adalah anak yang baik.” Ucapan Senopati membuat Rullistya menggebrak meja.“Baik apanya perempuan itu, malah
Sebenarnya dalam rangka apa makan malam itu diadakan?Suasananya saat makan terasa mencekam. Selain bunyi sendok dan piring beradu, tidak ada lagi suara yang terdengar.Aeri mengedarkan pandangannya memperhatikan semua orang di ruangan itu. Sepertinya memang tradisi di rumah ini untuk tidak bicara saat makan.Tapi bukan berarti suasana harus sesunyi ini. Kembali dadanya merasa sesak, sama sesaknya saat alerginya kumat."Uhuk ..., uhuk ...." Sialnya lagi dia harus tersedak di situasi sekarang.Arvan segera menyodorkan air putih padanya. Suaminya itu dengan lembut menepuk punggungnya."Kamu nggak apa-apa, Ri?" tanya Arvan.Aeri menunjuk pada punggungnya, "B ... huk ... biha lebih ... huk dikherasin?" pinta Aeri saat suaranya belum sepenuhnya jelas.Mengikuti perkataan Aeri, Arvan memukul punggungnya lebih keras lagi. Sayangnya dia terlalu mengerahkan tenaga, sampai-sampai badan Aeri terdorong ke depan."Sialan!" Tanpa sengaja umpatan itu lolos dari mulutnya.Rullistya yang mendengarnya,
Keduanya sontak menoleh ke arah sang ibu yang sedang menatap Aeri tajam.“Ya, ampun! Ucapannya kasar sekali …. Kenapa bisa perempuan seperti itu menjadi bagian keluarga Candra?”“Padahal bercadar, tapi ternyata bukan perempuan baik-baik.“Percuma memakai jilbab, tapi tidak bisa menjaga mulutnya.”B
Arvan masih berusaha menutupi tubuh Aeri dengan badannya. Namun, Aeri justru mendorong Arvan ke samping.“Apa sih? Memang ada yang salah dengan pakaianku? Sudah, minggir, dong! Gerah tahu.” Perempuan itu bahkan melepas jaket yang ia pakai.“Tapi, kerudungmu?” “Mulai sekarang, aku tidak mau pakai
“Apa salahnya Frisya masuk ke kamarmu? Kalian kan sudah kenal sejak lama? Mama juga hanya menyuruhnya untuk membangunkanmu, itu saja! Karena kamu dan istrimu yang tidak tahu diri itu belum juga bangun, makanya mama menyuruh Frisya,” cecar Rullistya tanpa jeda, “lalu istrimu juga! Pagi-pagi, bukanny
“Bagaimana saksi, sah?”Begitu penghulu mengatakannya, status Aeri berubah.Dia bukan lagi teman Arvan, melainkan istrinya.Aeri lantas menoleh pada pria di sampingnya itu yang terlihat tampan dan mengenakan setelan baju pengantin warna putih–senada dengan gaun yang digunakan Aeri saat ini.Meski t







