แชร์

Bab 37. Rencana Pembalasan

ผู้เขียน: Bara Islami
last update วันที่เผยแพร่: 2023-08-08 23:03:15
“Aku harus pergi dulu, ada hal penting yang harus aku lakukan.” Sudah cukup batas toleransinya pada Aeri. Dia sudah tidak bisa lagi berada di satu tempat dengan perempuan tidak tahu diri ini.

“Loh, Rull, kita masih belum ke salon. Sudah lama, loh, kita tidak pergi bareng begini.”

Kembali Aeri bersikap layaknya seorang menantu yang baik. “Aah, iya saya juga baru ingat, nanti malam kami rencana mau mengadakan makan malam bersama, jadi saya dan Mama mau pergi belanja buat persiapan nanti.”

“Makan m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 48. Keributan dalam Rumah tangga

    Menikah dan akhirnya tinggal serumah adalah dua hal yang berbeda bagi Arvan. Sudah lebih seminggu semenjak mereka menikah, dan selama itu, mereka belum sepenuhnya dapat dibilang tinggal bersama.Untuk beberapa bulan ke depan, dia kira dapat menjalani masa pernikahan dengan damai, hanya saja dengan Aeri sebagai pasangannya hal itu rasanya mustahil untuk terwujud."Aeri!" Seperti hari pada biasanya semenjak tinggal bersama. Tidak pernah Arvan absen berteriak untuk memanggil istrinya itu.Tidak kamar, tidak juga ruang tamu, semuanya berantakan saat perempuan itu ada di rumah. Mendengar panggilannya, Aeri sedikit tergopoh-gopoh menemuinya dengan masih mengenakan celemek kucing yang banyak terdapat noda di sana."Apa sih, bisa nggak, nggak usah teriak-teriak. Ini sudah malam, gimana kalau tetangga dengar.""For your information, kita nggak punya tetangga, ya, Ri. Dan perasaan aku sudah menyuruhmu untuk membereskan semua kekacauan yang bikin rumah ini jadi kayak kapal pecah sejak tadi pagi

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Obsesi

    Pernyataan Arvan membuat binar di mata Aeri berganti tatapan tajam. Aeri menggerutu, namun Arvan tidak peduli. Dia kembali melanjutkan langkahnya."Di mana-mana yang didahului itu istri, ini malah teman, dasar logikamu itu gimana, sih, kon-" Sebelum kata mutiara itu keluar dari mulut perempuan cantik ini.Idris dengan sigap menutup mulut kasar itu. "Aeri, ini kita lagi di rumah sakit. Tolong, ya, bahasanya itu dijaga."Aeri dengan patuh mengangguk sembari melepas tangan Idris, lalu. "Dontol."Idris spontan menoyor kepala Aeri. "Sopan sekali, ya, bahasa Anda."Karena Idris terlalu kuat menoyornya, Aeri sampai menubruk punggung Arvan di depan."Ck." Arvan tadinya mau diam saja, tapi kelakuan kedua temannya benar-benar tidak bisa dia biarkan. "Kalian-,"

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 46. Ambigu

    "Jadi, alasanmu apa pergi tanpa bilang-bilang?" Sembari menunggu Aeri yang tidak mau ditemani menemui dokter. Kedua laki-laki itu akhirnya bisa bicara setelah beberapa hari tidak bertemu.Idris mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut beludru hitam. Arvan menghela napas, dia menatap kasihan pada temannya itu."Kamu tahu kan, ini tidak ada gunanya."Idris tertawa kecil, dia membuka kotak itu yang di dalamnya berisi sebuah cincin bertabur berlian sembari menghadap Arvan."Gimana, bagus, nggak?" Idris tersenyum melihat cincin di tangannya.Melihat ekspresi temannya yang tengah kasmaran membuat Arvan ingin sekali memeriksakannya juga. Mungkin ke dokter neurologi. Karena jatuh cinta membuat saraf di otak Idris tidak berfungsi. Alias membuat laki-laki jangkung itu jadi bodoh.Atau mungkin bodoh masih terlalu bagus kalau melihat kelakuannya saat ini yang begitu tidak tahu malunya. Bagaimana tidak, dengan nada suara lembut dia mengucapkan kali

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 45. Menangkap Tikus

    Sudah 30 menit pergerakan hewan pengerat itu masuk dalam radar pengintai. Tubuh si hewan begitu mungil, tapi suaranya cukup bergema."Ck, tunggu apa lagi itu tikusnya sudah diam." Si pengintai penakut menowel punggung istrinya yang tidak lepas melihat pergerakan tikus yang nampak gelisah."Bentar."Arvan memutar bola matanya, sudah sejak tadi Aeri hanya mengatakan itu.Saat tikus tepat di depan mereka, Aeri hanya bergeming, dan sekarang ketika tikus itu lebih dekat lagi dari mereka, itu juga yang Aeri katakan."Bisa-bisa tikusnya kabur lagi nanti." Arvan rasanya ingin mengambil sapu di tangan Aeri. Andaikan dia punya keberanian, sudah pasti tikus itu dia tangkap sendiri."Cerewet, kamu kira aku siap nangkap tikus semungil itu?" kesal Aeri karena suaminya begitu mengganggu konsentrasinya sejak tadi."Kalau kamu mau kita tidur bareng, sana tangkap itu tikus." Arvan memberi penekanan pada kalimat yang dia ucapkan.Sejujurnya ucapan penuh penegasannya sama sekali tidak cocok dengan situas

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 44. Malam Pertama, Tidur Bersama?

    Tidak ada rasa takut ketika mereka mendengar bunyi mencurigakan itu."Penunggunya tuh, mau disapa?" Malah Aeri masih sempatnya bercanda."Kamu saja sana." Arvan malah menghiraukan dan lanjut melihat sekitar.Aeri lalu menuju ke arah suara, namun yang dia dapati adalah pintu yang tertutup rapat. Karena tidak ada apapun di sana, dia menyusul ke mana suaminya pergi.Laki-laki itu begitu teliti mengecek setiap sudut rumah, tidak peduli kalau malam sudah semakin larut.Aeri yang melihat suaminya sampai capek sendiri. "Haruskah lihat-lihatnya malam ini?"Meski tidak sebesar rumah orang tua Arvan, rumah itu cukup besar untuk ditempati mereka berdua. "Besok kan, bisa."Arvan menggeleng, "Aku harus pastikan tidak ada tikus-tikus itu malam ini."Aeri memutar bola matanya, ternyata masalah tikus dulu masih menjadi trauma bagi suaminya."Sebelum jadi rumah kita, ini tadinya rumah mereka, loh. Kamu kayak penjajah aja ngusir tikus dari rumahnya.""Sebelum jadi rumah tikus, ini awalnya rumah manusia.

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 43. Pindah rumah

    Aeri mengarahkan senyumnya melihat kedatangan tidak terduga perempuan itu.Begitupun Arvan, namun tidak halnya dengan Senopati. Seakan papa-nya itu sudah menduga kedatangannya.“Hai,” sapa Frisya tanpa canggung ketika masuk tadi langsung menjadi pusat perhatian. “Mm ... maaf aku telat, karena masih ada kerjaan,” jelasnya.“Tidak apa-apa, kamu duduk di sini, Sya.” Rullistya tersenyum pada perempuan itu sebelum menyuruhnya duduk di sampingnya.“Kenapa dia ada di sini?” tanya Arvan bersikap dingin saat Frisya memberinya senyum.Arvan meminta penjelasan dari Senopati yang nampak tidak terlalu peduli.“Mama yang mengajaknya ikut serta.” Malah Rullistya yang menjawab.Bagaimana makan malam ini sampai terjadi meski awalnya Rullistya tidak setuju, karena Senopati berjanji untuk mengizinkan Frisya ikut serta.Bagi Senopati keberadaan perempuan itu bukanlah ancaman, karena itu d

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 6. Diusir

    Arvan masih berusaha menutupi tubuh Aeri dengan badannya. Namun, Aeri justru mendorong Arvan ke samping.“Apa sih? Memang ada yang salah dengan pakaianku? Sudah, minggir, dong! Gerah tahu.” Perempuan itu bahkan melepas jaket yang ia pakai.“Tapi, kerudungmu?” “Mulai sekarang, aku tidak mau pakai

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 5. Bantuan

    “Apa salahnya Frisya masuk ke kamarmu? Kalian kan sudah kenal sejak lama? Mama juga hanya menyuruhnya untuk membangunkanmu, itu saja! Karena kamu dan istrimu yang tidak tahu diri itu belum juga bangun, makanya mama menyuruh Frisya,” cecar Rullistya tanpa jeda, “lalu istrimu juga! Pagi-pagi, bukanny

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 2. Masalah Baru

    Keduanya sontak menoleh ke arah sang ibu yang sedang menatap Aeri tajam.“Ya, ampun! Ucapannya kasar sekali …. Kenapa bisa perempuan seperti itu menjadi bagian keluarga Candra?”“Padahal bercadar, tapi ternyata bukan perempuan baik-baik.“Percuma memakai jilbab, tapi tidak bisa menjaga mulutnya.”B

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 1. Pengantin Sempurna

    “Bagaimana saksi, sah?”Begitu penghulu mengatakannya, status Aeri berubah.Dia bukan lagi teman Arvan, melainkan istrinya.Aeri lantas menoleh pada pria di sampingnya itu yang terlihat tampan dan mengenakan setelan baju pengantin warna putih–senada dengan gaun yang digunakan Aeri saat ini.Meski t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status