Compartilhar

Bab 58.

Autor: Bara Islami
last update Data de publicação: 2026-09-20 21:29:01

"Kenapa masih di sini? Kau tidak balik kerja?"

Jari yang sejak tadi aktif menggulir dan memencet layar sejenak berhenti. Dia melirik Arvan lewat sudut matanya.

"Ini masih jam istirahat."

"Iya karena itu, ngapain kamu masih di sini?"

"Pak Arvan, ini ruangan saya. Lagipula saya tidak bisa meninggalkan Anda sendirian dalam kondisi Anda saat ini."

Senyum miring tersungging di bibir Arvan, "kenapa, kau takut aku mengacak-acak ruanganmu?"

Kyran dengan santai menggeleng, "tidak, karena pikiran Anda se
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 60. Hari yang Menyenangkan

    "Makasih doanya, Love. Tapi kayaknya kamu harus ekstra mendoakan mertuaku itu, deh."Belum juga Love membuka mulutnya untuk bertanya apa maksudnya. Mertua Aeri tiba-tiba datang memberi contoh langsung apa maksud ucapannya."Kamu, wanita tidak tahu diri. Apa yang kamu lakukan selingkuh di siang hari begini di mall!" Rambut Aeri tiba-tiba dijambak oleh seorang wanita tua yang masih tampak cantik."Kau lihat, ini contohnya." Aeri masih sempat-sempatnya tertawa sebelum dia membalas perlakuan mertuanya itu. "Boomer, kalau tidak tahu apa-apa tanyanya itu yang sopan, bukan tiba-tiba ngejambak. Mampus kan rambut cetarnya ke jambak juga!" Rullistya berteriak kencang membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arah mereka. Sementara Love, di balik maskernya tidak kuasa menutup mulut melihat keributan duo mertua-menantu di depannya.Aeri berhasil melepas tangan Rullistya dari kepalanya. Agar sang bumer tidak kembali berulah. Dia merangkul bahu wanita tua itu, tidak membiarkannya bebas meski Rull

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 59. Semakin mengenal

    "Frisya, Jum'at nanti kamu bisa ke rumah Tante? Sudah lama kamu tidak ke sini."Frisya hanya mendiamkan saja pesan yang terkirim sejak dua hari lalu itu. Sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk menemui wanita tua itu.Dia mencari nama Idris di kolom pencarian WA. Dua hari lalu, terakhir kali laki-laki itu mengirimnya pesan untuk mengajak makan malam bersama. Sengaja Frisya menunda untuk membalasnya hanya untuk dia gunakan di saat seperti ini."Apa ajakanmu masih, berlaku? Sorry, aku lagi sibuk jadi baru lihat pesanmu."Tidak butuh waktu lama, pesan yang dia kirim sudah tercentang biru. Frisya tersenyum sinis, sungguh dia merasa iba plpada laki-laki yang mengharap cintanya itu."Sure, mau berapa lama pun ajakanku akan tetap berlaku untukmu.""Ok, Jum'at nanti?""Kapan pun kamu luang, Lady."Senyum di wajah Frisya berganti dengan tawa. Di saat dia menerima ajakan pria lain, di saat itu walpaper ponselnya foto Arvan."Pria yang malang."Frisya mengusap wajah Arvan sekali, sebelum dia a

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 58.

    "Kenapa masih di sini? Kau tidak balik kerja?"Jari yang sejak tadi aktif menggulir dan memencet layar sejenak berhenti. Dia melirik Arvan lewat sudut matanya."Ini masih jam istirahat.""Iya karena itu, ngapain kamu masih di sini?""Pak Arvan, ini ruangan saya. Lagipula saya tidak bisa meninggalkan Anda sendirian dalam kondisi Anda saat ini."Senyum miring tersungging di bibir Arvan, "kenapa, kau takut aku mengacak-acak ruanganmu?"Kyran dengan santai menggeleng, "tidak, karena pikiran Anda sekarang tengah kacau. Siapa tahu Anda butuh saya untuk menyelesaikan masalah.""Yang aku butuhkan sekarang adalah kamu keluar, itu jauh lebih membantuku."Kyran berbalik sepenuhnya, menoleh pada Arvan sebelum dia menarik kesimpulan kalau laki-laki itu tidak sedang membantah kalau tengah kacau. Laki-laki itu mengusap wajahnya, membuatnya tampak mirip dengan kelakuan Senopati ketika sedang banyak pikiran."Saya banyak belajar dari ayah saya untuk tidak meninggalkan majikan dalam kondisi terpuruknya

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 57. Saat Istirahan

    "Kalian pergi sana, kerjakan kerjaan kalian," perintah Arvan, membuat kedua perempuan itu bergegas pergi. "Arin!" lalu panggilannya yang tiba-tiba membuat perempuan yang dia panggil berhenti seketika."I-iya, pak?" jawab Arin tergagap."Siapkan laporannya, nanti setelah jam makan siang akan saya periksa."Wajah Arin yang dasarnya memang putih semakin memutih dengan nendnegar perintah Arvan. Dia dengan gerakan kaku mengangguk."B-baik, Pak."Kyran yang melihatnya merasa ikut kasihan pada karyawan itu. Tanpa sadar, dia meninggalkan rombongannya untuk berada di sana."Apa kau tidak punya pekerjaan lain, mengapa kamu ada di sini?" tanya Arvan akhirnya kembali memperhatikannya.Kyran menunjuk pada jam tangannya, "ini sudah jam makan siang."Arvan merasa malas berada di tempat yang sama dengan laki-laki itu. Saat dia akan pergi, tiba-tiba Kyran mencegahnya. Sekertaris itu memegang bahu Arvan."Apa?!" tanya Arvan singkat, padat, dan teriak."Kau tidak berencana memakai baju kotor itu seharia

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 56. Sikap Arvan yang tidak seperti biasa

    Suara ketikan keyboard terdengar lebih cepat dibandingkan biasanya, karyawan lain yang mendengar sampai menoleh melihat siapa karyawan malang yang harus kerja cepat menyelesaikan laporan sebelum deadline. Namun begitu melihat dari mana asal suara itu, rasanya malah lebih aneh. Sebab itu adalah Arvan."Hei, siapa yang buat Pak Arvan marah, ayo ngaku." Salah satu karyawan di ruangan itu berkirim pesan di obrolan chat.Segera karyawan yang lain meripley dengan banyak tanda tanya."Loh, Pak Arvan marah? padahal ada yang mau aku tanyakan tentang masalah pekerjaan." Balas yang lain dengan emoji menangis."Good luck, bro." ujar yang lain."Pak Arvan marah bagaimana?" tanya seseorang di obrolan yang berprofil bunga sakura."Suara ketikannya makin lama makin kasar, kayak seseorang yang sengaja ngelampiasin amarah gitu.""Duh, aman nggak ya aku mau ngasih berkas ke dia?" tanya orang berprofil foto pernikahan dengan pasangannya."Sebaiknya jangan terburu-buru, EH, KITA ADA KERJAAN MEPET DEADLINE

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 55. Love dan lukanya

    Tidak seperti biasanya, Aeri dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya— mengedit foto yang klien suka—, lalu untuk sesi fotonya sendiri, dia menyuruh Arika yang melakukan."Mbak, jam dua nanti harus sudah ke lokasi wedding." Kembali Arika mengingatkan saat Aeri sudah bergegas membereskan barang-barangnya.Aeri menepuk dahinya, "Astaga, aku lupa," meski katanya lupa, bukannya urung pergi, Aeri malah memberi Arika kameranya."Kamu saja yang pergi, aku masih ada urusan, daahh." Secepat kilat Aeri pergi sebelum Arika memakinya."Anying! Syiball! Dasar bos biadab." Meski sudah jauh di luar studio, dia masih mendengar suara Arika di dalam tengah mengutuk dan memakinya."Sorry Rik, 70 persen bayaran foto hari ini buatmu," teriak Aeri membuat Arika akhirnya terdiam.Tidak menyia-nyiakan waktu, Aeri pergi menggunakan motor milik Arika. Dia melaju dengan kecepatan penuh, menyelip di antara mobil dan untungnya dia tidak terlalu gila untuk lewat di antara celah dua truk besar."Ck, sudah siang gini

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 6. Diusir

    Arvan masih berusaha menutupi tubuh Aeri dengan badannya. Namun, Aeri justru mendorong Arvan ke samping.“Apa sih? Memang ada yang salah dengan pakaianku? Sudah, minggir, dong! Gerah tahu.” Perempuan itu bahkan melepas jaket yang ia pakai.“Tapi, kerudungmu?” “Mulai sekarang, aku tidak mau pakai

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 5. Bantuan

    “Apa salahnya Frisya masuk ke kamarmu? Kalian kan sudah kenal sejak lama? Mama juga hanya menyuruhnya untuk membangunkanmu, itu saja! Karena kamu dan istrimu yang tidak tahu diri itu belum juga bangun, makanya mama menyuruh Frisya,” cecar Rullistya tanpa jeda, “lalu istrimu juga! Pagi-pagi, bukanny

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 4. Keributan

    Berbeda dengan Arvan yang tidak bisa tertidur nyenyak, maka berbeda halnya dengan Aeri. Selimut hangat yang menyelimutinya membuat Aeri tidak mau beranjak dari sana, hingga sesuatu tiba-tiba memeluknya yang masih terbungkus selimut.“Hei, Arvan! Aku kan sudah bilang kalau kamu tidak juga bangun pa

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 3. Selamanya

    “Kalau begitu, kenapa kamu tadi setuju menikah denganku? Berarti, kau bodoh?” Arvan kini ikut mencondongkan wajahnya. Tak lupa, dia menaruh jarinya di dahi Aeri. “Dan, tolong berhentilah mengumpat!”“Sayangnya, kenyataannya memang seperti itu. Aku tadi terlanjur berbuat bodoh. Tapi, aku tidak mau

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status