로그인Kirana menjelaskan sambil tersenyum, "Pil Pelepas Batas memang bisa meningkatkan kekuatan seseorang untuk sementara waktu, efek sampingnya sangat mengerikan. Setelah dikonsumsi, pil ini akan membakar Esensi Darah dan menguras Sumber Kekuatan penggunanya demi memaksa potensi tubuh keluar.""Artinya, dalam kasus terbaik, kultivasi seseorang akan sulit berkembang lagi selama sisa hidupnya. Dalam kasus terburuk, ia bahkan bisa mati akibat kehabisan seluruh Esensi Darahnya.""Separah itu?" Revan terperangah.Dampak Pil Pelepas Batas ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang dibayangkannya.Dengan kata lain, seandainya ia menelan pil itu tadi, bahkan jika berhasil melarikan diri dari Jeremy, pada akhirnya ia mungkin tetap akan kehilangan nyawanya.Kirana mengangguk. Melihat Revan akhirnya memahami betapa berbahayanya pil tersebut, ia tampak cukup puas. "Setiap murid Perguruan Nirakasa dibekali pil ini. Pil tersebut hanya boleh digunakan sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan nyawa ke
"MATILAH—!" Jeremy kembali meraung. Ia mengulurkan tangan ke arah Revan, siap merenggut nyawa pemuda itu.Energi pedang tak kasatmata mendadak melesat, membelah udara di antara Revan dan Jeremy.Revan terkejut. Jeremy pun sama terkejutnya, namun sesaat kemudian wajahnya berubah kesakitan. Lengan yang diulurkannya untuk mencengkeram Revan terputus seketika dan terlempar ke udara."Apa?!" Jeremy segera mundur secepat mungkin. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berusaha melarikan diri.Seseorang yang mampu memutus lengannya dengan begitu mudah, bahkan tanpa memberinya kesempatan untuk menyadari serangan itu, jelas bukan orang sembarangan. Lawannya pasti seorang ahli yang jauh lebih kuat darinya!Namun, setelah baru terbang beberapa puluh meter, Jeremy mendadak menabrak sesuatu. Sebuah penghalang cahaya tak kasatmata menghalangi jalan keluarnya."Formasi?!" Wajah Jeremy langsung menggelap. Perasaan terancam yang kuat seketika menyelimuti hatinya.Revan pun terpaku. Semua kejadian ber
Sementara itu, Revan belum sempat menelan Pil Pelepas Batas. Ia hanya bisa menatap kosong ke arah datangnya serangan energi pedang tadi.Di kejauhan, Livia terengah-engah. Kedua tangannya menggenggam erat pedang hitam besar, keringat dingin membasahi wajahnya yang cantik dan dingin."Dasar mesum! Kenapa kau tidak lari?!" geram Livia benar-benar kesal.Ia telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melancarkan serangan tadi, semata-mata demi memberi Revan kesempatan melarikan diri. Namun, pria itu justru berdiri terpaku di tempat, seolah kehilangan akal.“Bodoh sekali!”"Eh..."Teriakan Livia akhirnya menyadarkan Revan dari lamunannya. Ia segera berbalik dan kabur secepat mungkin.Livia pun tak membuang waktu. Ia berbalik dan ikut melarikan diri.Sementara itu, Jeremy telah mundur sejauh sepuluh kilo untuk menghindari energi pedang hitam yang mengerikan tersebut. Tanah yang terkena serangan itu retak sedikit demi sedikit, lalu terbelah membentuk celah sepanjang lebih dari sepuluh kilo.
Para ahli yang telah mencapai Fase Inti Roh sudah melampaui batas tubuh fana. Selain memiliki umur yang jauh lebih panjang, tubuh mereka juga telah mengalami perubahan mendasar.Setelah mencapai Fase Inti Roh dan memadatkan Roh Spiritual, mereka tidak akan mati meskipun tubuh fisik mereka hancur, selama Roh Spiritual mereka tidak ikut hancur.Revan tak berani membuang waktu sedetik pun. Ia berlari secepat mungkin sambil berusaha memulihkan Energi Spiritualnya."Lari!" teriaknya kepada kedua rekannya.Mendengar seruan itu, Arvin dan Livia akhirnya tersadar dari keterkejutan mereka. Serangan Revan barusan benar-benar di luar dugaan. Mereka sampai terpaku dan melupakan bahwa mereka seharusnya segera menyelamatkan diri."Bocah keparat! Kalian harus mati!"Jeremy mengamuk. Penampilannya kembali berubah menjadi wujud mengerikan seperti saat ia menyerap Inti Darah sebelumnya. Bulu-bulu merah tumbuh di wajahnya, kedua matanya menyala merah, dan taring-taring tajam menyembul dari mulutnya. Nam
Jeremy melayang di udara. Langit malam yang gelap, ditambah luka parah yang dideritanya, membuatnya sulit mengamati keadaan di sekitarnya dengan jelas. Namun, bola-bola api di tangannya bukan hanya memiliki daya hancur yang mengerikan, juga berfungsi sebagai penerangan.Dalam pandangan Jeremy, tiga kultivator yang bahkan belum mencapai Fase Inti Langit hanyalah semut kecil. Makhluk lemah yang bisa dia musnahkan hanya dengan lambaian tangan.Jeremy terus melemparkan bola-bola api satu demi satu. Tak lama kemudian, area di sekitarnya diterangi kobaran api.Pada saat itulah, sesosok manusia samar terlihat di antara semak-semak."Hahaha! Akhirnya kutemukan kau, bocah sialan!" Jeremy tertawa liar dari udara, lalu langsung menerjang sosok tersebut.Livia dan Arvin serentak merasakan firasat buruk. Namun, keduanya kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.Apa mereka bertiga benar-benar bisa mengalahkan seorang kultivator Fase Inti Roh? Jelas tidak!Bahkan jika lawan mereka sedang terluka
Revan dan kedua rekannya memasang ekspresi muram. Rencana awal mereka adalah bersembunyi di hutan lebat di luar Kota Hangai untuk mengamati situasi secara diam-diam.Berdasarkan penyelidikan selama beberapa hari terakhir, mereka menemukan bahwa sebagian besar mayat kering ditemukan di hamparan tanah tandus di sekitar wilayah tersebut.Saat ditemukan, kebanyakan mayat telah terpapar sinar matahari dalam waktu lama. Tidak ada luka yang terlihat pada tubuh mereka. Satu-satunya hal yang bisa dipastikan adalah bahwa seluruh darah di dalam tubuh mereka telah terkuras habis.Karena itu, mereka menduga pelakunya adalah seseorang yang mempraktikkan teknik kultivasi sesat. Dari semua orang yang mereka curigai, Jeremy merupakan kandidat yang paling mungkin.Namun, mereka bertiga menyadari bahwa sekalipun bekerja sama, mereka sama sekali bukan tandingan Jeremy. Itulah sebabnya mereka berencana mengintai dari balik bayang-bayang dan mengumpulkan bukti tanpa memperlihatkan keberadaan mereka.Jika k







