แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Jintan Hitam
Setelah berlatih koreografi tari beberapa kali, waktu sudah hampir menunjukkan jam enam. Firman mengirim pesan kepadanya: [Sudah sampai.]

Dia bangkit dan pergi ke ruang ganti. Setelah berganti pakaian, dia naik lift ke lantai pertama dan melihat banyak gadis di ruang latihan yang bersembunyi di balik pilar-pilar besar, menatap malu-malu ke arah pintu masuk.

Seorang pria tinggi dan bertubuh proporsional berdiri diam menunggu di pintu masuk. Dia memiliki bahu lebar dan pinggang ramping, kakinya yang panjang tampak indah terbingkai celana panjang rapi. Tatapannya sedikit menunduk, gayanya terkesan santai namun tidak sembarangan, memancarkan aura kemewahan dan keanggunan alami.

Para gadis di Pusat Seni biasanya memiliki sikap sombong dan angkuh, mereka suka memandang rendah pria biasa, tetapi sekarang mereka tampak sangat penuh minat.

"Tampan sekali! Dia sedang menunggu siapa ya? Kalau tidak ada yang datang, biar aku saja yang maju."

"Aku juga mau, tapi kalau dilihat dari punggungnya ... orang itu agak mirip dengan suaminya Tania."

"Ayolah, kalau dia benar-benar punya suami setampan itu, kenapa dia cuma mengunggah foto punggungnya saja? Itu pasti foto dari internet."

Tania tiba-tiba menyadari bahwa ini pertama kalinya Ronald menjemputnya secara langsung. Sebelumnya, paling-paling dia hanya menunggu di dalam mobil.

Tania tidak pernah mengeluh tentang hal-hal kecil semacam itu. Setiap kali Ronald datang menjemputnya, dia selalu masuk ke mobil dengan perasaan senang dan bermanja-manja padanya.

Mengabaikan komentar-komentar itu, dia terus berjalan ke sisi Ronald.

"Itu benar Tania... astaga." Semua orang langsung mengenali sosok tinggi dan ramping itu sebagai Tania.

Empat tahun lalu, ketika dia pertama kali datang ke Pusat Seni, wajahnya yang cerah dan cantik langsung menarik perhatian banyak penari pria yang diam-diam datang ke ruang latihan untuk menontonnya.

Saat itu, dia seperti matahari musim panas yang menyengat, tampak memesona dan membakar.

Tetapi Tania mengatakan bahwa dia sudah menikah, dan memutus semua tatapan menggoda itu.

Semua orang mengira bahwa seseorang yang secantik dirinya bersedia menikah muda pasti memiliki pernikahan yang sangat bahagia.

Namun kemudian semuanya mulai terlihat aneh. Suaminya tidak pernah datang menontonnya menari, tidak pernah menghubunginya terlebih dahulu, dan bahkan ketika dia mabuk di pesta, temannyalah yang datang menjemput.

Banyak orang berspekulasi bahwa dia menikahi pria yang jelek, pendek, dan lebih tua demi uang.

Pada saat itu, seorang anak kecil keluar dari koridor sambil mengejar kupu-kupu, dia tampak fokus dan penuh perhatian. Riska sambil tersenyum menemani dari belakang, dan keduanya langsung refleks berjalan ke sisi Ronald. "Kau sudah datang secepat ini."

Kerumunan penonton langsung heboh seketika.

"Seorang pria beristri? Apa yang dilakukan Tania? Bukannya dia sudah menikah, kenapa masih mendekati ...."

"Astaga! Wanita yang tidak bahagia memang bisa menjadi sangat putus asa."

"Dia mungkin tidak menyangka kalau istri dan anak pria itu akan keluar. Sungguh pertunjukan yang luar biasa. Apakah mereka akan berkelahi?"

Tania melihat sosok Riska keluar dari dalam gedung, sepertinya sutradara telah bertindak sangat cepat.

Namun, itu sudah tidak penting lagi. Toh dia juga akan pergi dari tempat ini.

Namun, pikiran bahwa Ronald sendiri yang menjemput Riska membuat hatinya terasa berdebar kencang, rasa sakit yang tumpul kembali muncul bergelombang, bahkan membuat suaranya terdengar serak. "Aku akan naik taksi sendiri ke rumah nenek."

Ronald menatapnya. Kulit pucatnya tampak memerah karena selesai berolahraga, dan membuat pria itu lebih memikat dari biasanya. Perbedaannya adalah tatapan Tania ke arahnya tidak lagi berkilau penuh rasa kasih sayang, melainkan hanya ketenangan yang terasa dingin.

Setelah beberapa saat, bibir tipisnya sedikit terbuka, suaranya berat dan dalam, "Kau yakin?"

"Iya, yakin." Jawabnya tanpa ragu.

Sebelumnya, jika ada perempuan yang sedikit saja mendekati Ronald, maka dia akan langsung menyatakan kepemilikannya dengan posesif.

Sekarang, dia sudah tidak peduli. Mereka toh akan bercerai dan akan segera berpisah. Jadi, dia sudah tidak peduli lagi pria itu mau bersama dengan perempuan manapun.

"Baguslah kalau kau yakin." Ronald berkedip, wajahnya masih tanpa ekspresi, dan berbalik untuk pergi.

Tania berdiri di sana, mengeluarkan ponselnya untuk memanggil taksi. Dia sebenarnya tidak ingin pergi ke rumah nenek, tetapi karena urusan Dokter Haris belum pasti, jadi dia harus pergi demi neneknya.

Ketika tiba di rumah itu, Ronald sudah berada di samping nenek, mendengarkan omelannya, "Kau itu sudah semakin tua, dan sudah menikah selama empat tahun. Apakah pantas masih belum memiliki keturunan? Kalau Tania masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan, keluarga pamanmu pasti akan membuat keributan besar."

Keluarga Adian memiliki garis keturunan yang panjang dan makmur. Ronald sendiri memiliki puluhan kerabat yang segenerasi dengannya, tetapi hampir tidak ada yang seperti dia, sudah berusia tiga puluh tahun, tetapi masih belum memiliki keturunan. Nenek pun terus mendesaknya tanpa henti.

Tania menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk dan menyapa dengan senyum, "Nenek."

"Tania, kenapa kau tidak datang bersama Ronald?" Kemudian, nenek menatap Ronald, "Apa kau tidak menjemputnya? Kepribadianmu itu persis seperti ayahmu. Jangan sampai nanti ...."

Pada saat itu, nenek tiba-tiba terdiam dan ekspresi wajahnya tampak khawatir.

Ronald berkata, "Ayo, kita makan."

Nenek kemudian menarik Tania untuk duduk bersama di ruang makan. Dari sudut matanya, dia bisa melihat Ronald berjalan setengah memutar untuk duduk di sebelah nenek.

Biasanya, dia akan langsung menempel pada pria itu.

Sekarang, dia tetap diam, menundukkan mata, dan berpura-pura tidak melihat.

Nenek sempat memperhatikan suasana yang tidak biasa di antara mereka berdua.

Dia lalu berdeham pelan, "Kenapa kau duduk di sebelahku? Duduk sana di sebelah istrimu. Aku sudah menyiapkan kursi ini untuk Karin."

Ronald tertegun sejenak, lalu menjawab dengan santai, "Tidak masalah duduk di mana saja."

Tepat saat itu, Karin Taruma yang sedang bermain di halaman belakang berlari masuk, "Tante Tania, aku kangen sekali!"

Anak berusia enam tahun itu bergegas mendekat, Tania pun bergegas memeluknya, senyum tulus terpancar di wajahnya, "Karin, Tante juga kangen sekali."

Keluarga Taruma dan Adian adalah sahabat lama, dan nenek sangat menyayangi anak-anak, jadi dia sering bermain dengan Karin.

Meskipun Karin masih kecil dan anak perempuan, dia cukup nakal dan sangat aktif, suka memanjat pohon dan tembok, sama seperti Tania ketika masih kecil dulu, sehingga keduanya pun otomatis menjadi dekat.

Namun, Ronald adalah tipe yang lebih menyukai kedamaian dan ketenangan. Tania tidak suka membiarkan Karin terlalu mengganggu Ronald, karena takut pria itu akan merasa terganggu.

Sekarang dia tidak lagi memiliki kekhawatiran seperti itu, jadi dia hendak mengatur agar Karin bisa duduk di sebelahnya.

Tetapi nenek sudah memanggil Karin seketika, "Karin, ayo kemari dan temani Nenek di sini, ya?"

Dia menatap Ronald dengan tajam, dan akhirnya pria itu berdiri dan duduk di sebelah Tania.

Karena takut dengan sikap dingin Ronald, Karin berlari ke arah nenek, "Nenek Buyut, aku mau beritahu, ada murid baru di sekolah yang bernama Lian. Dia sangat pintar. Guru bilang kalau dia murid terpintar di sekolah kami, dia itu anak jenius ...."

Tania terdiam kaku.

Karin bersekolah di sekolah internasional ternama di Kota Alamanda yang menerapkan pendidikan eksklusif dalam kelas kecil. Anak-anak di sana semuanya berasal dari keluarga kaya raya dan berpengaruh, dengan biaya sekolah miliaran per tahun.

Padahal, dia dulu hanya mengatur agar Lian bersekolah di sekolah dasar negeri biasa.

Ternyata, Ronald yang memindahkan sekolah Lian.

Ini berarti dia bermaksud untuk mendidik Lian sebagai pewarisnya.

Tania mengerutkan bibir, lalu berpikir dalam hati bahwa sepertinya pria itu juga sudah mantap untuk menceraikannya dan sudah mulai mempersiapkan masa depan anak itu.

Keluarga Adian mungkin akan sangat menyukai Lian. Anak itu berperilaku baik, bijaksana, dan cerdas.

Karena pada akhirnya mereka akan bercerai, jadi Tania berhenti memikirkan Ronald dan menatap nenek untuk menanyakan tentang urusan Dokter Haris.

Nenek tersenyum, "Jangan khawatir, aku sudah memberitahunya. Yudi bilang dia akan mengundang Dokter Haris untuk makan bersama dan membahas masalah ini ketika dia sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Ngomong-ngomong, sup herbal ini Nenek yang khusus minta koki siapkan, ayo diminum untuk menambah stamina."

"Terima kasih, Nek." Merasa sedikit lebih tenang, Tania mengambil semangkuk kecil sup yang disajikan pelayan dan meminumnya perlahan, sambil terus memikirkan urusan neneknya sendiri.

"Tidak perlu berterima kasih, kita ini kan keluarga. Kau itu terlalu kurus, kau harus makan lebih banyak." Nenek menyuruh pelayan menyajikan semangkuk sup lagi untuk Ronald, dan mengingatkannya, "Lain kali, sering-sering ajak Tania ke sini untuk makan bersama. Kalian anak muda tidak pernah makan dengan benar."

Ronald menundukkan pandangan, perlahan mengaduk supnya dengan sendok, dan suaranya terdengar rendah dan tertahan, “Nenek, aku sangat sibuk. Lagipula, Tania juga punya urusannya sendiri .…”

Nenek tiba-tiba marah, “Kau itu yang sibuk! Atau jangan-jangan karena wanita yang bernama Riska itu? Dulu, kau sudah hampir mati karena menerima seratus hukuman cambuk demi wanita itu. Karena aku tidak tega, jadi aku setuju membiarkanmu menikahinya. Tapi, apa yang dia lakukan? Dia malah pergi dan menikah dengan orang lain. Kalau kau masih berani berhubungan dengannya, Nenek akan jadi orang pertama yang menentang!”

Pengungkapan fakta yang secara tiba-tiba ini membuat Tania merasa sangat terkejut.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 50

    Bagaimana mungkin dia bisa tertangkap semudah itu, dan kebetulan juga dalangnya terungkap sebagai tokoh besar industri teknologi yang kemungkinan besar akan memenangkan juara pertama dalam pemungutan suara?Tiba-tiba, dia teringat apa yang didengarnya di klub waktu itu. Ronald telah membeli robot itu untuk Riska, dan tujuannya adalah untuk membantu Riska menang. Mungkinkah ini juga salah satu pengaturannya?Jika sebelumnya, Tania tidak akan pernah memercayai hal ini. Tetapi sekarang, di matanya, Ronald tidak memiliki prinsip lagi jika berhubungan dengan Riska.Tania tiba-tiba merasa sangat bersyukur karena saat itu profesor menyuruhnya untuk mengirimkan karya dengan nama Line, namun dia telah mengubah namanya untuk menghindari pelacakan Keluarga Adian.Jika dia menggunakan nama Line, maka Ronald mungkin akan mengatur drama serupa untuk membantu Riska memenangkan tempat pertama.Di ponselnya, ada pesan lain dari Yulia.Isinya adalah tangkapan layar dari status WhatsApp.Unggahan Riska y

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 49

    "Baguslah." Nenek menutup telepon, lalu menatap Tania. "Lihat, dia masih peduli padamu. Kalian hanya perlu berkomunikasi dengan baik."Dia menundukkan pandangannya dan akhirnya tidak mengatakan apa-apa.Tania dan Nenek Dina langsung pergi ke rumah sakit.Kakek berbaring tenang di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat dan kusam, bibirnya kering dan putih, kelopak matanya terkulai lemas, kerutan tipis muncul di sudut matanya. Bahkan napasnya sangat lemah hingga dadanya hampir tidak terlihat naik dan turun, hanya hembusan napas tipis dari hidungnya yang membuktikan dia masih hidup.Nenek memasuki kamar rawat, air mata langsung menetes hanya dengan sekali pandang saja. Dia terhuyung dan jatuh bersandar ke tempat tidur.Tania segera menopangnya. "Nenek, jangan khawatir. Dokter bilang kakek masih punya kesempatan untuk sembuh."Meskipun peluang sembuh itu sangat kecil, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.Nenek menggelengkan kepala, matanya memerah. "Kenapa bisa jadi begini? Aku sakit, b

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 48

    Sambil berbicara, air mata sudah mengalir di wajah Nenek Dina seperti kayu kering, "Pasti telah terjadi sesuatu, kan? Tania, jangan berbohong lagi, beri tahu Nenek seberapa serius kondisi kakekmu."Pada detik berikutnya, Tania sudah tidak bisa menahannya lagi dan langsung menangis. Dadanya bergetar, dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan memeluk neneknya, "Nek, masih ada aku. Kakek hanya perlu memulihkan diri. Nenek juga harus istirahat yang baik. Ayo, kita kembali ya? Aku sudah membawakan bubur kesukaan Nenek."“Kalau kau tidak mau memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakekmu hari ini, Nenek tidak akan kembali.” Bibir nenek bergetar. "Pasti sudah terjadi sesuatu yang serius padanya. Saat aku sakit, dia selalu merawat dan menjagaku. Tapi saat dia sakit, aku bahkan tidak bisa memandangnya. Ini tidak adil baginya dan juga tidak adil bagiku."Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Nenek ...."Dia juga tidak tega."Tania, katakan saja. Apa pun itu, Nenek bisa menangg

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 47

    "Nenek yang menyuruhku," jawab Tania jujur.Langkah pria itu terhenti, matanya yang hitam menatap Tania, nada suaranya terdengar dingin, "Kau tidak perlu datang lagi."Setelah mengatakan itu, dia duduk untuk mulai makan.Tania mengambil foto dan mengirimkannya kepada nenek, lalu berbalik untuk pergi.Ronald mendongak. "Kau tidak makan?""Tidak." Dia tidak ingin makan di ruangan ini. Entah apa yang baru saja mereka berdua lakukan di dalam tadi, Tania merasa sangat jijik.Ronald berbicara lagi, "Duduk dan makanlah sedikit. Kalau tidak, nanti gula darahmu turun lagi."Langkah Tania terhenti. Gula darahnya pernah turun disebabkan oleh diet ketat untuk menari.Sekarang dia sudah tidak lagi berdiet, tentu saja dia tidak akan lagi mengalami gula darah rendah.Tania menoleh dan menatapnya. "Aku sudah makan.""Tania, kau sibuk apa akhir-akhir ini?" Dia bertanya dengan santai, pandangan matanya menunduk.Tania meliriknya sekilas, "Grup tari ...."Ronald mendongak dan menatap ke arah luar jendela

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 46

    Setelah Tania secara terbuka mengungkapkan perasaannya kepada Ronald, Yulia justru berbalik memusuhinya, karena Yulia sendiri juga menyukai Ronald.Dia berpikir foto itu mungkin sudah beredar di seluruh lingkaran mereka, dan semua orang sudah melihatnya.Tetapi, itu sudah tidak penting lagi baginya. Setelah perceraian, semua orang ini akan menghilang dari dunianya.Dia lalu mematikan ponselnya tanpa membalas.Pagi itu, Tania menghabiskan seluruh pagi di laboratorium, sibuk dengan berbagai instrumen presisi bersama rekan-rekannya.Tim mereka saat ini sedang meneliti penginderaan humanoid yang bertujuan untuk memberikan robot "sensasi rasa" seperti tangan manusia, hingga mencapai persepsi daya sentuh tingkat mikron. Diharapkan robot itu mampu merasakan tekstur kelembutan kain sutra, kertas, dan telur tanpa menghancurkannya.Pada siang hari, dia kembali ke rumah itu. Baru kemudian, dia menyadari bahwa niat nenek sebenarnya bukanlah memanggilnya kembali untuk makan siang, tetapi untuk meny

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 45

    Tania menatap Bi Yuni sejenak, lalu berkata, "Bawa dia ke kamar."Meninggalkannya tanpa pengawasan di ruang tamu tidak akan terlihat baik jika nenek sampai melihatnya.Masukkan dia ke kamar dan tutup pintunya. Dia akan merapikan dirinya sendiri saat bangun besok.Bi Yuni mengira kalau Tania sendiri yang akan merawatnya, jadi dia dan pelayan lain hanya membawa Ronald ke kamar tidur.Mereka menempatkannya di ujung tempat tidur.Setelah keduanya pergi, pintu langsung ditutup.Tania berdiri di samping pria itu, melihat bekas lipstik di kerah bajunya, lalu mendorongnya ke karpet. Dia sendiri langsung membersihkan diri, mematikan lampu, dan pergi tidur.Setelah tertidur, Tania merasakan sesosok tubuh hangat menempel erat padanya.Dia terbangun saat fajar, dan pria di kamar itu sudah tidak ada lagi.Robot milik Tania sudah selesai, dan dia akan mengirimkannya ke lokasi pameran hari ini.Saat hendak pergi, nenek memanggilnya, "Nanti makan siang di rumah ya."Tania tidak ingin berdebat denganny

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status