Share

Bab 3 : Apartemant

Author: Appelhijau
last update publish date: 2026-07-03 16:49:37

Pagi sekali Sera bangun dari tidurnya dan menyiapkan masakan dengan bahan yang ia beli semalam. Hari ini kuliahnya dimulai setelah makan siang, maka ia masih memiliki banyak waktu untuk masak sedangkan laporannya telah selesai semalam.

Sera mengambil mangkuk yang berada dalam lemari kecilnya kemudian menuangkan sup taoge yang baru saja masak dari panci. Aroma dari sup buatannya membuat siapa saja akan menarik hidungnya ke udara.

Felio terbangun dan duduk di atas sofa coklat itu. Ia menyadari bahwa luka yang kemarin malam telah terobati dan juga rumah yang kini ia lihat tanpa asing baginya.

Sebuah meja kecil terletak di depannya dengan berbagai macam lauk dan juga mangkuk yang berisikan nasi hangat. Terlihat dua mangkuk nasi dan juga dua gelas air putih. Tak lama kemudian Sera berjalan ke arah ruang tamunya seraya kedua tangannya membawa satu panci sup taoge yang baru saja ia bawa dengan kain anti panas.

“Kau sudah bangun? Ayo kita makan.” Sapanya dan kemudian menaruh panci itu tepat di tengah-tengah meja makan . Felio terdiam. Siapa gadis itu?

“Kau siapa?” tanya Felio kemudian.

Sera tertawa hambar sepertinya kepala pria itu telah terbentur sesuatu hingga lupa dengannya. Tapi walaupun juga memang Felio mungkin cepat melupakan wajah gadis itu. Mereka hanya bertemu dua kali dan tanpa menyebut nama sama sekali.

“Ah, aku? Aku Sera, Sera Han. Mahasiswi Fakultas Bisnis. Kita satu kelas dengan Dosen Lee. Aku juga yang bekerja di toko buku waktu itu. Saat kau memberikan payungmu, apa kau ingat?” balas Sera,

Pria memiringkan kepalanya seperti mengingat Sera dan tanpak begitu lama hingga membuat Sera bingung.

“Sepertinya kau lupa. Sebaiknya kau makan saja dulu. Ini supnya masih hangat, aku baru saja memasaknya. Sekarang makanlah agar kau cepat sembuh.”

Felio kemudian mendekat ke arah meja makan itu. Sera menaruk sesendok penuh sup tauge ke mangkuk Felio dan juga mendekatkan semua lauk paun di meja itu ke arah Felio. “Makanlah,” ucap Sera sembari tersenyum.

Lio sudah duduk di samping Sera sejak tadi. Ia terus saja memperhatikan gerak-gerik pria yang nyatnaya mirip dengannya. “Aku tidak ingat jika aku punya kembaran sebelum aku mati,” gumam Lio sendiri yang ternyata dapat didengar oleh Sera.

“Enak, apa kau yang memasaknya?” puji Felio.

“Ah? Oh,… iya.”

“Kalau aku boleh tau, kenapa kau terluka cukup parah seperti ini? Sebaiknya segera dicek di rumah sakit.”

“Oh iya, payung kemarin itu masih ada, saat pulang nanti ambillah. Terima kasih atas payungnya,” lanjut Sera.

“Apa kau mau menambah nasinya?”

Sederetan pertanyaan itu terlontar tanpa henti dari mulut Sera. Entah kenapa gadis itu tampak bersemangat untuk mengetahui lebih tentang Felio.

“Aku sudah bertanya kenapa dia diam saja?” batin Sera ketika tidak mendapatkan sedikit pun jawaban dari Felio yang tengah makan sup taoge buatannya.

Felio meletakan sumpitnya di pinggir mangkuk nasinya dan melihat ke arah Sera, “Beberapa orang mengejarku karna yah ada satu perselisihan. Untuk payung, ambillah. Aku tidak membutuhkannya lagi. Masakanmu enak tapi aku sudah kenyang,” Felio menjawab semua pertanyaan Sera dalam satu kalimat. Gadis itu mengangguk dan tersenyum cengir.

“Masakanmu enak, tapi aku sama sekali tidak pernah mencobanya.” Gumam Lio yang kini sudah duduk di sofa coklat itu. Memang mereka bersama hampir satu tahun tapi sampai dalam waktu sepanjang itu Lio tak pernah merasa masakan Sera walaupun hanya semangkuk mie instan.

“Sepertinya aku terlalu cerewet, ya? Baiklah, aku akan bertanya perlahan-lahan. Oh ya, apa kau ada kuliah hari ini?”

“Tidak ada,” jawab singkat Felio.

“Oh… begitu rupanya. Aku ada kuliah hari ini jam 1 dengan Prof. Jang, jadi…”

“Tidak apa-apa aku akan pergi sebelum kau pergi kuliah,” potong Felio cepat namun Sera menggelengkan kepalanya cepat pula.

“Bukan itu maksudku. Jika kau masih beristirahat, istirahatlah aku akan pergi kuliah dan bekerja di toko buku. Lagi pula apartemenku akan selalu sepi seperti ini. Jika kau masih sakit.”

“Tidak perlu, aku akan pergi setelah ini,” balas Felio dingin seraya merapikan pakaiannya dan juga jaketnya yang berada di sofa coklat. Sedangkan Sera hahnya bisa mengigit ujung sumpitnya. Kali ini ia tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang Lio pada Felio.

Tok tok tok !

Mereka kemudian menoleh cepat ke arah pintu apartemen itu. Sera meletakan sumpitnya kemudian beranjak mendekati pintu dan membukanya.

Gadis itu terkejut yang datang rupanya ibu pemilik apartemen yang ia sewa. Dengan cepat Sera keluar dan menutup pintunya.

Bibi Jin menagih biaya sewa yang sudah hampir empat bulan belum ia bayar. Lio dengan cepat keluar pula dengan sekali kedip saja hantu itu telah berada diantara ibu pemilik apartemen dan juga Sera. Sama seperti sebulan yang lalu gadis itu kembali meminta waktu tambahan.

“Kau tau hari ini tanggal berapa?” tanya ibu itu seraya membuka buku catatan kecilnya yang berisikan daftar nama dan juga agenda keuangan apartemen itu.

“Iya, Bi. Tapi, bisakah kau memberikan aku waktu satu bulan lagi? Aku baru saja mendapatkan musibah, jadi uang yang kudapatkan untuk membayarnya. Aku mohon sekali ini saja, Bibi Jin.”

“Aku sudah memberikan padamu waktu yang sudah sangat lama Sera. Aku bisa bangkrut lagi jika kau seperti ini. Biaya air, listrik, dan juga sewa semuanya belum kau bayar. Kau bisa cari tempat lain dan pindah dari sini. Kau setiap hari pergi bekerja apa semuanya tidak bisa kau cukupi untuk membayar uang sewa apartemenmu ini? Jika kau tidak sanggup bayar sebaiknya angkat kaki dari apartemen ini! jangan menyusahkan orang lain.” ocehan Bibi Jin sangat terdengar jelas dari dalam apartemen Sera.

Felio yang tengah duduk di sofa coklat itu dapat mendengarnya dengan jelas.

Sera kembali menangkupkan kedua tangannya untuk memohon pada Bibi Jin. “Aku mohon sekali ini saja Bibi Jin. Aku akan segera membayarnya sebelum tanggal pembayaran.”

Ceklek…!

Sera dan Bibi Jin menoleh cepat ke arah pintu apartemen milik Sera. Felio keluar dari apartemen itu dengan kakinya yang masih terasa sakit. Bibi Jin mengerutkan dahinya seraya mengangkat kacamata tuanya untuk melihat Felio. Pria dengan wajah tampan dan juga luka memar di sekujur tubuhnya.

Sera dengan cepat mendorong Felio agar masuk ke dalam apartemennya kembali. “Sebaiknya kau masuk saja dulu. Nanti aku akan masuk,” bisiknya tapi pria itu menolak untuk kembali masuk.

“Siapa anak muda ini, Sera?” Tanya Bibi Jin.

Sera menoleh cepat dan terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Bibi Jin.

“Ah… dia? Dia sepupuku, Bibi. Ini yang baru saja aku bilang. Aku mendapatkan beberapa musibah.” Balas cepat Sera, ia kemudian kembali menarik tangan Felio untuk kembali masuk ke dalam apartemen.

“Berapa? Berapa biaya sewa aprtemen ini?”

Sera terkejut dengan pertanyaan Felio pada bibi Jin. “Ada apa dengannya?” batin Sera. Dengan cepat gadis itu tersenyum hambar dan juga tetap menyuruh Felio masuk ke dalam apartemennya.

“Fel, aku bisa menyelesaikannya. Kau bisa masuk saja dulu.”

“5 juta Won, dia sudah menunda pembayaran sewa apartemen ini selama 4 bulan, jadi termasuk bulan ini 5 juta won,” balas bibi Jin cepat.

Tentu saja ia tak ingin pria yang merupakan sepupu Sera itu pergi begitu saja. Yah…memang seharusnya pria itu yang membayar uang sewa apartemen gadis itu karna yang mendatangkan musibah adalah sepupunya sendiri.

“Bibi!” teriak Sera.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mencari Identitas Pria di Kamarku   Bab 34 Bertemu lagi END

    Andai saja waktu dapat berputar kembali, Sera ingin di saat-saat Dean memanggil namanya ia tidak berpaling melihat pria itu. Hanya saja semua itu mustahil. Kehidupan yang mereka jalani nyatanya berbeda. Mungkin dengan kebersamaan yang mereka rasakan selama ini akan menjadi pelajaran hidup saja, dan kemudian menjadi sebuah kenangan yang diakhiri rasa penyesalan. Delio memeluk Sera erat. Ada rasa tak ingin kehilangan gadis itu, hanya saja ia tidak dapat lagi untuk melakukannya. Melindungi gadis itu ataupun mendengar suara hati gadis itu lagi. Rasa cinta itu mungkin saja akan segera menghilang seiring berjalannya waktu. Tapi semuanya akan berjalan begitu lama hingga akhirnya Delio menyadari betapa bodohnya dirinya saat ini yang merelakan kehadiran gadis itu untuk pria lain. 3 Tahun kemudian... Arloji di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore. Bibirnya bahkan sudah kaku untuk terus tersenyum dan memberikan tanda tangannya pada tumpukan buku dan juga kertas yang ada

  • Mencari Identitas Pria di Kamarku   Bab 33 Ciuman Terakhir

    “Aku menyukaimu Sera.”Deg.Satu kalimat yang sudah ada di dalam otak Dean sejak tadi kini dengan cepat ia ucapkan. Memang Dean sangat menyukai buku-buku yang ada di dalam perpustakaan, namun sampai saat ini ada satu hal yang tak dapat ia tiru dalam buku itu: yaitu merangkai kata yang indah. Buktinya ia hanya dapat mengungkapkan tiga kata itu menjadi satu kalimat. Ia tak dapat mengatakan lebih karena sejauh ini perasaannya seakan meledak dengan deburan cahaya dalam matanya.“Aku menyukaimu, aku mencintaimu, Sera Han.”Sera terdiam lagi. Ia bahkan tak dapat berkedip sekali pun ketika butiran halus salju itu menyentuh kelopak matanya. Dean sedikit mengeratkan pegangannya pada tangan Sera, berharap agar gadis itu tersadar bahwa ia terlalu lama untuk berdiam diri dan membiarkan Dean menanti jawabannya.Dean kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Sera. Satu langkahnya bahkan hampir menghapus sebagian jarak di antara mereka. Sera tersadar penuh, tapi entah kenapa k

  • Mencari Identitas Pria di Kamarku   Bab 32 Terlambat

    “Sekaligus? Kau tidak tau, masalahnya akan semakin banyak Delio. Wanita tua itu pasti akan memperbudakmu lagi. Sadarlah, kini Sera tidak hanya menunggumu untuk datang ke festival itu.”Delio menoleh cepat menatap Kevin yang berdiri di sampingnya. Kalimat terakhir Kevin sukses membuatnya menoleh dan berharap akan ada kejelasan selanjutnya.“Dean, sahabat Sera itu. Dia, sehari sebelum kau memberikan tiket festival itu dia sudah memberikannya terlebih dahulu pada Sera. Mungkin saat ini Sera sedang dalam keraguan sama sepertimu. Ia tak dapat menolak kalian berdua. Maka dari itu pergilah sekarang, Pergilah selagi semua masalah yang ingin kau bereskan itu tidak semakin panjang. Pergilah mengejarnya, dia gadis yang baik aku yakin hatinya hanya untukmu. Kau tidak akan berdiam di sini saja, kan?”Dean? Sempat beberapa kali nama pria itu mengusik pikirannya. Walaupun begitu, awalnya Delio mengira bahwa persahabatan mereka hanyalah sebatas sahabat satu SMA. Namun tampaknya, apa yang dipikirkan D

  • Mencari Identitas Pria di Kamarku   Bab 31 Dua Pilihan

    Malam yang gulita mungkin sanggup diterangi dengan mudah oleh pendar cahaya lampu kota. Namun tidak dengan sudut hati Sera yang malam ini mulai goyah dan dirundung keraguan hebat. Gadis itu melangkah gontai mendekati meja belajarnya, lalu menarik laci kayu teratas perlahan. Dari dalam sana, jemarinya mengeluarkan dua lembar tiket masuk Seoul Winter Flower Festival. Dua lembar tiket dengan desain hologram emas yang sama persis, namun berasal dari dua pria yang membawa makna berbeda di dalam hidupnya. Sera menatap lekat-lekat pada tiket kedua yang baru saja ia terima tadi siang dari tangan Delio di taman kampus. Jauh di lubuk hatinya, andai saja Delio melangkah sedikit lebih cepat, ia pasti akan bersorak gembira menyambut ajakan tersebut. Namun takdir seakan gemar mempermainkan waktu; langkah Delio tidak lebih gesit dibandingkan Dean—pria yang pernah menjadi cinta pertamanya semasa mengenakan seragam putih abu-abu di Busan. Kemarin malam, saat mereka melangkah pulang usai menyan

  • Mencari Identitas Pria di Kamarku   Bab 30 Janjian

    “Lalu siapa orang yang membelikan tiket ini untukmu? Apakah... Felio?”Delio menoleh cepat, tatapan matanya menajam saat Kevin melontarkan nama mendiang adiknya dengan artikulasi yang begitu lugas.Kevin melangkah mendekat, meletakkan tangannya di pundak Delio dan menatapnya lekat-lekat. “Jika memang benar sosok yang menyelipkan tiket ini adalah adikmu sendiri, Delio... maka kau harus pergi ke sana. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Ajaklah Sera untuk menemanimu ke festival itu. Aku sangat yakin, jauh di dalam lubuk hatinya, Sera pasti akan menerima ajakanmu dengan senang hati.”Delio terdiam membisu, jemarinya meremas pelan tepian tiket berhologram emas tersebut.Ada benarnya apa yang dikatakan Kevin. Selama setahun penuh mendiami dunia fana sebagai roh halus, Felio telah mengorbankan begitu banyak hal hanya demi membuka tabir kebenaran dan menyatukan kembali dirinya dengan Sera. Namun, pertanyaan besar seketika menghantam dinding logika Delio: Apakah ia sanggup men

  • Mencari Identitas Pria di Kamarku   Bab 29 Tiket

    “Ide yang bagus! Ayo, aku yang traktir minumannya!” balas Sera riang, menyunggingkan senyuman manisnya kembali.Mereka berdua melangkah santai menyusuri trotoar jalan raya yang diterangi temaram lampu kota. Namun, baru beberapa langkah kaki mereka terayun, pandangan Sera mendadak terpaku lurus ke depan. Dua orang pemuda jangkung tampak berdiri tegak di tengah trotoar tepat di hadapan mereka.Langkah Sera seketika terhenti kaku. Dean yang berada di sisinya ikut tersentak, menyadari tatapan menusuk yang dilayangkan oleh kedua pria asing di depannya. Refleks, Sera langsung menurunkan dan melepaskan tangan Dean dari pundaknya dengan gerakan canggung.Salah satu dari kedua pemuda itu adalah sosok yang sangat ia kenal dan memenuhi benaknya belakangan ini: Lee Delio. Sementara pemuda di sebelahnya adalah Kevin, sahabat lama Delio yang wajahnya tampak tak asing bagi Sera.Melihat atmosfer yang mendadak membeku bagaikan es, Kevin dengan sigap menepuk punggung Delio untuk menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status