ANMELDENHamish terkejut bukan main ketika Kalea menceritakan perihal pertemuannya dengan Gwen. Tak pernah terbersit sedikit pun dalam pikirannya jikalau wanita dari masa lalunya itu akan datang bergentayangan kembali di sekitarnya.“Kamu serius itu Gwen? Salah lihat mungkin,” ujar Hamish. Menatap istrinya yang repot-repot datang ke kantor sepulang mengantar sekolah demi untuk membahas hal tersebut.“Mana mungkin aku salah lihat! Aku gak akan pernah lupa dengan perempuan bernama Gwen!” Kalea sangat ngotot.“Kamu harus selidiki ini. Aku takut dia kembali karena sengaja. Kamu yang paling tahu, seberapa nekat dia di masa lalu, bukan? Aku takut dia datang ingin mengganggu lagi kehidupan kita. Aku tak mau dia mengusik anak-anak.”“Itu tak akan terjadi,” sahut Hamish yakin.“Tapi siapa yang tahu? Apa jangan-jangan dia punya anak di sekolah itu?” jantung Kalea mencelos. Belum selesai persoalan Arsen yang kini satu sekolah dengan putrinya, kini sudah ada lagi masalah baru.Hamish mendekat, lalu mengus
“Bagaimana, Bro?” tanya Malvin. Penasaran. Ia melangkah buru-buru. Menjejeri William yang sejak tadi berjalan celingukan di depan gerbang sekolah.William sedang mencari Shaynala. Pagi ini, keduanya sudah tak pergi sekolah bersama lagi. Dia diantar Stephen sekalian berangkat ke rumah sakit.“Apanya?” balas William.“Nala, lah!”William langsung berbalik dan menyeringai pada Malvin.“Beri aku tips lagi, Vin. Idemu yang kemarin sukses. Nala terus saja menatapku.” William terkekeh kegeeran sendiri.“Benarkah?” tanya Malvin senang.“Ya! Ayo, sekarang katakan padaku. Aku harus apa lagi?”Malvin berseru girang penuh semangat. Demi tiket nonton sepak bola final Piala Asia di Jepang akhir tahun nanti ia akan membantu William sepenuh hati.Malvin sudah hendak memberi petuah. Tetapi mulutnya kembali mengatup karena persis di depan matanya, sebuah mobil sedan sedan hitam berhenti. Dan dari sana turun seorang Arsen.“Nanti saja di kelas,” ucap William seraya menatap Arsen yang membanting pintu mo
William tak henti menggeram. Marah. Baru tahu kalau Arsen pindah ke sekolahnya. Dan ia sangat benci melihat Arsen yang terus cari-cari perhatian pada Shaynala.Ia kesal bukan main ketika melihat Shaynala lewat depan kelasnya membawa setumpuk buku dengan Arsen di sisi gadis itu, membantu.“Kamu punya saingan sekarang, Bro!” Malvin, Kawan sekelas William yang sama-sama satu klub sains membisiki.“Saingan apa maksudnya?”Malvin tertawa seraya membetulkan kacamata tebalnya.“Seisi sekolah juga tahu kalau kamu dekat sama Nala. Seisi sekolah juga tahu kalau kamu suka sama dia.”William langsung menatap Malvin.“Emang sejelas itu?” tanyanya dengan napas tertahan.“Astagaa! Masak kamu gak sadar? Percuma kamu juara OSN mulu! Otak mana otak! Gak dipake!” Malvin geleng-geleng sambil menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.“Kamu harus secepatnya jadian sama Nala sebelum direbut si Arsen-Arsen itu! Perempuan itu biasanya lama-lama luluh sama cowok-cowok yang pantang mundur. Dan kulihat-lihat, si Arsen
“Ada apa?” Hamish bertanya dengan raut bingung. Ia kira ketika menjemput Kalea di bandara, istrinya itu akan bersikap manis, tersenyum cerah, dan memberinya ciuman bertubi-tubi.Nyatanya, Kalea datang dengan muka ditekuk tujuh. Berjalan cepat dengan tubuh hampir tersental-sental.“Kamu kenapa, Lea? Mami Sayang? Kamu gak peluk aku dulu?” Hamish merentangkan kedua tangan.Kalea menghela napas. Baru tersadar sepenuhnya setelah sebelumnya isi kepalanya hanya tentang sekolah Shaynala dan William. Ia begitu memikirkan nasib keduanya setelah tahu ada Arsen yang tiba-tiba pindah kesana. Sunggung menjengkelkan! Berani sekali anak itu mengusik ketentraman sekolah anaknya.“Kamu tahu, gak? Si anak jahat itu sekarang pindah ke sekolah Nala dan Willy, Pi.” Kalea malah langsung membahas hal itu. Sudah tak tahan lagi ingin segera mendiskusikan hal tersebut dengan Hamish.“Apa? Serius?”Kalea mengangguk cemas dan nyerocos tanpa bisa direm. Menjelaskan detail pertemuannya dengan ibu dari Arsen.“Oke.
Kalea menghadiri pembukaan bazaar fashion se-Asia Tenggara di mana Lunare menjadi salah satu booth yang paling megah dan lengkap koleksinya. Ia sempatkan menemani timnya sebelum nanti kembali terbang pulang ke Jakarta beberapa jam lagi.Ia sudah merindukan Hamish. Apalagi suaminya itu tak henti mengiriminya pesan-pesan nakal yang penuh bujuk rayu.Kalea tersenyum malu, saat suaminya itu mengiriminya foto seksi dengan latar belakang dapur.Hamish hanya mengenakan boxer ketat saja, memamerkan badan berototnya dengan tangan memegangi spatula. Konon, pria itu sedang membuat makanan untuk anak-anak sepulang sekolah.“Apa kamu tak tergoda?” begitu isi pesan dari Hamish. “Aku sudah siap memanjakanmu, Sayang.”Kalea geleng-geleng. Suaminya itu memang selalu ada-ada saja akal bulusnya agar ia tak pernah berlama-lama di luar kota.“Awas diintip Mbak May sama MBak Diana!” Kalea membalas.“Tenang, Sayang. Mereka sedang tak ada di rumah. Aku sendirian di sini menjadi bapak rumah tangga. Cepat pula
“Jadi … kita sekelas,” ucap Arsen yang berjalan di sisi Shaynala. Dua tangannya di kantong celana sedang ransel tersampir di satu bahunya.“Hah! Sial sekali!” Shaynala menggerutu dengan suara dibuat sekeras mungkin.“Dan aku beruntung sekelas denganmu.” Arsen menyeringai.“Hei, Nala!” panggil Arsen melihat Shaynala yang mempercepat langkahnya. Kentara sekali jika gadis itu tak sudi berlama-lama berjalan berdampingan dengannya.“Apa kamu benar-benar membenciku? Apa karena masalah waktu kita Tk itu? Tak bisakah kita lupakan itu dan berdamai? Kita bisa memulai lagi. Kita bisa berteman. Anggap saja itu cuma berantem anak kecil. Kan kita memang masih sangat kecil waktu itu.”Langkah Shaynala berhenti. Tubuhnya memutar, lalu menatap Arsen dengan tajam.“Apa? Cuma? Cuma berantem anak kecil kamu bilang? Cumaaa?” tanyanya penuh penekanan.“Y-ya me—”“Itu bukan cuma!” sergah Shaynala.“Anak kecil tak ada yang berantem seperti itu, tahu? Kamu itu gak normal! Setan tahu gak!” Suara Shaynala mende
Kalea menoleh pada Hamish. Tepat seperti yang diperkirakan pria itu, Kalea menatapnya dengan mata berkaca-kaca—hampir menangis.Hamish merundukkan kepala dan wajahnya hingga sejajar dengan gadis itu. Menunjuk ke tiga orang desainer yang sedang sibuk dengan komputernya masing-masing.“Kurang lebih,
Pria itu melumat dan menyesap bibir Kalea bergantian. Atas dan bawah, bergelora penuh desakan. Bahkan lidahnya ikut merangsek, menelusup mencari-cari lidah Kalea yang pasif, tak bergerak.Kalea kewalahan. Napasnya memburu, dadanya naik-turun tak terkendali. Ia belum pernah merasakan ciuman sama sek
“Pergi bersenang-senang saja sendiri! Aku tak mau! Tak perlu menjemputku! Aku akan pergi dengan Tuan Hamish. Dan jangan pernah menghubungiku lagi!”Kalea membaca pesan yang dikirim Hamish dari ponselnya dengan ngeri. “Apa Tuan sudah tak waras?” desisnya.Pesan balasan dari Bobby yang penuh kebingun
Kalea menangis saking leganya. Ia berhasil mengirimkan karyanya di detik-detik terakhir.Setelah ketiduran semalam di gudang, ia melanjutkan menggambar di pagi buta dan baru rampung pada pukul sembilan.Masalah berikutnya muncul: pengiriman karya. Kalea tak punya gawai, sedangkan ponsel May dan Dia







