LOGINDirga akan datang tepat sebelum kafe tutup. Namun, ia tidak hanya mencari kafein. Ia mencari pelarian. Ia mencari Elara, membawa gadis itu ke dalam ketegangan yang lebih panas dari uap mesin espresso. Ketika perasaan yang tulus mulai muncul, siapa yang akan kalah dan hancur terlebih dulu? Tuan direktur yang haus kendali, atau pelayan kafe yang mempertaruhkan segalanya demi rahasia setelah jam kerja?
View MorePukul 21.45, Kafe The Grind berada dalam kondisi yang paling tidak menyenangkan di tengah hiruk pikuk kota Jakarta terutama karena ini adalah akhir pekan. Lembap, lengket, dan bising dari suara percakapan orang-orang di dalamnya. Elara Kirana, salah seorang pelayan yang bekerja di sana, sudah berada di ambang batas kelelahan. Kaki dan punggungnya terasa sakit, dan di pikirannya hanya ada tagihan motor dan kos yang harus ia bayar sebelum akhir bulan.
Saat ini ia sedang membawa nampan berisi dua cangkir espresso panas dan satu hot brew yang mengepul. Ia membiarkan pandangannya terfokus ke lantai, menghindari kerumunan kecil di dekat meja kasir. Kedua kakinya bergerak cepat, mengabaikan seragam cokelatnya yang sudah basah oleh keringat. Satu yang ada di dalam kepalanya saat ini, ia hanya ingin agar semuanya cepat selesai dan segera merebahkan dirinya di kasur sempit nan empuk yang berada di kamar kosnya. Namun, di situlah letak kesalahan fatalnya. Saat ia berbelok tajam di antara meja kayu ek dan deretan pot bunga, sebuah siluet gelap dan kokoh tiba-tiba muncul di hadapannya. Brak! Tabrakan itu tidak main-main. Nampan itu terlepas dari tangan Elara dengan bunyi benturan yang memekakkan telinga. Kaca pecah berhamburan seolah-olah terjadi hujan kaca dadakan di dalam kafe. Lalu, datanglah panas yang mematikan. Cairan hitam kental itu, campuran espresso pekat menyebar dengan cepat dan ganas. Sebagian besar tumpah ke lantai, tetapi bagian yang paling penting—dan paling mahal, jatuh dan menyebar di bagian tengah tubuh seorang pria. Seorang pria asing. Bencana, Elara pasrah di detik itu juga. Bahkan puluhan pasang mata kini memandang ke arahnya yang berdiri lesu seolah dengan jiwa yang mungkin nyaris melayang. Pria itu adalah epitome kemewahan. Setelan abu-abu arang yang terbuat dari bahan wol terbaik, dipotong sempurna, sepatu kulit mengkilap. Sekarang, seluruh bagian depan kemeja putihnya dan dasi sutranya dihiasi bercak espresso hitam. "Ya Tuhan! Tuan, maafkan saya!" Elara menjerit tertahan. Kepanikan menghantamnya seperti gelombang. Ia segera menjatuhkan diri, bahkan tanpa berpikir, dan tangannya yang gemetar mengulurkan serbet basah untuk membersihkan kekacauan itu. Pria itu bergeming, berdiri kaku seperti patung, aroma cologne mahalnya beradu dengan bau kopi. Ia tidak berteriak, juga tidak mencaci maki. Ia hanya memandang ke bawah, menatap seorang barista yang berlutut di kakinya dengan tatapan yang sedingin es di Antartika. "Hentikan, Nona," katanya. Suaranya dalam dan pelan, mengandung otoritas yang membuat Elara langsung menghentikan gerakannya. Tangan Elara membeku di udara, hanya berjarak satu inci dari saku dada pria itu. Di sana, di tengah noda, Elara bisa merasakan kehalusan luar biasa dari kain yang ia cemari. Setelah ini, mungkin isi dompetnya hanya bisa untuk membeli mi instan dan telur beberapa butir hingga tanggal gajiannya tiba. Elara mendongak dan untuk pertama kalinya, matanya bertemu dengan mata pria itu. Matanya gelap, tajam, dan kini memancarkan kekesalan yang terkendali. Ia memiliki rahang tegas dan hidung mancung yang sempurna, khas pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia tampak seperti iklan majalah yang baru saja diwarnai noda kopi. "Sebuah sambutan yang luar biasa," kata pria itu lagi. Terdengar seperti sarkas dan ejekan di saat yang sama, membuat darah Elara kian berdesir. Elara tahu pasti. Pria yang ada di hadapannya saat ini adalah salah satu pelanggan elit The Grind. Wangi parfum mahalnya akan langsung menyeruak bahkan di langkah pertama pria itu memasuki kafe, lalu bertahan di sana selama beberapa saat bahkan setelah si pemilik pergi. "Saya sungguh minta maaf, Tuan. Ini murni kesalahan saya. Saya akan mengganti biaya laundry jas Anda," ujar Elara cepat, berusaha terlihat profesional meski jantungnya berdebar kencang. Ia tahu betul berapa harga setelan jas semacam ini. Mungkin setara dengan gajinya selama tiga bulan atau bahkan lebih. "Elara Kirana," gumam pria itu saat membaca nama di name tag Elara. Nama yang kini sepertinya akan selalu ia ingat. "Aku tidak butuh uang laundry darimu." "Mati. Aku akan mati setelah ini," batin Elara. Ia tak berani menatap sepasang mata hazel itu lagi. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah meremas apron sekaligus seragam yang semakin kusut dan kotor karena tumpahan kopi. Bahkan untuk sekadar mengatur deru napas yang memburu pun ia mendadak tak mampu. "S-Saya... akan tetap membersihkannya, Tuan." Mata pria itu menatap lurus ke bawah tepat pada Elara. "Membersihkan apa? Lantainya? Kemeja milikku? Atau nama baikmu?" Rasanya caci maki tak terlalu buruk jika dibandingkan dengan reaksi tenang tapi mematikan. Pria itu berdiri tegak, tak bergerak. Ia tidak berteriak atau memaki, tetapi aura dingin yang memancar darinya jauh lebih menakutkan daripada amukan apapun. Elara sampai dibuat bungkam telak. Ia mendadak bisu? "Kau mungkin tak akan mendapat gajimu selama satu tahun untuk menggantinya. Bersihkan saja lantainya dan siapkan pesananku." Pria itu melangkah melewati Elara begitu saja bahkan tanpa melirik ke arah gadis itu sedikit pun. Sepatunya menginjak noda kopi di lantai, meninggalkan jejak hingga ke meja tempatnya duduk saat ini. Tak ada satu pun pelayan yang dipanggil. Artinya, pekerjaan Elara saat ini menjadi dua kali lipat. Membersihkan kekacauan di lantai dan menyiapkan pesanan pria itu. ** Elara berlari kembali ke meja bar, membiarkan denyut jantungnya yang berpacu kencang. Tangannya meraih lap bersih untuk membersihkan sisa tumpahan di lantai marmer, tetapi kepalanya penuh dengan citra jas mahal yang kini penuh noda. "El, biar aku saja yang urus lantainya," ujar Riko, barista senior, mendekat dengan ekspresi kasihan. "Kau fokus saja pada pesanannya. Dia sudah menunggu," imbuhnya dengan nada pelan. Elara mengangguk tanpa bicara. Ia tahu, meskipun Riko bersimpati, seluruh staf pasti sudah tahu ia baru saja membuat kesalahan monumental. Meski posisinya adalah seorang pelayan, Elara sudah terbiasa berdiri di depan mesin espresso. Ia beberapa kali meminta Riko mengajarinya bergulat dengan mesin itu hingga ia sampai pernah menggantikan posisi salah seorang barista yang tidak masuk selama beberapa hari karena sakit. Tempat yang biasanya terasa menenangkan, kini terasa seperti panggung eksekusi. Tugasnya kini adalah membuat espresso panas sempurna untuk Tuan Dirga—pria tadi. Pria itu selalu memesan menu yang sama setiap kali datang, jadi Elara bisa langsung bersiap tanpa harus bertanya. Rasa bersalah dan malu bercampur menjadi satu. Ia bukan hanya menumpahkan kopi, tapi ia juga menumpahkannya pada pria yang mungkin memiliki kekuatan untuk mengakhiri kontrak kerjanya hanya dengan sekali anggukan meski pria itu bukanlah bosnya. Elara mengambil portafilter dan memasukkan biji kopi yang baru digiling. Gerakannya kali ini terlalu hati-hati, jauh berbeda dengan kelincahan alaminya. "Ini harus sempurna. Kali ini, tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun," batin Elara. Ia menekan bubuk kopi dengan tamper logam. Tekanan yang ia berikan kini terasa berlebihan, seolah-olah ia sedang melampiaskan semua kegugupan dan penyesalannya ke atas bubuk kopi itu. "Hati-hati, El, jangan sampai tamping-nya terlalu keras," tegur Riko pelan, mengamati. Ia melempar pelan lap yang digunakannya tadi ke sebuah kursi di belakang Elara. "Nanti shot-nya jadi underextracted," tambahnya. Elara menarik napas, berusaha melonggarkan cengkeraman tangannya. "Ya, maaf," gumamnya. "Fokus, Elara. Fokus!" Elara mengunci portafilter ke tempatnya dan menekan tombol brew. Uap panas mulai keluar, dan espresso kental berwarna cokelat tua menetes perlahan ke dalam cangkir keramik putih. Aroma kopi yang kuat menyebar, sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. Begitu pesanannya selesai, Elara mengambil cangkir yang sudah jadi, menaruhnya dengan hati-hati di nampan kecil dan meletakkannya di atas permukaan meja di depan Dirga. "Ini pesanan Anda, Tuan. Mohon terima permintaan maaf saya sekali lagi atas insiden tadi." Dirga tak menjawab. Ia mengambil cangkir itu. Jemarinya yang panjang dan kuat menyentuh tepi keramik cangkir. Untuk sepersekian detik, kulit mereka sempat bersentuhan. Sengatan listrik kecil itu membuat Elara langsung menarik tangannya. "Permintaan maaf diterima," kata Dirga, menyesap kopi panas itu. Matanya terpejam sejenak. "Sempurna," imbuhnya. Ia lalu menatap Elara dari atas hingga bawah. Kedua mata Elara tak lepas dari Dirga bahkan saat gadis itu sudah kembali ke belakangcounter. Ia menatap bagaimana Dirga menghabiskan kopinya dalam ketenangan. Lalu, Elara bergerak cepat tepat ketika pria itu mengangkat satu tangannya. Kedua mata hazel itu sudah cukup membuat kaki Elara bergerak otomatis. Dirga menatap Elara selama beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan dompet. Sejumlah uang—dan juga tip, serta kartu nama. "Simpan ini. Kau akan membutuhkannya. Untuk membayar kesalahanmu." Sebelum Elara bereaksi, Dirga sudah beranjak dan pergi dari sana, meninggalkan Elara yang mematung di posisinya dengan kedua mata yang melebar. Dirga Aditama, pemilik 'L Ambrosia. Perusahaan arsitektur ternama di Jakarta. Elara menelan ludah. Ia tahu kalau dampak dari kesalahan yang ia buat akan lebih rumit setelah ini daripada membayar biaya laundry jas, dan semua itu baru saja dimulai. —bersambungPagi yang cerah tak membuat Elara melupakan bayangan gelap dari panggilan semalam. Adrenalin yang mengalir di nadinya membuat ia mendapatkan dua kantung berwarna kehitaman di sekitar matanya, tapi sebisa mungkin ia tutupi dengan riasan wajah. Ia memarkirkan motornya di parkiran belakang dan masuk. Suasana persiapan pagi terlihat ramai seperti biasa. Aroma dari kopi fresh brew sudah menguar dan bercampur dengan aroma dari pastry yang baru matang. Riko terlihat sedang menguji espresso pertama sedangkan Mas Guntur sibuk menata gelas. "Pagi, El!" sapa Riko ceria. "Tumben datang lebih awal. Kan, shift kamu bagian siang hari ini." Sebisa mungkin Elara menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Kan, aku harus ngurusin katering buat L'Ambrosia Architecs. Buat Tuan Dirga," katanya seolah mengingatkan. Seketika Riko manggut-manggut dengan mulut yang membentuk huruf 'o' kecil dan berekspresi seperti sedang berkata, "Oh, iya juga. Aku lupa." Mendengar itu, Mas Guntur pun menjeda kegiatannya dan
Dengan refleks yang luar biasa cepat, Dirga melepaskan Elara. Gerakannya mulus dan dingin. Ia melangkah mundur dan mengubah posisinya menjadi berdiri di samping Elara, seolah hanya menunggu espresso-nya selesai. Sementara di sebelahnya Elara agak terhuyung dan gadis itu segera memperbaiki blouse-nya.Di saat yang sama, Guntur muncul dari pintu dapur yang terhubung langsung ke pintu belakang kafe. Ia menatap Dirga dan Elara bergantian."Kenapa balik lagi, Mas?" tanya Elara. Ia berusaha terdengar tenang meski degup jantungnya masih tak beraturan di dalam dadanya. Guntur melirik Dirga sejenak, sebelum akhirnya ia menatap Elara dan menjawab, "Ada yang ketinggalan," katanya sambil berjalan menuju loker.Dirga menoleh ke arah Guntur dengan ekspresinya yang tenang, tanpa sedikit pun tanda tensi yang baru saja terjadi. Kemudian diliriknya espresso yang ada di tangan Elara. "Sudah selesai, Nona Kirana?"Elara memaksakan dirinya untuk mengangguk. "S-sudah, Tuan."Dirga mengambil cangkir itu
Jam sudah menunjukkan pukul 22.45 saat satu per satu staf meninggalkan kafe yang sudah gelap. Hanya tersisa lampu kecil di area bar yang menerangi Elara, Guntur, dan Riko. Mereka sedang menyelesaikan laporan akhir sementara Elara membereskan barang di atas counter dan mengelapnya. Di tengah keheningan itu, terdengar ketukan di pintu kaca depan. Ketiga orang itu menoleh satu sama lain. Akhirnya, sebagai staf senior dan bertanggung jawab atas keamanan di sana, Guntur beranjak dari posisinya. "Biar saya saja yang memeriksanya," katanya seraya meninggalkan Riko yang masih duduk dengan laptop masih menyala. Ia berjalan ke arah pintu, mengintip selama beberapa saat untuk memastikan kalau yang ada di luar sana bukanlah orang mabuk atau orang yang berniat jahat.Namun, sosok yang ia lihat rupanya tampak familiar. Itu Dirga, berdiri di luar tanpa mengenakan jas kantor seperti biasanya, melainkan turtleneck hitam elegan dan coat panjang. Perlahan, Guntur memutar kunci dan membuka pintu. "Se
Elara tiba di bagian belakang The Grind sebelum jam buka. Udara dingin pagi hari yang biasa menusuk kulit, kini tak bisa ia rasakan sama sekali. Pikirannya penuh dengan espresso, noda hitam, dan nasibnya setelah ini. Ia hanya tidur selama dua jam semalam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia melihat lagi kilatan mata Direktur L' Ambrosia saat kopi panas menyiram jasnya. Elara membuang napasnya kasar, lalu menatap sejenak area parkir khusus karyawan yang ia tempati. Hanya ada motor milik petugas kebersihan dan motor matic milik Riko. Gadis itu memarkirkan motornya di sudut, lalu mengunci stang. Motor matic miliknya adalah simbol perjuangannya semenjak pertengahan masa kuliah dan sekarang malah terancam gara-gara secangkir kopi yang tumpah. Elara masuk melalui pintu belakang kafe. Gadis itu segera memakai seragam dengan wajah yang lesu. "Pagi, El," sapa Riko yang sudah berdiri di balik mesin kopi. Ia menatap Elara yang membawa sebuah lap di tangan dengan raut wajah yang tak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.