LOGINDirga akan datang tepat sebelum kafe tutup. Namun, ia tidak hanya mencari kafein. Ia mencari pelarian. Ia mencari Elara, membawa gadis itu ke dalam ketegangan yang lebih panas dari uap mesin espresso. Ketika perasaan yang tulus mulai muncul, siapa yang akan kalah dan hancur terlebih dulu? Tuan direktur yang haus kendali, atau pelayan kafe yang mempertaruhkan segalanya demi rahasia setelah jam kerja?
View MorePagi yang cerah tak membuat Elara melupakan bayangan gelap dari panggilan semalam. Adrenalin yang mengalir di nadinya membuat ia mendapatkan dua kantung berwarna kehitaman di sekitar matanya, tapi sebisa mungkin ia tutupi dengan riasan wajah. Ia memarkirkan motornya di parkiran belakang dan masuk. Suasana persiapan pagi terlihat ramai seperti biasa. Aroma dari kopi fresh brew sudah menguar dan bercampur dengan aroma dari pastry yang baru matang. Riko terlihat sedang menguji espresso pertama sedangkan Mas Guntur sibuk menata gelas. "Pagi, El!" sapa Riko ceria. "Tumben datang lebih awal. Kan, shift kamu bagian siang hari ini." Sebisa mungkin Elara menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Kan, aku harus ngurusin katering buat L'Ambrosia Architecs. Buat Tuan Dirga," katanya seolah mengingatkan. Seketika Riko manggut-manggut dengan mulut yang membentuk huruf 'o' kecil dan berekspresi seperti sedang berkata, "Oh, iya juga. Aku lupa." Mendengar itu, Mas Guntur pun menjeda kegiatannya dan
Dengan refleks yang luar biasa cepat, Dirga melepaskan Elara. Gerakannya mulus dan dingin. Ia melangkah mundur dan mengubah posisinya menjadi berdiri di samping Elara, seolah hanya menunggu espresso-nya selesai. Sementara di sebelahnya Elara agak terhuyung dan gadis itu segera memperbaiki blouse-nya.Di saat yang sama, Guntur muncul dari pintu dapur yang terhubung langsung ke pintu belakang kafe. Ia menatap Dirga dan Elara bergantian."Kenapa balik lagi, Mas?" tanya Elara. Ia berusaha terdengar tenang meski degup jantungnya masih tak beraturan di dalam dadanya. Guntur melirik Dirga sejenak, sebelum akhirnya ia menatap Elara dan menjawab, "Ada yang ketinggalan," katanya sambil berjalan menuju loker.Dirga menoleh ke arah Guntur dengan ekspresinya yang tenang, tanpa sedikit pun tanda tensi yang baru saja terjadi. Kemudian diliriknya espresso yang ada di tangan Elara. "Sudah selesai, Nona Kirana?"Elara memaksakan dirinya untuk mengangguk. "S-sudah, Tuan."Dirga mengambil cangkir itu
Jam sudah menunjukkan pukul 22.45 saat satu per satu staf meninggalkan kafe yang sudah gelap. Hanya tersisa lampu kecil di area bar yang menerangi Elara, Guntur, dan Riko. Mereka sedang menyelesaikan laporan akhir sementara Elara membereskan barang di atas counter dan mengelapnya. Di tengah keheningan itu, terdengar ketukan di pintu kaca depan. Ketiga orang itu menoleh satu sama lain. Akhirnya, sebagai staf senior dan bertanggung jawab atas keamanan di sana, Guntur beranjak dari posisinya. "Biar saya saja yang memeriksanya," katanya seraya meninggalkan Riko yang masih duduk dengan laptop masih menyala. Ia berjalan ke arah pintu, mengintip selama beberapa saat untuk memastikan kalau yang ada di luar sana bukanlah orang mabuk atau orang yang berniat jahat.Namun, sosok yang ia lihat rupanya tampak familiar. Itu Dirga, berdiri di luar tanpa mengenakan jas kantor seperti biasanya, melainkan turtleneck hitam elegan dan coat panjang. Perlahan, Guntur memutar kunci dan membuka pintu. "Se
Elara tiba di bagian belakang The Grind sebelum jam buka. Udara dingin pagi hari yang biasa menusuk kulit, kini tak bisa ia rasakan sama sekali. Pikirannya penuh dengan espresso, noda hitam, dan nasibnya setelah ini. Ia hanya tidur selama dua jam semalam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia melihat lagi kilatan mata Direktur L' Ambrosia saat kopi panas menyiram jasnya. Elara membuang napasnya kasar, lalu menatap sejenak area parkir khusus karyawan yang ia tempati. Hanya ada motor milik petugas kebersihan dan motor matic milik Riko. Gadis itu memarkirkan motornya di sudut, lalu mengunci stang. Motor matic miliknya adalah simbol perjuangannya semenjak pertengahan masa kuliah dan sekarang malah terancam gara-gara secangkir kopi yang tumpah. Elara masuk melalui pintu belakang kafe. Gadis itu segera memakai seragam dengan wajah yang lesu. "Pagi, El," sapa Riko yang sudah berdiri di balik mesin kopi. Ia menatap Elara yang membawa sebuah lap di tangan dengan raut wajah yang tak
Pukul 21.45, Kafe The Grind berada dalam kondisi yang paling tidak menyenangkan di tengah hiruk pikuk kota Jakarta terutama karena ini adalah akhir pekan. Lembap, lengket, dan bising dari suara percakapan orang-orang di dalamnya. Elara Kirana, salah seorang pelayan yang bekerja di sana, sudah berad












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.