MasukDenada melangkah keluar dari paviliun Isabella dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada saat ia masuk. Di balik lapisan hanfu hitamnya yang tebal, ia bisa merasakan gesekan halus dari gulungan kertas yang disembunyikan di balik pakaiannya—sebuah benda yang lebih berat dari emas, karena di dalamnya tertulis garis besar kehancuran pria-pria yang telah menghancurkan hidupnya.Kertas itu bukan sekadar daftar nama, itu adalah kunci menuju sebuah pintu terlarang. Isabella telah memberikannya daftar orang-orang di tanah Debi yang bisa ia hubungi.Namun, Denada masih merasa ini belum cukup. Sembari melangkah menyusuri selasar yang sepi, matanya menatap lurus ke depan, hampa namun penuh perhitungan.Cucu mengikuti di belakangnya dengan langkah kecil yang terburu-buru, kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan kecemasannya dari mata-mata istana yang mungkin mengintip dari balik pilar. Sementara itu, Althaf Rumi tidak lagi berada di sisi mereka, ksatria itu telah kembali ke barak utama
Denada melangkah dengan terburu-buru, jubah mantelnya berkibar tertiup angin, sementara tangannya menggenggam erat ujung kainnya. Hatinya tidak tenang. Meskipun ia baru saja berhasil meredakan amarah Alon dan membebaskan Isabella dari tuduhan pengkhianatan berat, rasa sesak di dadanya justru semakin menguat.Alon telah mengizinkannya pergi dengan lambaian tangan yang meremehkan, seolah-olah pengampunan yang diberikannya adalah sebuah kado murah yang bisa ditarik kembali kapan saja. Denada tahu benar watak pria itu, Alon tidak pernah benar-benar mengampuni. Jika pria itu membiarkan Isabella pergi dari hadapannya, pasti ada sesuatu yang tertinggal.Langkah kaki Denada bergema kaku di lantai koridor saat ia mendekati paviliun kediaman Isabella. Tempat itu kini tampak begitu sepi, hanya dijaga oleh dua pengawal yang menatapnya dengan pandangan kosong. Tanpa menunggu pengumuman, Denada mendorong pintu kayu berat itu. Begitu ia melangkah masuk, aroma dupa krisan yang biasanya menenangk
Di atas meja batu, asap tipis membumbung dari cangkir susu jahe yang pedas-manis, menemani piring berisi bakpao daging yang masih mengepulkan uap hangat. Denada menyesap minumannya perlahan, merasakan panas jahe menjalar ke kerongkongannya, mencoba mengusir sisa-sisa rasa dingin yang seolah telah mengerak di tulang-tulangnya. Cucu, di sisi lain, tampak sangat menikmati suasananya. Ia memakan bakpao dengan lahap, pipinya menggembung lucu sementara ia terus mengoceh tentang betapa empuknya adonan tepung tersebut. Sesekali Denada tersenyum tipis melihat tingkah pelayan setianya itu. Baginya, momen sederhana seperti ini adalah kemewahan langka di tengah badai intrik yang mengepung hidupnya. Namun, suasana santai itu tidak menular pada Althaf Rumi. Ksatria itu tetap berdiri tegak di luar Gazebo, punggungnya lurus seperti tombak, dan tangannya tidak pernah lepas dari gagang pedang. Ia menolak dengan sopan saat Denada menawarinya susu jahe, lebih memilih untuk tetap menjadi patung
Denada melangkah perlahan menyusuri jalan setapak taman istana yang sudah dibersihkan dari tumpukan salju semalam. Di belakangnya, Althaf Rumi mengikuti dengan jarak yang sangat terukur. Pria itu bergerak dengan efisiensi seorang prajurit sejati, tidak ada suara gesekan zirah yang berlebihan, tidak ada langkah kaki yang ceroboh. Althaf benar-benar menyerupai sebuah robot atau patung hidup yang hanya memiliki satu fungsi: melindungi tanpa suara.Kehadiran Althaf yang begitu kaku terkadang membuat Denada merasa canggung, namun di sisi lain, ada stabilitas yang tidak pernah ia rasakan dari pengawal Alon yang lain. Ksatria ini tidak menatapnya dengan pandangan merendahkan atau penuh nafsu terselubung. Althaf hanya... ada di sana.Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah gazebo tua yang terletak di sudut paling terpencil di taman belakang Harem. Gazebo itu terbuat dari kayu hitam yang dipoles hingga mengilap, dikelilingi oleh barisan pohon plum yang mulai menampakkan kuncup-kuncup bunga
"Maafkan aku," ucap Arthur pelan, suaranya parau dan sedikit pecah. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang entah mengapa terasa lebih sulit dicari daripada saat memimpin ribuan pasukan. "Alih-alih datang untuk meminta maaf padamu dengan benar, aku justru meledak marah dan membentakmu semalam. Maafkan aku, Diana. Saat itu... aku merasa bingung dan sangat marah pada diriku sendiri, juga padamu."Arthur berhenti sejenak, lalu mendongak sedikit untuk melirik reaksi Diana, meski ia segera menunduk kembali saat melihat ketenangan wajah istrinya. "Menurutku, seharusnya kau merasa senang atau setidaknya sedikit bangga karena aku berusaha menghindari mereka mati-matian hanya untuk menjaga kesetiaanku padamu. Namun, responmu yang justru memarahiku dan menganggap tindakanku ceroboh... itu membuatku berpikir bahwa kau tidak lagi memedulikanku. Aku berpikir jika kau tidak mencintaiku lagi, maka kau tidak akan keberatan mengirimku ke ranjang wanita lain sesering mungkin."Di
Aroma teh melati yang mengepul hangat dari cangkir porselen di tangan Diana seharusnya mampu memberikan ketenangan, namun suasana di paviliun pagi itu justru terasa gerah karena tumpahan emosi yang belum juga mereda. Di hadapannya, Rany masih mengoceh tanpa henti. Mantan kepala penjaga bayangan pribadinya itu, yang kini telah menjadi nyonya rumah dari kediaman Jenderal Sai, tampak benar-benar meledak. Ia menceritakan setiap detail kabar burung yang sampai ke telinganya, menyeka sudut matanya yang kering namun penuh amarah, dan sesekali memukul meja kecil di sampingnya untuk menekankan betapa hancurnya martabatnya sebagai seorang istri.Diana menyesap tehnya dengan tenang, matanya menatap permukaan air yang jernih sembari mendengarkan ocehan Rany. Ia tidak menyela, sebab ia tahu Rany hanya butuh wadah untuk mengeluarkan racun di hatinya. Namun, jauh di lubuk hati Diana, ia pun merasakan denyut pening yang serupa. Para pria di sekelilingnya benar-benar sedang berada di fase yang san
Hari perjamuan pangan akhirnya tiba.Sejak pagi, Istana Kekaisaran Norvenia sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan hilir mudik membawa nampan makanan, kain meja baru dibentangkan, lentera-lentera emas digantung rapi di sepanjang koridor menuju Aula Utama.Namun bagi Diana, hari ini bukan sekadar p
Harsa melangkah dengan tergesa ke halaman belakang istananya, jubah panjangnya terseret angin sore yang mulai menggigit. Langkahnya yang semula cepat perlahan melambat ketika sosok berbalut mantel putih itu memasuki pandangannya. Diana berdiri membelakanginya, rambut hitamnya terurai rapi dengan
“Bagaimana bisa Putra Mahkota diculik?!”Suara Kaisar menggema keras di aula dalam istana kekaisaran.BRAK!Telapak tangannya menghantam meja kayu ukir hingga tinta di atasnya bergetar. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini tampak tegang dan panik. Garis-garis usia di dahinya semakin dalam, me
“Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena di







