LOGINPerasaan Vera masih bergemuruh saat ia melangkah keluar dari rumah itu. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, melainkan karena terlalu banyak emosi yang ia tahan dalam waktu bersamaan. Kata-kata ayahnya masih terngiang jelas di kepalanya, begitu juga bisikan kejam Jenny yang seolah menancap dan sulit dicabut.Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh saat ia masuk ke dalam mobil. Tanpa menoleh ke siapa pun, ia langsung duduk dan bersandar, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.“Ke kantor aja, Pak…” ucapnya singkat.Supir hanya mengangguk pelan, memahami dari nada suara Vera bahwa hari ini bukan waktu yang tepat untuk banyak bertanya.Sepanjang perjalanan, Vera memilih diam. Pandangannya tertuju ke luar jendela, tapi pikirannya jauh melayang. Ia tidak benar-benar melihat apa pun. Semua yang terjadi beberapa menit lalu terus berputar di kepalanya, mengaduk perasaan hingga sulit dibedakan mana marah, mana kecewa.Ia hanya butuh satu hal. Tempat untuk bernapas. Dan entah kenap
‘’Vera, jangan begitu Sayang. Kamu tetap anak Papa dan Mama,’’ ucap Sari menenangkan putrinya.‘’Anak ? Sejak kapan Ma ?’’ tanya Vera, ‘’Vera pikir, setelah menikah, kalian bisa berubah sama Vera. Tapi ternyata, pernikahan Vera justru malah kalian manfaatin,”Brakkk!Sapto menggebrak meja makan di depan nya. Matanya menatap tajam ke arah Vera. Tapi Vera tak gentar,d ia justru membalas tatapan tajam itu.‘’Sepertinya Vera harus pulang sekarang. Teriamkasih Ma atas undangan nya!’’ ucap Vera, dia mengambil tas nya dan langsung berjalan pulang.‘’Vera, sayang denger dulu penjelasan Mama Nak, Vera. Jangan pulang dulu, ‘’ Sari menahan tangan vera.‘’Biarkan saja dia pergi, anak durhaka sepertinya tidak pantas lama lama disini!’’ ucap Sapto dingin.Sekali lagi. Vera tersneyum getir. Dia menatap ayahnya penuh kekecawaan. Saat itu juga, Vera benar benar memutuskan untuk pergi.Tapi, saat langkah Vera sudah hampir mencapai pintu ketika suara langkah cepat terdengar dari belakang.“Vera!” Jenny
Beberapa detik setelah kalimat itu terucap, suasana di ruang tamu terasa berubah.Jenny masih berdiri di tempatnya, senyum di wajahnya perlahan memudar. Tatapannya menajam, mencoba mencari celah sesuatu untuk membalik keadaan seperti biasanya.Namun Vera tidak memberinya kesempatan. Ia melangkah melewati Jenny begitu saja, tanpa menoleh lagi.“Ver!” panggil sebuah suara dari arah dalam.Ibunya muncul dari dapur dengan wajah berbinar. Tangannya masih memegang sendok, tanda ia benar-benar sedang memasak.“Ya ampun, akhirnya kamu datang juga!” ucapnya senang, langsung mendekat dan memeluk Vera hangat.Vera membalas pelukan itu, sedikit lebih lama dari biasanya. Ada rasa rindu yang tiba-tiba muncul. Tapi tak bisa di pungkiri, jauh di sudut hatinya masih tersimpan rasa sakit.“Iya, Ma…” jawabnya pelan.Ibunya menatap wajah Vera, mengamati sebentar.“Kamu capek ya?” tanyanya lembut.“Enggak kok.” Namun matanya tidak bisa sepenuhnya berbohong.“Ya sudah, sana cuci tangan dulu. Mama udah masa
Pagi hari kembali berjalan seperti biasa.Cahaya matahari masuk melalui jendela apartemen, menerangi ruang makan yang kini terasa lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya. Aroma makanan sederhana menguar dari dapur Vera berdiri di sana dengan pakaian santainya, rambut diikat asal, sibuk menyiapkan sarapan.Sementara di sisi lain, Revan sudah rapi dengan setelan kerja. Jasnya terpasang sempurna, jam tangan melingkar di pergelangan tangannya siap menghadapi hari yang sibuk.Ia melangkah mendekat ke meja makan, menarik kursi, lalu duduk.“Hari ini mau ke mana?” tanyanya sambil menuangkan air ke dalam gelas.Vera yang baru saja selesai menata piring langsung menghembuskan napas panjang.“Gak tahu…” jawabnya lemas. Ia duduk di kursi, lalu merebahkan kepalanya di atas meja makan. “Aku bosen banget kalau gak kerja begini, sumpah.”Nada suaranya terdengar jujur. Ia terbiasa sibuk. Terbiasa bergerak. Dan sekarang… diam seperti ini justru terasa menyiksa.Revan menatapnya sekilas.“Ke rumah
Sore hari menjelang malam, langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan saat mobil Revan melaju memasuki halaman rumah Mama Vita. Udara terasa lebih hangat, berbeda dengan suasana apartemen yang cenderung sunyi. Hari itu, mereka datang memenuhi undangan makan malam atau lebih tepatnya, panggilan yang tidak bisa ditolak. Begitu pintu rumah terbuka, mama Vita langsung menyambut mereka. “Akhirnya kalian datang juga!” suara Mama Vita langsung terdengar penuh semangat. “Ayo, sayang, masuk!” Namun yang membuat Revan terpaku bukan sambutannya… melainkan arah pelukan itu. Mama Vita langsung merangkul Vera dengan penuh sayang, seolah menantu barunya itu adalah pusat dunia. Revan yang berdiri tepat di sebelahnya hanya bisa melongo. “Ma… anak Mama di sini loh,” protesnya, wajahnya benar-benar tak percaya. Mama Vita bahkan tidak melirik. “Kamu sudah besar,” jawabnya enteng, nyaris tanpa jeda.
Waktu berjalan begitu cepat. Tiga hari terakhir terasa seperti jeda yang aneh dalam kehidupan mereka bukan liburan, tapi juga bukan rutinitas biasa. Atas permintaan Mama Vita, Vera dan Revan harus tetap menginap di hotel setelah pernikahan mereka. Tidak ada alasan yang bisa mereka gunakan untuk menolak.Jadilah selama tiga hari itu, mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar yang sama.Bersama.Awalnya canggung. Sangat canggung. Namun perlahan… mereka mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Dengan obrolan-obrolan kecil, makan bersama, bahkan diam bersama tanpa harus selalu mengisi suasana dengan kata-kata.Dan kini akhirnya mereka bebas.Lift apartemen berbunyi pelan saat pintunya terbuka. Revan melangkah keluar lebih dulu, diikuti Vera di belakangnya. Langkah mereka terasa lebih ringan, seolah beban tak kasat mata yang menahan selama tiga hari terakhir akhirnya terlepas.Revan menoleh sedikit ke arah Vera.“Kamu mau tinggal di
Ola bersedekap tangan di dada. Bahunya tegak, dagunya sedikit terangkat. Tatapannya lurus ke depan, menembus dinding kaca besar yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi berdiri angkuh, kendaraan bergerak seperti barisan semut yang tak pernah berhenti. Semua tampak normal. Ha
Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menol
Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pa
“Om Dirga,” Wilona memotong cepat, napasnya mulai tak beraturan, “tolong kasih tahu aku. Di mana Mas Yudha sekarang?”Hening lagi. Lalu satu kalimat yang langsung meruntuhkan seluruh dunia Wilona.“Pak Yudha, di rumah sakit, Non !’’‘’Siapa yang sakit Om?” suaranya nyaris tak terdengar.“Tadi sore,







