เข้าสู่ระบบ“Mmhh!” Nafas Elira lolos saat Cassian terus berusaha membuatnya membuka bibirnya.Dengan pelan, pria itu berusaha mengimbangi Elira yang terlihat kewalahan dari tempo miliknya. Nafas mereka berpadu, bersama angin malam di istana selatan terasa lebih hangat dari biasanya. Angin laut berhembus pelan melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa suara ombak yang menenangkan. Cahaya bulan masuk dengan lembut, menyelimuti ruangan dalam nuansa keperakan yang tenang.Elira berdiri diam di dekat ranjang. Jantungnya belum sepenuhnya tenang sejak percakapan mereka tadi.Cassian masih memeluknya lembut. Menciumnya pelan. Tidak tergesa. Tidak juga memaksa. Namun cukup untuk membuat nafas Elira sedikit tertahan.“Masih ingin pergi menjauh dariku?” suara Cassian rendah, namun lembut disela ciuman mereka.Elira tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sedikit. Kedua tangannya masih menempel di dada seolah memberi jarak antara dia dan Cassia
“Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil meremas gaun miliknya.Hati Elira kembali sakit. Meski sudah di istana selatan, kabar tentang Marielle tetap saja membuat Cassian menjauh darinya. Namun, disisi lain, dirinya juga paham bagaimana khawatirnya Raja saat mendengar wanita yang dicintainya tiba-tiba diserang.“Antar aku ke pantai sekarang. Aku tidak ingin berdiam diri di bangunan yang sepi ini.” Elira bangkit seketika dan berjalan keluar.Para dayang saling melihat, namun bergegas mengikuti sang Ratu dari belakang. Elira pergi tanpa pamit dan persetujuan Cassian.Seharian itu, Cassian hampir tidak meninggalkan ruang kerjanya. Meja di depannya dipenuhi gulungan laporan yang bahkan tidak benar-benar i
“Lady Marielle, Sir Enzo… sudah pagi, saatnya bangun...” Suara Diana terdengar pelan, namun cukup untuk memecah sunyi pagi itu.Cahaya matahari sudah masuk melalui jendela, menyinari kamar yang semalam penuh ketegangan.Marielle mengerjap pelan, ia merenggangkan badan. Di sisi lain, Enzo juga tersentak bangun dari kursi tempat ia berjaga semalaman. Punggungnya terasa pegal, namun matanya langsung mencari satu sosok, siapa lagi jika bukan Marielle.Dan, tatapan mereka bertemu. Hening, untuk sesaat, tidak ada yang bergerak. Hanya ada mata yang saling pandang.Marielle masih setengah terbungkus selimut, rambutnya sedikit berantakan. Sementara Enzo, dengan posisi duduk yang tidak rapi, menatapnya seolah memastikan sesuatu.Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Bukan ketakutan yang terasa, melainkan sesuatu yang aneh.Degup jantung keduanya cepat seketika. Tak teratur.Marielle yang pertama kali mengalihkan pandangan. Pipinya memanas tanpa alasan yang jelas. Enzo pun sama. Ia berdehem
“Enzo, bagaimana perkembangan latihan Lady Marielle denganmu?” tanya salah satu rekan Enzo.“Lumayan bagus,” jawabnya singkatEnzo yang masih mengelap pedang, hanya tersenyum samar, mengingat bagaimana perkembangan dari Marielle beberapa hari terakhir ini.Baru selesai menjawab, mereka dikejutkan oleh sesuatu. Suara gaduh di area ksatria malam itu membuat mereka otomatis bersiap.Langkah kaki berlari, bisikan cepat, dan wajah-wajah serius membuat suasana yang tadinya tenang berubah menjadi penuh kegelisahan.“Apa yang terjadi?” tanya Enzo penasaran. Tangannya sudah memegang pedang erat, bersiap jika skenario terburuk terjadi.Seorang prajurit menoleh cepat. “Lady Marielle…” Kalimatnya terpotong sejenak, seolah masih sulit dipercaya.“Dia diserang.”Darah Enzo seolah berhenti mengalir. Pria itu terdiam sejenak untuk mencerna semua.“Apa?” Suaranya meninggi.“Seorang pria misterius, tiba-tiba masuk ke kamarnya dan berusaha untuk menyerang dia,” jelas prajurit itu.Tanpa menunggu penjela
“Sekali lagi. Lebih keras!” Enzo terus menyemangati Marielle.Sore itu, halaman belakang istana dipenuhi suara denting logam dan langkah kaki yang teratur.Mulai hari ini Marielle berlatih menggunakan pedang sungguhan. Meski awalnya sedikit kesusahan karena perbedaan berat dan pegangan, tapi dirinya berhasil beradaptasi sangat cepat.“Bagaimana? Apa aku sudah bagus?” tanya Marielle dengan nafas terengah-engah.Keringat membasahi pelipisnya. Pedang di tangannya terasa semakin berat, namun ia tetap melanjutkan gerakannya untuk menyerang Enzo sekali lagi.“Cukup.” Suara Enzo menghentikannya.Marielle menurunkan pedang perlahan. Dadanya naik turun, tubuhnya jelas kelelahan.“Anda memaksakan diri, Lady,” lanjut Enzo sambil mendekat. “Latihan berlebihan tidak akan membuat Anda lebih kuat dalam semalam.”Marielle menghela nafas panjang, lalu menyeka keringat di wajahnya.“Aku tidak punya banyak waktu untuk menjadi lemah.” Kalimat itu keluar begitu saja.Enzo menatapnya tajam. “Apa Anda masi
Langit Valerante masih diselimuti warna kelam saat Aldric berdiri di depan jendela besar itu. Gulungan pesan yang baru saja ia terima kini sudah tergeletak di meja. Namun pikirannya jelas belum berhenti bekerja. “Siapkan orang,” ucapnya singkat, tanpa menoleh. Jackson yang berdiri di belakangnya langsung mengernyit halus. “Untuk apa, Grand Duke?” Aldric menyilangkan tangan di dada. Ia berbalik, melihat Jackson lurus dan tajam “Tentu saja dikirim menuju istana selatan. Aku ingin memastikan rencana bulan madu itu tidak berjalan semulus yang mereka harapkan.” Suaranya rendah, tapi terdengar menyeramkan. Namun Jackson tidak langsung bergerak. Hatinya yakin jika ini adalah sesuatu yang salah. Ia berdiri tegak, menatap atasannya. “Grand Duke,” katanya hati-hati, “penjagaan di istana selatan pasti diperketat. Raja membawa Ratu. Dalam kondisi seperti mustahil kita mengirim orang kesana untuk mengganggu mereka,” jelasnya pelan, mengharap Aldric juga memikirkan tentang resiko dari obses
“Yang Mulia, jika kita melakukannya, ini menjadi sebuah penghinaan pada Ratu.” Marielle menahan tubuh Cassian agar tak mendekat.Jantungnya berdebar cukup kencang, makin dirinya melihat wajah sang Raja, rasa di hatinya makin tak menentu.“Sayang… tidak apa-apa. Lagipula Ratu tak menginginkan malam
“Setidaknya untuk saat ini aku berhasil menyingkirkan manusia aneh itu dari hadapanku,” batinnya puas. Ia berleha-leha di kursi empuknya sambil mengibas-ngibaskan kipas. Secangkir teh panas yang tersedia dan beberapa biscuit kini terasa jauh lebih nikmat dibanding kemarin.“Diana, apa kau tau hal
“Jaga omongan Anda, Grand Duke!” Marielle menampar Aldric keras hingga tangannya ikut merasakan panas saat beradu dengan pipi laki-laki tersebut.Aldric mengerutkan kening, dirinya sedikit shock karena pertama kalinya Marielle berani melawan bahkan menamparnya.“Dasar wanita murahan!” Aldric menari
“Yang Mulia, apa yang akan Anda lakukan sekarang?” tanya Ronald, ia berdiri di belakang Raja. Tanpa menjawab, Cassian melenggang pergi dari depan kamar Ratu. Kedua tangannya menggenggam erat dan berjalan cepat, membuat Ronald sedikit kesulitan menyamakan jarak. Cassian membuka pintu ruang kerjany







