Mag-log in"Cepat ambilkan air hangat, Diana!" seru Marielle panik seraya beranjak dari kursinya.Diana yang tak kalah syok buru-buru berlari ke dapur, sementara Marielle mengikis jarak dan berdiri di samping Aldric. Tanpa berpikir panjang, jemari halus Marielle menepuk-nepuk punggung lebar dan besar sang Grand Duke seraya mengurut tengkuknya pelan untuk meredakan sumbatan di tenggorokannya."Minum ini dulu, Grand Duke!" Diana kembali dengan memegang cangkir tanah liat berisi air hangat.Marielle langsung menyambar cangkir itu dan menyodorkannya ke bibir Aldric. Pria itu dengan cepat meraih cangkir tersebut dengan tangan gemetar, meneguk air hangat di dalamnya dalam beberapa tegukan besar hingga nafasnya perlahan-lahan kembali teratur.Wajah tampan Aldric yang memerah padam kini tertunduk dalam. Pria itu menyandarkan kedua sikunya di atas meja kayu, menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan seraya dengan nafas yang terengah-engah.Gengsinya yang setinggi langit rasanya runtuh tak ber
"Aku hanya kebetulan lewat," sahut Aldric cepat tanpa berpikir panjang.Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, mata hitam Aldric membelalak tipis. Pria itu merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. “Jawaban konyol macam apa itu?” batinnya frustasi. Jalur ini adalah jalan buntu yang hanya mengarah ke rumah Marielle dan area hutan. Tidak ada alasan logis bagi seorang Grand Duke untuk kebetulan lewat menjelang malam di jalan pinggir desa begini.Marielle hanya menatap pria di hadapannya selama beberapa detik tanpa ekspresi."Oh... begitu," respon Marielle datar.Tanpa membuang waktu atau bertanya lebih jauh, Marielle memegang tepi pintu dan langsung mendorongnya untuk ditutup."Tunggu!"Dengan refleks secepat kilat, Aldric menahan daun pintu kayu itu menggunakan telapak tangannya yang besar. Tenaganya yang kuat membuat gerakan pintu seketika terhenti kaku.Marielle menghentikan dorongannya. Alis peraknya bertaut tajam saat menatap jari-jari tegap Aldric yang mencengkeram tep
"Grand Duke," panggil Marielle dengan suara yang jernih dan tenang.Langkah tegap Aldric terhenti. Ia berbalik, menatap Marielle dengan alis terangkat. "Ada apa lagi?""Terima kasih atas kebaikan Anda. Saya pamit untuk pulang," ujar Marielle lugas. "Saya akan kembali ke rumah saya sendiri di pinggir desa."Aldric membelalakkan mata. Kerutan di dahinya dalam seketika. "Rumahmu? Maksudmu pondok kecil itu?""Benar," sahut Marielle tanpa ragu. "Tempat itu adalah rumah saya yang sebenarnya di Valerante. Diana dan saya akan tinggal di sana."Dada Aldric berdesir kencang. Rasa tidak rela mendadak membakar batin sang Grand Duke. Bagaimana mungkin ia membiarkan wanita yang baru saja pulih dari ancaman racun istana tinggal di tempat terpencil di pinggir desa?"Tidak bisa," potong Aldric tegas, melangkah mendekati Marielle. "Rumah itu sudah lama kosong dan letaknya terlalu dekat dengan area hutan. Kondisimu belum…" Kalimat Aldric terjeda."Grand Duke Aldric!" Sebuah seruan nyaring memot
“Tanpa kau suruh, aku juga akan memakannya,” balas Marielle dingin.Aldric hanya bisa terdiam. Dirinya sebenarnya kesal, namun untuk menjaga suasana tetap terjaga, untuk sekarang dia lebih memilih untuk mengalah.“Grand Duke, terima kasih atas bantuanmu. Karenamu, aku bisa keluar dari istana.” Suara lirih Marielle menghentikan tangan Aldric yang terus mengaduk sup di mangkuk miliknya.“Kau tidak perlu berterima kasih. Anggap saja itu balas budiku karena kau sudah membantuku melawan Heinry.”Suasana kembali hening. Perlahan Aldric mengangkat kepalanya dan melihat wanita yang duduk di seberang. Ia melihat Marielle mengangguk dengan tatapan kosong. Meski begitu, di mata Aldric Marielle terlihat sangat cantik.Namun, ia segera menepis semua itu. Ia langsung menggelengkan kepala pelan dan kembali fokus pada makanannya.“Habiskan makananmu. Dan cepat tidur, karena besok pagi kita harus melanjutkan perjalanan.”“Iya…”Sup daging di mangkuk mereka akhirnya habis. Keheningan yang menyelimuti
“Lady, Anda tadi sangat berani bicara tegas depan Raja. Anda tidak takut jika Yang Mulia Marah?” Diana mendekat pada Marielle saat dalam kereta kuda.“Justru itu. Aku harus membuatnya membenciku agar rumah tangga Raja dan Ratu bertahan lebih lama. Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang,” balas Marielle enteng dengan pandangan yang terus melihat keluar jendela.“Begitu… bagi saya, Lady tadi sangat keren.” Diana menyunggingkan senyum sumringah.Marielle membalas senyum itu sebentar, lalu kembali menatap jalanan yang mereka lalui.Di dalam kereta, Marielle bersandar pada bantalan beludru, menatap pepohonan pinus tinggi yang mulai menggantikan deretan bangunan megah ibukota. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, dadanya tak lagi terasa sesak.Sesekali, pandangan Marielle bertemu dengan Aldric yang menunggang kuda. Namun setiap mata mereka bertemu, keduanya langsung memalingkan muka. Seolah menghindari satu sama lain.Memasuki senja, kabut tebal khas daerah pegunungan mulai turu
"Kau tidak boleh pergi!" Suara Cassian yang bernada menahan kemarahan memecah keheningan pelataran utama. Beberapa pengawal istana di ambang gerbang refleks menegakkan tubuh, merasakan atmosfer di antara para bangsawan tinggi itu mendadak menegang.Marielle menghentikan langkahnya tepat di depan anak tangga. Ia berbalik perlahan, mempertahankan gestur tubuhnya yang tenang dan anggun. Sorot mata peraknya menatap Cassian lurus-lurus tanpa menyisipkan sedikitpun rasa takut."Apa yang membuat Yang Mulia menahan saya?" tanya Marielle, suaranya terdengar lembut namun tegas. "Kondisi tubuh saya sudah sangat stabil, dan batas waktu dua hari yang Yang Mulia berikan telah genap saat matahari terbit pagi ini."Cassian melangkah maju satu langkah, mencoba menguasai situasi yang membuatnya pelik. "Marielle, keputusanmu terlalu terburu-buru. Kau baru saja membaik dari luka yang serius. Sebagai pelindung wilayah Minerva, aku tidak bisa membiarkan pahlawan yang telah menumpahkan darahnya untu
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia







