แชร์

11 - Rutinitas Baru

ผู้เขียน: Lyn Zi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-29 13:00:33

Pukul 05.30 Pagi.

Meira membuka mata. Hal pertama yang ia sadari adalah langit-langit kamar yang bukan miliknya. Hal kedua, manusia asing yang tertidur meringkuk sambil menghadapnya. Bibir seksinya itu sedikit terbuka, mengeluarkan suara dengkuran halus.

"Kenapa saat tidur pun dia tetap tampan sih," gerutu Meira. Ia kemudian menyeret tubuhnya turun dari kasur. Ia menyusuri lorong yang sepi menuju area dapur. Ia butuh kafein, kebiasaannya setelah bangun tidur. Namun, langk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menikahlah, Nona! Pewaris Playboy Tergila-Gila Padamu!   98 - Aku Menyukaimu

    "Dia mantan pacarku. Tidak ada yang spesial," ucap Meira akhirnya. "Cukup itu yang perlu kamu tahu."Lucien menopang kepalanya dengan sebelah tangan."Hm... tidak ada yang spesial?" "Ya. Dan sekarang dia tidak ada hubungannya dengan aku, kamu, atau kontrak pernikahan kita."Lucien menaikkan sebelah alisnya. "Apa kamu berbohong padaku soal tidak pernah memasuki ruang kerjanya?"Meira membelalakkan mata. "Aku tidak bohong!""Oh?""Aku tidak seperti wanita-wanita lain yang selalu ingin tahu semua detail pekerjaan pasangannya. Aku menghargai privasi Rafael." "Bukan begitu, Meira," potong Lucien pelan. "Kamu tidak pernah masuk ke ruang kerjanya bukan karena menghargai privasinya."Meira mengernyit. "Lalu karena apa menurut pandangan sok tahumu itu?""Kamu itu hanya tidak cukup peduli padanya."Meira bungkam seketika. Ia ingin membantah, tapi tidak ada argumen yang tepat yang bisa ia keluarkan dari mulutnya."Terserah," desis Meira. Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela.Lucien mengama

  • Menikahlah, Nona! Pewaris Playboy Tergila-Gila Padamu!   97 - Kamu Khawatir Padaku?

    Ruangan menjadi sunyi setelah Hans keluar. Meira masih berdiri kaku dengan napas memburu. "Aku tidak paham maksudmu, Meira," ucap Lucien. Meira melangkah maju. "Oh tentu saja kamu paham! Semua tindakanmu hari ini!" Meira mengerang frustrasi, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kamu sengaja melakukan ini, kan?" "Melakukan apa?" Lucien mengangkat sebelah alisnya. "Kalau kamu curiga aku berpura-pura sakit dan menyuap dokter agar dirawat di sini, kamu bisa panggil dokternya sekarang. Tekan tombol merah di samping ranjang." "Bukan itu maksudku!" "Lalu apa?" Lucien meletakkan tabletnya ke pangkuan. "Kamu berhasil menyelesaikan urusanmu dengan bantuanku. Bukankah seharusnya kamu berterima kasih padaku?" Meira mengepalkan kedua tangannya. "Itu! Persis seperti itu!" "Apa, Meira?" "Kamu sengaja membantuku saat kamu sedang sakit sampai harus dirawat segala!" Meira menunjuk ke arah selang infus, lalu menunjuk wajah pucat Lucien. "Kamu membuatku terlihat seperti monster!" Lu

  • Menikahlah, Nona! Pewaris Playboy Tergila-Gila Padamu!   96 - Urusanmu Sudah Selesai?

    "Ini bukan sekadar masalah format, Meira." Pierre melemparkan proposal ke atas meja. Tumpukan lima puluh halaman itu bergeser. "Ada indikasi manipulasi di dalam data penelitianmu." Meira mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua telapak tangannya bertumpu pada permukaan meja. "Manipulasi apa?" tanya Meira. Nada suaranya naik. "Semua data yang ada di dalam proposal ini sudah teruji." Zayn berdiri di sisi kanan Meira. Ia hanya melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Pierre dengan tajam. "Kamu memasukkan variabel lain tanpa persetujuan komite kampus. Itu pelanggaran prosedur," balas Pierre sambil merapikan kerah kemejanya. "Lihat halaman terakhir," sela Zayn dengan tenang. Pierre mengibaskan tangannya di udara. Pria paruh baya itu berdiri dari kursinya. "Proposal ini tetap tidak memenuhi standar kelayakan," ucap Pierre. "Anggarannya tidak masuk akal. Pihak kampus tidak akan mempertaruhkan dana fellowship departemen untuk proyek yang rentan gagal." "Proyek ini punya pelua

  • Menikahlah, Nona! Pewaris Playboy Tergila-Gila Padamu!   95 - Bukan Prioritasmu

    Meira perlahan membuka matanya. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. "Ah... aku ketiduran."Meira menyingkap selimutnya dan berjalan malas ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di area dapur.Di ujung meja makan, Lucien sudah duduk dengan tangan kanannya memegang cangkir dan tangan kirinya sibuk menggulir layar ponsel. Pria itu menyesap kopi hitamnya pelan. Ia sama sekali tidak menoleh saat Meira menarik kursi dan duduk tepat di seberangnya.Keheningan menyelimuti ruang makan.Meira menatap suaminya. Pria itu terus menatap layar ponselnya. Tidak ada sapaan selamat pagi. Tidak ada candaan seperti biasanya. Lucien bertingkah seakan Meira tidak ada di ruangan itu.Meira meletakkan kedua tangannya di atas meja."Lucien! Jangan mulai perang dingin lagi!" seru Meira.Lucien menghela napas pelan sambil meletakkan cangkirnya di atas meja."Aku tidak memulai apapun, Meira," balas Lucien dengan nada datar."Kamu tidak berbicara denganku sejak kemarin siang. Kamu membuangku ke ka

  • Menikahlah, Nona! Pewaris Playboy Tergila-Gila Padamu!   94 - Aku Menyesal Ikut

    Meira terdiam. Ia mengerjap beberapa kali."Kenapa kamu tidak bilang kalau sudah kembali ke Elaris?!" seru wanita itu lagi. "Kenapa kamu ada di area dapur? Kalian berdua sedang bernostalgia?"Rafael, yang berdiri kaku di ujung meja langsung membuang buku catatan di tangannya. Ia berlari kecil menghampiri wanita itu."Kak Jean, hentikan." Rafael menarik tangan wanita itu agar melepaskan bahu Meira. "Jangan buat keributan di sini."Jean menepis tangan adiknya. "Aku tidak sedang buat keributan, Rafael. Aku hanya senang melihat Meira lagi setelah sekian lama. Jadi, kalian pacaran lagi?"Keheningan menyelimuti ruangan. Para staff menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah Lucien."Siapa yang berpacaran dengan siapa?" tanya Lucien sambil menghampiri Meira.Jean beralih menatap Lucien dari atas ke bawah. Alis wanita itu berkerut tipis."Tentu saja Meira dan Rafael," jawab Jean dengan ketus. Ia menunjuk wajah adiknya

  • Menikahlah, Nona! Pewaris Playboy Tergila-Gila Padamu!   93 - Cokelat Asam Yang Manis

    Pintu ruang kerja Rafael tertutup rapat. Meira kini duduk sendirian di atas sofa. Ia mengangkat tangan dan menyentuh pipi kanannya secara refleks. Ia menatap karpet berbulu kasar di bawah sepatunya, lalu mengalihkan pandangan ke meja kerja Rafael. Otaknya langsung membayangkan maksud kalimat Lucien tadi.Bulu kuduk Meira meremang.Ia langsung melompat dari sofa dan menepuk-nepuk celana bagian belakangnya. Ia menatap sofa, meja, dan karpet itu bergantian dengan tatapan jijik."Si bajingan tampan itu!" rutuk Meira sambil menyambar tasnya dari atas meja.Ia keluar dari ruangan dan langsung menuruni tangga menuju lantai satu.Suara mesin pendingin dan denting loyang logam terdengar sangat jelas. Meira melewati lorong dan mendorong pintu kaca pembatas area dapur.Beberapa staff berseragam koki sibuk bekerja di meja masing-masing.Di ujung meja paling besar, Lucien dan Rafael berdiri berhadapan. Rafael memegang sebuah termometer besar."Ovenmu ini panasnya tidak merata," kata Lucien."Ini

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status