LOGINDominic menggesekkan kedua hidung mereka. Senyum pun terlukis di bibir Catriona yang sudah kehilangan lipstiknya, namun tetap bewarna pink alami.Bibir keduanya saling bertemu dan kembali memberikan kenikmatan satu sama lain. Kini Dominic melakukannya dengan lembut, tak mau tergesa-gesa dan membuat Catriona cepat sampai ke puncak lebih dulu. Ia ingin mencapainya bersama-sama.Kecupan itu tak lagi berada di bibir, melainkan sudah turun ke leher Catriona. Sudah banyak jejak kepemilikan yang ditinggalkan Dominic di sana. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat, kala Dominic mulai bermain intens di dua bukit favoritnya.Tubuh Catriona mulai bergerak gelisah. Ia benar-benar masih sensitif. Namun, Dominic sudah kembali menjelajahi tubuhnya. Tak mau melewatkan sejengkal pun yang nampak di depan matanya. Gigitan-gigitan lembut menyambut erangan yang lembut, suara Catriona sudah terdengar parau.Dominic melepaskan genggaman tangannya. Tangan kokoh itu tak lagi menganggur. Ia sudah bergerak
"Aku tak mau memaksa!" Dominic ingat betul bagaimana saat Catriona tersiksa karena melakukan hal itu. Itu sebabnya ia tak pernah lagi melakukannya saat bercinta."Aku sendiri yang menginginkannya!" ucap Catriona.Perlahan Dominic pun melepaskan cengkraman-nya, ia tak lagi menghalangi Catriona.Jemari lentik Catriona sudah berhasil meloloskan short pendek yang dikenakan suaminya. Dan hanya menyisakan satu-satunya penutup tubuh suaminya yang kekar nan atletis itu."Honey ..." Dominic mati-matian menahan hasrat yang hampir meledak. Saat Catriona mengusap lembut perut ratanya.Catriona duduk dengan tegap, dan sedikit mendorong tubuh Dominic."Aku tak mau memaksamu untuk melakukannya, Honey!" Dominic kembali mengingatkan. Catriona mendongak lalu mengulas senyumnya."Bagaimana jika aku yang menginginkannya?" timpal Catriona dan berhasil meloloskannya dari penutup terakhir.Catriona memejamkan mata sebentar begitu benda tersebut terpampang nyata di depannya. Dominic benar-benar tak percaya C
Dominic menutup pintu mobil campervan miliknya. Dan menghempaskan tubuh Catriona di atas sofa bed yang dilapisi dengan bulu-bulu lembut.Sejak di atas gendongan Dominic, mata Catriona sudah menatap heran pada campervan yang tiba-tiba sudah terparkir di samping motor Dominic.Entah bagaimana caranya mobil yang sudah dimodifikasi mirip mini camp tersebut ada di sana. Tapi, kembali lagi, Catriona harus sadar siapa lelaki yang kini bersama dengannya. Dia adalah Dominic, lelaki penguasa yang memiliki kekayaan tak berseri. Apa pun bisa dia lakukan dalam sekejap."Bagaimana caranya mobil ini sudah ada di sini?" tanya Catriona.Dominic tak menjawab ia malah menarik pinggang Catriona hingga tubuh keduanya tak lagi memiliki jarak. Tangan Catriona berusaha menahan di depan dada. Tapi, dengan cepat Dominic menyingkirkannya. Tubuh keduanya masih sama-sama basah."Setidaknya biarkan aku membilas tubuh dulu." pinta Catriona tiba-tiba merasa sangat gugup melihat sorot mata Dominic yang berbeda.Mata
Catriona terjerembab di atas pasir putih yang halus. Dominic langsung berbalik dan menerkam istrinya. Kedua tangan Catriona ditahan oleh Dominic, ia mengungkung tubuh ramping sang istri di bawah tubuhnya yang kekar.Dominic hendak mencium bibir Catriona. Namun Catriona terus menghindarinya. Ia terus menggerakkan kepalanya ke kanan-kiri dengan cepat, sehingga Dominic susah untuk mendapatkan bibir Catriona. Ciuman itu terus saja lolos.Catriona tak bisa berhenti tertawa melihat Dominic yang terus gagal mencium bibirnya. Kelicikan Catriona pun muncul dengan cepat agar bisa lolos dari terkaman Dominic."Mark! Mengapa kau ada di sini?" seru Catriona nampak sangat syok seraya melihat tajam ke arah belakang Dominic. Seketika Dominic menoleh ke belakang. Begitu Dominic lengah, Catriona langsung melumpuhkan senjata andalannya dengan lututnya."Ahhh, Honey!" lenguh Dominic merasa ngilu di inti tubuhnya. Sontak Dominic terkulai di samping Catriona dan melepaskan kungkungannya.Begitu Dominic tum
"Aku baru tahu ada tempat indah seperti ini." ucap Catriona.Saat ini, Catriona sudah berada di atas punggung Dominic. Setelah pengakuan cintanya tadi, Dominic memberikan punggungnya. Awalnya Catriona ragu, namun akhirnya ia naik ke punggung kokoh suaminya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat romantis itu.Dominic menyangga paha Catriona dengan kuat agar tidak jatuh. Meskipun kedua kaki Catriona melingkar di pinggang Dominic dan kepalanya bersandar di pundak dengan nyaman.Kedua tangan Catriona melingkar ke depan leher sang suami, sepatu mereka berdua yang dibawanya mengayun di depan dada Dominic. Dari belakang nampak sekali, jika Catriona bergelayut manja padanya.Keduanya menerobos Padang Savana sambil berbincang tentang banyak hal."Apa kau tak pernah jalan-jalan?" tanya Dominic heran."Aku jarang berlibur ke alam. Aku lebih suka menghabiskan waktu liburku untuk menginap di rumah Emely." ucap Catriona."Hanya dia yang betah menjadi temanmu." ledek Dominic."Dia banyak menolongku.
Tibalah mereka di pantai berpasir putih yang indah. Dengan air laut yang jernih mirip seperti pulau Milos. Pantai hidden paradise yang disebut Heavenly oleh Dominic.Dominic menghentikan laju kendaraannya, tepat di ujung jalan. Tak ada lagi akses menuju ke sana. Mereka harus melewati Padang Savana untuk sampai di tepi pantai. Meskipun dari tempat ia berpijak pantai tersebut sudah nampak jelas. Namun, mereka perlu sedikit berjalan kaki.Catriona turun dari motor. Dengan sigap Dominic membantu Catriona untuk melepaskan helmnya. Terlihat tatanan rambut Catriona yang berantakan karena helm dan terpaan angin sepanjang perjalanan.Dominic merapikan kembali rambut Catriona dengan jemari tangannya. Menyisir pelan, dan menatanya seperti semula."Cantik!" puji Dominic memandang hangat wajah Catriona.Pipi Catriona pun merona merah. Ia tersenyum sipu. Catriona bergantian membantu Dominic melepaskan helmnya. Padahal Dominic bisa melakukannya sendiri. Tapi, Catriona tak mau berhutang budi, ia ingi
Anda yakin akan menghabiskan malam di sini, Tuan?" tanya seorang pria tegap dari balik kursi kemudi. Nada suaranya sopan, namun jelas menyiratkan kegelisahan."Hm," jawab lelaki di belakangnya dengan suara berat dan dalam. Sebuah smirk angkuh menyungging di sudut bibirnya. Dingin. Tajam. Membekukan
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it
“Kau sangat keren!” puji Emely penuh kagum, matanya berbinar saat melihat Catriona melangkah keluar dari privat room dengan aura dingin namun memesona, bangga dan tanpa rasa bersalah. Catriona hanya menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar hangat, tapi justru memancarkan el
Hanya ada satu orang. Satu-satunya teman yang pernah menyebutnya "kucing arogan" hanyalah Dominic, si lelaki cupu yang dulu kerap menjadi korban bully di sekolah.“Tidak mungkin…” gumam Catriona pelan. Masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dominic, lelaki cupu yang dulu tak berani menatap mata siapa







