LOGINCatriona semakin tertawa lepas melihat raut wajah Dominic yang kini tampak begitu kesal."Kau mau ke mana, Dominic? Apa kau sedang marah padaku?" godanya sambil bangkit dari duduknya dan hendak mengejar lelaki itu.Sebelum pergi, Catriona menoleh sekali lagi ke arah makam."Ibu, aku pulang dulu. Aku harus mengejar menantu palsumu itu. Ibu yang baik-baik di sini, ya. Nanti aku datang lagi."Setelah itu ia berlari menyusul Dominic."Hei, Dominic! Tunggu!"Namun Dominic sama sekali tidak menggubris. Langkahnya tetap panjang hingga akhirnya ia membuka pintu mobil, lalu masuk lebih dulu. Beberapa detik kemudian Catriona ikut masuk ke kursi penumpang."Ternyata kau juga bisa ngambek seperti anak kecil," ledek Catriona sambil menahan tawa.Dominic tidak menjawab. Ia menyalakan mesin mobil dan hendak menginjak pedal gas. Namun, tiba-tiba gerakannya terhenti.Barcklay...Nama itu terasa begitu familiar."Barcklay?" gumamnya dalam hati."Ada apa, Dominic?" tanya Catriona yang menyadari perubaha
Camelia Barcklay. Nama yang terpahat abadi di sebuah batu marmer hitam, dengan huruf bewarna gold. Di sampingnya terdapat foto mendiang yang sekelilingnya ditumbuhi dengan bunga Camelia yang indah. Seperti namanya.Heaven Rest Garden.Adalah pemakaman bagi orang-orang kaya di Barbara. Setiap makam akan dibangun sebuah taman yang indah. Lengkap dengan bunga-bunga cantik sesuai permintaan, dan juga kursi taman dengan ukiran nama keluarga. Lampu kristal mengelilingi taman tersebut sebagai pembatas.Dominic dan Catriona berdiri di depan makam mendiang ibu kandung Catriona. Setelah meletakkan buket bunga camelia yang besar. Catriona berdoa untuk kebahagiaan ibunya di sana. Juga, berdoa agar keadilan kematian ibunya yang selalu dirahasiakan segera terungkap.Setiap kali mengingat hari kematian ibunya, Catriona tak bisa menahan air matanya. Sekuat apa pun ia menahan. Tetap saja air mata itu akan jatuh dengan sendirinya. Catriona dengan ibunya memang terbilang sangat dekat. Mereka berduaan ba
"Saya juga sudah membawakan pakaian yang Anda pesan, Tuan!" ucap Mark penuh percaya diri.Dugaannya ternyata benar. Untung saja ia sudah mengantisipasi semuanya dengan membawa berbagai pilihan pakaian dengan beragam warna dan model."Cepat berikan padaku!" pinta Dominic singkat.Mark mengambil satu set pakaian dari tangan pelayan yang berdiri di belakangnya, lalu segera menyerahkannya."Silahkan, Tuan."Sementara itu, Catriona masih berdiri mematung. Dahinya berkerut, tatapannya berpindah-pindah dari Dominic ke Mark. Sampai sekarang ia masih belum mendapatkan jawaban atas semua keanehan yang terjadi di rumahnya."Lakukan tugasmu, Mark. Perintahkan mereka membersihkan rumah ini sampai tidak ada setitik debu pun yang tertinggal."Nada Dominic datar, tetapi sarat wibawa. Begitu selesai memberi perintah, ia langsung melangkah pergi tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah.Catriona yang baru tersadar segera menghadang rombongan pelayan."Tunggu... tunggu! Tidak! Kalian tidak bol
Dominic menyambar bibir Catriona, melumatnya dengan rakus, membelit lidahnya dan menyesapnya tanpa ampun seolah sedang menghukum bibir yang sejak tadi tak berhenti mengomelinya.Setelah puas, ia pun melepaskan ciumannya, sengaja memberi Catriona kesempatan untuk bernapas."Lelaki gila!" umpat Catriona di tengah napasnya yang memburu."Kenapa kau terlihat begitu marah. Kau ingin aku menuntaskannya?" Dominic menyeringai.Catriona hanya melengos."Kalau begitu memohonlah padaku." ucap Dominic terus menggoda."Cih!" Catriona mendengus kesal."Itu hukuman yang pantas untukmu, Honey. Karena sejak tadi kau tak berhenti mengomel dan mengumpatku!" Dominic mengecup bibir Catriona singkat.Catriona memicingkan matanya. "Honey...honey...Berhenti menganggilku Honey!""Ya, my wife!" Dominic langsung merubah panggilannya."Itu terdengar lebih aneh!" seru Catriona semakin tak setuju."Love?" Dominic menggantinya lagi."Telingaku terasa sakit!" tepis Catriona masih menolak."Perle!" sebut Dominic meng
"DOMINIC!" ulang Catriona kembali berteriak, karena Dominic tak kunjung datang.Dominic yang baru saja menyentuh piring-piring kotor itu pun segera bergegas menuju ke kamar. Begitu santainya ia berjalan menghampiri Catriona, dan dengan ekspresi wajahnya yang tak bersalah."Ya, Honey!" seru Dominic dengan nada suaranya yang rendah.Mata Catriona menatap nyalang ke arah Dominic, dengan kedua tangannya yang berkacak pinggang. Ia menunjuk ke arah tempat tidur dengan dagunya.Dominic membawa tatapan matanya ke arah yang ditunjuk Catriona. Tempat tidur yang baginya terasa sangat nyaman. Dominic memiringkan kepalanya, seulas senyum licik pun tergambar di sudut bibirnya.Dominic menunduk, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Catriona. Memandang manik mata Catriona dengan begitu lekat."Jadi kau mulai merindukan tubuhku yang berada di atas tubuhmu? Apa sekarang kau ingin menghabiskan waktu di atas ranjang seharian bersamaku?" satir Dominic seraya tersenyum licik.Catriona mendengus kesal. "A
Dominic tertawa puas tepat di belakang Catriona. Ia memiringkan kepalanya, menikmati wajah terkejut wanitanya dari samping, lalu tanpa ragu menyandarkan dagunya di bahu Catriona."Dominic! Kau benar-benar seperti hantu! Kemunculanmu sama sekali tidak meninggalkan bunyi jejak!" omel Catriona sembari menoleh kesal. Tatapannya kemudian turun ke arah kaki Dominic."Kakimu tidak melayang. Tapi kenapa langkahmu tidak terdengar?" tanyanya polos.Dominic justru semakin terkekeh. Tingkah Catriona selalu berhasil menghiburnya. Gemas menguasai dirinya. Tanpa bisa ditahan lagi, ia berkali-kali mengecup pundak dan pipi Catriona."Dominic! Singkirkan bibirmu!" Catriona berusaha memalingkan wajah, menghindari rentetan kecupan yang tak ada habisnya."Aku tidak mau, Honey," jawab Dominic santai."Kalau kau tidak menyingkir, jangan salahkan aku kalau spatula ini mendarat tepat di bibirmu."Ancaman itu langsung membuat Dominic melirik spatula yang masih berlumur saus di tangan Catriona.Seketika ia mele
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekua
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it
“Kau sangat keren!” puji Emely penuh kagum, matanya berbinar saat melihat Catriona melangkah keluar dari privat room dengan aura dingin namun memesona, bangga dan tanpa rasa bersalah. Catriona hanya menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar hangat, tapi justru memancarkan el







