Share

Bab 179

Penulis: Liazta
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-26 21:27:53

Selama ini Tia dan juga Tina tidak ingin melihat kondisi Marwan karena geli dan jijik. Sang papa mengalami stroke dan lumpuh total, menyebabkan beliau membuang air kecil diatas tempat tidur. Bahkan bergelimang kotoran.

"Maaf Pa, aku tidak bisa mencium aroma bau. Pada waktu itu papa sangat bau sekali, bau air kencing dan kotoran tinja. Karena itu aku tidak bisa meminta papa untuk tinggal di rumahku. Aku juga tidak sanggup masuk kedalam kamar papa," ujar Tina.

"Aku juga gak tahan bau busuk. Aku jijik dan muntah. Aku juga sangat sibuk dengan pekerjaan," tutur Tina.

Marwan tersenyum menahan rasa sakit di dadanya. Alasan yang dikemukakan kedua anak perempuannya membuat hatinya sakit. Inilah anak-anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Disaat anak-anaknya tertimpa masalah seperti ini, ia bahkan tidak bisa tertidur dan selalu memikirkan kedua anak perempuannya.

"Kondisi papa dalam keadaan lumpuh total. Orang perduli dengan keadaan papa hanya si bibi. Dia yang selalu mengantar makan,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Romauli Sirait
OMG...sombong koq dipelihara
goodnovel comment avatar
Nita Wahyu
Please, typo tolong dikurangin
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
biarkan mereka di PENJARA sampai membusuk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 579

    Rizky tiba di sekolah dengan wajah pucat pasi. Kiara menempel di lengannya, matanya masih basah oleh air mata. Para guru dan staf sekolah menunggu dengan ekspresi cemas.“Apa benar anak saya tidak masuk kelas sejak pagi?” suara Rizky bergetar, namun matanya tajam menusuk setiap orang.Guru kelas Yura menunduk dengan wajah penuh rasa bersalah. “Benar, Dokter. Awalnya saya pikir Yura izin sakit. Tapi setelah saya tahu Yura sudah berangkat dan terlihat sampai di depan gerbang sekolah, kami langsung mencarinya. Toilet, aula, setiap gedung—semua sudah kami periksa. Tidak ada.”“Tidak ada yang melihat Yura keluar?!” bentak Rizky, hingga beberapa guru bergidik ketakutan.Kepala sekolah mencoba menengahi. “Kami sudah meminta keterangan teman-temannya, tapi tidak ada yang memperhatikan.”Napas Kiara tercekat, emosinya memuncak. “Ini sekolah unggulan, bukan sekolah murah! Bahkan kami adalah donatur tetap di sini. Bagaimana mungkin pengawasan bisa seburuk ini?”Guru serta kepala sekolah terdiam

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 577

    Pagi itu suasana sekolah begitu ramai. Anak-anak berseragam putih merah berlarian kecil menuju kelas masing-masing, suara tawa riang terdengar di udara.Di antara keramaian itu, Yura tampak cantik dengan rambut dicepol dua, membawa tas ransel ungu muda. Gadis kecil itu melambaikan tangan kepada sopir keluarga sebelum berbalik masuk ke gerbang sekolah.“Selamat belajar ya, Nona Kecil, Yura” ucap sopir itu sambil tersenyum hangat.Yura mengangguk dengan wajah sumringah. “Iya, Om! Nanti aku cerita kalau aku dapat bintang di kelas.”Pria yang menjadi supir pribadi itu tersenyum dan kemudian mengangkat jempolnya. Setelah itu ia masuk ke mobil dan meninggalkan Yura yang sudah berjalan menuju ke gerbang sekolah. Sudah menjadi kebiasaan guru kelas Yura untuk memberikan stiker bintang bagi murid yang mendapat nilai bagus. Hari ini, Yura yakin sekali bisa pulang dengan bangga sambil menempelkan bintang di bukunya.Namun, sebelum sempat masuk ke gerbang sekolah, seorang pria berseragam petugas

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 576

    Suasana ruang makan, pagi itu begitu ramai. Aroma roti hangat, sup ayam, steak daging, dan kopi memenuhi udara, bercampur dengan suara gelak tawa dari berbagai sudut meja panjang keluarga besar itu. Olivia, putri bungsu Albert, duduk di samping Aruna. Gadis remaja itu tampak ceria sekali, tidak berhenti bercerita tentang hal-hal kecil yang membuatnya bahagia. Sesekali ia merangkul lengan Aruna, seolah ingin menunjukkan betapa gembiranya memiliki ibu baru. Setelah kepergian ibunya, Olivia merasa sangat sepi. Tidak ada lagi tempat dia untuk curhat. Curhat dengan kedua kakak laki-lakinya, atau dengan sang ayah, pastilah tidak bisa sebebas ketika bercerita dengan sesama wanita. “Mommy, setelah ini kita belanja baju bareng ya? Aku mau beli baju seperti mommy Aruna!” katanya dengan mata berbinar. Aruna hanya tertawa, sementara Albert di sampingnya menatap keduanya dengan penuh kasih. Pasangan pengantin baru itu tampak begitu serasi, senyum mereka tidak pernah lepas sejak kemarin. Di sis

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 575

    Pagi itu, rumah keluarga Hermawan, terasa lebih ramai dari biasanya. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Anak-anak kecil berlarian, sementara orang dewasa berbincang tentang rencana masa depan.Di tengah suasana itu, Michael duduk di sofa dengan wajah pasrah. Di pangkuannya, seorang gadis kecil berusia delapan tahun tampak santai memakan es krim.“Yura… itu es krim keberapa?” Michael mengernyit, menatap bocah mungil itu dengan serius.Yura menengok dengan polos, wajahnya belepotan cokelat. “Baru dua… eh tiga…”Michael menepuk jidat. “Ya Tuhan, nanti sakit perut lagi kamu. Kalau sakit perut, yang dituduh siapa? Aku lagi!”Michael tidak lupa, tadi malam Yura sakit perut. Dokter Rizky, langsung memarahinya, karena tidak melarang Yura makan eskrim.Gadis kecil itu malah tertawa geli, lalu menyandarkan kepala di dada Michael. “Semalam makan eskrim sampai 6.”Michael tercengang mendengar pengakuan dari Yura. Padahal semalam Yura hanya mengakui 2 saja. "Anak kecil gak boleh bohong

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 574

    Samuel terbangun lebih awal dari biasanya. Biasanya ia bangun karena alarm, tapi kali ini suara “babbling” kecil sudah lebih dulu memanggilnya.“Sam.. Sam …”Mata Samuel yang masih berat langsung terbuka begitu mendengar suara itu. Ia menoleh ke samping, dan benar saja, Violet sudah bangun setengah merangkak dan duduk diatas perutnya. Bayi kecilnya, menatap Samuel dengan mata bulat berbinar.Samuel langsung tersenyum, wajahnya berbinar seketika. “Oh my little princess… sudah bangun, ya? Padahal aku baru tidur tiga jam.”Violet menjawab dengan tertawa kecil, lalu menarik rambut Samuel. "Ya ampun sayang, sakit sekali." Samuel berpura-pura kesakitan. Violet melepaskan tangannya saat melihat Samuel kesakitan. Bayi cantik itu kemudian mengoceh dan menunjuk ke arah pintu..Samuel bangkit, lalu menggendong Violet ke dalam dekapannya. “Aduh… beratnya nambah lagi ya. Jangan cepat-cepat gede dong, abang belum siap.”Bayi itu menepuk-nepuk pipi Samuel dengan tangan mungilnya, membuat Samuel t

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 573

    Usai acara akad nikah Albert dan Aruna, tiba-tiba wajah Eliza menegang. Sebuah kegelisahan melintas di benaknya.“By… Violet di mana? Kenapa Liza tidak melihatnya?” suara Eliza terdengar panik, membuat Nathan yang berdiri di sampingnya ikut terkejut.Nathan baru tersadar. Sejak tadi ia terlalu larut dalam suasana acara hingga tak menyadari bahwa salah seorang bayi kecil mereka tak terlihat. Ia segera menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok mungil yang biasanya selalu menempel pada Eliza.Marcel, yang kebetulan mendekat, langsung menenangkan mereka.“Paman, Bibi… tenang saja. Violet bersama Samuel. Tadi dia sudah sangat mengantuk, jadi Samuel membawanya ke kamarnya. Aku lihat sendiri mereka keluar dari ballroom.”Eliza langsung menghela napas panjang, sementara Nathan memejamkan mata sejenak, merasa lega. Memang sejak kedatangan mereka dari Paris siang tadi, Samuel seakan tak mau melepaskan Violet dari pelukannya. Bocah delapan tahun itu begitu sabar mengasuh sang bayi,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status