MasukAku meringkuk di atas lantai marmer yang dingin.Kain beludru penutup meja perjamuan yang sangat tebal, kaku, dan menjuntai menyentuh lantai marmer sepenuhnya menyembunyikan tubuhku dari dunia luar, menciptakan sebuah lorong kedap suara dan kedap cahaya di bawah meja perjamuan dewan.Di luar kolong meja yang sempit ini, suara langkah kaki para pelayan dan dewan tetua mulai berdatangan.Denting alat makan perak dan aroma hidangan daging panggang yang mewah memenuhi udara tepat di atas kepalaku."Pastikan semua cangkir anggur terisi penuh," terdengar suara kepala pelayan memberi perintah di luar sana.Aku menahan napas saat sepasang sepatu bot kulit hitam besar melangkah mendekat ke arah meja perjamuan.Itu adalah Bastian.Dia menarik kursi kayunya, lalu duduk tepat di depanku.Aroma hangat kulitnya yang maskulin seketika memenuhi kolong meja yang terbatas ini.Tidak lama kemudian, sepasang sepatu bot lain yang lebih ramping ikut duduk di sebelahnya.Julian.Aroma peppermint miliknya ya
Asap cerutu yang pekat menggantung di udara aula utama, membuat mataku perih.Aku berdiri merapatkan tubuhku di sudut pilar marmer yang gelap, berusaha keras agar kehadiranku tidak disadari siapa pun di ruangan ini.Di tengah aula, para tetua dewan duduk mengelilingi meja panjang dengan ekspresi wajah yang sangat tegang."Laporan dari perbatasan menunjukkan peningkatan aktivitas rogue yang mencurigakan, Alpha Tertinggi," ujar Tetua Caleb dengan suara serak.Dia mengetukkan abu cerutunya ke dalam wadah perak di atas meja kayu ek yang kokoh."Kita membutuhkan pengawasan yang lebih ketat sebelum para penyusup itu berani melintasi sungai pembatas wilayah," tambahnya lagi.Di sebelah takhta besar Xavier, Freya duduk dengan anggun di atas kursi berlapis emas.Kursi berlapis emas itu adalah takhta suci yang hanya diperuntukkan bagi Luna sejati dari kawanan ini, sedangkan Freya di sini hanyalah seorang tamu politik.Dia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang sangat mewah, memancarkan ke
Pintu kayu ek tebal di hadapanku terbuka dengan derit pelan yang bergetar rendah di udara.Seorang pengawal bertubuh kekar mendorong bahuku tanpa belas kasihan, memaksaku melangkah ke dalam ruangan."Masuk. Lady Freya dan Beta Gideon tidak suka membuang waktu mereka," desis pengawal itu sebelum membanting pintu kayu di belakangku.Klik.Suara kunci kuningan yang berputar membuat darahku terasa membeku seketika.Ruang rapat kecil ini terasa sangat sunyi, dingin, dan dikuasai oleh aroma dominasi yang menyesakkan.Di tengah ruangan, Freya duduk dengan anggun di atas kursi beludru merah yang tampak mewah.Dia sedang menyesap teh hangat dari cangkir porselen berhias emas dengan gerakan yang sangat tenang.Sementara itu, Beta Gideon berdiri bersandar di dekat jendela kayu besar, menatap ke luar dengan kedua tangan di belakang punggung.Aroma manis bunga lily milik Freya bercampur dengan aroma pinus kering milik Gideon, menciptakan kombinasi pekat yang membuat perutku bergejolak mual."Lihat
Rantai besi tebal yang melilit pergelangan kakiku sengaja dilonggarkan atas perintah Julian.Para pengawal membiarkanku berjalan tanpa hambatan di sekitar sayap barat istana—sebuah kelonggaran kejam yang kuduga merupakan bagian dari eksperimen barunya untuk menguji batasan fisikku.Aku berdiri membeku, menatap pantulan diriku pada cermin besar di koridor sayap barat.Bekas cengkeraman merah kehitaman yang bengkak dan terasa panas memenuhi sepanjang leher hingga bahu kiriku.Bekas taring Xavier dan sisa gigitan Julian dari malam kemarin meninggalkan pola luka kasar yang berdenyut hebat.Paru-paruku seolah menolak menyerap udara setiap kali rasa ngilu itu menusuk ujung sarafku.Aku menyentuh luka gigitan di bahu kiriku dengan ujung jari yang gemetar, meraba tekstur kulit yang mengeras dan meradang."Sampai kapan tubuhku harus menanggung siksaan ini?" bisikku lirih pada bayanganku yang pucat.Tiba-tiba, suara riuh derap kaki kuda terdengar dari arah gerbang utama istana.Gemuruh roda ker
Cahaya pagi yang redup menerobos masuk melalui celah ventilasi kamar bawah tanah. Tubuhku terasa sangat kaku dan perih saat mencoba bergerak di atas kasur beludru hitam.Rasa nyeri akibat hukuman cambuk telapak tangan Xavier semalam masih membakar kulit pantatku. Setiap kali bergeser, perut bagian bawahku mengejang hebat didera sisa efek pakta darah campuran mereka.Cairan intim yang mengering ketat di selangkangan membuatku merasa sangat kotor. Kehancuran harga diriku terasa lengkap pagi ini.Klek. Suara engsel pintu besi tebal berdering pelan, memecah keheningan kamar pengekapan.Martha melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa nampan berisi sarapan dan sebuah handuk bersih. Langkah kakinya terdengar sangat pelan dan gemetar."Nona Alana, tolong jangan takut," bisik Martha lirih. Dia meletakkan nampan di atas meja kayu, lalu berjalan mendekati ujung ranjang tempatku meringkuk.Martha mengeluarkan sebuah kunci perak kecil dari saku celemeknya. Dia membungkuk di depan kaki kiri
Langkah kakiku bergema cepat di sepanjang lorong pengawal yang gelap dan dingin. Jantungku berhantam liar di dalam rongga dada didera kepanikan maut yang mencekik.Di belakangku, jeritan kesakitan pelayan wanita yang baru saja kutusuk dengan garpu perak masih terdengar riuh. Aku terus berlari tanpa memedulikan rasa perih di telapak kakiku.Namun, pelarianku mendadak terhenti ketika sebuah bayangan raksasa menghalangi jalan di ujung lorong. Sebelum aku sempat berbalik, sepasang tangan besi mencengkeram kedua bahuku dengan kejam."Kau pikir bisa lari dariku, Alana?" geram Xavier.Suara beratnya menggelegar kejam, meremukkan seluruh harapan merdeka di dalam kepalaku. Dia menyentak tubuhku kasar, menyeretku kembali menuju kamar bawah tanah yang pengap.Tubuhku dihantam keras ke atas kasur beludru hitam hingga kepalaku terasa sangat pusing. Xavier berdiri tegak di tepi ranjang, menatapku dengan sepasang mata merah darah yang berkilat murka.Di tangan kanannya, dia memegang garpu perak yang
Sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di dalam tubuhku.Luka gigitan Xavier di bahu kiriku tidak hanya berdenyut perih—luka itu bermutasi menjadi siksaan biologis yang mengerikan.Ketika aku menyentuhnya dengan ujung jari yang gemetar, kulit di sekitar bekas taringnya terasa sepanas besi membara,
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A







