Share

Bab 879

Author: Camelia
Jordan menatap mata Jose yang gelap dan berbahaya. Tiba-tiba, dia merasa hari ini mungkin adalah hari kematiannya.

"Tolong! Tolong aku!" teriak Jordan dengan panik sambil berusaha mundur. Namun, sudah tidak ada jalan untuk melarikan diri. Sejak siang dia kehilangan banyak darah, tubuhnya sangat lemah.

Begitu bergerak sedikit saja, luka di tubuhnya akan terasa perih hingga menusuk tulang. Meskipun berteriak sampai serak, tidak ada seorang pun datang menyelamatkannya.

Jose berdiri di depan ranjang, menatapnya dari atas dengan dingin. Tatapan itu seperti seorang pemburu yang sedang mempermainkan mangsanya, penuh minat dan kekejaman.

Tak lama kemudian, Tiano masuk dari luar. "Pak Jose, semuanya sudah beres."

Jose mengangkat alis sedikit. "Masih ada satu lagi, 'kan?"

Dia menggerakkan dagunya, menunjuk ke arah Jordan yang wajahnya sudah pucat pasi di atas ranjang.

"Jose ...." Suara Jordan bergetar hebat. "Lepaskan aku. Aku akan serahkan semua sahamku di Alatas Heir ke kamu. Semuanya."

Di had
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Lily Sidharta
thor .berapa bab lg tamatnya
goodnovel comment avatar
Yeyen Yuliantinah
plis Aura dengerin Jose y
goodnovel comment avatar
Veni Erlinasari
lhaa thorrrr inii nggak berasa lagi bacaaa panjangin ngapa thor...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1085

    Jose menggertakkan giginya menatap Roy.Melihat sorot matanya semakin kelam, Aura mengangkat tangan dan menarik lengan baju Roy pelan. "Aku nggak apa-apa. Ayo, kita pergi dulu."Melihat kondisi Jose yang sudah berada di ambang amarah, Aura sendiri tidak masalah, tetapi dia tidak ingin menyeret Roy ke dalam urusannya.Terlebih lagi, di belakang Roy ada Keluarga Kusuma. Aura tidak ingin masalah pribadinya menyeret Keluarga Kusuma.Roy mengerutkan kening, menoleh melirik Jose. Sorot matanya penuh kewaspadaan.Aura menggigit bibirnya. Saat melangkah pergi, dia tidak menoleh lagi ke arah Jose.Di dalam mobil, Roy mengerutkan kening dan menatap ke Aura. "Kenapa nggak bawa lebih banyak orang waktu keluar?"Aura menunduk seperti orang yang merasa bersalah. "Aku ...."Roy menyalakan mobil dan berkemudi. Matanya menatap lurus ke depan. Dia berulang kali berpesan, "Untuk sementara waktu, tinggal baik-baik di rumah Keluarga Kusuma. Jangan pergi ke mana-mana.""Sekuat apa pun Jose, selama di Kota M

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1084

    "Katakan sekali lagi!"Jose menggertakkan giginya. Bahkan sepasang mata yang biasanya selalu dingin itu kini samar-samar memerah. Itu adalah tanda sebelum dia benar-benar marah.Aura merasa sedikit gentar. Bagaimanapun juga, dia pernah menyaksikan betapa kejamnya metode Jose dengan mata kepala sendiri.Aura menggigit bibirnya ringan, menatap Jose sambil berucap, "Aku hanya merasa, nggak ada artinya kalau kita terus seperti ini.""Jose, kamu mengerti maksudku, 'kan?" Suara Aura sedikit melunak. Namun, makna di balik ucapannya sama sekali tidak melunak. "Cukup sampai di sini saja. Kalau bertemu lagi nanti, kita masih bisa berteman."Begitu mendengarnya, Jose meledak marah. Dia melepaskan Aura, berbalik, dan menendang meja kopi dengan keras. Meja kopi yang berat itu terlempar jauh oleh satu tendangannya."Teman? Siapa yang mau jadi temanmu?" Jose menggertakkan giginya saat mengucapkan kalimat itu. Suaranya yang penuh amarah terdengar menakutkan di ruang yang luas itu.Sebagai orang yang d

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1083

    "Barusan kamu panggil aku apa?" Jose mengucapkannya kata demi kata sambil menggertakkan gigi dengan geram.Dengan ekspresi dingin, Aura mengulanginya, "Pak Jose, silakan lihat perjanjian ini. Kalau nggak ada masalah, tolong ditandatangani."Dia mengulanginya tanpa lelah, tetapi semakin Jose mendengarnya, sorot matanya justru semakin kelam.Jose mengangkat pandangan menatapnya. Beberapa hari tidak bertemu, Aura terlihat sama sekali tidak berubah. Seolah-olah keputusan untuk bercerai baginya hanyalah keputusan yang sepele.Jari Jose perlahan mengepal. Dengan tatapan yang dalam dan berat, dia menatap Aura. "Kamu benar-benar sudah memikirkannya matang-matang?"Hati Aura terasa pahit. Entah sudah dipikirkan secara matang atau belum, semuanya sudah sampai titik ini. Apa pun yang dikatakan sudah tidak berarti lagi.Bahkan sebelum meninggal, Sherly masih meninggalkan duri di antara dirinya dan Jose. Aura tidak bisa membela diri lagi.Entah siapa yang pernah mengatakan sebuah kalimat, orang hid

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1082

    Ekspresi Marsel membeku sejenak. Dengan agak canggung, dia menggaruk kepalanya. "Ayo, aku antar."Menghadapi sikap Aura yang dingin, Marsel hanya bisa menutup mulutnya dengan canggung dan menuntun di depan.Tempat ini adalah sebuah klub yang dibeli Jose di Kota Morimas. Aura pernah datang ke sini sebelumnya.Saat Marsel membawa Aura ke depan sebuah ruang privat, Aura langsung melihat pengacaranya berdiri di depan pintu menunggunya.Begitu melihat Aura, pengacara itu mengangkat tangan untuk menyeka keringat di dahinya. "Bu Aura.""Kenapa nggak masuk?" tanya Aura.Pengacara itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum canggung. "Menunggumu."Sebenarnya, dia tidak berani masuk. Tadi begitu tiba, dia langsung masuk ke ruang privat. Namun, baru saja masuk, dia melihat Jose duduk di sofa dengan wajah dingin. Ekspresinya benar-benar mengerikan.Dia memang tidak terlalu akrab dengan Jose, tetapi di kalangan pengacara, cukup banyak cerita tentang Jose. Konon katanya, dia kejam dan tidak segan memak

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1081

    "Apa?" Marsel tidak percaya dengan apa yang didengarnya.Dia berbalik, lalu melangkah mendekat dan menatap Jose. "Tuan Jose, mohon dipikirkan baik-baik. Konflik antara Tuan dan Nyonya hanya kesalahpahaman, belum sampai pada tahap harus cerai."Bagaimana Aura dan Jose bisa berjalan sampai sejauh ini, Marsel yang selalu berada di sisi Jose lebih paham daripada siapa pun. Dia benar-benar tidak tega melihat Jose dan Aura berakhir di titik ini."Lakukan saja sesuai yang kukatakan." Tatapan Jose menyapu Marsel dengan dingin dan tajam. Ekspresinya tegas, tidak memberi ruang untuk membantah.Bibir Marsel bergerak sedikit, tetapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan berbalik pergi. Setelah keluar, dia menutup pintu ruang kerja Jose, lalu menggeleng pelan sambil menghela napas.....Saat Aura menerima telepon dari pengacara, dia baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.Ponsel berdering, Aura mengangkatnya. Dari seberang terdengar suara pengacara. "Bu Aura, dari pihak P

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1080

    Pria ini terus saja mengincarnya.Aura merasa, Renald ini tidak lebih dari sekadar didorong oleh hasrat menang dan kalah semata. Mendengar ucapannya, Renald tidak marah, malah mengangguk."Kalau begitu, kalau setelah diperiksa otakku nggak bermasalah, apa itu berarti Bu Aura bisa menyetujuinya?"Setuju kepalamu! Aura menahan diri agar kata kasar itu tidak terucap. Dia maju selangkah lebih dekat ke ranjang Renald, lalu membungkuk dan mendekat ke arahnya.Begitu Aura mendekat, Renald langsung mencium aroma manis yang lembut. Mirip buah yang matang. Wangi yang cukup membuat orang tergoda, tetapi sulit dijelaskan persis seperti apa. Sungguh harum.Renald mengangkat alisnya dan menatapnya. Kemudian, dia mendengar Aura mengucapkan kata demi kata, "Pak Renald, aku bukan alat untukmu membuktikan kalau kamu lebih unggul daripada Jose.""Dulu aku anggap ucapanmu hanya bercanda, tapi kalau ke depannya masih dibahas, itu sudah nggak lucu lagi." Wajah mungil Aura terlihat datar dan serius.Renald m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status