Share

Saat Clara Pergi

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-04-07 13:03:35

Clara menutup mulutnya, dan seketika air matanya kembali jatuh, dadanya terasa sesak—seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat hingga ia sulit bernapas.

“Jadi… kondisinya berbahaya?” tanyanya dengan suara pecah.

Dokter itu terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan. “Kami masih berusaha memastikan semuanya. Untuk saat ini, kami akan memindahkan pasien ke ruang observasi setelah CT scan selesai. Tapi kondisinya memang harus diawasi ketat.”

Kalimat itu seperti menghantam Clara tanpa amp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian

    Clara membeku di tempatnya.Jemari yang sejak tadi menggenggam lengan Raymond perlahan mengendur, seolah seluruh tenaganya menguap dalam sekejap. Wajahnya yang semula masih dipenuhi harapan perlahan kehilangan warna. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar."Apa...?"Bisikan itu begitu pelan hingga nyaris lenyap diterpa embusan angin sore yang melintasi taman belakang mansion.Beberapa langkah di belakang mereka, Bu Eli spontan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Rosario kayu berwarna cokelat tua yang hampir tak pernah lepas dari genggamannya bergetar pelan."Ya Tuhan..."Doa itu meluncur begitu saja dari bibir wanita tua tersebut.Noah, yang berdiri di samping neneknya, mendongak bergantian ke arah wajah semua orang dewasa di hadapannya. Bocah itu belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Namun dari raut wajah mereka, ia tahu sesuatu yang buruk baru saja terjadi.Sementara itu...Raymond masih mematung.Ponsel hitam di tangannya masih menemp

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ken Menghilang

    Barulah Raymond menoleh perlahan. Pandangan mereka bertemu. Di balik ketegasan yang selama ini selalu ditunjukkannya... Clara melihat sesuatu yang sangat jarang muncul. Ketakutan. "Aku tahu..." "...Ken sangat berarti bagimu." Raymond mengembuskan napas panjang. "Dia bukan sekadar bawahanku." Suara itu terdengar berat. Serak. "Hampir separuh hidupku..." "...dia selalu berdiri di belakangku." Tatapannya perlahan menerawang. "Waktu ibuku meninggal..." "...Ken yang berdiri di sampingku." "Saat Antonio Group hampir diambil alih..." "...dia berjaga tiga hari tiga malam tanpa tidur." "Ketika aku ditembak dalam penyergapan beberapa tahun lalu..." Raymond berhenti. Rahangnya mengeras. "Dia yang mendorongku." "Kalau dia terlambat satu detik saja..." "...peluru itu menembus dadaku." Clara merasakan jemari suaminya semakin dingin. "Aku berutang terlalu banyak padanya." bisik Raymond. "Aku bahkan belum sempat membalas semuanya." Air mata perlahan memenuhi pelupuk mata C

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Melakukan Apapun

    Raymond membeku. Ponsel masih menempel erat di telinganya, sementara jemarinya mencengkeram perangkat itu begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Angin sore yang berembus di taman belakang Mansion Antonio terasa begitu dingin, tetapi sama sekali tidak mampu meredakan gejolak yang memenuhi dadanya. Rahangnya mengeras. Otot-otot di wajahnya menegang. Sorot matanya berubah semakin tajam, seolah seluruh emosinya membeku menjadi sebilah pisau. "...Apa yang baru saja kau katakan?" Suara Raymond terdengar rendah. Tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat semua orang di sekitarnya ikut menahan napas. Di seberang sambungan, suara seorang staf rumah sakit terdengar tergesa-gesa. Bunyi alarm monitor pasien, langkah kaki yang berlarian, dan instruksi para tenaga medis bercampur menjadi latar yang membuat suasana terasa semakin mencekam. "T-Tuan..." "Pak Ken mengalami perdarahan intrakranial yang semakin masif." "Tekanan di dalam rongga kepalanya terus meningkat." "Dok

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah Masih Ada Harapan?

    Nada suaranya tenang. Namun ketenangan itu justru terasa lebih menekan. Elena menundukkan kepala. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menyusun kembali ingatannya. "Aku..." "...baru pulang." "Saat melewati jalan belakang mansion..." "...aku merasa ada seseorang yang mengikutiku." Raymond tetap diam. Tidak menyela sedikit pun. Elena melanjutkan. "Aku sempat mengira itu hanya perasaanku." "Tapi ketika aku turun dari mobil..." "...orang itu tiba-tiba muncul." "Dia mengenakan jaket hitam." "Celana gelap." "Topinya ditarik sangat rendah hingga menutupi hampir seluruh wajahnya." "Aku bahkan tidak sempat melihat warna matanya." Clara menahan napas. "Lalu?" Elena memejamkan mata sejenak. "Semuanya terjadi sangat cepat." "Dia mendekat." "Aku mundur." "Lalu..." "...aku merasakan sesuatu menghantam perutku." Refleks, tangan Elena kembali menekan bagian luka. Ekspresinya berubah menahan sakit. "Aku baru sadar..." "...aku sudah ditusuk." Clara membelalak. "Ya Tuha

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebetulan yang Aneh

    Raymond membeku di tempatnya. Langkah yang semula tergesa-gesa mendadak terhenti di tengah hamparan rumput taman belakang mansion. Dadanya masih naik turun akibat berlari dari halaman depan, tetapi kini napasnya terasa tercekat oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya. Tatapannya perlahan berpindah dari kedua telapak tangan Clara yang dipenuhi darah... ...ke sosok Elena yang berdiri hanya beberapa langkah di samping istrinya. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari perhatiannya. Gaun berwarna gading yang dikenakan Elena sudah tidak lagi utuh. Di sisi kiri bagian perut, kain halus itu robek memanjang sepanjang hampir lima belas sentimeter. Robekan tersebut memperlihatkan balutan sapu tangan putih yang kini telah berubah menjadi merah pekat karena terus menyerap darah. Cairan merah itu masih merembes keluar melalui sela-sela jemari Elena. Setetes... Dua tetes... Tiga tetes... Pluk... Pluk... Pluk... Butiran darah itu jatuh perlaha

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Darah di Tangan Clara

    Lima SUV hitam memasuki halaman dengan kecepatan tinggi. Rem berbunyi nyaring. CIIIITTTTT!! Debu beterbangan di sepanjang jalan paving. Para pelayan yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan pekerjaannya. Beberapa pengawal spontan membuka jalan. Belum sempat kendaraan berhenti sempurna... Pintu SUV sudah dibuka dari dalam. Raymond turun hampir sambil berlari. "CLARA!" Suara itu menggema di seluruh halaman depan. Tak ada jawaban. Ia menerobos pintu utama mansion. BRAK!! Daun pintu kayu jati itu membentur dinding. Suara langkah sepatu kulitnya bergema di aula besar yang dipenuhi lantai marmer Italia. "Clara!" "Clara!" Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Ruang tamu. Kosong. Ruang keluarga. Kosong. Perpustakaan. Kosong. Ia berbalik menuju ruang makan. Masih kosong. Beberapa pelayan hanya memandangnya dengan wajah bingung. "Di mana Nyonya?" tanya Raymond cepat. Tak ada yang sempat menjawab. "Noah!" teriaknya lagi. "Noah!" Dadanya mulai naik turun.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Baku Hantam

    Di markas, Adrian dan Sofia mulai merasa gelisah. Di ruang utama yang remang, Adrian berdiri menghadap jendela tinggi, jarinya mengetuk gelas kristal dengan ritme yang tak sabar. Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detiknya terasa seperti ejekan.Sofia duduk di sofa kulit, kakinya yang jenjang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Kejam

    Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gadis Yatim Piatu, Clara

    “Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status