로그인Nah loh... Benar nih cuma pelayan... Tapi kok?
Bab 90“Ibumu... sudah tiba,” bisik Oliver rendah, mengembalikan kesadaran Lila pada kenyataan di tengah sisa-sisa napas mereka yang masih terengah-engah.Lila panik seketika. Tubuhnya yang masih lemas berusaha bergerak, tapi Oliver dengan mudah mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Oliver kemudian sedikit berjongkok, mengambil dalaman dan celana Lila yang tergeletak berantakan di lantai.Tanpa membuang waktu, Oliver membawa Lila melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang berada tak jauh dari ruang perawatan tersebut. Ia menurunkan Lila perlahan di atas tepi wastafel. Sambil menatap Lila yang masih berusaha mengatur napasnya yang memburu, Oliver menggunakan dalaman segitiga milik Lila yang ada di tangannya untuk menyapu dan membersihkan sisa-sisa cairan pekat di batang kejantanannya. Setelah selesai, pria itu mengulurkan kain tipis itu kembali ke arah Lila dengan raut wajah tanpa dosa.“Pakailah kembali,” perintah Oliver santai.Lila membelalakkan matanya sempurna, menatap
Bab 89“A-aku keluar!” Lila menjerit, tubuhnya menegang hebat sewaktu pelepasan pertama itu menghantam seluruh kesadarannya.Namun, bukannya melambat atau memberi jeda untuk menenangkan napas wanita itu, Oliver justru makin beringas. Dengan posisi Lila yang masih terangkat menggantung dalam dekapan kekarnya, Oliver mempercepat gerakan pinggulnya, menghujam titik terdalam liang vagina Lila dengan ritme yang makin cepat dan bertenaga. Pria itu terus memompa tanpa ampun hingga tubuh cantik di kungkungannya itu kembali diserbu gelombang orgasme bertubi-tubi.“O-Oliver… A-aku tidak tahan… Oh faster… Yahh… Oh my! Stop! Stop! More!” jerit Lila pasrah di sela-sela rintihannya yang terputus-putus.Reaksi tubuh Lila menggila. Kesadarannya seolah melayang di udara, tak lagi mampu menahan serbuan kenikmatan luar biasa yang menghantam tanpa henti di bawah sana. Sensasi nikmat itu begitu intens hingga terasa menyiksa, namun di saat yang sama, bagian terdalam dari hatinya memohon agar Oliver tidak pe
Bab 88Sisa-sisa akal sehat Lila perlahan mencair, tergantikan oleh kabut gairah yang kian menebal. Ruang perawatan khusus yang tadinya senyap kini sepenuhnya dipenuhi oleh napas memburu dan ritme detak jantung yang saling berpacu liar.Tanpa membiarkan Lila mengambil jeda untuk mengatur napas, Oliver bergerak memangkas sisa celah di antara mereka. Dengan gerakan yang tegas namun tetap terukur, tangan besar Oliver meraih salah satu kaki jenjang Lila, lalu mengangkatnya.Posisinya kini memberikan akses penuh tanpa halangan. Oliver menatap lurus ke dalam manik mata Lila yang sayu, menahan napasnya sejenak, lalu memberikan satu dorongan mantap.Blesss!“Ahhh… Ssshhhh!” Lila mendesis panjang, punggungnya melengkung ke belakang mencari sandaran.Oliver dengan sigap menahan punggung Lila, merengkuhnya erat.Sensasi panas dan padat seketika menjalar hebat saat ia merasakan kejantanan Oliver yang luar biasa tebal perlahan mengisi liang kewanitaannya hingga ke titik terdalam. Peregangan yang te
Bab 87“Serve me then…”Sensasi dingin dari bisikan serak Oliver bergetar tepat di depan bibir Lila. Kata-kata itu bergaung bagai perintah mutlak yang tak memberi ruang untuk dirinya.Lila mendongak, menatap iris kelam Oliver yang kini menggelap dipenuhi binar gairah yang menuntut. Mengabaikan degup jantungnya yang berpacu liar dan kepanikan akan batas waktu tiga puluh menit, Lila mengulas senyum tipis—sebuah senyuman yang menjadi provokasi manis.Dengan berani, Lila berjinjit, memangkas sisa jarak di antara wajah mereka untuk memulai semuanya.Ia mencium bibir Oliver, memiringkan kepalanya sedikit lalu menyesap bibir tegas pria itu dengan lembut sebelum membuka mulutnya lebih dalam. Sentuhan awal yang berani itu seketika memicu desiran panas di dalam tubuh Oliver. Tanpa membuang waktu, tangan Lila sendiri bergerak turun, menyusup ke area pinggang pria itu dan mengusap gundukan terlarang milik Oliver yang berurat kasar dari luar celananya. Meski pria itu belum mengalami ereksi penuh,
Bab 86"Ibumu aman. Sekarang, fokusmu hanya satu... percaya padaku."Ujaran Oliver bergaung rendah, menyusup hangat ke dalam sela-sela kecemasan yang sejak tadi mencengkeram dada Lila. Wanita itu terdiam, matanya menatap lekat-lekat pada raut wajah tegas pria berkuasa di hadapannya. Dorongan emosional yang meluap, rasa lega, syukur, sekaligus kepasrahan, membuat jemari Lila terangkat pelan, ragu-ragu untuk memeluk Oliver.Ck! decaknya dalam hati, merutuki gengsi tingginya yang mendadak terasa konyol di situasi seperti ini.Menepis seluruh keraguannya, Lila akhirnya memberanikan diri maju satu langkah dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang kokoh Oliver. Ia merapatkan tubuhnya, menyandarkan keningnya di dada bidang pria itu, menyerap aroma maskulin khas Oliver yang selalu berhasil menenangkannya secara ajaib."Terima kasih, Tuan," bisik Lila tulus, suaranya terdengar meredam di balik kemeja Oliver.Oliver menaikkan satu alisnya. Tubuhnya sempat membeku seketika saat menerima peluka
Bab 85Jarum jam di dinding koridor rumah sakit menunjukkan tepat pukul 02.00 dini hari. Suasana gedung medis itu sunyi mencekam, hanya diwarnai oleh dentum dengung pendingin ruangan dan ritme hening malam. Di meja penjagaan, dua perawat jaga tampak mulai terkantuk-kantuk, sementara seorang dokter piket bersandar di kursinya dengan mata terpejam rapat.Di sudut koridor yang remang, tiga orang pria bertubuh tegap melangkah dengan tenang namun sigap. Mereka mengenakan jas putih dokter dan masker medis yang menutupi sebagian besar wajah. Di balik penyamaran itu, mereka adalah tim eksekutor terlatih bentukan Oliver.Pria yang memimpin pergerakan itu menyentuh earpiece nirkabel di telinganya. "Tim Alpha sudah berada di depan ICU. Bagaimana dengan retasan CCTV?"Suara mengetik kibor berkecepatan tinggi terdengar dari seberang saluran komunikasi. Itu adalah tim peretas milik Austin Harold yang bekerja dari lokasi rahasia."Tunggu hitungan ketiga," sahut peretas dengan nada dingin berwibawa.
Bab 23Lila menghela napas panjang di depan cermin kecil kamarnya. Dengan susah payah ia mengendap-ngendap, untungnya ia berhasil sampai tanpa ketahuan.Tatapan Lila jatuh pada benda kecil yang tadi diberikan Oliver sebelum ia keluar. Sebuah salep pereda nyeri bermerek mahal."Ternyata dia masih pu
Bab 11“Maaf merepotkan anda Dok—”"Anda tidak apa-apa, Nona Lila?" Dokter Nathaniel, pria berusia 30 tahun dengan pembawaan tenang dan wajah yang teduh, menatap Lila dengan empati memotong perkataan Lila.Lila mengerjapkan mata, berusaha mengatur napasnya. "Saya baik-baik saja, Dok. Terima kasih ba
Bab 7"Jangan seenaknya, Tuan!" Lila menyahut dengan wajah tertekuk. Amarahnya memuncak setiap kali pria ini merendahkannya. "Aku bukan tawanan Anda dan aku bukan kucing liar!""Kau..." Oliver menggeram rendah. Kalimat perlawanan Lila seolah menjadi bahan bakar bagi gairahnya yang liar.Di dalam ka
Bab 6Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Godalah dia… Buat dia bertekuk lutut padamu. Buat dia berselingkuh denganmu di rumah ini."Lila terbelalak. "Apa?! Anda gila! Saya tidak akan melakukan hal menjijikkan seperti itu!""Jangan munafik," desis Oliver







