เข้าสู่ระบบ"Kamarku..." seru Citra saat ia membuka pintu kamarnya, lalu merentangkan kedua tangannya kemudian berlari masuk dan meloncat ke atas ranjang. Ia berguling-guling di atas ranjangnya, ia sangat bahagia karena sudah lama tak merasakan kenyamanan ranjangnya. "Akhirnya aku bisa tidur di ranjangku lagi," katanya. Kemudian ia pun turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah sudut kamarnya dan menatap gitarnya yang diletakkan di atas meja. Ia menatapnya begitu lama, lalu tangannya terangkat dan menyentuhnya perlahan. "Kamu bisa main gitar?" tanya Yusuf. Citra pun menoleh, ia baru sadar ternyata Yusuf sudah masuk ke kamarnya, "Masih belajar, tapi susah banget," jawab Citra dengan perasaan sedih. Lalu Yusuf pun mengambilnya, kemudian membawanya duduk di sofa. Arah pandang Citra mengikuti Yusuf, ia tampaknya masih bingung apa yang hendak dilakukan oleh Yusuf. Apakah Yusuf bisa bermain gitar? Tapi kemudian Yusuf mulai memetik tali senar, terdengar suara yang begitu indah dan me
"Mas?" Mata Citra langsung berbinar ketika mobil Yusuf menepi di depan rumahnya, rumah orang tuanya tempatnya dibesarkan. Ia sangat merindukan rumah itu, sangat merindukan kedua orang tuanya. Tapi tiba-tiba saja senyum dibibirnya menghilang, ia menatap Yusuf dalam diam. "Ada apa?" tanya Yusuf menyadari perubahan ekpresi Citra yang tiba-tiba. "Tapi, Papakan lagi marah. Aku udah di coret dari Kartu Keluarga," katanya dengan lesu. Yusuf pun menyentil dahi Citra dengan gemas. "Mas, ih?!" protesnya sambil menggosok dahinya. "Nama kamu bukan di coret tapi dikeluarkan," ucap Yusuf. "Nahkan? Sama aja!" ucap Citra semakin kesal. "Kan kita sudah menikah, jadi kita berdua di dalam kartun keluarga yang sama," jelas Yusuf. Citra mengangguk sambil menatap Yusuf penuh arti. "Apa yang dipikirkan otak kosongmu ini?" tanya Yusuf sambil menunjuk kepada Citra. "Kalau otak kosong berarti nggak bisa mikir, gimana sih?" gerutunya. "Ayo turun," kata Yusuf lalu turun terlebih dahulu ba
"Masih marah?" tanya Yusuf yang duduk disisi ranjang dan memperhatikan dada Citra yang setengahnya menyebul keluar. Citra yang menyadari hal itu segera menarik selimut dan menutupi dirinya dengan panik, "Kamu mesum banget sih? Mana nggak ada rasa bersalahnya lagi!" omel Citra. Yusuf hanya bisa tersenyum mendegar keluhan Citra, saat itu ponsel Citra pun berdering. Ia meraih ponselnya susah payah di atas meja nakas, tapi Yusuf tidak membiarkan begitu saja. Ia langsung meraihnya dan memberikan pada Citra. Tentunya Citra menerimanya dengan kesal, bahkan tatapan yang jelas ingin membunuh. Tapi berbeda dengan Yusuf yang hanya tersenyum gemes melihat wajah istrinya itu. "Halo," jawab Citra. "Citra, kok kamu membatalkan diri ikut balap sih?" tanya Ara dari seberang sana. "Siapa yang batalkan?" tanya Citra bingung, tapi kemudian ia menatap Yusuf penuh curiga, "nanti aku telpon lagi," katanya lalu mengakhiri penggilan telepon. Ia tau ada yang harus diurus dengan Yusuf, ia curi
Citra juga kembali berbaring terlungkup dan keduanya pun benar-benar menikmati pijatan bersama. "Mbak, udah menikah belom?" tanya Citra pada petugas spa yang memijatnya. "Sudah, Nyonya," jawabnya. "Panggil Citra aja, risih banget pangilan kamu. Biar aktab juga," kata Citra, "kenapa kamu mau menikah? Terus gimana malam pertamanya?" tanya Citra penasaran. "Malam pertama agak perih, tapi," petugas spa itupun tersenyum malu. Citra meliriknya sesaat, "Ck, tapi apa?" tanya Citra makin penasaran. "Nona, bukannya setelah menikah keromantisan itu wajar," katanya lagi sambil melihat banyak tanda merah di tubuh Citra. "Wajar apanya? Remuk badan aku!" keluh Citra. "Memangnya, kamu nggak menikmati?" tanyanya lagi. "Apa yang dinikmati? Penderitaan?!" kesal Citra. "Citra, kamu jangan nakutin aku dong...makin kecil keinginan aku untuk menikah kalau begini," sela Maya. "Nggak usah nikah, May. Nggak enak!" keluh Citra. "Tapi masa iya aku mau jadi perawan tua?" tanya Maya dengan
"Astaga, iblis sialan!" umpatnya penuh kekesalan. Pagi ini sekujur tubuh Citra terasa remuk, bahkan untuk bergerak saja rasanya sangat sulit. Tangannya bergerak meraih lampu tidur kemudian hendak memukulnya ke kepala Yusuf. Tapi ternyata ranjang di sampingnya kosong, tidak ada Yusuf disana. Dengan kecewa ia pun kembali meletakkan lampu tidur di atas meja nakas. Ia melirik pintu kamar mandi, ia yakin pria itu ada disana. Ia perlahan turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi. Tapi tidak lupa membawa teko, dan begitu melihat Yusuf ia akan melenyapkan pria itu. Pria yang ia anggap sebagai iblis karena sudah merampas kesuciannya. Tapi saat berdiri sesaat di depan pintu kamar mandi ia tak mendengar suara apapun, seperti tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam sana. Ia pun semakin penasaran, ia memberanikan diri membuka pintu dan dipastikan jika ada Yusuf ia akan langsung melenyapkan. Tapi? Citra lagi-lagi tidak melihat siapapun tidak ada Yusuf disana. Ia benar-be
"Nyonya, makan malam sudah siap," kata pelayanan yang datang langsung ke kamar Citra. Citra yang berbaring di ranjang tidak peduli sama sekali, ia masih belum bisa melupakan apa yang telah dilakukan Yusuf padanya. "Aku nggak lapar!" jawabnya ketus. Pelayanan pun mengangguk lalu keluar. Citra pun memeluk bantal guling dan kembali menangis, ingatan itu tetap saja berputar di kepalanya tidak bisa disingkirkan sama sekali. Saat itu pintu kamar kembali terbuka, Citra tau itu adalah pelayanan dan entah berapa kali sudah pelayan masuk memintanya untuk segera makan malam. Dan kali ini pun ia tidak mau, ia tidak berselera sama sekali untuk makan. "Pergi! Kamu dengar nggak? Aku bilang aku nggak mau makan!" katanya tanpa menoleh. Lalu terasa ranjang bergerak, dan ada tangan yang menyentuh wajahnya. Citra pun menoleh, ternyata itu Yusuf. Cepat ia menepis tangan pria itu. Baginya Yusuf bukan manusia tapi iblis. "Jangan sentuh aku!" katanya seorang menegaskan. "Kamu nggak lapar?" tanya Y







