LOGINSetelah dua tahun Lia putus dengan kekasihnya bernama Arka. Lia mencoba menghapus segala perasaan dan cintanya kepada Arka. Namun, semua tidaklah mudah. Arka selalu menghantui pikiran Lia setiap saat. Hingga suatu hari Lia bertekad melupakan Arka dengan bantuan Diana sahabatnya. Malangnya, takdir tidak berpihak di sisi, Lia yang mulai bisa menyingkirkan pikiran tentang Arka. Kini takdir malah mempertemukan kembali. Perasaan cinta yang seharusnya memudar kini bersemi tidak karuan. Apa yang harus Lia lakukan? Di saat dirinya mulai terbiasa tanpa Arka. Pria itu malah kembali, menguasai hati Lia lebih dalam lagi.
View MoreBagi orang lain, sifat setia adalah anugerah.
Namun, bagiku itu sebuah kutukan!Adelia Arabella
Kalimat itu terus tergiang dikepala cantiknya.
Lia kembali meringkuk di atas kasur sambil mengomel hal yang tidak jelas.
Sudah dua tahun ia putus dengan kekasihnya, yang bernama Arka namun, tetap saja ia tidak bisa melupakan lelaki tersebut.
Perasaan yang masih tetap sama, cintanya masih saja setia. Seolah ruang hati Lia hanya dipenuhi oleh Arka.
Ya.
Hanya Arka yang tetap setia disana.
"Sudah berhenti merengek!" risih Diana dengan mata yang tetap fokus ke layar monitor, sementara jarinya sibuk menekan keyboard.
Malam ini ia harus menyelesaikan naskahnya jika tidak ingin mendapat teguran lagi dari atasan.
Lia yang merasa kesal, melemparkan bantal yang ia pegang ke arah Diana.
"Aww," Diana meringis ketika bantal tersebut mendarat mulus membentur kepalanya.
"Rasain," omel Lia tanpa rasa bersalah, malah ia semakin kesal saja karena sedari tadi, Diana tidak menghiraukan curhatannya.
Diana mematikan laptopnya sebentar, setelah itu memutar badannya menghadap Lia. Ia melempar balik bantal tersebut.
"Ih, jahat banget sih," keluh Lia sambil mencibirkan bibirnya.
"Bodoh amat!" ucap Diana enteng.
Lia mendengus kesal, sahabatnya ini memang sangat menyebalkan, ia bangkit berniat pergi.
Diana yang menyadari Lia marah, menghentikannya agar tidak pergi. "Gitu aja marah, sini duduk aku denger dah."
Dengan tatapan sinis akhirnya Lia memilih kembali duduk di samping Diana.
"Coba cerita apa yang membuat sahabat cantikku ini galau," rayu Diana sambil tersenyum manis.
Lia diam sesaat, mencari kata yang tepat untuk mulai bercerita. "Aku masih mencintainya."
"Nah kan sudah kubilang, julukan miss gagal move on memang sangat cocok untukmu," ejek Diana cepat.
"Aww," ringis Diana kembali sambil menggosok area kulitnya yang baru saja dicubit Lia.
"Sakit tau, memerah ni kulit princess," lanjut Diana dengan centil yang membuat Lia ingin muntah mendengarnya.
Lia membuang muka ke samping dengan perasaan yang diselimuti emosi, sepertinya Diana tidak berniat membantunya sama sekali. Buktinya ucapannya tidak dianggap serius dari tadi.
"Ok, baik aku gak akan bercanda lagi," yakin Diana pada Lia.
Lia sedikit menoleh. "Beneran?" tanyanya memastikan.
Diana langsung mengangguk mantap, Lia membalik tubuh kembali.
"Bantu aku move on," pinta Lia to the point.
Diana tampak berpikir, terlihat dari dahinya yang membentuk garis kerutan.
Sudah dua tahun semenjak hubungan mereka berakhir dan Lia, ia masih belum bisa menghapus Arka dari ingatannya.
"Hah, aku punya ide," seru Diana ketika berhenti berpikir.
"Apa? Bagaimana caranya?" tanya Lia antusias.
# # #
Lia menunggu jawaban Diana, ia tidak sabar lagi untuk menghempaskan Arka dari pikirannya. Kedua telinganya kini telah siap siaga untuk menangkap setiap kata yang keluar dari mulut Diana.
"Banyak amat," imbuh Lia sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Diana menoleh, menjitak kepala Lia pelan.
"Itu hanya ungkapan bego!" teriak Diana ditelinga Lia.
Lia segera menjauhkan telinga, sebelum pendengarannya rusak.
"Ya gak usah teriak gitu juga kali." ujar Lia, tangannya sibuk memeriksa keadaan telinga, yang baru saja di teriaki kaset rusak.
"Mau lanjut apa gak?" tanya Diana sedikit berlagak sombong.
Lia tersenyum kikuk. "Mau dong."
Diana kemudian membuka sebuah laci, mengambil selembar kertas dan pena.
"Untuk apa?" tanya Lia ketika Diana menyerahkan kedua benda itu padanya.
Mata Diana membulat, sepertinya temannya sudah dipenuhi pengaruh bucin, itu sebabnya ia bahkan tidak bisa mengerti maksud sederhana Diana.
"Ditulis! Adelia ku sayang, kamu kan pelupa."
Awalnya Lia ingin membantah tetapi, ada benarnya juga ia memang pelupa dan ceroboh jadi, Lia menggambil kedua benda tersebut.
"Yang pertama, kamu gak boleh nyebut namanya," peringat Diana dengan gaya yang memerintah.
Lia segera menggangguk mengerti. "Terus manggil apa dong?"
Ku pikir dengan melihatmu bahagia maka, aku akan bahagia. Ternyata itu tidaklah cukup! Selama senyum itu belum tertuju untukku. Aku tak akan pernah bahagia.*Diana****Diana keluar dari ruangan kantor ibunya, ia lagi-lagi di kritik tentang impiannya yang tidak mungkin.Menjadi penulis, apa salahnya kalau Diana memimpikannya. Ia ingin menjadi seorang penulis yang sukses dan di sukai banyak orang. Ya, Diana tau, hal tersebut sangat bertentangan dengan kedua pekerjaan orang tuanya. Ibunya berbisnis di bidang fashion dan ayahnya seorang CEO perusahaan. Namun, apa masalah jika Diana mengambil jalur yang berbeda? Apakah itu sebuah kesalahan? Apakah seorang anak tidak pantas memilih mimpi mereka?.Sederet pertanyaan terus muncul di benak Diana, ia benar-benar merasa sangat tertekan.Suara dering ponsel membuat acara melamunnya terganggu. Diana langsung tersenyum sumringah, ketika melihat nama Rian tertera di layar ponselnya."Ya, ada apa?" tanya Diana bersemangat kembali. Wajahnya kembali
Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu pergi, entah itu dari pandangan atau hatiku.***"Kamu saja yang tidur di kasur." Arka berusaha membujuk Lia untuk tidur di kasur tetapi, Lia malah bersikukuh ingin tidur di lantai. Lia segera menggeleng, ia langsung tidur di lantai yang sudah beralaskan kasur tipis. "Orang sakit lebih baik tidur di kasur. Kalau kamu gak setuju, aku pulang ni." Acaman Lia seketika membuat Arka diam menurut, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, sementara di dalam hati ia merasa tidak enak membiarkan Lia tidur di bawah. Arka memang ingin Lia merawat dirinya tapi, bukan seperti ini konsep yang dia inginkan."Pejamkan matamu dan segera tidur!" Perintah Lia, setelah memastikan Arka menutup matanya, ia juga menarik selimut miliknya. Lalu tertidur lelap.Setelah beberapa menit, Arka kembali bangun, ia tidak benar-benar tidur. Dirinya kini memperhatikan Lia yang sedang tertidur pulas. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Lia, memastikan perempuan terseb
Saat kamu pergi, tidak ada lagi kata 'baik-baik saja' di dalam hidupku.***FlashbackSore itu Lia tersenyum senang manatap layar ponselnya dengan tatapan berbinar, ia tampak sesekali melompat kegirangan."Aku akan segera menemui." ujar Lia penuh semangat. Senyum di wajahnya tampak begitu indah. Seindah langit senja kala itu.Lia sudah berjanji untuk bertemu Arka di sebuah jembatan dekat kampus, tak berapa lama, orang yang ia tunggu akhirnya datang. Lia langsung menyambut Arka dengan senyum terbaiknya."Hai sayang," sapa Lia, ia langsung mengandeng tangan Arka. Arka hanya diam, ia menatap dalam manik mata Lia. "Ada apa?" tanyanya ketus. Kemudian menepis tangan Lia begitu saja.Lia yang menyadari perubahan raut wajah Arka, merasa aneh sekal
Jika cinta datang hanya untuk menyakiti, tak bisakah ia pergi tanpa mengiris hati.***Diana duduk sendirian di bangku taman, ia melimpah segala rasa sedih yang di tahannya di dalam hati. Ia menangis hingga terisak pilu, tidak perduli, orang-orang yang melewati dengan tatapan bingung.Suara ponsel mengalihkan perhatian Diana, ia menghapus segera air matanya dan mengatur suaranya agar tidak terdengar serak."Iya halo," sahut Diana dengan nada riang yang dibuat-buat."Maaf Mbak, naskah novel yang anda ajukan satu bulan lalu, tidak bisa kami terima karena tidak sesuai dengan keinginan penerbit," terang suara seberang.Diana berusaha tegar, ia tidak berusaha untuk berdebat tentang naskahnya dan mengakhiri percakapan tersebut seadanya. "Tidak masalah, saya mengerti."Setelah mematikan ponselnya, Diana kini kem
"Diana, sejak kapan kamu disini?" tanya Lia yang melihat Diana sudah berada di depan pintu apartemen miliknya.Diana berlari menghampiri Lia sambil tersenyum cengengesan. "Sekitar lima menit yang lalu."Lia hanya manggut-manggut mengerti.
Pagi yang cerah tetapi, tidak secerah hatiku.Adelia ArabellaPaginya, Lia sudah siap dengan setelan kantornya, ia keluar apartemen sambil ber
Mantan itu ibaratnya sampah plastik. susah didaur ulang. Apalagi, dihilangkan dari pikiran.Deskripsi Mantan"Sampah." Jelas Diana enteng."Kedengarannya cocok, aku suka."
Bagi orang lain, sifat setia adalah anugerah.Namun, bagiku itu sebuah kutukan!Adelia Arabella"Kita putus!"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.