MasukDi malam pertunangan kembarannya, Rosalia justru memilih untuk ke kelab malam. Niat awal, ia hanya ingin merayakan kelulusannya bersama sang sahabat. Namun, siapa sangka ia tanpa sengaja justru terlibat one night stand dengan seorang pria yang lebih pantas untuk menjadi pamannya. Kabar kaburnya sang kembaran membuat Rosalia terjebak situasi rumit. Ia dipaksa menggantikan kakaknya untuk bertunangan dengan salah satu keluarga bangsawan Gail. Berdalih ingin mengenal dan memilih sendiri calon suaminya, Rosalia lantas mengajukan syarat. Gara-gara syarat darinya, ia harus terjebak bersama 3 CEO lajang Keluarga Gail dengan masing-masing pesonanya. Yang mengejutkan adalah, salah satu pria itu adalah Ernest, pria yang berhasil mendapatkan kesuciannya. Siapakah yang akan dipilih Rosalia nantinya? Design Cover By Shena_art
Lihat lebih banyak"Dua puluh juta?!" seru Selena setelah melihat nominal biaya kuliahnya. Ia tak percaya dengan nominal yang tertera di surat edaran elektronik. Berulang kali ia hitung jumlah nol di belakang angka dua yang berderat rapi. Tetaplan sama. Ia tak salah baja.
Selena merasakan kakinya lemas detik itu juga. Ia langsung jongkok dan menundukkan kepala. "Gimana caranya aku bayar biaya kuliah sebanyak itu?"
Gadis berambut panjang sepinggang itu tampak bingung. Uang dari orang tuanya, hasil jual tanah di kampung sudah habis untuk semester tujuh kemarin. Uang itu benar-benar tidak mencukupi semua kebutuhannya. Ia sampai bekerja paruh waktu untuk menutupi biaya hidupnya di Jakarta.
Selena mengembuskan napas panjang. Melepas sedikit beban yang ia rasakan. Lalu berdiri dan menyemangati diri sendiri.
"Masih ada waktu buat nyari uang, aku pasti bisa lulus."
Selena mengangguk, meyakinkan dirinya sendiri sembari mengepalkan tangan. Ia yakin bisa membayar biaya kuliahnya dan lulus dari jurusan akuntansi yang sudah ia tekuni. Pasti ada jalan keluar untuk tagihan biaya kuliahnya.
***
Selena tiba di depan halaman kosnya. Hari ini ia tidak berlama-lama di kampus, karena tugasnya untuk semester tujuh sudah ia selesaikan semua. Jadi, ia bisa pulang lebih cepat dan mengatur strategi mengumpulkan uang untuk membayar tagihan biaya kuliah.
"Syukurlah, nggak perlu capek nunggu kamu, Len."
Ibu kos muncul di rumah sebelah Selena. Selena yang baru memasuki teras langsung menoleh ke arahnya.
"Eh, Ibu. Ibu nunggu saya?"
"Iya, siapa lagi. Kamu kan belum bayar uang bulanan, Len," ceplos Ibu Kos tanpa basa-basi. Ia menutup pintu rumahnya dan ke teras samping rumah di sebelahnya.
Selena yang lupa jika ini awal bulan merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia lupa tanggal. Setiap tanggal satu kan tagihan pembayaran kosnya.
"Kenapa? Lupa?"
Ibu Kos mengeryitkan dahi melihat respon yang diberikan Selena. Selena hanya nyengir, memperlihatkan gigi putih yang tampak rapi dan rata. Ibu Kos menggeleng melihat Selena yang seperti anak kos lainnya.
"Maaf, Bu. Lena beneran lupa. Boleh ditunda, ya, Bu. Nanti, setelah dapat gaji, aku langsung kasih ke Ibu, deh," pinta Selena memohon disertai dua telapak tangannya yang menyatu.
Ibu Kos tampak berpikir. Tangan kirinya ditekuk depan perut. Tangan kanannya ditekuk ke atas, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu.
Selena merasa was-was jika ibu kos ini menolak. Ia tahu betul bagaimana bu kos ini tidak bisa diajak kompromi kalau sudah menyangkut soal uang. Sudah banyak anak kos yang keluar karena tidak ada toleransi darinya.
"Ya sudah, khusus buat kamu yang rajin bayar kos tiap bulan, kali ini saya bolehin. Ingat! Nggak buat bulan berikutnya."
Senyum sumringah nampak di wajah manis Selena semringah. Ia merasa sedikit lega dengan kelonggaran yang diberikan.
"Makasih, Bu. Makasih banyak."
Selena menghampiri Ibu kos yang ada di pinggiran teras rumah sebelahnya. Ia menciumi punggung tangan Ibu kosnya dan mengucap terima kasih berulang kali.
"Iya-iya. Ingat, ya. Hanya bulan ini,"kata Ibu Kos memperingatkan lagi.
"Siap, Bu."
Selena memberi hormat. Ibu kos menggeleng dengan anak kosnya satu ini. Ia pun langsung pergi memasuki teras rumah lain dan mengentuk pintu, menagih uang pada penghuni kos lainnya.
Selena menghela napas lega. Untuk kos bulan ini bisa ia tunda beberapa hari, sembari menunggu gajinya cair, tapi tidak untuk tagihan kuliahnya.
Selena langsung masuk rumah, setelah membuka pintu rumahnya yang terkunci. Ia merebahkan tububya di kasur kapuk yang berukuran satu kali dua meter. Pas untuk dirinya seorang.
Selena menatap langit ternit kamarnya yang bewarna putih. Ia berpikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak dua puluh juta dalam waktu singkat.
"Mana ada kerja yang gajinya dua puluh juta dalam waktu beberapa hari. Satu bulan aja belum tentu ada."
Selena bangun dan duduk. Membuka laci meja yang ada di samping kasur. Ia mengambil dan melihat buku tabungannya. Nominal terakhirnya masih ada lima juta rupiah.
Selena menjatuhkan punggungnya di kasur lagi. Uang lima juta bisa buat apa? Tagihan kosnya saja satu juta. Tagihan listrik lima ratus ribu. Belum makannya nanti. Padahal, ia sudah cukup hemat dengan makan mie instan. Hal paling membahagiakan untuk Selena ketika di kos adalah saat dirinya sanggup membeli nasi dan telur.
"Hahhh ...."
Selena menghela napas kesekian kalinya untuk hari ini. Beban di pundaknya benar-benar terasa berat. Ingin rasanya ia berteriak untuk melepasnya, tapi apa itu membantu? Yang ada ia dianggap gila dengan orang-orang di sekitarnya.
Perut Selena berbunyi. Reflek ia memegang perutnya yang memang belum ia isi sejak tadi pagi.
"Apa bilang, ya sama Bapak Ibu di kampung?"
***
Ini sudah dua hari sejak terakhir Ernest datang menemui Rosalia di rumah peristirahatan milik Ayah mertuanya. Dan selama dua hari ini, suaminya itu sudah tidak pernah lagi mengganggu dirinya. Tidak menemuinya sama sekali. Membuat Rosalia menjadi bingung dan juga berpikir, apakah Ernest benar-benar telah menyerah padanya. "Ed, aku ingin kembali bekerja!" cetusnya di meja makan, saat ia sarapan pagi bersama Edward. Namun Edward hanya menatapnya dengan wajah seolah kurang yakin kalau ia sudah siap untuk bekerja. "Bagaimana tubuhmu, Rosi? Kau yakin ingin melakukan hal ini?"Rosalia mengangguk tegas, keseriusannya itu juga ia tunjukkan lewat tatapan matanya yang tertuju pada Edward. "Aku bosan, Ed," ungkapnya, mencoba menjelaskan alasan tentang mengapa ia memutuskan untuk pergi bekerja. Sesaat, ia sempat menangkap raut wajah Edward tiba-tiba tampak aneh. Seolah ada sesuatu yang sedang disembunyikan Edward darinya. Tapi apa? "Baik, tapi sebaiknya aku menghubungi Luis terlebih dahulu, b
Di dalam kamarnya, duduk bersandar di atas ranjang, Rosalia terus menunggu seandainya Ernest naik ke lantai dua rumah peristirahatan. Lalu menggedor pintu kamarnya sambil berteriak marah memanggil namanya. Tapi hal itu tidak terjadi sama sekali, terlalu hening, terlalu sepi, membuat ia ingin menangis. Tak lama, suara sedan terdengar di pekarangan rumah. Suara itu seolah bergerak menjauh, pergi menjauhi rumah peristirahatan. "Dia menyerah? Haha ... ternyata hanya begitu." Rosalia tertawa lirih, dan di penghujung tawanya, ia justru terisak pelan. Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, meringkuk, dan terus terisak di sana hingga ia tertidur. 1 jam kemudian, gagang pintu kamar Rosalia tiba-tiba bergerak turun. Berselang beberapa detik, pintu itu yang ternyata tidak terkunci bahkan didorong perlahan dari luar oleh sesosok tubuh tinggi besar. Sesaat, pria ini melemparkan pandangannya ke arah ranjang. Menatap cukup lama pada Rosalia yang telah tampak pulas, baru kemudian melangkah perlah
Malam hari, usai makan malam. Rosalia terus mengunci dirinya di dalam kamar, duduk termangu di atas ranjang sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang sengaja ia tekuk. Hari ini ia jengkel sekali, sangat jengkel atas semua yang telah Ernest lakukan padanya. Dan ... bagaimana bisa suaminya itu merayunya, menggodanya, menyentuhnya dengan tangan yang pernah menyentuh Barbara sebelumnya, tanpa merasa bersalah pada dirinya? Ernest anggap apa dirinya? 'Itu karena kau juga sengaja membiarkannya melakukan hal itu padamu, Rosi! Kau ... selalu takluk ketika Ernest menyentuhmu. Kau selalu menyerah di bawah kecupannya. Pria itu menyadarinya, Rosalia Heart! Dia mengetahui kelemahanmu!'Rosalia memiringkan kepalanya, mencoba mengacuhkan semua jeritan yang diteriakkan hatinya padanya. Meski ia tahu kalau semua itu memang benar adanya. Yah, ia memang selemah itu di hadapan Ernest. Itu benar, dan ia tidak menampiknya. Ia juga sadar kalau ia tidak bisa melihat sekelilingnya karena h
Perlahan-lahan, Edward membalikkan tubuhnya. Dan ia sontak membeku saat telah berhadapan sempurna dengan Pamannya. Sebab wajah Ernest kini tampak sangat menakutkan. Beberapa saat yang lalu, Ernest hampir berhasil melepaskan satu-satunya kain yang masih melekat di tubuh Rosalia, namun konsentrasinya tiba-tiba terganggu oleh suara bel. Selama beberapa saat ia mencoba untuk mengacuhkannya, tapi naasnya ... suara bel kedua justru membuat Rosalia seketika membuka matanya. Istrinya itu menatap lekat ke arahnya, ia bahkan melihat ada kebencian di wajah Rosalia saat itu. Dan lebih sialnya lagi, suara bel kembali terdengar. Semakin sering, hingga Rosalia yang semula telah terpengaruh oleh sentuhannya, langsung mendorong tubuhnya. Istrinya itu bahkan segera memunguti semua pakaiannya dan bergegas berlari ke kamar mandi. Keributan itu tentu saja membuat Ernest meradang. Karena gara-gara suara bel, gairahnya yang semula telah berada di puncak, akhirnya langsung terjun bebas akibat penolakan Ros
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak