로그인Blurb : “Cahaya tahu di kamar Ayah sama Tante ngapain?” cecarku menanti kepastian. “Nggak tahu, Bunda. Cuma Cahaya pernah lihat Tante Rosa nggak pake baju, terus Ayah naik ke atas Tante. Pas Aya masuk dan tanya, Ayah cuma bilang mau ngobatin Tante. Aya nggak boleh masuk kata Ayah, terus dikunci deh pintunya dari dalem,” kata Cahaya dengan polosnya. Dan Nayla hanya bisa terpaku di tempatnya. * Hidup Nayla terlalu sempurna, hingga suatu ketika celotehan putrinya, Cahaya, mampu meruntuhkan kesempurnaan hidupnya. Sanggupkah Nayla menghadapi semuanya dengan ikhlas dan tegar?
더 보기"William, Aku ingin bercerai. "
Emely menatap suaminya cukup dalam. Keringat dingin membasahi dahinya. Cintanya selama lima tahun lamanya untuk pria di hadapannya itu tidak pernah terbalaskan. Suka duka dalam rumah tangganya sudah ia rasakan. Kini ia menyerah. Wiliam sedang memainkan ponselnya- berhenti sejenak kemudian menoleh kepada wanita yang sudah bersama dengan dirinya selama lima tahun lamanya. Dia tidak menganggap ucapan itu serius.William kembali menatap ponselnya dan mengabaikan ucapan istrinya. Sesekali senyum terlihat di bibirnya. Emily yang tidak mendapatkan respon dari suaminya tersenyum getir.Dia jelas tahu dengan siapa suaminya bertukar pesan. Tangannya gemetar memegang ujung gaun-nya. Perlahan-lahan dia melangkah keluar. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia sudah mengambil keputusan. Langkahnya begitu pelan. Pikirannya berkecamuk. Dadanya seperti tersayat. Dia semakin yakin dengan keputusannya. "Apa aku sama sekali tidak pernah ada di pikiran mu?" Emely menahan buliran bening di pelupuk matanya. "Walau sebentar?" *** Dua hari yang lalu,William mengatakan jika dia pergi untuk melakukan perjalanan bisnis.Tapi Emily jelas tahu jika suaminya bukan hanya melakukan perjalanan bisnis tapi dia menemui wanitanya. *** Pernikahan yang Emily jalani selama lima tahun lamanya tidak membuat William mencintainya.Pria itu tetap saja bersikap dingin kepada dirinya dan hatinya tetap milik wanita lain.Setidaknya itulah yang Emily yakini sampai sekarang. "Nyonya." Emely menghentikan langkahnya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi ceria ketika mendengar suara lembut kepala pelayan mansion. Wanita itu tidak ingin menunjukkan kesedihannya kepada siapa pun termasuk dengan Wiliam yang merupakan suaminya. "Ada apa bibi?" Emely tersenyum. "Nyonya Isabella dan tuan Carter akan datang nanti siang. Apa tuan William tidak memberi tahu anda?" Sorot mata wanita paruh baya itu begitu sendu." Nyonya, harus kuat. Percayalah tuan akan melihat nyonya suatu saat nanti." Wanita berusia 50 tahun itu mendekat. Wanita paruh baya itu memegang tangan Emely dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Dia menyadari kesedihan yang di rasakan oleh Emely meskipun wanita itu selalu berusaha menyembunyikannya tapi wanita itu menyadarinya. Dia juga melihat bagaimana perlakuan tuannya selama ini. "Terimah kasih bibi Elsa. Aku sudah berusaha menyembunyikannya tapi sepertinya bibi tetap saja mengetahuinya. Aku sudah menyerah bibi, aku sudah memutuskan untuk melepaskan William." Emely memaksakan diri tersenyum. Emely memeluk bibi Elsa selama beberapa menit dan melerai pelukannya kemudian berjalan keluar dari mansion. Bibi Elsa mengelus dada. "Nyonya dan tuan adalah pasangan yang begitu serasi tapi tetap saja masa lalu tuan adalah pemenangnya. Meski wanita itu tidak baik tapi tuan tidak bisa melihatnya." Gumam bibi Elsa menatap kepergian Emely. Di depan mansion, Emely menghentikan langkahnya yang hendak menuju ke taman. Wanita itu menatap mobil yang baru saja berhenti tepat di hadapannya. Emely tersenyum dan mendekat ke arah mobil tersebut meski dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu pintu mobil terbuka, raut wajah Emely berubah. "Kenapa ada wanita itu?" Batin Emely merasakan sedih di dalam hatinya. Matanya tampak berkaca-kaca memandang wajah wanita yang sedang duduk di samping mamah mertuanya. "Kamu tidak senang melihat mamah?" Isabella membuka pintu mobil cukup keras. Dia turun dari mobil dengan menunjukkan ekspresi kesalnya di hadapan menantu yang tidak pernah ia sukai. Emely terkejut dengan suara pintu yang cukup keras. "Bukan begitu mah. Emely jelas senang melihat mamah datang." Jawab Emely mulai tersenyum. Meski perasaanya mulai tidak tenang. Dia tetap berusaha bersikap tenang. "Cieh, dasar munafik."Gumam Isabella yang masih terdengar jelas di telinga Emely. Emely memegang tangannya yang sedari tadi gemetar dengan hati yang hancur. "Joana turunlah sayang." Isabella tersenyum. Nada bicara yang terdengar begitu lembut selalu terdengar jika itu Joana. Tapi jika dirinya, wanita paruh baya itu sama sekali tidak pernah bersikap lembut kepada dirinya. Dia sudah menjadi menantu di keluarga Carter selama lima tahun lamanya tapi tetap saja dia mendapatkan perlakuan yang buruk. Jika itu dulu, Emely akan berusaha untuk meluluhkan hati mertuanya tapi sekarang dia tidak ingin melakukan hal itu. Dia sudah menjadi wanita yang begitu penurut dan tidak pernah menunjukkan kemarahannya tapi tetap saja, suaminya tidak pernah melihatnya sebagai wanita. Kini Emely sudah bertekad untuk melepaskan laki-laki yang sudah menikah dengannya selama lima tahun lamanya. Meski dia harus mengubur perasaanya. "Hallo Emely, kita berjumpa lagi." Wanita yang bernama Joana itu tersenyum tipis memandang ke arah dirinya. Emely membalas senyuman Joana. Pandangannya tertujju kepada wanita yang sedang mengenakan dres selutut dengan body yang begitu di impikan oleh semua wanita. Jika di bandingkan dirinya yang sedikit kurus dan tidak terbentuk, sangat beda jauh. Emely hanya tersenyum kecil dan kembali menatap wajah wanita cantik di hadapannya. Terlihat jelas jika dia sering melakukan perawatan wajah. Sedangkan dirinya sibuk bekerja dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Rasa minder semakin menggorogoti hatinya. "Bagaimana kabar mu nak? Kita sudah tidak bertemu selama tiga bulan, kamu terlihat tirus." Perhatian Emely teralihkan dengan kehadiran ayah mertuanya. Pria paruh baya itu mendekat dan memeluk menantu kesayangannya. Pria paruh baya itu adalah satu-satunya orang yang menyayangi Emely. Emely kembali merasa tenang ketika merasakan pelukan sosok ayah yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Emely membalas pelukan ayah mertuanya. Dia tidak akan pernah lupa dengan kebaikan pria paruh baya di hadapannya itu yang memperlakukan dirinya seperti putrinya sendiri. "Terimah kasih ayah, Emely kira ayah akan datang nanti siang." Emely menatap ayah mertuanya. Meski dia sudah melepaskan Wiliam, dia tidak akan pernah lupa dengan kebaikan ayah mertuanya. "Mamah mu yang ingin segera datang. Katanya dia sudah sangat merindukan Wiliam." Jawab Carter tersenyum kecil. Bagi Emely tidak akan ada yang berubah meski dia sudah bercerai dengan William. Pikirannya saat ini bagaimana dia mengatakan hal itu kepada ayah mertuanya jika dia akan bercerai dengan putranya. Emely mempersilahkan ayah mertuanya masuk ke dalam sebagaimana dia melakukannya selama lima tahun pernikahannya dengan Wiliam. Dia selalu melayani mertuanya dengan sangat baik tapi kali ini dia memilih untuk duduk bersama dengan mereka. Isabella yang melihat hal itu terlihat tidak senang. Sorot matanya terlihat jelas jika dia sedang kesal kepada menantunya. "Emely apa yang kamu lakukan?" Nada bicara Isabella terdengar begitu kesal. Emely tersenyum meski dia menyadari kekesalan mamah mertuanya. "Tenang saja mah, pelayan sudah menyiapkan semuanya." Emely masih bersikap tenang di hadapan mertuanya dan di hadapan wanita yang di cintai suaminya. "Apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah melupakan tugasmu? Sebaiknya segera ke dapur." Sorot mata Isabella semakin tajam. Emely tetap tersenyum meski dia menyadari kekesalan mertuanya. "Tidak mah tapi aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Begitu banyak pelayan di sini." Isabella mengepalkan tangannya, dadanya naik turun karena kesal. Baru kali ini dia melihat Emely menolak apa yang di perintahkan olehnya. Selama ini dia begitu penurut tapi kali ini dia mulai melakukan penolakan. Isabella jelas tidak terima sikap Emely seperti itu. Joana sendiri tidak mengatakan apa- apa tapi dia terlihat menikmati apa yang sedang terjadi saat ini. Senyum terlihat di bibir Joana. "Emely, mamah bilang ke dapur. Apa kamu harus membantah mamah di hadapan Joana?" Isabella mulai meninggikan suaranya. Tangan Emely mulai gemetar. Dia tidak menyangka jika mamah mertuanya akan membentaknya di depan Joana. "Apa yang sedang terjadi?" Semua mata memandang ke arah sumber suara itu.EPILOGEnam bulan kemudian ....“Pagi Sayang, have a nice day!” Aku sedikit kaget saat Hendra alias pria yang tengah sah menjadi imam ku memeluk pinggangku dari belakang. Sontak wajahku memerah, dia selalu saja berhasil membuat diriku melayang tinggi hingga menembus langit ketujuh.“Ngagetin aja, pagi juga, Mas!” sahutku seraya melanjutkan aktivitas mengiris daun bawang untuk pelengkap telur dadar sebagai sarapan pagi ini.Ya ... setelah menikah dengan Hendra selama hampir enam bulan ini, aku baru tahu bahwa dia suka sekali dengan telur dadar yang dicampur irisan daun bawang. Seakan tak pernah bosan, hampir setiap hari dia menginginkan masakan itu di setiap pagi untuk memenuhi asupan nutrisinya. Terkadang juga aku heran, bagaimana bisa lelaki dari keluarga berada dan bergelimang harta bisa mempunyai makanan favorit berupa telur ayam sederhana. Kenapa bukan masakan ala western atau mungkin makanan dengan gizi lengkap yang seimbang. “Kok diem? Ngelamun, ya?” tanya Hendra yang kini mend
##BAB 91 Akhir KisahBerkali-kali aku menghubungi Hendra, hingga puluhan panggilanku tak ada satu pun yang dijawab. Sampai pusing aku berjalan mondar-mandir bak setrika. Bu Wak bingung melihat tingkahku yang tak karuan. “Kenapa, toh, Ibu lihat dari tadi maju mundur kayak orang bingung. Ada masalah?” tanya Bu Wak terlihat perhatian, seperti biasa.Aku menggeleng, tentu saja hal seperti ini tak mungkin aku sampaikan kepada Bu Wak. Biarlah ini menjadi urusan pribadiku. Aku beranjak menuju ke kamar, tiba-tiba saja air mataku tumpah tanpa sebab. Aku tak tahu, apa yang aku rasakan hingga tiba-tiba menangis tanpa alasan. Masih dalam genggaman, kulihat layar ponsel yang masih sepi, tak ada tanda-tanda Hendra menghubungi ku kembali. Apa yang dia lakukan sebenarnya di sana?Hingga kecapekan menangis, membuatku ketiduran. Entah sudah berapa jam aku tertidur, ketika bangun ponselku sudah dipenuhi panggilan tak terjawab dari Hendra. Aku tak mendengarnya karena ponselku masih berada dalam mode sil
##BAB 90 Suara Wanita MencurigakanSUARA WANITA MENCURIGAKANANAKKU MENJADI SAKSI MATA PERSELINGKUHAN SUAMIKU (S2)“Kapan kamu siap untuk menikah? Mungkin kamu berkeinginan memilih tanggal yang cantik?” ucap Hendra.“Terserah saja, yang penting jadi menikah. Semua tanggal itu baik, ‘kan?” ujarku sembari tersenyum.“Iya juga, Papa sudah siap memfasilitasi semuanya. Aku hanya perlu menyiapkan mahar beserta mas kawin. Kamu mau apa?” tanya Hendra menatapku intens.Kami bertemu kembali di rumahku, setelah tiga hari dari rumah Ayah kemarin. Hendra pulang ke rumah Papanya untuk mengabarkan keputusanku tempo lalu. Alhamdulillah akhirnya Tante Sofia pun ikut menyetujui walaupun aku tahu mungkin dia terpaksa.“Yakin nih, aku bebas pilih sendiri mas kawinnya?” tanyaku dengan senyum menggoda.“Dengan senang hati!” Hendra menaik-turunkan alisnya memandangku.“Aku hanya bercanda, terserah kamu saja, deh!” ucapku seraya tertawa.“Bagaimana kalau pabrik usahaku saja yang kujadikan mahar?” tawar Hendr
##BAB 89 Keputusan NaylaKeesokan harinya, Hendra benar-benar serius dengan ucapannya. Pagi-pagi sekali dia sudah menjemputku, kami berencana akan pergi ke rumah Ayah. Berdua saja dan kali ini menggunakan mobilku.“Udah siap? Berangkat sekarang, ya?” tanya Hendra yang kini sudah berpakaian rapi, yakni kemeja lengan panjang, celana bahan dan sepatu pantofel. Menurutku dia lebih mirip seperti orang yang akan melakukan interview di perusahaan besar dari pada bertemu calon mertua. Eh ....Ah, membayangkan Hendra akan menjadi menantu Ayahku saja sudah membuatku berdetak hebat tak karuan begini. Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang dengan pesonanya.“Yuk!” seruku bersemangat.Kami menempuh perjalanan sekitar dua jam, aku sengaja tak menghubungi Ayah dan Ibu jika ingin ke sana. Biar ini menjadi surprise nantinya. Hendra tampak gusar, beberapa kali mengusap wajahnya dengan handuk kecil berwarna hijau muda. Padahal tak ada peluh yang menetes, tapi ... entahlah apa yang dia bersihkan.“Kamu ke
##BAB 73 Pesta PertunanganSelepas pergi dengan Hendra hampir seharian, akhirnya aku sampai juga di rumah dan bertemu dengan kasur empuk milikku. Aku merebahkan tubuhku di sana, jantungku semakin tak terkendali sejak tadi. Entahlah, apa yang aku rasakan?Besok Hendra mengajakku bertemu dengan keluarga
##BAB 74 Gladys AnehSesampainya di kediaman Hendra, alias orang tuanya. Aku mendecak kagum, rumah itu begitu megah bak istana dengan aksen bangunan Eropa. Pilar begitu tinggi dan kokoh menampilkan kesan kuat. Hendra menggandengku masuk ke dalam, tak begitu banyak yang hadir. Hanya ada beberapa orang
##BAB 71 Tentang VanoSetelah tertidur beberapa waktu, aku pun terbangun saat suara ring tone di ponselku terdengar. Rupanya Hendra yang menelepon.“Halo ....”“Halo, Nay ... Assalamualaikum. Maaf, aku ganggu nggak?” tanya Hendra seperti tak enak. Mungkin suara serakku khas bangun tidur bisa dia tangka
##BAB 70 Misteri PonselKembali aku tajamkan pendengaranku, benar itu Gilang sedang berbincang dengan Mas Frengky. Tapi, semakin ke sini suara Gilang semakin tak terdengar jelas. Hanya suaranya yang mengatakan antara iya, tidak dan mungkin, itu saja yang terdengar jelas dalam rekaman. Hal ini tentu s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰