LOGIN
"Sejak kapan kita jadi seperti ini?" Jerit batin Liora tak terdengar, tenggelam dalam tatapan kosongnya pada selembar foto pernikahan yang membeku di dinding.
Di bawah kepungan gulita, potongan-potongan memori manis masa lalu mendadak berputar tanpa izin. Membakar benaknya, jauh lebih intens dan menyakitkan ketimbang adegan film romantis mana pun. Lima tahun sudah jemarinya menyandang cincin sebagai Nyonya Frost. Sebuah pesta bak dongeng kerajaan yang kini terasa seperti sangkar emas; megah di luar, namun hampa di dalam. Klik. Cahaya lampu mendadak benderang, menggilas habis seluruh lamunannya. Liora tersentak. Di ambang pintu, Rain berdiri tegak dengan rahang mengeras dan wajah sekaku pahatan es. "Apa yang kamu lakukan di kegelapan?" Suara Rain memecah hening, datar dan dingin. Langkah kakinya terdengar konstan, sementara sepasang matanya mengunci pergerakan Liora tanpa jeda. "Kupikir kamu tidak pulang hari ini," sahut Liora, menetralkan nada suaranya agar terdengar acuh tak acuh. "Urusanku selesai lebih cepat." Rain melirik jam tangan, lalu beralih pada sang istri. "Malam ini akan badai. Bukankah kamu takut petir?" Liora mendengus tipis, membuang muka. "Aku bukan anak kecil lagi." "Kamu menungguku? Ada yang ingin didiskusikan?" Liora menggeleng. Ia memutar tubuh, menghadap suaminya yang kini sudah duduk dengan posisi punggung tegak sempurna. Di balik bingkai kacamata peraknya, sorot mata Rain masih belum beralih sepeser pun darinya. "Tidak ada," jawab Liora, melangkah pergi begitu saja melewati sofa empuk di ruang tengah. "Liora." Ketukan tumit sandal Liora mendadak terkunci. Posisinya tepat di samping sofa tempat suaminya bersandar. "Hm?" Dada Liora berdesir hebat saat menangkap pergerakan Rain yang mulai menggeser posisi duduk. Demi menyembunyikan detak jantung yang menggila, ia buru-buru memotong keheningan sebelum suaminya sempat bersuara. "Mau makan sesuatu? Kurasa ART meninggalkan beberapa menu di kulkas yang bisa dihangatkan." "Tidak usah." Rain melonggarkan sedikit dasinya, lalu menatap Liora lekat-lekat. "Bagaimana denganmu? Lapar? Kurasa camilan malam bukan ide yang buruk." Tanpa memberi jawaban verbal, Liora membalikkan badan menuju dapur. Denting piring dan gemercik bumbu beradu cepat. Tak butuh waktu lama, beberapa piring makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan, memutus jarak yang sempat membeku di antara mereka. "Kudengar kamu sedang mengerjakan proyek pengambilalihan lahan." Suara Rain memecah denting sendok yang beradu dengan piring. Liora hanya merespons dengan anggukan samar, lalu menyuapkan beberapa sendok lauk ke dalam mulutnya tanpa minat untuk memperpanjang obrolan. "Ada masalah?" cecar Rain lagi, matanya menyipit menuntut jawaban. Liora menggeleng pelan, tetap fokus pada makanannya. Sikap dingin dan respons minimalis itu mulai memicu percikan kekesalan di dada Rain. Ia meletakkan garpunya sedikit lebih keras. "Kenapa menungguku kalau hanya untuk diam?" Klank. Liora meletakkan alat makannya di atas piring, memutus keheningan dengan sengaja. Nada suaranya mendadak naik satu oktav. "Siapa yang menunggumu?" Rain agak tersentak, namun dengan cepat menutupi kegusarannya. Ia bersedekap, mencari pembenaran. "Aku pikir kamu punya masalah. Berdiri diam sendirian di kegelapan seperti tadi, apa namanya kalau bukan ada yang mengusik pikiranmu?" "Tidak ada apa pun, Rain," tegas Liora, menyatukan jemarinya di atas meja. "Hanya..." "Apa?" potong Rain cepat, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" Secara perlahan, Liora mengangkat kepalanya. Manik mata berwarna kecoklatan miliknya kini mengunci tatapan Rain yang berada tepat di seberang meja. "Ulang tahun pernikahan kita. Orang tuamu ingin kita merayakannya dengan megah, dan mereka meminta kita datang besok." Rain terdiam sejenak, ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Jam berapa? Kita bisa pergi bersama." "Besok pagi aku ada pertemuan penting dengan klien." "Dengan pria bernama Jade itu?" dengus Rain. Ia mendadak meraih kembali garpunya, lalu mulai mengacak-ngacak makanan di piringnya dengan gestur gusar yang kentara. Liora memperhatikan tingkah suaminya dengan alis terangkat sebelah. "Hm." "Kamu kan bisa menyuruh asistenmu saja," gerutu Rain setengah bergumam, pandangannya sengaja dialihkan ke arah lain. "Kamu bicara sesuatu?" pancing Liora, menyadari nada cemburu yang disembunyikan suaminya. Rain langsung menggeleng cepat, menegakkan punggungnya kembali seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku akan mengantarmu ke tempat pertemuan. Setelah urusanmu selesai, kita langsung ke rumah orang tuaku. Oke?" Liora hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. Ia tahu betul watak pria di hadapannya ini, keras kepala dan tidak pernah mengenal kata penolakan jika sudah mengambil keputusan. "Ya," angguk Liora pasrah, menyudahi perdebatan malam itu. Di luar rumah, rintik hujan mulai berdenting menyentuh genting, menciptakan simfoni sunyi yang memeluk kediaman Frost. Di dalam kamar utama, dua insan yang terikat dalam janji suci justru saling memunggungi di atas kasur berukuran king size, menyisakan jarak tak kasatmata yang begitu lebar. Blarrr! Suara gemuruh petir tiba-tiba saling menyambar di langit malam. Refleks, Liora meremas erat pinggiran selimutnya, menyembunyikan wajah di balik kain tebal. "Takut?" Pertanyaan Rain memecah kesunyian. Di telinga Liora yang sedang berjuang menahan kedutan ngeri di bahunya, suara itu terdengar menyerupai ejekan. "Tidak," sahut Liora ketus, meski getaran halus di ujung suaranya tidak bisa membohongi keadaan. "Kemarilah," bujuk Rain, namun nada suaranya tetap mutlak bak sebuah perintah yang tak boleh dibantah. "Tidurlah," usir Liora tanpa menoleh. "Aku sedang tidak berniat menyentuhmu." "Rain!" Sentakan itu membuat Liora langsung terduduk tegak di atas kasur. Sepasang matanya menghunus tajam dalam kegelapan. "Tutup mulutmu, atau aku—" Belum sempat ancamannya tuntas, jemari kokoh Rain bergerak secepat kilat. Pria itu menarik pergelangan tangan Liora hingga tubuh wanita itu limbung dan jatuh tepat di atas dekapan dadanya yang bidang. "Lepas!" pekik Liora. Ia mulai memberontak, mendorong dada Rain demi keluar dari kungkungan posesif sang suami. "Sstt..." Bibir hangat Rain menyentuh cuping telinga Liora, menyalurkan sensasi panas menyengat yang seketika mengunci seluruh pergerakan Liora. "Besok kamu ada pertemuan penting, kan? Tidurlah." Liora membeku. Ia tahu malam ini ia telah kalah telak. Rain tahu betul bagaimana memanfaatkan titik lemahnya terhadap hari berpetir. Perlahan, kehangatan pelukan itu mengikis rasa takutnya. Aroma tubuh Rain yang khas yaitu maskulin bercampur wangi sabun yang mengisi setiap tarikan napas Liora, mengalirkan ketenangan yang lambat laun memberatkan kelopak matanya. Embusan napasnya mulai teratur. Tepukan-tepukan halus tangan Rain di punggung Liora tak pernah berhenti, berirama konstan menidurkan sang istri. Begitu menyadari napas Liora sudah sepenuhnya tenang menandakan ia telah terlelap, Rain menunduk. Ia mengecup pucuk kepala Liora dengan kelembutan yang selalu ia sembunyikan saat wanita itu terbangun. "Apa yang menyebabkan hatimu berubah? Kemana sikap manjamu yang dulu My-Lio?" lirih Rain parau pada keheningan malam. Tatapannya meredup penuh luka tersembunyi. "Apakah... Karena pria bernama Jade itu?" Rain kembali mengecup kening Liora sekilas, sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan mempererat dekapannya, mengunci tubuh sang istri secara posesif ke dalam pelukannya. "Kamu aneh! Biasanya paling malas repot-repot ke butik cuma buat beli baju. Apa yang kamu pikirkan sekarang, hah? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Liora begitu mobil sedan mewah Rain terparkir sempurna di depan butik kelas atas itu."Bukan aku. Ini Mamah yang nyuruh," sanggah Rain santai. "Nih, telepon sendiri kalau gak percaya."Rain menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah sang istri. Tatapan Liora masih menyelidik tajam, mencoba membaca situasi. Namun, benteng ekspresi di wajah suaminya terlalu kokoh untuk ditembus."Selesaikan dengan cepat," ketus Liora. Ia menarik tuas pintu mobil, lalu keluar dengan helaan napas kesal yang kentara.Rain hanya tersenyum tipis, bersyukur Liora tidak memperpanjang kecurigaannya. Di kantor tadi ia sempat cemas rencana ini akan berantakan karena tidak didukung sang Mamah. Untunglah, sebuah pesan masuk mendadak mengirimkan alamat butik ini."Bersiaplah dengan serangan romantisku, My-Lio," gumam Rain seraya melangkah menyusul istrinya.Begitu m
"Mah," sapa Rain dengan wajah kusut. Kontras sekali dengan setelan kemeja necis yang melekat di tubuhnya."Liora mana?" tanyanya langsung saat mendapati sisi ranjangnya kosong pagi ini.Esther yang sedang menikmati teh di meja makan menengadah. Alisnya bertaut heran. "Dia istrimu, kenapa tanya Mamah?" selorohnya. "Kamu apakan dia semalam sampai istrimu kabur, hm?"Rain menghela napas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang sang mamah. "Ini semua gara-gara ide gila Mamah.""Oh, sekarang Mamah yang disalahkan?""Memang salah Mamah! Coba kalau Mamah enggak bisik-bisik ide mengenai kehadiran anak.""Anak? Cucu menantuku hamil?!" sebuah suara serak memotong perdebatan.Raver berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat kayunya. Langkah sang kakek tampak tergesa. "Kenapa kalian merahasiakan kabar bahagia ini?""Tahu, ah! Tanya saja sama Mamah," gerutu Rain. Ia bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.Esther menahan lengan pria tua itu saat melihat tongkatnya sudah mengacu
Langkah kaki Rain berhenti tepat di depan daun pintu jati kamar mereka. Jemarinya sudah mencengkeram kenop pintu yang dingin, namun ia tak segera menekannya.Di dalam keheningan lorong rumah orang tuanya, kata-kata ibunya kembali berdengung, menghantam dadanya tanpa ampun. Buatlah seorang anak.Rain memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras saat bayangan Liora yang tersenyum manis pada Jade siang tadi mendadak melintas tanpa izin di benaknya. Rasa cemburu yang sedari tadi ia kekang di balik sikap diktatornya kini mendadak bergolak menjadi letupan posesif yang membakar kewarasan.Lima tahun ini, Rain tahu ia telah gagal. Ia mengira dengan memberikan perlindungan hukum, harta yang melimpah, dan menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng sedingin es, ia bisa menjaga Liora dengan aman setelah tragedi kecelakaan yang merenggut orang tua wanita itu. Namun, ia salah. Jarak di antara mereka justru semakin membentang lebar bagai jurang yang tak berdasar.Apakah di hatimu benar-benar su
"Senyum," desak Rain setengah berbisik saat langkah kaki mereka mulai memasuki area ruang tengah rumah orang tuanya yang megah bak istana.Liora mendengus tipis, melirik suaminya dari sudut mata. "Kenapa? Kamu takut aktingku akan membongkar kenyataan bahwa pernikahan kita..."Rain enggan meladeni rentetan kalimat kemarahan istrinya. Sebagai jawaban, jemari kokohnya justru bergerak kilat, menyergap pinggang ramping Liora lalu menyentaknya kuat hingga tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke dadanya.Langkah kaki Liora yang limbung akibat hentakan mendadak itu terpaksa membuatnya melemparkan kedua lengan untuk merangkul pundak tegap sang suami. Di jarak sekat ini, sepasang mata mereka saling mengunci pergerakan masing-masing. Deru napas yang saling beradu, debar jantung yang mendadak bertalu kencang seperti ketukan gendang, serta kepungan aroma maskulin parfum dari balik dekapan otot dada yang kekar seketika menguapkan setengah kewarasan Liora."Kemarahan juga merupakan bumbu dalam sebu
"Jade," sapa Liora, melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat.""It's okay," sahut Jade hangat. Tangannya bergerak sigap menarik kursi di hadapannya, mempersilakan Liora duduk. "Mau pesan apa?"Liora menggeleng pelan. "Aku sudah makan."Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Bayangan perlakuan suaminya tadi pagi mendadak melintas. Setumpuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya. Potongan buah yang dikupas rapi, secangkir air putih hangat, segelas jus jeruk, dan telur rebus. Entah apa yang sedang merasuki Rain, karena ini pertama kalinya pria itu bertingkah demikian setelah hampir tiga tahun selalu mengacuhkannya."Apa yang dilakukan suamimu, hm?" tanya Jade, menangkap gelagat aneh itu."Hanya menyiapkan sarapan," kilah Liora cepat.Jade melipat kedua tangan di dada, melemparkan tatapan penuh selidik. "Hanya sarapan, tapi wajahmu berseri-seri bagai ABG yang sedang kasmaran."Liora memberengut, matanya menyipit ketus. "Apa salahnya?""Tidak ada. Lalu..." Jade mencondongkan tubuhn
Bau antiseptik yang pekat langsung menyengat indra penciuman Liora, disusul bunyi bip yang stabil dan monoton dari mesin medis, perlahan mengusik kesadaran yang sempat padam.Siapa yang sedang memanggilku?Bibir Liora bergerak hendak bersuara, namun tenggorokannya terasa sekering gurun, tak ada satu pun kata yang berhasil lolos. Kelopak mata Liora terasa teramat berat, seolah sengaja dikunci dari dalam. Dalam kepasrahan itu, jemari tangannya merasakan sebuah remasan kecil dan hangat, namun bergetar. Tak lama, punggung tangan Liora mendadak dibasahi oleh titik-titik air yang jatuh satu demi satu."Liora bangun... kumohon."Suara siapa ini? Rain? Bukankah dia sedang berada di luar negeri? Dan... apa dia sedang menangis?Guncangan kecil yang menyusul di tubuh Liora mendadak memicu rasa sakit yang luar biasa, menjalar hebat ke sekujur tubuh. Rasa nyeri itu memaksa kedua kelopak mata Liora terbuka perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh kornea mata Liora adalah hamparan plafon putih







