INICIAR SESIÓN"Vier.... lo kenapa bisa gini?" pekik Jeania melihat Xavier terkulai lemah terguyur ribuan air hujan. Xavier sudah kehilangan jalan hidupnya, orang yang dia sayang sudah tenang di sisi Tuhan dan orang yang ingin dimilikinya dengan segenap jiwa, kini sudah nyaman berada dipelukan orang lain. Kedatangan Jeania saat ini membuat hati Xavier samakin tersayat. Jeania mempunyai alasan mengapa ia harus berada di sisi Xavier sekarang kalaupun itu hanya bersifat sementara. Jeania merengkuh tubuh Xavier lalu mendekapnya dalam pelukan... hati Xavier seperti merasa tenang namun tetap ada sayatan yang datang. Siapakah Jeania sebenarnya?? Mengapa Xavier sampai begitu kehilangan arah hidupnya??
Ver másHours had passed since we embarked on this journey but we are nowhere close to our destination. The journey seems endless and my feet feel numb for sitting too long.
"How long till we get there dad?" I asked with a grunt to show my discomfort.
"Very soon Mona." He replied while adjusting the car rear-view mirror so he could see my face while Mom gave me a pleading look.
After minutes of driving on the highway, dad pulls off the tarred road at a sign that reads 'Welcome To Denvon Community' and into a dirty muddy road. The more we continue down the road, the more it feels like we are leaving civilization behind.
Both sides of the road are lined with tall trees and all there is to see is a very thick forest that goes as long as the eye could see.
I roll down the left door window and put my face out of it.
I can feel the wind on my face and the fresh intoxicating smell of nature filled my nostrils; I'm a lover of nature.
As mad as I am with moving, this place feels oddly welcoming to me and despite the fact that it's beyond civilization and nothing like Chutterston, my old home, I feel I might like it here too.
"Roll the glass up Amar, it's dangerous to do that in a place like this." Mom warned.
Dad prefers to call me Mona, a pet name I had grown to love while mom will only call the short form of my name, 'Calling Amaris is too mouthful.' she claimed.
I rolled the glass up and rest my head on it, immediately missing the fresh air coming from the forest.
I didn't realize when I fell asleep but I woke up to the call of my name.
"We are here Mona," Dad called out to me excitedly while knocking on the car door.
I open my eyes lazily and open the door, putting only my left foot out.
"C'mon Amar, don't be too lazy." Mom said impatiently from the other side of the car when I remain unmoving.
I put my other leg out then brace myself with the door and stood up from my sitting position, moving away from the car in a lazy manner.
Urghh! My bones felt stiff.
"How long have I been out?" I asked in-between a yawn while stretching my limbs.
"Long enough for us to offload everything in the car." Came mom's curt reply.
I must have been really tired to have passed out like that.
"Don't be too harsh Laura, she's just exhausted by the long trip, we all are." Dad put in for me and I gave him a thankful look which he acknowledged with a nod. He's always there to save me from Mom's tongue-lashing.
"Then she shouldn't just stand there like she's got nothing to do, she should get started with moving the bags in. We are not going to leave them all out, are we?"
I took my time to take in the features of the house which is a brown roofed old bungalow coated in French gray paint faded by sunlight, with a brown wooden door and a parking shade that wouldn't admit two cars. The house stood in a clearing but not too far away from the trees. I wasn't expecting much for a place like this.
I pick up an old duffel bag lying next to me to avoid more complaint from mom and drag it into the house because of its heaviness.
Mom can be strict sometimes, but Dad is the complete opposite of her, gentle and more affectionate. I often wonder how the two of them ended up together.
Xaiver dan Pak Tono keduanya masih dalam keadaan siaga. Padahal pagi ini masih begitu sepi sekali, tentu tidak akan ada yang mengawasi mereka berdua. Namun, rasa was-was yang menyelimuti Xavier begitu kuat.Xavier masih berpikir-pikir apakah ia perlu menceritakan rencananya kepada Pak Tono selaku satpam sekolah itu. Kedekatannya dengan Pak Tono membuatnya sedikit menyingkirkan rasa gengsinya meskipun hanya untuk sementara. Karena menurut Xavier Pak Tono hanyalah satpam yang sekedar menjaga gerbang, jadi ia tidak mungkin bisa mencampuri urusan Xavier lebih jauh.“Jadi gini, pak. Vier mau nyari data-data tentang Jeania di ruang guru,” ujar Xavier dengan berbisik pelan, berharap tidak ada yang mendengar. Pak Tono terkejut terlihat dari ekspresi wajahnya yang terpental kebelakang.“Buat apa Vier? Mending jangan deh, kamu itu Ketua OSIS. Nanti nama kamu bisa tercoreng abis itu angkatan kamu juga kena dampaknya. Mending dipikir-pikir lagi,&rdqu
-Cinta seorang ibu itu tidak pernah bohong. Kamu bisa mengetahuinya saat berinteraksi dengannya.-Semenjak kepergian Daniel beberapa hari yang lalu, rumah terasa tentram bagi Xavier. Tidak ada kegaduhan, kekacauan, dan kebengisan-kebengisan yang dibuat oleh Daniel. Namun, berbeda dengan Adellia ibunda Xavier sekaligus istri Daniel, hari-harinya salalu ditemani oleh tangisan saat ia hanya menyendiri di kamarnya. Bahkan, Xavier tidak mengetahui hal itu, karena hari-harinya disibukkan oleh tugas sekolah yang sangat menumpuk, dan kewajiban-kewajibannya yang lain selaku Ketua OSIS.Diusia Xavier yang sudah beranjak dewasa ia sudah sangat mampu membagi waktu-waktunya. Ia tau kapan harus mengerjakan kewajibannya, menemani ibundanya, dan tentu ia tidak pernah terlupa untuk memikirkan Jeania.“Vier... kamu ngelamunin apa sayang?” pekik seseorang tiba-tiba memasuki kamar Xavier. Xavier sedang bersantai, karena di luar sedang turun hujan, melepas
Aku berusaha menutupi kebohonganku menggunakan kebohongan, dan semua itu hasilnya sia-sia. –JeaniaJeania dan Carina keduanya larut dalam kesunyian, perlahan kesadaran Jeania mulai luruh karena mengantuk. Selain hobi membaca Jeania juga hobi sekali melamun, seperti saat ini. Sengaja Carina ikut terdiam karena menunggu kata-kata yang akan dilontaran Jeania dan ia berharap adalah sebuah penjelasan. Namun, setelah sekian berlama-lama menunggu Jeania yang tak kunjung berbicara, Carina sudah mulai geram.“Jen!” pekik Carina mengejutkkan Jeania. Tadinya ia sudah terlelap untuk beberapa saat.Jeania menghela nafas panjang, ia menyesal telah mmenghadirkan Carina ke rumahnya. Sebenarnya yang bermasalah bukan pada Carina melainkan pikiran Jeania yang sedang tidak baik dan merusak mood-nya.“Oh iya Jen. Soal Kak Fano gimana lo jadinya,” tanya Carina. Jeania tersadarkan dengan rencananya.“Gak tau gue, Rin.
Langit terlihat begitu mempesona terukir indah di cakrawala. Kicauan burung menambahkan kelarasan bercengkrama. Tidak ada tanda kesenduan yang terlihat di langit, tentu tidak akan ada air yang mengguyur tanah sekolah SMA ini.Setelah kejadian yang menimpa Jeania, ia langsung meminta maaf kepada Asya karena sudah meninggalkannya sendirian. Dan setelah Jeania menjelaskan semua, seakan mengerti perasaan Jeania, Asya lalu memaafkannya. Tidak ada tanda-tanda kecurigaan yang diperlihatkan Asya. Ia masih menganggap Jeania sebagai seorang siswi baru yang tidak mungkin berbuat macam-macam.Perasaan Jeania masih diselimuti kekesalan, lagi-lagi dia harus terkena kesialan karena berurusan dengan seseorang yang bernama Xavier. Sebenarnya Xavier tidak melakukan kesalahan apapun, hanya saja karena Jeania yang sudah berani menaruh perasaan kepada Xavier jadi semua yang berhubungan dengan perasaan selalu salah di mata Jeania.Xavier masih dengan sikapnya seperti biasa, dia
Mengapa orang-orang rela mengutuk dirinya sendiri diatas kesempurnaan yang telah diberikan?Udara kali ini cukup terasa menyejukkan. Si jingga yang sudah melukis indah di langit membuat panorama mata semakin ingin merasakan candunya. Begitulah nuansa ria sore hari di rumah Xavier.
Kesempatan bisa saja datang untuk kedua kalinya, hanya saja mungkin tidak akan sehebat yang pertama. Karena sebesar apapun seseorang memberikan kasih cintanya, jika dia pernah merasakan luka sebelumnya dia akan lebih berhati-hati untuk melangkah. Namun, belum tentu terjadi untukmu, bis
Jangan pernah menduga-duga seseorang dengan sesuatu yang buruk,selain tidak ada untungnya jika dugaanmu salah, itu bisa menjadi penyesalan teramat besar. “Gue...”“Kenapa!?” sergah Xavier kali ini dengan nada sedikit lebih tinggi.“Gue mau
-Pov Jeania-“Apa-apan Xavier sialan itu! Kemarin ngaku-ngaku jadi pacar gue, sekarang udah ada berita jalan sama yang lain,” gumamku yang masih terdengar oleh Carina.“Hah... apa lo bilang!? Seriusan?” sergah Carina ia terkejut mendengar apa yang baru saja kuu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás